
Usai puas menikmati kota Jogja, rombongan study tour bertolak ke Magelang. Guna mengunjungi candi Budha terbesar di Indonesia yakni candi Borobudur. Sebuah bangunan megah peninggalan dari dinasti atau wangsa Syailendra. Yang memerintah di era 800 an Masehi.
Belum cukup rasanya, jika tidak mengunjungi tempat bersejarah yang satu itu. Nicholas dan teman-temannya sendiri masih dalam keadaan stabil. Tidak ada yang terkena flu atau kelelahan diantara mereka.
Biasanya baik Nicholas maupun Kevin adalah manusia paling rentan terkena flu jika diajak kemanapun itu. Salah makan sedikit saja bisa batuk. Kalau sudah batuk maka akan diikuti bersin lalu pilek seketika. Malamnya pasti keduanya meriang.
Namun Kevin jauh lebih kuat ketimbang Nicholas. Karena makhluk satu itu adalah raja nya suplemen. Mengetahui dirinya gampang sakit, ia selalu siap sedia berbagai jenis suplemen kemanapun ia pergi.
Berbeda dengan Nicholas yang agak malas mengkonsumsi suplemen, jika tidak dipaksa dan disodorkan serta di pelototi secara nyata. Anak itu beralasan sepanjang hidupnya semasa sakit dan penyembuhan sirosis telah mengkonsumsi begitu banyak obat. Ia merasa bosan dan trauma dengan bau obat-obat an.
Tentu saja jika terjadi apa-apa, pastilah Dirly, Miko dan juga Jason ikut kerepotan mengurusnya. Namun sepanjang perjalanan ini, ia tampaknya baik-baik saja. Ia mendapatkan energi lebih dari kedekatannya dengan Amaya yang mulai intens.
Di dalam bus ini saja misalnya. Ia dan teman-temannya tampak bernyanyi dengan penuh antusias. Mengikuti iringan gitar dari salah seorang guru muda yang duduk di bagian depan serta menghadap kepada semua penumpang. Perjalanan menjadi begitu mengasyikkan.
"Gue seneng liat Nicholas sekarang.” ujar Dirly pada Miko yang duduk disebelahnya.
"Iya, dia jadi lebih hidup sejak ketemu lagi sama Amaya.”
"Gue juga ngerasain aura nya sih.”
"Ho'oh, positif. Asal jangan bikin ceweknya positif aja ntar.”
"Hahahaha...”
Mereka berdua tertawa. Nicholas tak sengaja menoleh pada keduanya.
"Ngetawain apaan sih Lo berdua?" tanyanya curiga.
"Kagak.” jawab Dirly sambil cengar-cengir.
"Lo ngomongin gue ya.”
"Dih pede lu.” ujar Miko sewot.
"Nich.”
Salah seorang guru memanggilnya.
"Kenapa pak?" tanya Nicholas kemudian.
"Nih gantian, kamu yang main gitar.”
Nicholas lalu maju ke depan dan mengambil gitar dari tangan guru tersebut.
"Nich, Phil Collins. Nich.” celetuk Kevin.
"Hati yang kau sakiti aja, Nich.”
"BTS, Nich.”
"NCT dong.”
"Jangan, Blackpink aja.”
"Heh, ribet semua. Udah Pamer bojo aja Nich.”
ujar Miko. Nicholas pun tertawa.
Ia mulai memetik gitar tersebut dan mulai menyanyikan berbagai lagu. Sesuai permintaan dari teman-temannya.
Suasana di dalam bus tersebut sangat riuh. Mereka bernyanyi disepanjang perjalanan. Beberapa diantaranya mengabadikan moment tersebut dalam insta story sosial media milik mereka.
Hingga tanpa terasa, mereka sudah tiba di penginapan yang tak jauh dari candi Borobudur. Mereka terbagi di beberapa titik. Karena jumlah siswanya yang lumayan banyak, maka mereka menginap di beberapa penginapan. Nicholas dan teman-temannya berada di satu penginapan yang sama.
Jelas mereka semua tak mau dipisahkan dengan alasan tak seru jika harus berada di tempat yang berbeda.
Mereka sampai pada malam hari. Karena berangkatnya memang sudah sore. Jason, Kevin, Dirly dan Miko langsung mandi dan tidur. Karena mereka ingin mengejar Sunrise di Borobudur.
Tapi lain hal nya dengan Nicholas. Ia tidak bisa tidur sedikitpun karena benaknya kini dipenuhi Amaya. Ia memikirkan wanita itu tiap waktu. Dan jadi lebih sering di saat malam seperti ini.
