
Usai memastikan Dena baik-baik saja, Nicholas lalu menyambangi rumah sakit untuk mencari Amaya. Siang itu Nicholas melangkah memasuki loby rumah sakit dengan langkah yang perlahan, namun tiba-tiba ia didekati oleh suster Lani. Perawat yang sejak pertama kali melihat sosok Nicholas dan langsung berniat ingin berkenalan dengannya.
"Adek, dek...”
Lani memanggil Nicholas, pemuda itupun menoleh dan menatap Lani dengan tatapan bingung.
"Iya suster?. Suster manggil saya?" tanya Nicholas.
"Iya kamu, Duh manis banget sih kamu.”
Nicholas tersenyum.
"Ada perlu apa ya sus?" tanya nya kemudian.
"Kamu pasti nyariin Koas Sasi kan?"
Nicholas agak terkejut mendengar pernyataan tersebut.
"Koq suster tau?" lagi-lagi Nicholas bertanya pada perawat berwajah oriental tersebut.
"Yaiyalah, kan aku sering liat kamu sama Koas Sasi terus.”
"Oh ya, emang Sasi bilang apa soal saya?"
"Katanya kamu pasiennya dokter Margaret.”
"Dia cuma bilang begitu?”
“Iya.”
“Oh...”
Nicholas tidak tau jika Amaya hanya menganggap dirinya sebatas pasien. Ia agak sedikit kecewa, namun pada akhirnya ia pun tersenyum. Tidak apa-apa soal anggapan Amaya saat ini terhadapnya. Yang jelas ia akan terus mendekati wanita itu apapun caranya. Ini baru langkah awal baginya.
"Saya mau cari Sasi dulu ya.” ujar Nicholas kemudian.
"Koas Sasi kan udah pulang.”
Pernyataan tersebut sukses membuat langkah kaki Nicholas terhenti.
"Pulang?" tanya nya kemudian.
"Iya, udah dari tadi. Emang kamu nggak tau jadwalnya hari ini?.
Nicholas menggeleng.
“Berarti kamu nggak terlalu deket banget ya sama dia?”
Pertanyaan suster Lani membuat Nicholas jadi merasa tak enak hati. Ia memang belum terlalu akrab dengan Amaya untuk saat ini. Banyak hal tentang gadis itu yang tak diketahui oleh Nicholas.
“Kamu mending makan siang sama aku aja. Kamu pasti belum makan siang dan bermaksud mengajak Koas Sasi kan?"
"Hei, hei..."
Tiba-tiba Koas Miranti muncul dan mendekati mereka.
"Suster Lani kan udah istirahat tadi.” ujar Miranti sambil memberikan tatapan yang menginterogasi.
"Hehe, kan usaha koas Miranti. Siapa tau bisa digebet. Hehehe..” Suster Lani membela diri sambil nyengir.
“Ditungguin noh di UGD sama dokter Firman.”
“Iya, iya. For your information, dokter Firman itu bukan pacar saya, ya dek.” Lani memberi penjelasan seakan Nicholas salah calon gebetannya. Nicholas sendiri pun akhirnya tertawa.
“Aku ke UGD dulu ya, bye."
Suster Lani melambaikan tangan pada Nicholas dan berjalan menuju unit gawat darurat. Nicholas masih tersenyum saat menatapnya pergi.
"Kecentilan.” gerutu Miranti seraya tersenyum. Ia lalu kini menatap Nicholas.
"Kamu mau cari Sasi kan?" tanyanya kemudian.
"Eee, iya dok.”
"Aku Miranti, temennya Sasi.”
Miranti mengarahkan tangannya mengajak Nicholas ke suatu tempat. Nicholas pun mengikuti ajakan wanita itu. Tampak ia diarahkan ke kantin rumah sakit. Sesampainya disana, mereka pun duduk pada sebuah bangku dan meja yang masih kosong.
“Miranti mau makan apa?” tanya Nicholas dengan suaranya yang berat dan tatapan matanya yang teduh.
Seketika Miranti pun terpanah, betapa gentle nya anak ini saat berbicara. Bahkan kalau dia tidak memakai pakaian sekolah, mungkin orang lain tak akan mengira jika ia masih berstatus sebagai pelajar.
“Aku, eee, mau gado-gado aja.”
“Pedes?. Pake apa aja?”
