I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Sisa Semalam



Nicholas kaget dan terbangun di pagi hari. Ketika matahari mulai menyeruak memasuki celah gorden.


Ia mendapati tubuhnya berada di atas sebuah sofa yang ia ketahui bukanlah sofa di apartmentnya.


"Selamat pagi.”


Tiba-tiba Amaya sudah berada di hadapannya lengkap dengan setelan baju yang rapi, makeup minimalis serta rambut yang di kuncir satu ke belakang. Ia sudah siap menjalani tugas Koasnya hari ini.


Nicholas bangun dari tidurnya dan memperhatikan sekitar. Matanya masih terasa berat, seakan ada batu yang menggelayuti.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku semalam?" tanyanya kemudian.


"Kamu udah tidur nyenyak banget, mana tega aku bangunin. Lagian kan nggak baik juga nyetir mobil dalam keadaan mengantuk."


"Kan aku bisa pulang kerumah sebelah.”


"Rumah sebelah?. Maksud kamu?" tanya Amaya heran.


"Yang di sebelah kanan ini kan, rumah papa ku.”


"Oh ya?"


Amaya terkejut mendengar hal tersebut. Ia tak menyangka jika orang tua Nicholas memiliki rumah persis di samping rumahnya.


"Koq kamu nggak pernah cerita sama aku.”


"Ini aku cerita.”


"Ya semalam mana aku tau kalau kamu punya rumah disini. Makanya nggak aku bangunin.”


Nicholas lalu beranjak.


"Kamu mau kemana?" tanya Amaya kemudian.


"Ke sebelah, mau mandi" jawabnya masih setengah mengantuk.


"Bukannya disebelah masih di renovasi ya?"


"Iya, tapi kan ada kamar mandinya diatas.”


"Udah mandi disini aja, ribet kalau mesti ke sebelah segala. Masih ngantuk gitu, ntar nabrak tembok loh. Nembus lagi ntar.”


Nicholas tertawa.


"Iya, aku ambil baju sama handuk dulu di mobil.”


"Ada?"


"Ada, aku selalu bawa baju ganti dan peralatan mandi di mobil. Karena aku jarang pulang kerumah. Kadang nginep dirumah temen.”


"Oh, oke.”


Nicholas lalu keluar menuju mobilnya dan mengambil baju serta peralatan mandi. Tak lama kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah.


"Kamar mandinya dimana?" tanya Nicholas kemudian.


"Pake yang dikamar ini aja.” ujar Amaya menunjuk ke arah sebuah kamar, yang memang tidak digunakan olehnya. Namun kamar itu selalu ia bersihkan setiap hari.


"Nanti kamu bisa ganti di sana juga.” lanjutnya kemudian.


Nicholas pun melangkah menuju ke kamar tersebut. Selang beberapa menit kemudian, Amaya menuju ke kamar tempat dimana Nicholas berada, ia ingin bertanya anak itu mau sarapan apa pagi ini.


Amaya pikir anak itu sudah siap. Tanpa menaruh curiga, ia membuka saja pintu kamar itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Nich.”


Tiba-tiba Amaya dan Nicholas sama-sama terkejut, karena Nicholas masih memakai handuk dan belum berganti pakaian. Parahnya lagi tiba-tiba saja handuk yang dipakai Nicholas untuk menutupi tubuhnya tersebut pun terjatuh ke lantai.


"Aaaaaa."


Keduanya berteriak dan Amaya pun spontan menutup kembali pintu kamar tersebut. Kini Nicholas terdiam dengan wajah panik dan nafas yang ngos-ngosan. Seumur hidup, belum pernah ada satu wanita pun yang pernah melihat bagian dalam tubuhnya secara keseluruhan. Biasanya hanya sebagian saja ketika berenang.


Berkali-kali ia coba memejamkan mata guna mengumpulkan keberanian, agar bisa keluar dari kamar tersebut setelah ia berganti pakaian. Ia benar-benar malu atas kejadian tadi. Namun mau tidak mau akhirnya ia pun harus keluar. Nicholas bersikap santai meskipun hatinya masih dag dig dug der.


"Kamu udah siap?" tanya Amaya kemudian.


