I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Bisakah Kita Berbicara



Semua membeku, semua bisu. Tak ada seroang pun yang bisa bergerak, ketika akhirnya dokter muda Sasi Kirana Amaya masuk.


Nicholas tertipu sinyal hatinya sendiri. Sungguh ironis, mengingat selama ini hatinya selalu berdetak apabila Amaya mendekat. Namun kali ini, hatinya baru bereaksi ketika Amaya telah melangkah masuk. Sebuah sinyal yang sia-sia, karena Nicholas sudah tak bisa lagi menghindar ataupun bersembunyi.


Apakah Amaya telah paham, jika mereka terhubung lewat hati?. Dan apakah ia tau caranya meredam reaksi dari bagian hatinya yang tertanam di tubuh Nicholas?.


Entahlah, yang jelas kini Nicholas pun sama tak bergemingnya dengan yang lain. Jantungnya mendadak seperti mendapat sebuah serangan, sementara Amaya kini menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kamu bohongin aku?"


Amaya mencecar Nicholas. Tangan pemuda itu bergerak, dari yang menengadah menjadi tertelungkup. Ia sengaja melakukan hal tersebut, untuk menutupi nama pasien pada gelang yang dipakainya.


"Braaak."


Terdengar suara pintu yang kembali di buka, ternyata koas atau dokter muda Miranti beserta suster Lani. Waktu pun seakan kembali terhenti. Kini Amaya jadi paham kalau Miranti dan suster Lani telah mengetahui, jika Nicholas di rawat disini.


Sebab saat masuk tadi, raut wajah mereka terbilang stabil. Seperti memang sengaja hendak mengunjungi tempat ini. Lalu ketika bertemu muka dengan Amaya, mereka tampak seperti orang yang syok.


"Kenapa semua orang tau, tapi aku nggak?"


Amaya menatap Nicholas dengan tatapan yang menusuk ke inti jantung. Seakan membuat katup-katup berhenti memompa darah.


"Sas, aku."


"Kamu jahat Nicho, kamu lebih mementingkan orang lain. Kamu nggak menganggap kalau keberadaan aku ini juga penting."


"Sas."


Amaya kemudian beranjak, ia menatap sejenak ke arah semuanya terutama Miranti. Tak lama ia pun benar-benar menghilang di balik pintu.


"Suster Lani, tolong lepas infus saya. Nicholas meminta tolong pada suster Lani. Sedang koas Miranti telah keluar sejak tadi, karena menyusul Amaya.


"Tapi Nic, nanti kalau ada dokter yang tau gimana?" ujar suster Lani dengan wajah penuh tekanan..


"Please, saya harus bicara sama Sasi."


Nicholas meminta dengan sangat. Suster Lani tampak bingung, karena kini seisi ruangan menatapnya.


"Lepasin atau saya lepas sendiri?" Nicholas memberikan ancaman.


Suster Lani pun akhirnya membantu melepaskan infus tersebut. Karena melepaskan infus tak segampang apa yang orang lihat di dalam sinetron. Setelah infus tersebut lepas, Nicholas beranjak. Tak lupa ia menanggalkan gelang pasien yang ia pakai, dan meletakkannya di laci meja samping tempat tidur. Seseorang masuk dan ternyata Dirly, yang tak jadi menemani orang tuanya.


"Loh Nic, mau kemana?" tanya Dirly heran.


"Nic, gue temenin." ujar Kevin.


Nicholas menahan Kevin dengan tangannya, kemudian ia pun melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Maaf dek, mau kemana?"


Beberapa perawat tertarik perhatiannya kepada Nicholas yang tengah berjalan. Pasalnya ia mengenakan pakaian pasien. Mereka coba mendekat, namun Nicholas menghentikan mereka dengan tangan.


"Dek, kamu nggak bisa pergi meninggalkan kamar kamu."


"Saya cari koas Sasi." ujarnya kemudian.


Nicholas terus melangkah dan diikuti oleh petugas, yang takut jika ia adalah pasien yang hendak melarikan diri.


"Nicholas."


Salah seorang dokter yang kenal dekat dengan keluarga Nicholas, menegur pemuda itu.


"Nic cari koas Sasi om, nanti Nic kembali."


Nicholas terus melangkah, kali ini lebih cepat. Dokter tersebut menghalangi petugas lain yang masih mengikuti Nicholas.