Lagi-lagi Miranti terpanah. Padahal perlakuan yang diberikan Nicholas adalah perlakuan yang amat biasa. Namun karena pembawaanya yang cool, semua itu jadi terasa luar biasa. Miranti jadi seolah diperhatikan oleh orang yang menyayanginya.
“Mir...?”
“Ah, iya, pedes, pake semua.” ujar Miranti dengan nada yang terbata-bata. Nicholas berhasil membuat hatinya dag, dig, dug, der.
“Ok, tunggu disini.”
Nicholas beranjak, sementara Miranti mengambil nafas.
“Huh, bisa-bisanya gue deg-deg an deket bocil.” ujarnya kemudian.
“Pantes aja Sasi selalu senyum-senyum kayak orang gila, tiap abis ketemu nih anak.” ujarnya lagi.
Selang beberapa saat kemudian, Nicholas tiba dengan sepiring gado-gado lengkap dan juga nasi goreng seafood. Tak lama setelah itu,ada pelayan yang juga mengantarkan segelas es jeruk dan segelas es teh manis.
“Nih."
Nicholas memberikan gado-gado pesanan Miranti. Lalu bertanya pada wanita itu, ia hendak minum yang mana.
“Mau es jeruk atau es teh?”
“Hmmm, aku es jeruk.”
“Ok..”
Nicholas menyerahkannya.
“Kenapa tadi nggak nanya dulu, aku mau minum apa?”
“Aku udah tanya sama yang jual minuman, katanya kamu selalu minum es jeruk.”
Lagi-lagi Miranti terdiam, bahkan bibirnya sedikit menganga. Ia tak menyangka Nicholas sedetail itu. Miranti kini terpaku menatapnya, sementara Nicholas fokus pada makanan.
"Sasi beneran udah pulang?" tanya Nicholas kemudian. Miranti yang masih terpaku itu pun jadi gelagapan. Ia segera menyendok makanannya dan pura-pura tak melihat Nicholas.
"Iya, kamu sih telat datengnya.” ujar Miranti kemudian.
“Tapi tenang aja, Sasi itu nggak akan kemana-mana. Dia anak rumahan, hoby nya tidur. Diruangan jaga aja bisa tidur.”
Nicholas tertawa.
"Sepertinya kalian cukup mengenal satu sama lain dengan baik.” ujarnya kemudian.
"Ya, aku kenal Sasi itu sejak SD. Tapi di SMP kami berpisah. Karena dia sekolah di SMP yang berbeda sama aku.”
"Oh, berarti dulu, kamu satu kota sama dia?"
"Iya, lalu dia pindah ke Belanda dan aku lanjut sekolah, kuliah di kota ku. Eh nggak taunya, Sasi nggak lama di Belanda, diaa balik lagi ke Indonesia dan kuliah juga di Indonesia . Aku sama dia ketemu lagi di rumah sakit ini. Dunia emang sempit.”
"Ya, dunia itu kadang nggak selebar yang kita kira.”
Miranti tertawa mendengar perkataan anak itu.
"By the way, hubungan kamu sama Sasi gimana?"
"Hah?. Maksudnya?" Nicholas tak mengerti dengan pertanyaan Miranti.
Miranti tersenyum.
"Nggak usah pura-pura. Kamu suka kan sama Sasi?"
Kali ini Nicholas tercengang, namun ia tertawa lalu menyeruput minumannya.
"Kenapa kamu bisa menilai sepeti itu?"
"Karena Sasi juga sama seperti kamu.”
Perkataan tersebut sukses membuat Nicholas terdiam. Jantungnya berdegup kencang, ia mengira jika Amaya hanya menganggapnya sebatas pasien atau mungkin hanya sesuatu yang tidak dianggap.
"Di, dia bilang apa emangnya?" Suara Nicholas mulai terbata-bata akibat gugup.
"Dia nggak bilang apa-apa sih. Nggak mengakui juga, tapi dari gelagatnya aku tau kalau dia lagi jatuh cinta.”
"Ya, tapi gimana bisa kamu menyimpulkan kalau dia suka sama aku. Barang kali aja dia jatuh cinta sama orang lain. Dokter Gerald misalnya.”
"Kamu nggak perlu khawatir. Sasi itu dari dulu nggak suka sama Gerald. Gerald itu bukan tipenya dia.”
Perkataan tersebut sukses membuat hati Nicholas menjadi sangat senang. Meski ia masih harus menutupi sikapnya agar tak mencurigakan siapapun.
"Tapi, bagaimana kamu tau kalau Sasi suka sama aku.”
