
"Lo tadi kenapa nyumpahin gue kejang-kejang dan serangan jantung segala, Bambang."
Nicholas sewot pada Dirly.
"Lo jangan ngegas, Sugiono. Ntar ketauan aja lo kalau itu sinus lo sengaja bikin kambuh. Berakting dikit kayak orang yang sakit alami." ujar Miko panjang lebar.
“Kasih paham, Mik.” ujar Dirly kemudian. Nicholas pun lalu diam.
“Gimana Nich, belum tentu kan Amaya ada didalam?” ujar Jason kemudian.
“Ya udah sih nggak apa-apa. Kalau gagal ketemu hari ini ya besok kan bisa balik lagi."
“Terus lo mau pura-pura sakit lagi gitu Nich?” tanya Kevin penasaran.
“Besok gue pura-pura ketelen gayung kamar mandi."
Mereka semua tertawa. Namun kemudian,
“Deeegggh." hati Nicholas bergetar hebat.
Ia menoleh pada suatu arah. Tampak Sasi Kirana Amaya melangkah ke arahnya. Membuat ia dan teman-temannya seketika diam membisu. Hanya tangan Kevin yang heboh menunjuk-nunjuk Amaya, tanpa bisa ia berkata sepatah pun. Amaya lalu terlihat masuk ke ruangan dokter Margaret.
“Amaya, Nich. Amaya." Teman-temannya kini antusias.
Mereka yang semula berdiri, akhirnya duduk di kursi ruang tunggu dengan sangat antusias. Karena mereka tau Amaya ada di ruangan dokter tersebut. Dugaan dan perkiraan Nicholas tidak meleset. Dan kemungkinan Nicholas untuk berinteraksi dengannya cukup besar.
Antrian lumayan panjang. Mulanya mereka duduk, sampai akhirnya guling-gulingan di lantai saking lamanya menunggu.
Mereka pun tak luput dari berbagai macam cobaan. Mulai dari duduk disisi orang yang dikit-dikit bersin, dikit-dikit buang ingus. Sampai anak kecil yang muntah tepat di hadapan Jason. Yang membuat mereka semua mual dan akhirnya pindah ke kursi lain.
Ada juga nenek-nenek yang tertidur di bahu Miko. Sampai cewek cantik yang tatap-tatapan dengan Kevin, sehingga Kevin menjadi baper. Lalu pada detik berikutnya seorang anak kecil datang menghampiri si cewek sambil berteriak,
"Mamaaa."
Tentu saja hal tersebut mengundang tawa tersendiri bagi Nicholas dan teman-temannya selama menunggu antrian. Apalagi setelah anak itu menghambur ke arah si perempuan, seorang laki-laki tampan, tinggi dan besar pun turut menghampiri. Agaknya itu adalah suami si perempuan.
Sontak mereka semua pun menertawai Kevin yang tampak sewot seperti kalah main game online. Mereka terus menunggu, hingga kemudian nama Nicholas pun dipanggil.
Ia mulai berakting kembali dengan memasang wajah kuyu. Padahal tadi ia biasa saja, karena sudah terbiasa menghadapi sinus dan alerginya selama bertahun-tahun. Teman-temannya pun memberi semangat, mereka mendorong Nicholas menuju pintu masuk ruangan dokter Margaret. Yang di dalamnya juga terdapat sosok terduga Amaya.
Nicholas pun masuk, ia melihat dokter Margaret tengah sibuk menandai sesuatu di buku catatannya. Namun matanya beralih pada Amaya.
"Deegghh."
Hati Nicholas bergetar untuk kesekian kalinya.
"Deegghh."
"Deegghh."
"Deegghh."
Seperti kembali pada peristiwa beberapa tahun yang lalu, entah mengapa Nicholas merasakan perasaan yang amat sangat emosional kali ini.
Nicholas terpaku menatap Amaya yang tengah sibuk membereskan sesuatu. Matanya berkaca-kaca karena senang sekaligus tak percaya. Terduga gadis dari masa lalunya itu kini ada tepat dihadapannya. Nicholas terus terpaku, sampai kemudian Amaya melihat ke arahnya lalu tersenyum.
"Selamat siang." sapa Amaya ramah.
"Selamat siang." jawab Nicholas.
Dokter Margaret ikut tersenyum dan memperhatikan adegan itu.
“Ehm, dokternya sebelah sini." ujar dokter Margaret.
Seketika Nicholas pun tersadar lalu menatap ke arah dokter tersebut. Ia pun lalu mendekat.
“Dok."
Dokter Margaret tersenyum.
“Ruangan saya pemandangannya indah ya?” ujarnya seraya melirik ke arah koas Amaya sambil tersenyum. Nicholas pun jadi gemetaran.
"Duduk."
"Terima kasih, dok." ujar Nicholas lalu duduk dihadapan dokter Margaret.
"Nicho."
"Iya dok."
Amaya mendengar dokter Margaret yang menyebutkan nama pasien. Namun untungnya Nicholas tak menuliskan nama lengkapnya. Ia ingin tahu seberapa kuat ingatan Amaya dalam mengingat dirinya.
