I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Rumit



Beberapa saat kemudian, di sudut sekolah.


"Lo kenapa sih ribet banget sama hidup gue?. Gue udah bilang bukan gue pelakunyaaa."


Dena berteriak di depan wajah Rebecca, ketika Nicholas dan teman-temannya tak sengaja melintas sekembalinya dari kantin.


"Udah jelas-jelas lo pelakunya masih aja ngeles. Lo tinggal minta maaf doang sama Karlita, apa susahnya?" Rebecca balas berteriak di depan muka Dena.


"Gue cuma mau lo hapus video itu, karena bukan gue pelakunya.”


"Jelas-jelas lo ada disana saat kejadian berlangsung.” Rebecca tetap bersikukuh.


Detik berikutnya Dena pun menarik rambut Rebecca dan menjambaknya dengan keras. Rebecca pun tak mau mengalah begitu saja, ia juga melakukan hal yang sama. Sehingga terjadilah perkelahian sengit, yang membuat Nicholas dan teman-temannya akhirnya turun tangan untuk menghentikan mereka.


"Dena udah Den..!” Nicholas menarik Dena, sementara Miko menghalau kekasihnya yang masih marah besar.


"Rebecca, please jangan kayak gini. Kita masih Dilingkungan sekolah. Kalau diliat guru gimana, nanti malah kena masalah.”


"Aku tu kesel sama dia Mik, udah jelas salah nggak mau ngaku. Dia udah bikin reputasi sekolah kita jadi buruk. Sekarang dimana-mana, sekolah kita terkenal sebagai sekolah tukang bully anak orang yang nggak mampu. Tau sendiri kan media sekarang kalau buat berita suka di gede-gedein, ini semua gara-gara dia. Jadi kita sebagai anak orang kaya tercoreng namanya, dikira kita semua tuh jahat.” Penuh emosi Rebecca bicara.


"Eh, emang gue nggak salah bangsat."


"Sssstt.” Nicholas berusaha menenangkan Dena agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar.


"Mulut lo kotor banget ya, nggak heran banyak yang benci sama lo.” Kali ini Kevin ikut menyerang Dena.


"Apa lo?. Nggak usah ikut campur urusan gue, kalau lo nggak tau apa-apa.” Dena menyemprot Kevin dengan berapi-api.


Kevin sudah siap membalas.


"Ssssstt, Mpin udah..!”


Nicholas mencoba meredam Kevin dengan masih menahan Dena. Kevin pun akhirnya tak jadi bicara, sementara Miko membawa Rebecca menjauh. Nicholas menarik Dena agar meninggalkan tempat itu.


"Lepasin gue, Nich. Gue udah nggak tahan dengan semua ini, gue nggak salah, gue nggak pernah mendorong Karlita. Gue nggak tahan lagi dengan semua keadaan ini, gue nggak salaaah."


Dena mencoba melepaskan genggaman tangan Nicholas, yang mencengkeram lengannya dengan kuat sekali.


"Ssssttt." Lagi-lagi Nicholas mencoba meredam Dena.


"Gue mau selesaikan sekarang juga, gue nggak salah. Gue nggak mau nama gue hancur kayak gini.”


Dena meronta-ronta.


"Dena, please...!”


"Gue akan buat perhitungan dengan Rebecca atau siapapun juga yang masih nyalahin gue. Gue nggak salah."


"Ssssstttt, Deeen."


Nicholas menahan tubuh Dena, yang tengah meronta-ronta itu dengan kuat. Sampai akhirnya gadis itu jatuh kepelukannya sambil menangis histeris. Nicholas membiarkan gadis itu sesenggukan di pelukannya, sampai ia benar-benar puas dan merasa lega.


"Bukan gue pelakunya, Nich.”


Dena masih berusaha membela diri di tengah tangisnya yang terisak. Sementara Nicholas tak bisa berkata apa-apa. Ia masih terus memeluk Dena dan mencoba menenangkan gadis itu. Setelah emosinya mulai mereda, gadis itupun segera melepaskan pelukan Nicholas. Nicholas pun masih menatapnya tanpa berkata apa-apa.


"Makasih, Nich. Gue akan buktikan kalau gue nggak bersalah.”


Dena lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dari tempatnya berdiri, ia masih terus memandang kepergian Dena. Hingga gadis itu menghilang dibalik koridor sekolah.


Sementara disisi lain, Miko sudah berhasil menenangkan pacarnya. Rebecca tak lagi mengamuk, untungnya pula hal ini tak diketahui oleh guru. Hanya beberapa orang siswa saja yang sempat melihat, namun mereka tak berani mengadu lantaran reputasi Nicholas and the gang yang cukup disegani di sekolah mereka. Jadilah masalah itu selesai sampai disitu.


