
Selama di pesawat, Nicholas terlihat begitu gelisah. Pasalnya ia tak tau bagaimana kabar Amaya saat ini. Meski di pesawat tersebut memiliki koneksi Wi-Fi, namun Amaya tidak bisa dihubungi.
Pesan yang dikirim oleh Nicholas sejak masih dihotel tadi tak dibaca olehnya. Mungkin dia sedang menenangkan diri, atau sedang memberikan keterangan pada polisi. Atau bisa jadi juga saat ini dia,
"Hhhhhhhh...."
Nicholas mencoba mengambil nafas. Ia benar-benar tak bisa tenang sedikitpun. Teman-temannya juga sangat khawatir padanya. Melihat ia terus gelisah seperti itu, Kevin berinisiatif memesan minuman pada pramugari yang bertugas. Ia meminta orange juice dengan es batu yang banyak.
"Nich, Lo minum dulu deh."
Kevin menyerahkan orange juice tersebut. Nicholas mengambil lalu meminumnya.
"Lo letakkin es batunya di langit-langit mulut lo."
"Buat apa?" tanya Nicholas kemudian.
"Lo lakuin aja, sekarang...!" Perintah Kevin.
Nicholas pun melakukannya. Dan dalam sekejap kecemasan nya berkurang.
"Tenang, lebih baik lo berdoa ketimbang biarin diri lo di kendalikan kecemasan."
Nicholas mengangguk lalu meminum kembali minumannya.
Saat tiba di Jakarta, ia langsung saja mengambil handphone dan mencoba menelpon Amaya. Namun wanita itu tetap tidak bisa dihubungi.
"Dia kemana sih?"
Teriak Nicholas kesal. Teman-temannya yang semula sibuk memasukkan barang ke taxi pun mendekatinya.
"Nich, sabar Nich." ujar Jason.
"Kita jalan bentar lagi."
Miko menepuk bahunya. Nicholas yang memang sudah runyam itu hanya mengangguk lalu masuk ke dalam taxi.
Perjalanan dari Bandara lumayan lancar. Karena hari itu tak banyak orang yang menggunakan jalan tol. Namun memasuki sebuah kawasan di dekat rumah Amaya, taxi yang ditumpangi Nicholas dan teman-temannya pun terjebak kemacetan yang panjang.
"Aaarrrggghhh, kenapa mesti macet segala sih."
Miko yang duduk disisi driver menoleh lalu memberikan sebotol air mineral pada Nicholas. Nicholas pun lalu meminumnya. Tak terhitung lagi jumlah air yang sudah ia minum.
"Sabar, Nich." ujar Dirly yang ada di sampingnya.
Nicholas hanya membuang tatapan ke arah samping. Melihat betapa padatnya kemacetan ini. Setengah jam berlalu sia-sia. Taxi yang mereka tumpangi hanya bergeser beberapa meter saja dari tempat semula. Pikiran Nicholas makin runyam.
Ia takut ayah Diana kembali beraksi dan mencelakai Amaya. Karena dari keterangan beberapa berita menyatakan, jika pelaku pembobolan rumah Amaya belum berhasil tertangkap atau pun teridentifikasi.
"Bagaimana?. Panik?. Hahahaha. Saya masih mau bermain-main lagi dengan tikus betina ini."
Sebuah pesan singkat ia terima. Dan sudah dipastikan itu adalah pesan dari ayah Diana. Orang yang ia maksud dengan tikus betina di dalam pesan tersebut, tentu saja adalah Amaya.
Nicholas syok sekaligus marah. Ia langsung menghubungi nomor tersebut namun tak diangkat. Ia coba membalas pesan tersebut dengan mengatakan jangan macam-macam terhadap Amaya. Namun pesan itu hanya centang satu.
"Brengsek, arrrrgghhh...!"
Nicholas terlihat sangat kesal. Nafasnya pun terdengar memburu.
"Nich."
Miko dan Dirly menoleh padanya.
