I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 24



"Kenapa duduk disitu? Fyooo, kan aku sudah bilang, kamu jangan takut!" Seru Nino ketika melihat Fyo yang duduk disofa. Lalu ia menghampiri Fyo, tapi Fyo malah menjaga jarak dengannya. Nino meraih tangan Fyo yang sedang ketakuttan. Menggenggam kedua tangan Fyo, dan berkata : "Bagaimana kita bisa membahas rencana kita kalo kamu saja, seperti ingin menghindariku." Seru Nino sambil menatap wajah Fyo yang masih menunduk.


"Ti tidak kok, aku biasa aja. Siapa yang takut?", "Benarkah?" Tanya Nino, lalu diangguki oleh Fyo. "Baiklah, gimana kalo kita main game dulu aja? Biar kamu nggak tegang." Fyo langsung menerimanya, karena jujur saja, saat ini ia merasa sangat tegang saat berdekatan dengan Nino. Ia merasa seperti asing dan tidak seperti biasanya. Nino mengajaknya duduk diatas kasur saja, karena tempatnya lebih luas dan nyaman dari pada sofa ini. Lalu aku menyetujuinya, hanya duduk sajakan bukan tidur.


"Eeeem Nino", "Iyah", "Hotspot aku yah?" Seru Fyo saat mendapati masa kuota internetnya habis bulan ini. "Heeeem kebiasaan, mana nomor kamu yang aktif?" Tanya Nino, "Nggak usah, kamu hotspot aku aja. Nanti setelah kita pulang, aku minta kakakku belikan." Seru Fyo, namun tidak didengarkan oleh Nino. Dia mengambil paksa ponselnya dan mengecek nomor Fyo yang aktif. Setelah itu, ia mengisi kuota Fyo. Dan diberikan pada Fyo, "Makasiiih." Ucap Fyo sambil tersenyum kesenengan.


"Fyo, aku yang pegang Alucard ya?" Tawar Nino ketika memilih hero dipermainan mobil legend, "Nggak mau, aku kan yang lebih dulu dapettin dia." Seru Fyo tak mau, jika harus bertukar hero dengan Nino, "Ayolah Fyo keburu habis waktunya. Ayolaaah, kamu kan cewek. Seharusnya kamu pilih hero yang cewek kayak Miya, itu cocok banget buat kamu. Please!" Seru Nino memohon, tapi malah mendapat tatapan tajam dari Fyo. Mau tidak mau, Nino kembali mengalah dengan Fyo.


Permainan pun dimulai, Mereka berdua mulai berteriak tidak karuan. "Mati kauuu, mati kau. Ninooo dilawan." Seru Nino ketika berhasil membunuh salah satu hero dari lawannya. "Nino Nino bantuin gue, gue lagi dikepung nih! Woy tolongin gue woy. Adoyyyy, Aaaaa lo sih gak bantuin gue. Jadi kena kill kan gue." Fyo yang marah-marah nggak jelas, "Lhah, kamu kan tau sendiri. Udah jelas-jelas aku lari samperin kamu. Tapi kamu keburu kena kill ama mereka. Makanya jangan kemana-kemana, cukup ikuti aku dibelakang aja. Nanti aku bakal jagain kamu."


Setelah permainan berhasil, dan dimenangkan oleh tim Fyo dan Nino. Mereka berdua langsung berteriak, melopat-lompat tidak jelas diatas kasur, sambil saling lempar bantal. Setelah dirasa capek, mereka berdua tidur diatas kasur. Dengan nafas yang kurang teratur atau bisa disebut ngos-ngossan. Tiba-tiba Nino naik diatas tubuh Fyo, sehingga membuat bulu kuduk Fyo berdiri. "Nino, apa yang kamu lakukan?" Tanya Fyo yang mulai khawatir. "Fyo, sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Tapi aku takut kehilang kamu. Mungkin dengan cara ini pernikahan kamu bisa dibatalkan." Ujar Nino yang mulai bersedih.


Apakah dia benar-benar takut kehilanganku? Tapi apa untungnya bagiku dengan melakukan hal yang tidak senonoh ini. Tapi aku juga tidak mau jika harus menikah dengan Azryan. Aku takut Jika aku menikah dengannya, om Bram dengan mudah akan mengancam bahkan memeras Papaku.