Waktu pun berlalu. Suatu ketika di sebuah rumah mewah, ada acara pelelangan besar yang digelar disana. Khusus pelelangan barang-barang berharga yang dihadiri banyak orang kaya. Ditempat itu, Prince melangkah mendekati seseorang yang tengah berdiri sambil memegang gelas berisi wine.


"Dokter Gerald.”


Prince menyapa dokter Gerald yang tengah sibuk memperhatikan sekitar. Ia agak sedikit terkejut dengan kehadiran Prince yang muncul secara tiba-tiba.


"Eh, Prince. Ada apa?" tanya Gerald kemudian.


"Dokter muda wanita yang tempo hari ada di sekolah saya itu, apa benar namanya Amaya?"


"Aaa."


"Yang dokter jemput waktu itu.” ujar Prince lagi.


Gerald agak sedikit terkejut. Ia tidak tahu jika sekolah itu adalah tempat dimana Prince menimba ilmu.


"Ja, jadi kamu sekolah disitu?" tanya nya dengan nada terbata-bata. Terlihat jelas sekali jika ada sebuah ketakutan yang disimpannya.


"Iya dan saya melihat semuanya. Apakah dia juga bertugas di rumah sakit yang sama dengan dokter Gerald?. Apa kalian sangat dekat?"


Prince bertanya dengan tatapan yang tegas menginterogasi. Lengkap dengan wajahnya yang congkak dan nada suaranya yang dingin.


Dokter Gerald menghela nafas.


"Ee, iya. Dia Koas, dulu dia mahasiswa saya. Ada apa memangnya?. Dan, koq kamu tau kalau namanya Amaya?"


Kali ini Prince tersenyum penuh kemenangan. Lebih tepatnya merasa sok atas sesuatu.


"Dokter Gerald, apa sih yang terjadi di kota ini yang nggak saya tau?. Saya tau banyak hal.”


"Lantas?" tanya dokter Gerald kemudian. Masih dengan suaranya yang sedikit gemetaran.


"Ya, kalau boleh sih. Saya mau kenal dia.” ujar Prince masih dengan gayanya yang sok cool namun songong.


"Kenal?. Maksudnya?" tanya Gerald bingung.


Lagi-lagi Prince tersenyum. Namun sudut matanya menyimpan sebuah hal yang tampaknya tidak begitu baik.


"Saya kira dokter mengerti dengan apa yang saya maksud.”


"Ee, tapi.”


Ucapan Gerald tercekat di tenggorokan, ia tahu reputasi Prince selama ini. Sebagai anak salah satu orang terkaya di kotanya, prince cukup terkenal dengan sikapnya yang manja dan banyak skandal dengan wanita-wanita cantik. Meskipun usianya masih terbilang muda, namun untuk urusan perempuan ia tak ada bedanya dengan sang ayah. Yang juga terkenal memiliki banyak skandal.


Banyak perempuan yang ingin menempel pada Prince. Baik yang usianya lebih muda, seumuran, maupun yang lebih tua darinya. Karena dirinya adalah pewaris tunggal dari seluruh kekayaan ayahnya. Namun Prince sendiri malah memanfaatkan reputasinya, untuk menggoda dan meniduri perempuan-perempuan yang kegilaan padanya. Lalu meninggalkannya begitu saja.


"Bagaimana, dokter Gerald?" tanya Prince sekali lagi.


"Ee."


Gerald masih tak mampu berkata banyak, ia tahu maksud jahat dibalik keinginan anak ingusan itu. Ia sendiri sejujurnya tak menyukai Prince maupun keluarganya. Mereka sombong, kurang sopan dan selalu menganggap segala sesuatu bisa diselesaikan dengan uang.


Namun karena sama-sama berasal dari keluarga kaya dan orang tua mereka saling mengenal satu sama lain, mau tidak mau mereka jadi sering bertemu.


"Atau saya beritahu sepupu saya, Marsha. Atau ke orang tuanya langsung?. Kalau tempo hari saya liat dokter Gerald berduaan dengan dokter muda Amaya. Menjemput dokter muda Amaya di sekolah saya. Bagaimana?. Hmmm?"


"Dokter Gerald lupa, kalau dokter sudah di jodohkan dengan saudara saya, dokter muda Marsha. Dan dokter hanya akan menerima warisan dari orang tua dokter jika dokter menikahi Marsha.”’


Prince lebih mendekatkan dirinya pada Gerald. Ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Gerald, yang membuat ekspresi wajah Gerald berubah makin tegang.


"Saya tunggu kabar baiknya.”