Masih dengan nafas memburu ia menunjukkan pesan tersebut pada kedua temannya.
"Lo mendingan sekarang ke depan perempatan sana" ujar Miko.
"Naik taxi dari sana." lanjutnya kemudian.
Nicholas pun mengangguk. Tanpa banyak berbasa basi ia segera menuruti saja saran dari sahabatnya itu. Ia keluar dari taxi. Berlari ke arah perempatan yang dimaksud. Kebetulan jalan disana lumayan lancar. Ia pun langsung mendapatkan taxi.
Disepanjang perjalanan, ayah Diana terus saja menerornya dengan kata-kata ancaman. Ancaman jika ia akan terus berusaha mencelakai Amaya.
Kali lain dia mengirim voice note tertawa. Namun ketika Nicholas menelponnya, laki-laki itu tak menjawab. Perjalanan masih panjang, sementara Amaya belum juga bisa dihubungi. Nicholas pun tak memiliki nomor rumah sakit, nomor koas Miranti maupun suster Lani. Ia benar-benar khawatir, panik dan terlihat sangat kacau.
"Pak, cepetan sedikit pak. Tolong...!" ujarnya pada driver taxi.
"Iya mas, ini juga udah ceper koq."
Nicholas melihat driver tersebut masih berjalan santai.
"Pak, kecepatannya itu masih normal. Bapak bisa lebih cepet nggak?"
Ingin rasanya Nicholas menggantikan posisi driver tersebut. Saking tak sabarnya ia ingin segera sampai dan memastikan keadaan Amaya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi atau berada di luar service area."
Nicholas mencoba menghubungi Amaya untuk yang kesekian kalinya. Namun apa yang ia dengar masih sama.
"Aaarrrggghhh..."
Nicholas tampak begitu marah. Tak lama kemudian, ia pun menyadari sesuatu.
"Pak, ini kan bukan ke arah tempat yang saya mau." ujar Nicholas seraya memperhatikan jalan. Driver tersebut hanya diam saja.
"Pak...!"
"Hahahaha..."
"Hahahaha..."
Nicholas menyadari ada keanehan. Ditambah lagi ketika driver tersebut menoleh dan tersenyum menyeringai. Tak lama kemudian, ayah Diana menelpon. Namun isinya hanya tertawa saja.
"Hahaha..."
"Hahaha..."
"Buuuuukkk....!"
Nicholas memukul wajah driver tersebut. Hingga mobil mereka oleng. Nicholas menginjak rem dan membanting paksa stir mobil ke kiri. Lalu mobil pun berhenti dan Nicholas mencabut kuncinya.
Driver tersebut makin tertawa. Nicholas membanting kunci nya lalu keluar dari dalam taxi tersebut.
Ketika taxi itu pergi. Ia baru sadar jika ia harus memfoto plat taxi tersebut. Paling tidak untuk kewaspadaan. Karena sudah pasti driver tersebut adalah orang suruhan ayahnya Diana.
Entah bagaimana cara mereka berkoordinasi, yang jelas mungkin ayah Diana telah melihat Nicholas di airport. Ia seperti tau keadaan Nicholas yang terjebak macet dan membutuhkan tumpangan lain.
Kini Nicholas terdiam di sisi jalan. Dengan nafas memburu dan kecemasan yang meningkat tajam. Ia benar-benar marah dan ingin rasanya memecahkan kepala ayah Diana. Agar ia berhenti mengganggu Amaya maupun dirinya.
"Nich."
Tiba-tiba seseorang muncul dan berbicara dari dalam sebuah mobil. Ternyata Axl Hadley, teman sekaligus adik kelasnya.
"Axl?"
"Lo mau ketempat dokter Amaya kan?"
Nicholas mengangguk.
"Buruan...!" ujar Axl.
Tanpa berbasa basi, Nicholas segera masuk ke dalam mobil Axl dan Axl pun langsung tancap gas.