Ia merindukan wanita itu. Sama seperti hari-hari di tahun-tahun sebelumnya. Ia selalu berharap bisa berada di dekat wanita itu setiap saat. Ingin rasanya berbicara berdua. Entah hanya untuk sekedar membahas hal yang tak penting.
Nicholas mengirim pesan singkat pada Amaya. Namun perempuan itu tak menjawab. Mungkin sudah tidur pikirnya. Nicholas lalu keluar, pergi ke dapur penginapan dan mencari kopi. Malam itu cuaca lumayan dingin. Ia menyeduh kopi kemudian membawanya.
Dapur tersebut terpisah dari penginapan. Ia berjalan bermaksud kembali ke kamar. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkah saat melihat Dena tengah duduk diam di sebuah kursi. Kebetulan Dena satu penginapan dengan nya.
"Lo nggak tidur, Den?" tanya Nicholas seraya duduk di sisi Dena.
"Nggak Nich, gue nggak bisa tidur.”
"Kopi?" Nicholas menawarkan kopi nya.
" Nggak usah, makasih. Ini gue ada air mineral koq.”
"Lo udah makan?"
"Udah, Lo sendiri?"
"Udah tadi.”
"Temen Lo mana?" tanya Dena kemudian.
"Udah pada tidur semua. Lo sekamar sama siapa?"
"Gue sendiri, Nich. Mana ada lagi yang mau temenan sama gue. Teman gue semuanya palsu.”
Nicholas tak tau harus merespon dengan cara apa. Agaknya ia sedikit salah dalam melontarkan pertanyaan.
"Langitnya lagi bagus ya.”
Nicholas mengalihkan pembicaraan. Dena tersenyum getir dan mencoba menatap langit.
"Nich...”
"Hmmm?"
"Apa Lo percaya sepenuhnya sama Karlita?"
Nicholas agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Karena dia sendiri sedang tak berniat membahas masalah yang terjadi di antara Dena dan juga Karlita.
"Gue sama Karlita itu nggak ada masalah apa-apa. Jadi gue harus percaya atau nggak percaya masalah apa ke dia?"
Dena menarik nafas. Entah apa yang ada dipikiran nya saat ini. Nicholas tak begitu mengerti. Ia hanya menatap Dena menanti jawaban. Namun gadis itu malah larut dalam diam.
"Besok, Lo mau liat sunrise nggak?" tanya Nicholas membuyarkan lamunan Dena.
"Nggak tau Nich, kalau kebangun sih mau.”
"Makanya tidur dari sekarang, biar bisa bangun pagi.”
"Lo sendiri?"
Kali ini Nicholas tertawa.
"Bentar lagi gue tidur koq.”
"Kalau besok, gue ikut Lo. Lo nggak malu emangnya?"
"Malu kenapa, Den?"
Tiba-tiba Dena menunduk. Perlahan namun pasti air matanya mulai mengalir.
"Nich, gue nggak tau harus gimana lagi sekarang. Semua orang udah terlanjur menganggap gue ini jahat.”
Tangis Dena mulai terisak. Nicholas terus memperhatikannya.
"Seiring dengan waktu semuanya pasti berakhir, Den. Asal Lo mau berubah.”
"Gue rasanya mau pindah aja dari sini Nich, tapi kita udah kelas 3. Udah tanggung buat gue untuk pergi dari sekolah ini. Lagipula gue menginginkan ijazah nya untuk kepentingan masuk universitas impian gue.”
Nicholas memberikan sapu tangan pada Dena. Dena lalu mengusap air matanya. Ia tau tak ada gunanya menangis. Hanya saja tak ada lagi yang bisa dilakukannya guna melampiaskan seluruh perasaan tertekan nya kecuali menangis.
Malam itu bintang begitu banyak, hanya bulan saja yang tidak kelihatan dimana keberadaan nya. Nicholas dan Dena terdiam cukup lama di bawah langit. Tanpa tau harus lanjut membicarakan apa.
"Honeeeeey, Nichoooooo.”
Tiba-tiba Nicholas terbangun dari tidurnya tepat pada pukul 04:30 dini hari. Baru juga satu setengah jam ia tidur. Sudah mendengar suara seseorang yang amat berisik.
"Raline, ngapain dikamar gue?"'
Nicholas melihat sekitar.
"Anak-anak lain kemana?" Tanya nya kemudian. Ia tak melihat temannya satu pun.
"Mereka udah pada jalan mau liat sunrise. Mereka suruh Raline bangunin ayank. Ayank Nicho cepetan bangun.”