Prince menyudahi ucapannya lalu pergi meninggalkan Gerald, yang kini berada pada kebekuan yang mendalam.


Sementara malam mulai beranjak naik, Nicholas terpikir akan ucapan Dena saat ia menangis di sekolah tadi siang.


"Bukan gue pelakunya, Nich.”


Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, membuat ia harus berfikir ekstra dan mengira-ngira. Tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi. Melihat sikap Dena yang bersungguh-sungguh untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, membuat Nicholas mulai goyah pada keyakinannya. Ia merasa antara Dena maupun Karlita sama-sama memiliki alibi yang kuat.


Tapi, apakah mungkin memang Dena tidak bersalah?. Melihat sikapnya kepada Karlita selama ini. Lalu apa mungkin juga Karlita telah melakukan sebuah perbuatan yang besar?. Sedangkan ia sendiri adalah anak yang lemah dan tak berdaya, bahkan membela dirinya sendiri saja tidak sanggup.


"Oh, God."


Nicholas merasa kepalanya pusing, sampai kemudian tiba-tiba handphonenya berdering. Ternyata dari Marcell, ayahnya.


"Hallo, pa.”


"Nich, kamu nggak dateng ke acara pelelangan barang di Memphis House?" tanya Marcell kemudian.


"Orang dari grup kita nggak ada yang dateng, pa. Jason dan yang lainnya nggak dateng, apalagi Greyson sama Hadley. Mana mau mereka dateng, itu kan acara bapaknya Prince. Tau sendiri bapaknya Prince sombongnya kayak apa, pada males dateng kesana.”


"Oh, ya udalah kalau gitu. Papa pikir nggak enak aja kalau dari pihak kita nggak ada yang dateng. Soalnya tadi ada temen papa yang dateng kesana dan bilang kalau kamu nggak ada.”


"Yaelah, pa. Kalau mau nyumbang mah nyumbang aja kepada yang membutuhkan, nggak perlu melalui lelang segala. Jatuhnya malah saing-saingan dan pamer disana. Malah riya nanti.”


"Iya sih, kamu lagi apa sekarang?" tanya Marcell.


"Nggak lagi apa-apa. Cuma lagi diem aja di balkon.”


"Lagi mikirin sesuatu?"


"Adalah.”


"Cewek?"


Kali ini Nicholas terhenyak, ia tak tahu jika dirinya mudah ditebak. Cukup lama ia terdiam dan Marcell mengerti akan hal itu.


"Siapa orangnya?" tanya Marcell kemudian.


"Amaya, pa.”


"Amaya?. Amaya Sasi?"


"Ya siapa lagi, pa."


"Tapi kan dia di Belanda.”


"Dia disini.”


"Oh ya?"


Nicholas pun lalu bercerita pada ayahnya, mengenai awal pertemuannya kembali dengan Amaya. Ia juga menyampaikan maksud dan tujuannya serta mengatakan perihal Amaya, yang kini tampak tak mengenalinya. Ia juga bercerita jika ayah Diana kembali meneror Amaya dan berniat ingin mencelakainya.


"Nich.”


"Iya Pa.”


"Kamu jaga dia baik-baik dan jangan mengharap apapun. Termasuk berharap dia akan sama menyukai kamu atau sama mencintai kamu, seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Tugas kamu adalah mencintai dan menjaga dia dengan baik. Jangan melakukan sesuatu hanya karena ada maksud tertentu, lakukan semuanya dengan tulus. Masalah dia akan suka sama kamu atau tidak nantinya, biarlah nanti waktu yang menjawab.”


Nicholas terdiam, kali ini ia benar-benar ketakutan. Meskipun apa yang dikatakan ayahnya adalah benar adanya, namun jujur ia takut. Takut menghadapi kenyataan jika Amaya tidak bisa mencintainya.


Meskipun perasaan memang tidak bisa dipaksakan, namun menjadi bagian dari hidup Amaya adalah hal yang paling ia inginkan.


"Nich?"


"Oh, iya pa.”


"Papa harap kamu mengerti.”


"Iya, pa. Nicho ngerti koq.”


Mereka menyudahi percakapan itu. Lalu Nicholas pun mengambil gitar yang ada tak jauh darinya. Perlahan suara gitar itupun mengalun. Menyanyikan lagu bertajuk, "I can't make you love me" yang belakangan ini dipopulerkan kembali oleh Shane Filan.


Turn down the lights


Turn down the bed


Turn down these voices


Inside my head


Lay down with me


Tell me no lies


Just hold me close


Don't patronize


Don't patronize me


'Cause I can't make you love me


If you don't


You can't make your heart feel


Something it won't


Here in the dark


In these final hours


I will lay down my heart


And I'll feel the power


But you won't


No, you won't