"Dia nggak akan kemana-mana, saya yang jamin." ujarnya kemudian.


Para petugas itupun berhenti disitu, kini sang dokter yang mengikuti langkah Nicholas.


"Sas."


Nicholas akhirnya menemukan Amaya di sebuah kursi, di taman dekat IGD.


"Kamu kenapa keluar?"


"Sas, aku mau bicara."


"Kamu harus kembali ke kamar, gimana bisa suster Lani dan teman-teman kamu membiarkan kamu keluar sendirian."


"Aku yang maksa, aku butuh bicara sama kamu."


"Kita bicarakan lain waktu, saat ini aku sedang marah sama kamu." jawab Amaya.


"Sas, aku merahasiakan semua ini dari kamu karena aku takut kamu kepikiran."


"Kamu pikir dengan kamu merahasiakan hal ini, aku nggak kepikiran?"


Kali ini Nicholas terdiam.


"Gerak-gerik kamu mencurigakan, Nich. Dan justru itu yang membuat aku makin khawatir sama kamu. Kamu nggak ngabarin aku, pikiran aku jadi kemana-mana."


Nicholas menghela nafas, ia benar-benar tak tahu jika tindakannya keliru. Ia merasa telah mengambil sebuah langkah yang benar.


"Maafin aku, Sas. Aku benar-benar nggak punya keberanian untuk jujur. Aku takut kamu nggak mau melibatkan aku lagi dalam kehidupan kamu. Lantaran aku celaka gara-gara orang yang mau menyakiti kamu."


"Memang aku akan menjauhi kamu mulai hari ini."


"Jangan, Sas...!"


"Aku nggak mau anak orang celaka gara-gara aku, Nicho."


"Sas."


"Nic, please." Amaya menatap Nicholas dalam-dalam.


"Kembali ke kamar kamu sekarang...!" lanjutnya lagi.


"Aku nggak akan kembali sebelum kita menyelesaikan perkara ini. Aku nggak mau dijauhkan dari kamu, cuma gara-gara masalah ini."


"Nic, masalah ini nggak sepele. Kita baru mengenal satu sama lain dan kamu sudah celaka gara-gara aku. Ini berat buat aku, Nic."


"Aku nggak akan biarkan kamu membuat keputusan sendiri, Sas. Aku sudah terlanjur ada disini, dan jangan usir aku. Aku akan tetap ada disisi kamu, melindungi kamu sebisa aku."


"Tapi Nic."


"Nggak ada tapi-tapian."


Amaya menghela nafas, ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk lanjut berdebat.


"Kita kembali ke kamar kamu."


"Tapi kamu belum jawab aku." ujar Nicholas.


"Kamu mau aku ditegur, karena membawa pasien yang masih butuh perawatan keluar ruangan?"


Kali ini Nicholas terdiam.


"Jangan lupa kalau koas itu bagian dari penilaian juga. Jadi jangan menyulitkan aku." ujar Amaya lagi.


Nicholas kemudian ditarik oleh Amaya, untuk mengikutinya kembali ke kamar. Pemuda itu hanya diam dan mengikuti. Amaya berjalan agak cepat, karena masih menyimpan rasa kesal terhadap pemuda itu.


Ketika tiba di muka rumah rawat Nicholas, Amaya melepaskan cengkraman tangannya di tangan Nicholas dan membuka pintu. Ia kini mempersilahkan pemuda itu untuk masuk, sementara teman-temannya masih menunggu di dalam.


Nicholas pun melangkahkan kaki, namun kemudian ia mendadak kehilangan keseimbangan. Amaya dan yang lainnya menangkap tubuh Nicholas.


"Nic."


Teman-temannya panik, Nicholas menghentikan mereka semua dengan isyarat dari tangannya. Ia kini mencoba menetralkan pandangannya yang berbayang.


"Nic."


Amaya memperhatikan pemuda itu, dan lagi-lagi Nicholas menahan semuanya untuk tidak bergerak. Lalu...


"Buuuk."


Ia jatuh tak sadarkan diri, seisi ruangan tersebut panik. Amaya dengan dibantu teman-teman Nicholas mengangkat tubuh pemuda itu dan membaringkannya ke atas tempat tidur.


Sesaat kemudian ia berlarian keluar dan mencari dokter yang menangani Nicholas. Dalam sekejap, Nicholas pun langsung di beri tindakan. Ia menjalani pemeriksaan serta infusnya kembali di pasang.