Nicholas mengangguk. Agaknya Amaya sudah tidak mempermasalahkan hal yang telah terjadi. Karena ia sendiri memiliki latar belakang pendidikan sebagai dokter. Ia sudah terbiasa melihat organ intim pasien baik laki-laki maupun perempuan.


"Kita sarapan dulu ya.” ujarnya lagi.


"Kamu mau sarapan apa?" Nicholas bertanya pada Amaya.


"Kamu sendiri?"


Amaya balik bertanya.


"Terserah..”


"Tumben, cowok ngomong terserah.” goda Amaya. Nicholas hanya tertawa, ia benar-benar tak mempunyai ide saat ini.


"Biasanya makan apa kalau pagi?" tanya Amaya lagi.


"Nasi.” ujar Nicholas lalu menatap Amaya.


“Kenapa?. Indonesia banget ya?.” tanya Nicholas


Kali ini Amaya tertawa.


“Jepang sama Korea juga sama koq.”


Amaya melirik arloji yang masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


Nicholas menatap Amaya. Dari dulu sampai sekarang, Amaya memang tak pernah bisa memasak. Kalaupun dipaksakan, pasti rasanya amburadul.


"Ya udah, aku aja yang masak.”


“Ok, eh tapi bahan-bahan nya juga abis.”


"Ya udah tunggu disini...!” ujar Nicholas.


Pemuda itupun lalu pergi keluar, Amaya memasak nasi. Selang beberapa saat kemudian, Nicholas pun kembali.


"Kamu dari mana?" tanya Amaya seraya memperhatikan Nicholas yang membawa dua paperbag penuh berisi belanjaan.


“Dari supermarket depan.”


"Oh, kamu beli apa aja?.”


Nicholas memperlihatkan barang belanjaan nya. Ada beberapa sayuran, buah-buahan, daging, ayam dan juga telur.


"Banyak banget, Nich.”


“Kan sisanya bisa buat kamu.”


"Tapi kan aku nggak bisa masak. Bisanya cuma nasi, sama mie. Aku mau coba tapi takut, ancur rasanya.”


Kali ini Nicholas tersenyum.


“Gampang, kan sekarang udah banyak aplikasi memasak. Kamu juga bisa liat di YouTube. Atau tanya sama aku.”


“Iya juga sih.” Amaya tersenyum manis.


Nicholas pun mulai memotong bahan. Amaya sendiri memilih menonton saja dan membantu sedikit-sedikit.


"Kamu mendingan bersihin yang lain.” ujar Nicholas sambil melirik bagian rumah Amaya yang masih berantakan.


"Nanti aja ah, pas pulang kerja.”


Nicholas yang masih sibuk memasak itupun paham, betapa malasnya perempuan ini. Namun itu menjadi kelucuan tersendiri baginya.


"Kalau udah bersih semua, nanti kamu pulang kerja tinggal tidur. Nggak perlu repot lagi. Mumpung masih pagi loh. Nanti bagian dapur sini, aku yang beresin.”


Amaya pikir ada benarnya juga ucapan anak itu. Selama ini ia selalu menunda-nunda pekerjaan rumah. Akibatnya setelah pulang dari kegiatan Koas, acapkali capeknya jadi double. Karena harus membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya beristirahat.


Ia lalu menuruti perintah Nicholas dan membereskan seluruh bagian rumah, termasuk mengelap barang dan perabotan serta kaca. Untuk urusan debu, ia punya penyedot debu otomatis yang selalu siap menghisap debu kapanpun dan dimanapun tempatnya.


Ketika semuanya selesai, mereka berdua pun sama-sama duduk di meja makan. Nicholas membuat telur dadar dan sup misho tahu yang dicampur wortel serta buncis.


Mereka pun kemudian makan bersama.


Amaya terkesima dengan cara pemuda itu memperlakukan dirinya. Ketika ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Amaya. Dan yang lebih membuat ia tertegun lagi adalah ketika ia mencicipi masakan tersebut. Tak disangkanya anak laki-laki yang terlihat biasa saja tersebut memiliki kemampuan masak yang lumayan.