"Kamu memiliki surat rujukan dari dokter umum, dengan riwayat alergi dan sinusitis cukup parah."
"Iya, dok."
Dokter tersebut pun bertanya lebih lanjut kepada Nicholas. Pemuda itu menjelaskan dengan apa adanya, karena memang ia menderita penyakit tersebut sejak lama.
Ketika ia menjaga makan dan kebiasaan, maka penyakit itu seakan menjauh. Tapi ketika ia mendekati pemicunya, maka penyakit itu akan muncul dengan mudah.
"Dek koas."
“Iya dok." Amaya menjawab.
“Ayo." Dokter Margaret beranjak. Setelah sebelumnya memberitahu Nicholas, bahwa pemuda itu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Baik, dok." jawab Amaya seraya ikut beranjak. Nicholas dibawa keruang dalam. Disana dokter Margaret melakukan serangkaian pemeriksaan, dengan Amaya bertindak sebagai pencatat dari gejala dan tanda-tanda yang dimiliki oleh pasien.
Disepanjang pemeriksaan berlangsung, mata Nicholas tak pernah terlepas dari Amaya. Ia memperhatikan cara wanita itu bicara, tersenyum. Semuanya tak ada yang berubah, ia masih Amaya nya yang dulu. Hanya saja kini penampilannya yang jauh berubah. Sama seperti Nicholas sendiri.
Namun satu hal yang membuat hati Nicholas kian bergemuruh, adalah ketika ia membaca nama yang ada di dada kiri wanita itu.
"Sasi Kirana Amaya."
"Deegghh."
Nicholas makin yakin pada apa yang dilihatnya, ia pun lalu tersenyum. Hingga ketika dokter Margaret berbicara padanya, Nicholas makin tersenyum seraya memperhatikan Amaya.
"Nicho."
"Eh iya, dok." ujarnya kemudian.
"Sudah selesai ya." ujar dokter Margaret sambil tersenyum. Nicholas pun kini beranjak, untuk kembali keruang konsultasi.
"Kamu yang nyerobot gula kapas kemarin kan?" Amaya tiba-tiba melontarkan pertanyaan, ketika ia mengantar Nicholas kembali menuju ruang konsultasi. Nicholas menatap wanita itu seraya melangkah.
"Saya tidak akan merebut gula kapas lagi, tapi hati kamu."
Amaya tercengang, sejenak ia menghentikan langkah dan memperhatikan pemuda itu. Tak lama kemudian, ia pun kembali berjalan dengan pipi bersemu merah.
Selesai pemeriksaan, Amaya menjelaskan pada dokter Margaret mengenai diagnosanya. Dokter Margaret setuju karena diagnosa Amaya sama dengan perkiraannya. Dokter berusia 40 tahunan itu kemudian kembali ke meja dan menulis beberapa resep.
"Jadi, saya kenapa dok?" tanya Nicholas pada dokter Margaret kemudian.
"Mmm, kamu akan saya kasih resep obat dulu. Kalau memang semuanya masih terasa menyiksa, kita akan bicarakan mengenai operasi untuk sinusitis kamu."
Dokter Margaret memberikan semacam senyuman misterius. Seolah ia tau apa yang tengah dirahasiakan oleh Nicholas. Nicholas pun sedikit takut, takut kalau kesengajaannya akan terbongkar.
“Jangan sering berdekatan dengan pemicu alergi, atau faktor lain yang bisa meningkatkan resiko sinusitis kamu kambuh."
"Gawat, jangan-jangan ini dokter merangkap cenayang lagi." gumam Nicholas dalam hati. Ia tak tau apakah dokter Margaret memang mengetahui, atau ini semua hanya ketakutan Nicholas sendiri saja.
"Ini saya kasih resep obat dan beberapa vitamin. Kamu nanti ambil di apotek bawah ya. Di lantai 1."
"Ok."
Dokter Margaret menyerahkan resep obat itu, namun Nicholas kembali terpaku menatap Amaya.
"Nicho, ini resepnya."
Nicholas masih terpaku.
"Nicho, ini resepnya ya."
"Eh, oh eh. iya dok." Nicholas menoleh pada dokter Margaret dan mengambil resep obat miliknya.
“Jadi ini yang harus saya ambil dibawah?" Nicholas gelagapan dan tampak salah tingkah.
"Iya, jangan lupa minum obatnya ya?"
"Iya dok.” Nicholas beranjak, namun kembali terpaku.
“Pintunya di sebelah sana.” Amaya menunjuk ke suatu arah. Nicholas pun melangkah meski dengan berat hati.
kemudian Nicholas meninggalkan ruangan itu sambil senyum-senyum sendiri. Ia menghampiri teman-temannya yang memang sejak tadi sudah harap-harap cemas menunggu kedatangannya.
"Gimana, Nich?" tanya temannya antusias.
Nicholas diam dan tertunduk, teman-temannya sudah mengira jika mereka salah orang. Mereka sudah menduga jika dokter Sasi yang kini mereka datangi, bukanlah Amaya yang berasal dari masa lalu Nicholas. Melainkan orang lain yang namanya kebetulan sama. Mereka semua hopeless sampai kemudian Nicholas tersenyum, lalu pada detik berikutnya.