"Setiap kali aku singgung soal kamu, dia selalu senyum-senyum nggak jelas. Aku tau Sasi, dia belum pernah seperti itu sebelumnya. Kecuali dulu.”
"Ya, waktu kami SMP. Kami masih sering ketemu walau sekolahnya beda. Dia sering cerita soal cowok yang bahkan aku nggak pernah liat. Setiap kali dia ceritakan cowok itu, Sasi selalu senyum-senyum sendiri.”
"Oh ya?"
Nicholas bahkan tak tau jika saat mereka SMP, Amaya sudah jatuh cinta pada seseorang.
"Kamu tau siapa orangnya?" tanya nya kemudian.
"Namanya Nicholas. Eh koq agak sama ya sama nama kamu. Nicho sama Nicholas.”
Nicholas diam, ia masih tercengang mendengar semua itu. Jika apa yang dikatakan Miranti adalah benar, berarti Amaya sudah menyukai dirinya sejak mereka bahkan belum menyadari semua itu.
"Ni, Nicholas?" tanyanya tak percaya.
"Iya temen masa kecilnya. Namanya Nicholas Diovano Marcell, kalo nggak salah. Sasi bilang sampai sekarang dia masih simpan foto mereka. Tapi sampai sekarang juga, dia nggak mau kasih liat ke aku.”
Nicholas makin terdiam, tak disangkanya ternyata Amaya masih mengingatnya. Namun diamnya itu disalah artikan oleh Miranti. Miranti merasa jika perkataannya malah melukai hati Nicholas.
"Eee, tenang aja koq. Sasi udah nggak tau dimana anak itu sekarang. Sekarang dia kayaknya suka sama kamu.” ujar Miranti menghibur.
Namun Nicholas sendiri malah sumringah. Ia menghabiskan makana nya dengan cepat lalu buru-buru membayar.
"Mir, aku udah bayar semua ya. Aku harus kerumah Sasi sekarang"
"Oh iya, hati-hati ya.” ujar Miranti dengan nada yang menyemangati.
"Bye...”
"Bye...”
Miranti melambaikan tangan nya sambil tersenyum. Suster Lani yang melihat Nicholas pergi pun hendak menyusul. Namun Miranti menahannya.
"Eh, Suster Lani....”
"Apa sih, Koas Mir?” ujar suster Lani gusar.
"Duduk sini....!”
"Mau nyusul my baby..."
Miranti menarik suster Lani dan memaksanya untuk duduk.
"Duduk sini, jangan kecentilan.” ujarnya kemudian. Suster Lani tak bisa melakukan apa-apa selain menurut dan menggerutu kesal.
Close your eyes, give me your hand, darling
Do you feel my heart beating
Do you understand?
Do you feel the same
Am I only dreaming
Is this burning an eternal flame?
I believe it's meant to be, darling
I watch you when you are sleeping
You belong with me
Do you feel the same?
Am I only dreaming
Or is this burning an eternal flame?
Lagu bertajuk eternal flame, versi Shane Filan tersebut seakan terdengar di telinga Nicholas, mewakili langkahnya yang begitu antusias kepada Amaya. Ia ingin segera tiba disana dan menatap wanita itu barang sejenak. Untuk memastikan apa yang dikatakan Miranti tadi memanglah benar. Ia ingin mencari jawaban lewat tatapan mata gadis itu.
Hati Nicholas begitu berbunga-bunga. Belum pernah ia merasa sebahagia ini. Seperti double kill dalam game Mobile Legend. Ia membuat Amaya mencintai teman masa lalunya, dan membuatnya mencintai dirinya yang sekarang. Yang bahkan Amaya pun tidak menyadari jika ia menyukai dua orang yang sama.
Nicholas tiba di pintu gerbang komplek perumahan Amaya. Namun ia berpapasan dengan sebuah mobil yang tampaknya sudah tidak asing lagi.
"Mobil itu kan?"
Nicholas tersadar jika orang yang dilihatnya tadi adalah ayah Diana. Kepanikan pun menyerang, ia takut telah terjadi apa-apa dengan Amaya. Ia pun bergegas menuju ke kediaman wanita itu, tampak pintu pagar terbuka. Ia buru-buru turun dari mobil dan berlari ke arah pintu masuk. Ia mengetuk pintu rumah namun tak ada jawaban sama sekali.
Nicholas lalu beranjak ke arah kaca dan mengintip ke dalam, lalu ia menemukan Amaya tengah terbaring di lantai.