"Fyooooo" Panggil Nino lembut sambil menyilahkan rambut Fyo kebelakang telinganya. Dan berhasil membuat Fyo bergidik ketakuttan. "Nin Nino. Ma masalahnya ak aku," Ucapan Fyo terpotong oleh Nino, "Shuuut." Jijo sambil menaruh jari telunjuknya kebibir Fyo. Lalu ia mengusambibir Fyo sambil berkata : "Hanya ini yang bisa membantu kamu dan juga aku." Suaranya pelan. Seakan hanya nafasnya saja yang mengeluarkan deru suara yang menggetarkan pikiran Fyo, menjadi agak sedikit tergoda.


"Nino aku takut." Seru Fyo sambil menahan tangan Nino, "Percayalah! Aku tidak akan meninggalkan kamu." Ujar Nino lembut, sambil menatap lekat mata Fyo. Setelah memastikan Fyo agak lebih tenang, dengan tidak menjawab ucapannya. Ia mulai bergerak mendekatkan wajahnya dengan wajah Fyo. Agak dekat, sedikit lagi, lebih dekat lagi dan Cup. Nino mencium bibir Fyo agak begitu lama. Lalu ia mulai menggerakkan lidahnya masuk kedalam mulut Fyo.


Dan didetik itu pula, Fyo mulai mengingat kejadian saat ia dikolam renang. Azryan tiba-tiba menarik tubuhnya, dan mecium paksa dirinya. Saat ia melihat kedepan, betapa terkejutnya dia. Ketika yang dia lihat bukanlah Nino melainkan Azryan, calon suaminya sendiri. "Aaaa" Teriak Nino, ketika Fyo menggigit bibirnya. "Lepasiin, aaaaaa tolong tolong. Nino tolongin akuuuu, Hik hiks hikkksss." Teriak Fyo berubas menjadi sebuah tangisan ketakutan. Takut Azryan memaksanya untuk melayaninya. "Fyo Fyo Fyo. Kamu kenapa? Ini aku Nino. Pacar kamu!" Nino berusaha menenangkan Fyo, dengan menahan tangannya. Agar tidak kembali memukul-mukulinya.


Fyo terus saja menangis tanpa henti. Sehingga membuat Nino merasa iba dengan melihat keadaannya. Rasanya ia ingin mengurungkan niatnya, tidak enak jika memaksa nya untuk menurutinya. Karena melihat kondisi Fyo yang tak mau berhenti menangis. Dipikiran Nino, ia selalu bertanya-tanya.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Fyo? Kenapa dia tiba-tiba jadi seperti ini? Apa tadi aku terlalu tergesa-gesa dengan langsung menciumnya.


Nino memeluk Fyo sambil mengelus punggung Fyo yang masih belum berhenti menangis. Dan mulai mengajaknya bicara, "Kamu kenapa sayang?" Tanya Nino sambil mengusap rambut Fyo. Karena tidak ada jawaban dari Fyo. Ia pun melepaskan pelukannya pada Fyo, lalu kembali menanyainya sambil memegang kedua pipi Fyo. "Maafkan aku, karena tadi aku langsung menciummu tanpa seizin dari kamu." Nino meminta maaf pada Fyo, karena menurutnya mungkin dia marah karena itu.


Kenapa? Kenapa aku bisa berpikir Nino adalah Azryan? Ini semua gara-gara Azryan. Nggak nggak nggak, aku tidak boleh menyakitin perasaan Nino.


Fyo melepaskan tangan Nino dari pipinya, "Aku tidakpapa kok, Aku hanya takut keluarga dari orang yang besok aku nikahi akan marah." Ucap Fyo bohong dan tidak mau menyebut nama Azryan maupun nama orang tuanya. "Kamu jangan takut. Besok aku akan menemanimu menghadapi mereka. Kamu jangan takut! Karena aku akan bertanggung jawab atas semua ini, aku yang mengajak kamu melakukan ini." Seru Nino dan kembali memeluk Fyo.