"Dia beneran Amaya." ujarnya antusias.
“Gue tadi liat nama lengkapnya, denger suaranya dan liat gesturnya. Dia beneran Amaya."
"Yeeeeeiii."
Teman-temannya pun bersorak kegirangan.
"Serius Nich?" tanya Kevin tak kalah antusias.
"Serius, namanya beneran Sasi Kirana Amaya."
“Kalau namanya sama doang?”
“Gue yakin itu dia. 100%."
"Yeeeeiiii." Lagi-lagi mereka bersorak.
"Lega hati gue, bro." ujar Miko kemudian.
"Yeyeyeyei."
“Tapi, bro."
Kevin menunjukkan wajah yang serius. Membuat semua orang yang antusias seketika terdiam.
“Kalau dia udah punya suami gimana?”
tanyanya kemudian.
Nicholas tertawa kecil. Sementara Jason dan yang lainnya kompak melebarkan bibir dan menarik nafas.
“Mpin, mana ada dokter baru lulus langsung nikah. Perjalanan mereka buat jadi dokter itu masih panjang." ujar Dirly menjelaskan.
“Lah siapa tau aja."
“Nggak ada, rata-rata mereka fokus dulu ke pendidikan profesi."
“Oh gitu ya, hehehe." Kevin nyengir bajing.
“Nyengir mulu lo kayak tupai." Miko sukses membuat mereka semua kembali tertawa.
"Sssttt, rumah sakit Bray. Suara kita dari tadi."
Nicholas mengingatkan teman-temannya. Mereka pun mulai sadar jika banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
"Kita mending mulai melangkah sebelum di timpuk tabung oksigen." tambah Jason.
Detik berikutnya mereka pun mulai bergerak jalan kesamping seperti kepiting.
"Tuing, tuing, tuing."
Nicholas dan teman-temannya pun tampak bahagia hari itu. Mereka menjenguk ibu Miko dan adik bayinya beberapa saat. Lalu keluar dari rumah sakit itu, dengan perasaan amat sangat bahagia.
"Eh, lo pada mau makan apa abis ini?. Gue yang traktir." ujar Nicholas. Teman-temannya pun kembali bersorak kegirangan.
"Apa aja, bro. Yang penting kita makan dan bahagia." ujar Miko seraya sumringah.
"Ah nggak ah, Miko dusta." seloroh Kevin.
"Emang dia mau diajak makan laler ijo tumis?. Gua mah nggak mau." lanjutnya kemudian.
"Maksud gue makan apa aja tuh yang penting makanan, Panjul." Miko menoyor kepala Kevin.
"Makanan manusia, maksud gue." ujar Miko lagi.
"Spesifik dong, kayak gue sekarang lagi mau makan pizza." Kevin menentukan pilihannya.
"Gue mau makanan Korea, Nich." Rengek Jason pada Nicholas.
"Gue juga." ujar Dirly menimpali.
"Tapi gue mau pizzaaa."
Rengekan Kevin lebih besar dan ngegas. Membuat yang lain saling tatap dan tersenyum.
"Ya udah-ya udah, kita makan Korea dulu. Abis itu kita nongkrong di pizza. Gimana?" tanya Nicho meminta kepastian.
"Oke." jawab yang lainnya serentak. Mereka pun lalu melangkah ke arah mobil
"Nich, tapi kita makan pizza beneran kan nanti?. Bukan nongkrong didepannya doang kan?" Kevin memastikan. Membuat teman-temannya yang lain menjadi geram dan memberikan pukulan kecil ke kepalanya.
"Iya Panjuuul, makan nanti. Gemes gue, pengen gue jorokin ke jalan tol lu." ujar Dirly sewot.
"Hehehe." Kevin nyengir tanpa dosa. Sementara yang lain hanya tertawa.
Mobil mereka pun melaju dengan kencang, meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. Melintasi jalan demi jalan. Nicholas mentraktir mereka makan di restoran Korea langganan mereka, dan setelah itu lanjut makan pizza agar Kevin tak ngambek seperti anak kecil.
Hari itu berlalu dengan penuh kegembiraan. Akhirnya setelah penantian selama bertahun-tahun, Nicholas kembali menemukan separuh hatinya.
Meskipun akan ada perjuangan panjang yang mesti ia lalui, guna merebut kembali perhatian wanita itu. Paling tidak, ia sudah tau jika gadis itu memanglah Amaya. Maka ia tak memiliki beban apapun untuk mendekati wanita itu. Tak perlu takut salah orang. Tak ada yang mampu menggoyahkan keinginannya, kecuali statusnya yang belum menjadi apa-apa. Namun itu tak jadi masalah baginya untuk saat ini. Ia masih percaya pada kekuatan cinta.
Dan ia yakin pada apa-apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk bersatu kembali, makan akan dipertemukan dengan cara-cara yang tidak disangka.
Ia selalu yakin jika Amaya adalah takdirnya.