"Amayaaa."
Nicholas menggedor kaca tersebut lalu berlari kembali ke arah pintu. Ia pun menggedor pintu tersebut dengan kuat.
"Tok, tok, tok."
"Maaaay."
Ia berteriak keras dengan hati dan perasaan yang panik. Tak lama kemudian, ia pun lalu mendobrak pintu tersebut.
"Braaaakk."
"Braaaakk."
Pintu itu pun lalu terbuka. Nicholas menghampiri Amaya, namun tiba-tiba saja wanita itu terbangun dan memperhatikan Nicholas sambil planga-plongo.
"Aaaaaa.” teriaknya kemudian. Ia memperhatikan Nicholas lalu melihat ke arah pintu yang sudah rusak akibat di dobrak.
"Aaaaaaaaa. Kamu sengaja masuk, pasti kamu mau apa-apain aku kan?. Pasti kamu mau perkosa aku. Pergi sana...!”
Amaya mengambil bantal lalu melemparnya ke arah Nicholas.
"Hey, ini nggak kayak yang kamu kira.” Nicholas berusaha menjelaskan. Sementara Amaya terus saja berteriak panik sambil mengusir Nicholas. Sampai akhirnya Nicholas mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Bisa tenang sedikit kan?. Atau beneran aku perkosa nih sekarang. Mau?"
"Hah?. Ya jangan lah!. Terpaksa itu nggak enak tau.”
"Makanya diem. Apa-apa nuduh orang mau mesum terus. Aku dobrak pintu itu karena aku kira kamu pingsan. Aku gedor-gedor, kamu nggak bereaksi.”
"Oh, tadi aku pake earphone soalnya. Lagi denger lagu. Hehe...”
Nicholas melebarkan bibir lalu melepaskan pelukannya.
"Di depan gerbang tadi, aku papasan sama orang yang mau mencelakakan kamu tempo hari. Aku pikir kamu kenapa-napa, makanya aku panik. Ditambah lagi udah digedor-gedor, kamu nggak denger.”
Amaya terkejut mendengar pernyataan tersebut. Wajah Nicholas memang masih terlihat sangat khawatir. Amaya lalu mencoba mempercayainya dengan berhenti menganggapnya sebagai otak mesum.
"Maaf, tadi tuh kayaknya tidur dilantai enak banget. Makanya aku ketiduran. Tapi aku nggak pernah lupa kunci pintu koq, jadi kemungkinan orang jahat masuk itu kecil.”
"Tapi kamu lupa kunci pagar.”
"Oh ya?"
"Lah ini buktinya aku bisa masuk.”
Amaya terdiam, tak disangkanya ia begitu teledor.
"Iya deh maaf, lain kali lebih hati-hati.”
"Ya udalah, yang penting kamu nggak apa-apa.”
Nicholas bergerak ke arah pintu dan hendak keluar.
"Pintu nya gimana?"
Nicholas menoleh.
"Tunggu bentar." ujarnya kemudian.
Ia pun keluar pagar dan menemui tukang yang tengah memperbaiki rumah ayahnya disebelah. Ia meminjam, bor, paku dan peralatan lainnya untuk memperbaiki pintu rumah Amaya yang sudah ia dobrak.
Ia pun lalu memperbaiki pintu tersebut dengan ditemani Amaya.
"Makanya lain kali kamu jangan panikan jadi orang.” Amaya memperingatkan Nicholas.
"Rusak kan pintunya.” lanjutnya kemudian.
"Yang harus diperingatkan itu kamu, makanya lain kali jangan lupa kunci pagar. Tidur jangan pake earphone. Bikin orang panik aja.”
"Kamu tuh jangan apa-apa khawatir.”
"Kamu mau diem atau aku bor?" ujar Nicholas mengancam.
"Bor maksudnya?. Ih, kamu mah mesum otak nya. Kesel tau nggak.”
Nicholas menghela nafas. Ia sudah sangat ingin memukul wanita itu dengan gas 3 kilo.
"Maksudnya bor pakai bor ini, Jamilah. Bukan pake bor tumpul dan melubangi yang lain. Yang mesum sejati itu kamu tau nggak.”
Kali ini Nicholas amat sewot pada Amaya.
"Udah sana kamu menjauh, berisik aja.”
Nicholas mendorong Amaya ke dalam, sementara wanita itu kini masuk sambil tersenyum.