I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Nyaris



Dokter muda Sasi Kirana Amaya melangkah keluar dari rumahnya dengan santai sambil memakan sepotong roti. Maklum, ia selalu saja bangun kesiangan. Saat sedang jaga malam pun acapkali dia tertidur, entah itu di UGD atau ruangan lainnya tempat dimana ia ditugaskan.


Dia memang tipikal orang yang gampang tertidur, namun susah untuk dibangunkan. Ia selalu saja terlambat, hingga tak sempat menyiapkan sarapan. Jangankan itu, setiap pergi saja ia tak pernah membereskan rumahnya terlebih dahulu dengan alasan waktu.


Lantai belum disapu, piring kotor menumpuk, cangcut dan BH yang bertebaran dimana-mana. Sama sekali bertolak belakang dengan penampilan dirinya saat hendak berangkat ke rumah sakit. Cantik, rapi, wangi, stylish, dan matching dari atas ke bawah. Rambut badai, pokoknya perfect. Mirip dengan artis-artis dalam drama Korea. Ia melangkah sambil memakan roti dengan mulut menganga lebar.


"Hap." Ia melahap roti isi coklat itu, sambil menikmati aromanya.


"Hmmm, enak banget coklatnya." Ia mencium setiap kenikmatan yang berasal dari roti tersebut dan seketika hatinya pun terasa damai.


Ia membayangkan dirinya tengah berada di sebuah hutan, dengan danau yang membentang luas. Di sisinya terhampar sebuah tikar piknik, dengan berbagai menu coklat di atasnya. Ia terus berjalan sambil larut dalam khayalan tersebut, sampai kemudian.


"Jegik."


Tiba-tiba ia terkejut, tatkala melihat sesosok pemuda yang tengah berdiri sambil melipat tangan di dada. Pemuda berseragam sekolah SMK itu berdiri persis di samping mobil, yang parkir tepat beberapa meter di depan Amaya.


Ya, pemuda itu adalah Nicholas Diovano Marcell. Yang sampai saat ini belum disadari Amaya keberadaannya. Ia masih mengingat pemuda itu hanya sebagai pasien, yang bahkan namanya pun ia sudah lupa.


Ia hanya ingat, jika pemuda itulah yang menyelamatkannya dari kejaran seseorang tempo hari. Ia sendiri tidak tau benar atau tidaknya soal pengejaran itu. Mungkin hanya cerita fiktif belaka alias berpura-pura atau mengarang saja, agar dirinya mau diajak naik ke mobil pemuda itu. Agar bisa di prospek untuk kemudian di jadikan gebetan oleh si pemuda.


Amaya memalingkan wajah, Ia lalu mengambil beberapa ranting dengan daun yang lebat dari pohon-pohon di sekitarnya. Kebetulan Nicholas tidak melihat ke arahnya. Amaya menutupi wajahnya dengan ranting dan daun tersebut. Lalu ia berjalan melintas di dekat Nicholas dengan terburu-buru.


"Nggak usah kamuflase gitu, anak SD juga bisa ngenalin kamu. Sejak kapan pohon berkaki?"


"Tuing."


Tiba-tiba Nicholas berkata kepadanya. Amaya amat sangat terkejut, ia tak menyangka jika aksi penyamarannya akan ketahuan. Ia pun lalu menghentikan langkahnya, namun tetap menutup wajah dengan ranting dan daun.


"Tuing, tuing, tuing."


Detik berikutnya ia melangkah menghindar ke arah samping bagai kepiting, lalu berhenti mendadak karena ternyata ada got.


Dari tempatnya berdiri, Nicholas hanya menahan tawa. Perlahan ia pun mendekati Amaya dan mengambil ranting yang berada di tangan gadis itu.


Ranting yang ia pakai untuk menyamar sebagai pohon. Nicholas kembali tersenyum, sementara Amaya tampak sedikit takut dan membuang pandangan ke arah lain. Nicholas lalu menggandeng tangannya dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa selalu ngikutin aku dan kenapa juga aku harus selalu naik mobil kamu?"


Amaya sewot ketika dirinya sudah berada di dalam mobil dan mobil tersebut sudah melaju perlahan.


"Kamu tenang aja, aku cuma mau kamu aman. Siapa tau orang kemarin itu, masih mengikuti kamu." ujar Nicholas sambil terus fokus menatap ke depan.


"Gimana kalau orang yang kemarin itu hanya fiktif?. Hanya karangan bebas kamu supaya aku mau naik mobil kamu. Gimana kalau yang jahat itu sebenarnya kamu?"


"Kalau aku jahat, kamu udah aku dorong sekarang dari mobil."


"Ya udah, keluarin aja aku sekarang. Aku mau naik taxi aja. Aku nggak ngerti maksud dan mau kamu itu apa. Aku justru takut sama kamu, karena aku nggak kenal baik sama kamu.