Ia melaju dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang jalan ia tak banyak bicara. Ia terus saja mengemudi demi agar Nicholas cepat sampai ke kediaman Amaya.
Ketika mobil mendarat tepat di kediaman Amaya, Nicholas buru-buru keluar dan berlarian. Ia langsung menuju pintu dan mengetuknya dengan keras.
Amaya yang kaget dan kebetulan baru saja kembali dari kediaman Miranti tersebut pun langsung mengintip dari kaca. Ketika ia menyadari yang datang adalah Nicholas, ia pun lalu membuka pintu.
"Hhhhhhhhhh..."
Nicholas serta Merta langsung memeluk wanita itu dengan erat. Amaya sendiri sempat terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia membalas pelukan tersebut.
Nafas Nicholas terdengar memburu dan penuh kecemasan. Kedua sudut mata pemuda itu berair. Jantungnya berdegup kencang.
"Nich....."
"Kenapa nggak bisa dihubungi?"
Suara Nicholas terdengar lirih. Amaya diam dan memeluknya dengan erat.
"Kenapaaaa?"
"Sssssshhh..."
Amaya mengusap punggung Nicholas yang masih memeluknya. Ia mencoba menenangkan pemuda itu.
"Minum, Nich."
Amaya memberi segelas air minum pada Nicholas. Ketika semuanya sudah tenang. Tampak ia mengatur nafasnya di tengah ketegangan yang berangsur berkurang.
"Aku udah nggak apa-apa, Nich. Polisi juga udah mengejar orang itu. Aku minta maaf karena handphone ku mati. Aku udah nggak sempat ngeliat handphone lagi. Karena udah sibuk sama urusan dengan polisi."
Amaya berkata seraya memperhatikan wajah Nicholas. Pemuda itu kini balik menatap Amaya. Namun ia belum bicara sepatah pun.
"Aku nggak terluka. Cuma syok aja."
Amaya berkata seolah tau apa isi kepala Nicholas. Meskipun pemuda itu belum juga berbicara. Nicholas terlihat sedikit lega mendengar hal tersebut.
"Ya udah, kamu mandi dulu sana. Kamu baru sampai kan?"
Nicholas mengangguk. Amaya kemudian memberikan handuk padanya.
"Aku tunggu temenku dulu. Minta tolong dia anterin mobil dan pakaian aku."
Amaya tersenyum. Ia mendekat lalu mengelus kepala dan rambut Nicholas. Seketika Nicholas terkejut. Namun ia hanya diam saja seraya memperhatikan Amaya.
"Maaf ya, jadi nyusahin kamu. Kemarin itu aku panik. Aku nggak tau harus menghubungi siapa. Dan entah kenapa aku pencet nomor kamu berkali-kali. Padahal aku tau kalau kamu lagi nggak di Jakarta. Aku cuma mau pastiin, apa orang yang mau mencelakakan aku selama ini sama persis dengan orang yang mau mencelakai aku kemarin. Tapi, Aku janji nggak akan bikin panik semua orang lagi."
Kali ini Nicholas menatap tajam ke arahnya. Tampaknya ia tak setuju dengan perkataan Amaya yang terakhir.
"Aku maunya kamu tetap ngomong sama aku, apalagi menyangkut keselamatan jiwa. Aku nggak mau ada rahasia."
Kali ini Amaya yang terdiam. Ia melihat ada kesungguhan di mata pemuda itu. Seolah Nicholas tak ingin dirinya terluka sedikitpun.
Jujur, Amaya agak terkejut melihat reaksi Nicholas. Seolah Amaya adalah orang terdekatnya yang harus ia lindungi. Padahal status mereka hanya sebatas dokter dan pasien dari salah seorang dokter senior. Yang belakangan ini entah mengapa perlahan menjadi begitu dekat.
"Ok, a, aku akan kasih tau."
Amaya lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Entah mengapa jantungnya berdegup dengan kencang. Tatapan mata Nicholas membuatnya merasakan sebuah debaran aneh.