Nicholas menghela nafas dan beranjak. Ia tidak mau ketinggalan sunrise hari ini.
"Di luar masih bagus nggak langit nya?"
"Bagus koq, nggak mendung. Ayo buruan. Ntar keburu sunrise.”
"Ya udah, gue gosok gigi sama cuci muka dulu."
"Raline tunggu di luar ya.”
"Ok.”
"Dua dayang Raline mana?" tanya Nicholas pada Raline ketika akhirnya mereka berjalan menuju Borobudur.
"Isyana sama Raisa?"
"Ya siapa lagi?"
"Mereka tidur. Lagian kan Raline mau berdua aja sama yayank Nicho.”
Raline menggandeng lengan Nicholas dan pemuda itu membiarkannya saja. Ia hanya menganggap Raline sebagai teman yang baik.
"Huuuh Udeh bangun si Bambang.”
Kevin muncul dari balik stupa besar yang berderet di atas puncak Borobudur.
"Yang lain mana?" tanya Nicholas.
"Noooh."
Kevin menunjuk ke suatu arah. Tak lama kemudian teman-temannya yang lain datang menghampiri.
"Widiiiih, Udeh bangun pak?" tanya Miko seraya tertawa.
"Kenapa mesti nyuruh Raline sih bangunin gue?"
Nicholas melirik ke arah Raline yang kini berjalan-jalan mengagumi Stupa.
"Lu udeh dibangunin, Jumali. Tapi kagak denger.” ujar Dirly.
"Makanya kita suruh Raline. Kan Raline suaranya cempreng tuh. Biar lo denger.” ujar Jason yang diakhiri tawa mereka. Sementara Nicholas tampak sewot.
"Kenapa Lo?. Nggak suka dibangunin sama Raline?" tanya Kevin kemudian.
"Bukan nggak suka, Lo tau sendiri suara Raline. Kaget gue sampe kuping gue berdengung.”
"Haha, masih untung Lo kaget ngeliatnya Raline. Coba kalau Lo dikagetin Jeremy Toti.” celetuk Kevin. Mereka semua pun akhirnya tertawa.
Mereka sepakat menunggu sunrise. Kebetulan cuaca cerah. Banyak foto-foto Aesthetic yang mereka dapatkan. Termasuk saat cahaya matahari melewati celah stupa.
Foto tersebut Nicholas upload di laman sosial media miliknya. Amaya memberikan like pada postingan tersebut. Tentu saja Nicholas senangnya bukan main. Apalagi tak lama setelah itu Amaya menelpon nya.
"Hai Nich.”
"Hai, kamu kerja pagi?"
"Iya, gimana disana?"
"Baik, sekarang lagi di Borobudur.”
"Iya, aku udah liat. Jadi pengen kesana.”
"Nanti kapan-kapan sama aku ya.” Nicholas menawarkan diri.
"Nggak tau aku kapan bisa nya.” Suara Amaya terdengar seperti rengekan manja. Nicholas pun tertawa.
“Sabar ya, nanti pasti ada waktu koq. Walaupun nggak tau itu kapan.”
“Iya sih.”
"Ok, semalem kamu udah tidur ya?"
"Iya capek banget. Banyak pasien.”
"Oh, untung nggak aku telpon semalem.”
"Kalaupun ia, nggak mungkin kedengeran juga. Orang hp aku silent.”
"Hahaha." Mereka lalu tertawa.
"Nich, udah lanjut gih sana. Aku mau melanjutkan segala kerepotan ini dulu"
"Ok, jangan lupa.”
"Makan?"
Amaya memotong pembicaraan Nicholas. Tentu saja hal tersebut membuat Nicholas tertawa.
"Bukan, jangan lupa beresin rumah pas pulang nanti.”
"Hahaha, kamu inget ya kalau aku males.”
"Hmmm.”
"Ya udah, aku kerja dulu ya. Bye Nich.”
"Bye..."
Amaya terdiam sejenak. Seolah ada yang janggal pada saat ia mengatakan "Bye Nich."
Seperti pernah ia lakukan namun entah dimana dan kapan persisnya. Amaya pun coba mengingat. Dan seketika ia memory masa lalunya pun kembali membayangi benaknya.
Dulu seringkali setiap akan pulang kerumah masing-masing. Entah itu dari mana. Ia selalu mengatakan hal yang sama pada Nicholas teman masa kecilnya. Amaya pun jadi teringat kembali pada anak itu.
"Nich, dimana kamu sekarang.” ujar Amaya dalam hati. Ia pun lalu menyudahi lamunannya. Karena banyak pasien yang menunggu pagi ini.