Tiba-tiba Nicholas merangkulnya, menutup mulut gadis itu dengan satu tangan. Sedang tangan lainnya masih memegang kemudi. Ia menundukkan paksa Amaya. Gadis itu berusaha meronta namun tenaga Nicholas jauh lebih kuat.


Tak lama kemudian sebuah batu tampak terlempar di mobil tersebut, dan nyaris mengenai kepala Amaya.


"Buuuukk." Batu tersebut mengenai jok mobil sampai akhirnya terpantul dan terlempar lagi keluar.


"Tadi itu siapa?" tanya nya dengan suara bergetar. Nicholas masih tetap berusaha tenang.


"Orang yang kemarin. Dia pakai mobil yang sama dengan kita, jadi bisa leluasa melempar orang yang ada di sebelahnya."


Amaya menelan ludah. Ia mulai merasa takut dan ingin menangis. Ia tidak tau siapa orang itu, apa yang dia inginkan sesungguhnya. Apa salahnya.


"Hei."


Nicholas agaknya mulai memperhatikan raut wajah Amaya yang tampak sedih.


"Don't be afraid, everything will be fine." ujar Nicholas kemudian.


Amaya mulai menangis bahkan makin lama makin keras, seperti anak SMP yang tidak di beri uang jajan. Nicholas terpaksa menghentikan laju kendaraannya di suatu titik yang ia rasa aman. Lalu ia pun memeluk wanita itu untuk beberapa saat dan berusaha membuatnya tenang.


Amaya tak tau perasaan apa ini, tiba-tiba saja ia merasa begitu dekat dengan Nicholas. Meskipun ia sendiri belum sadar jika pemuda yang memeluknya Itu adalah teman masa kecilnya, yang pernah ia selamatkan hidupnya dulu. Ia biarkan saja dirinya terbenam dalam pelukan pemuda itu. Sampai akhirnya, dirinya menjadi tenang dan mobil pun kembali berjalan.


Amaya tertidur selama perjalanan. Ia kaget ketika Nicholas membangunkannya dan mengatakan bahwa mereka sudah sampai dirumah sakit. Amaya segera merapikan rambutnya lalu keluar dari dalam mobil dengan di saksikan oleh beberapa rekannya sesama koas termasuk beberapa orang perawat yang juga baru sampai.


"Koas Sasi, diantar siapa itu?"


Salah seorang perawat kepo pada Amaya. Sementara yang lainnya kini memandang ke arah Nicholas yang tengah berdiri di dekat mobilnya. Mobil itu masih berhenti di area parkir depan rumah sakit.


"Ganteng banget, berondong pula." ujar perawat itu lagi.


Tak lama kemudian dokter Gerald tiba dan langsung mendekat pada Amaya.


"Sasi tumben udah sampai?"


Amaya tersenyum. Mata dokter Gerald kini beralih pada Nicholas yang masih berdiri tegak, dengan gaya yang cool serta penuh ketenangan. Anak itu juga menatap dokter Gerald dan dokter Gerald pun paham, jika Amaya diantar olehnya. Tak lama setelah itu, Nicholas kembali ke dalam mobil.


Amaya yang hendak melangkah masuk tiba-tiba menyadari sesuatu. Ya, ia belum mengucapkan terima kasih pada anak itu. Namun ketika ia menoleh, mobil Nicholas sudah merayap meninggalkan pelataran rumah sakit. Amaya pun lalu melangkah masuk ke dalam, diikuti beberapa rekannya termasuk perawat yang tadi bertanya.


"Koas Sasi belum bilang, dia tadi itu siapa?" tanya perawat itu lagi. Amaya menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Suster Lani sayang, Dia itu pasiennya dokter Margaret." Amaya menjelaskan lalu tersenyum.


"Oh ya, lucu banget, gemes. Namanya siapa?. Kenalin dong. Saya kan suka sama berondong unyu-unyu model begitu."


Suster Lani tampak kecentilan. Layaknya fans garis keras boyband, yang habis ketemu idolanya.


"Namanya, Richo, Chicho apa Oh Nicho, Nicho. Namanya Nicho"


Suster Lani terpaku sambil senyum senyum sendiri, Amaya memperhatikannya lalu ikut tersenyum. Tak lama kemudian ia pun masuk ke dalam lift.


"Koas Sasi, tunggu..!"


Suster Lani pun berlarian masuk ke dalam lift, sambil tak henti-hentinya bertanya perihal Nicholas.


Sejak hari itu dan hari-hari berikutnya, Amaya lebih banyak diam dan berfikir. Ia masih teringat soal pelemparan batu oleh orang tak dikenal tempo hari. Ia berfikir keras, apakah dirinya pernah berbuat salah pada orang lain atau tidak.


Kalau iya, kapan, dimana, pada siapa. Ia merasa sangat bingung karena merasa memang tidak pernah menyakiti orang lain. Namun mengapa ada orang yang berniat jahat kepadanya.