"Hmmm enak, kamu pinter masak juga ya ternyata.”


Amaya memuji masakan Nicholas, sementara pemuda itu hanya tersenyum tipis.


"Kamu bisa masak sejak usia berapa?" Amaya mulai kepo pada kehidupan Nicholas.


"Proses belajarnya udah dari kecil, dari SD. Tapi bisa-bisanya pas SMP.”


"Kenapa tertarik belajar masak?. Kan biasanya anak cowok ogah ke dapur.”


"Karena aku suka makan. Kadang pengen makan apa, tapi mama masaknya apa. Makanya dari situ aku belajar masak. Biar apapun yang aku mau makan, bisa aku bikin sendiri tanpa harus nyusahin orang lain. Dan sekarang semuanya itu berguna. Karena aku tinggal sendiri dan harus terbiasa menyiapkan segala sesuatunya sendiri.”


Amaya lalu tersenyum, ia agak sedikit keki pada anak itu. Karena dirinya sendiri tak begitu mahir memasak, kecuali seperti yang sudah ia sebutkan tadi. Nasi, air dan mie instan. Ia ahli dalam ketiga bidang tersebut.


Usai makan, Nicholas menepati janjinya untuk membereskan area dapur. Ia mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai dapur hingga bersih.


Beberapa saat kemudian, mereka pun berangkat. Nicholas mengawasi sekitar. Ia takut kalau-kalau ayah Diana ada di sekitar. Ternyata hari itu tak ada siapapun yang mencurigakan. Nicholas lalu mengantar Amaya ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, saat baru saja keluar dari mobil Nicholas dan hendak melangkah menuju lobi, Amaya dikejutkan dengan kehadiran dokter Gerald yang muncul secara tiba-tiba lalu berdiri dihadapannya.


Tak lama kemudian di tangga lobi, tampak Marsha juga tiba lalu menghentikan langkah dan memperhatikan ke arah Gerald yang membelakanginya.


Amaya sangat membenci hal ini. Jika bukan karena tugas dan penilaian, ia sejatinya malas untuk datang. Lebih baik rebahan dan scroll tiktok, pikirnya. Ia tak suka pada Gerald yang selalu mencampuri urusannya dan berusaha mendekatinya.


Ia juga tak suka ketika Marsha sok mengintimidasi dirinya, lantaran cemburu pada sikap Gerald yang berlebihan. Sedang Gerald sendiri tak sadar bahaya apa yang sudah ia sebarkan pada Amaya atas sikapnya tersebut. Gerald selalu tidak paham jika ia membawa petaka bagi orang lain. Terutama petaka soal kecemburuan Marsha yang membabi buta.


Amaya melangkah ragu-ragu, ingin rasanya ia tak menyapa Gerald. Namun sebagai dokter muda yang sedang dalam masa penilaian, mustahil baginya untuk berpura-pura tidak mengenal Gerald apalagi sampai tak menyapa. Terlebih Gerald kini sudah ada didepan matanya.


"Hei...."


Tiba-tiba Nicholas memanggil. Amaya menghentikan langkahnya lalu berbalik.


Dengan langkah tenang dan penuh percaya diri, Nicholas mendekati wanita itu lalu kemudian,


"Sreeet..."


Nicholas menarik ikat rambut Amaya. Hingga menyebabkan rambutnya yang semula terkuncir rapi, kini jatuh terurai dengan indahnya.


Amaya terlihat begitu cantik, namun wajahnya seketika memerah demi mendapatkan perlakuan manis tersebut.


"You're so beautiful.” ujar Nicholas kemudian. Amaya pun tersenyum, lalu kini berbalik menuju pintu lobi dengan hati gembira.


"Morning."


Amaya menyapa Gerald dan berlalu begitu saja. Ia melangkah menaiki tangga lobi seolah tak melihat adanya Marsha disana. Sementara dari tempatnya berdiri, Nicholas dapat menyaksikan Gerald yang masih terpaku. Dokter itu menatapnya dengan penuh rasa dendam dan persaingan.


Nicholas hanya tertawa kecil. Tak lama kemudian, ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan pelataran parkir rumah sakit tersebut. Kini ia menuju ke sekolah.