I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Sekeras Batu



Nicholas akhirnya diperbolehkan pulang setelah dinyatakan sembuh oleh dokter yang menangani. Tentu saja baik pemuda itu maupun Amaya yang mendapat kabar tersebut, merasa sangat senang.


Amaya sendiri tak mengatakan apa-apa, perihal dirinya yang diganggu sekelompok orang beberapa hari yang lalu.


Ia memang tak membatasi Nicholas untuk ikut campur dalam kehidupannya. Namun bila ada sesuatu yang bisa ia rahasiakan, maka ia akan simpan itu semua.


Semua demi Nicholas. Ia tak ingin akhirnya pemuda itu mengamuk, lalu mencari orang-orang yang ingin mencelakakan dirinya tersebut. Ia tak ingin Nicholas terluka lagi karenanya.


"Nic, aku nggak bisa nganter kamu sampai rumah. Karena jadwal aku masih padat."


Amaya berujar pada Nicholas, ketika Nicholas sudah siap melangkah ke arah mobil Jason. Jason dan Kevin yang menjemput pemuda itu, sedang Dirly dan Miko bertugas membersihkan apartemennya. Karena sudah lama apartemen tersebut tidak dibersihkan. Terhitung sejak ia masuk ke rumah sakit dan menjalani perawatan.


"Iya nggak apa-apa koq, kamu bertugas aja dengan baik." ujar Nicholas pada Amaya.


"Dan ingat, jangan ada rahasia-rahasiaan dari aku. Terutama untuk hal yang menyangkut keselamatan hidup kamu." lanjutnya kemudian.


Amaya agak terdiam, karena sejatinya ia telah menyimpan rahasia saat ini.


"Iya, aku nggak akan gitu koq." ujar Amaya.


Nicholas pun lalu berpamitan dan masuk ke dalam mobil.


***


Di apartemen, setelah cukup lama menempuh perjalanan.


"Surprise."


Nicholas diberi kejutan oleh Dirly dan juga Miko. Berupa balon yang dipecahkan, dan juga semprotan jaring laba-laba. Mirip kejutan apabila seseorang sedang ulang tahun.


Ada banyak sekali makanan di atas meja makan apartemenya. Beberapa diantaranya adalah makanan yang dipantang oleh dokter, ketika ia tengah di rawat.


Nicholas, Jason dan Kevin kaget. Namun yang lebih membuat mereka tercengang adalah, Miko dan Dirly sudah makan duluan.


"Surprise tapi makan duluan ya, Bambang." Kevin berseloroh sewot, sambil meletakkan paper bag berisi obat ke atas meja sofa.


Sementara Nicholas dan Jason kompak menahan tawa melihat tingkah sahabat mereka tersebut.


"Udah laper, lagian lo bertiga lama." tukas Miko.


"Nggak setia kawan lo." Jason menimpali.


Ia, Nicholas, dan juga Kevin kini sama-sama menarik kursi dan duduk disana. Mereka kemudian mulai ikut menikmati makanan tersebut.


***


"Pokoknya gue nggak suka."


Dena berujar pada Prince dengan nada yang sedikit ketus. Ketika ia dan sepupunya itu, bertemu di rumah Dena yang besar. Prince sengaja menyambangi Dena, untuk membicarakan segala yang tengah ia rencanakan terhadap Nicholas dan Amaya.


"Dia udah masuk dalam perangkap gue. Gue itu udah nolongin lo, buat mendapatkan si Nicholas."


"Tapi cara lo licik, Prince. Lo nggak terang-terangan di depan Nicholas. Kalau emang lo suka dan merasa jantan, ya lo deketin lah si Amaya secara terang-terangan. Jangan pake acara sewa orang segala buat celakain dia. Sekarang lo suruh gue lagi buat mancing si Nicholas ke suatu tempat, biar lo bisa leluasa menjalankan rencana kotor lo berikutnya."


"Den, helooo."


Prince berujar dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Dena.


"Rencana gue emang kotor. Tapi kalau itu cewek berhasil gue tidurin, dia bakalan tergantung sama gue dan Nicholas akan jijik dengan sendirinya sama dia. Di saat itu lo bisa dengan mudah deketin Nicholas. Dia pasti nggak akan mau lagi sama cewek bekas orang lain. Gue yakin cowok model kayak dia, yang belum pernah tidur sama cewek manapun sama sekali. Ketika dia mendengar cewek yang dia suka tidur sama orang lain, dia pasti nggak akan mau lagi sama si cewek itu. Ini kesempatan buat kita. Gue mau menuntaskan rasa penasaran gue terhadap bagian dalamnya si Amaya, dan elo bisa dapat Nicholas."


Dena makin menghela nafas kesal


"Gue nggak mau, gue akan tetap mendekati Nicholas dengan gara gue yang biasanya. Lagian gue cinta sama Nicholas, gue nggak akan tega buat menyakiti hati dan perasaan orang yang gue cinta. Rencana lo itu akan melukai hatinya dia dan gua nggak mau sampai hal tersebut terjadi. Gue nggak akan rela kalau lo nyakitin Nicholas, dengan cara apapun."


Dena berlalu meninggalkan Prince, dan menuju ke kamarnya. Sementara Prince kini terdiam, dengan sudut bibir yang ditarik penuh kesinisan.


"Lo akan menyetujui rencana gue ini Den, liat aja." ujarnya kemudian.


***


"Nic."


Amaya mengangkat telpon Nicholas, ketika ia hampir menyelesaikan tugasnya hari itu.


"Jam berapa keluar?" tanya Nicholas pada Amaya.


"Bentar lagi, paling sekitar 10 menit lagi." jawab Amaya.


"Aku parkir pas depan IGD, tapi di luar pagar." ujar Nicholas.


"Hah?. Ka, kamu datang kesini?" Amaya tak percaya.


"Iya." jawab Nicholas.


"Tapi Nic, kamu itu baru sembuh sakit dan ini sudah malam."


"Aku nggak tenang kalau nggak nganterin kamu pulang. Selama dirawat aku kepikiran terus, hampir setiap hari. Aku takut kamu di celakain orang itu lagi di jalan."


"Tapi Nic."


"Kalau kamu menolak dan kabur lewat jalur lain. Aku nggak akan pulang dan tetap disini sampai pagi."


Amaya terdiam, betapa keras kepalanya pemuda itu pikirnya.


"Ya udah, tunggu aku sekitar 10 menit lagi. Aku segera kesana." ujar Amaya.


"Ok."


Nicholas pun menyudahi telponnya dan menunggu kedatangan Amaya. Sementara wanita itu kini mulai bersiap.


Tepat sepuluh menit kemudian, Amaya tiba di dekat mobil Nicholas. Pemuda itu membuka lock mobilnya, hingga Amaya kini masuk dan duduk disisi pemuda itu.


"Udah nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Nicholas.


"Nggak ada." jawab Amaya.


Nicholas lalu menghidupkan mesin mobil dan mobil tersebut kini merayap.


"Orang tuh kalau masih sakit, istirahat. Bukan pecicilan, naik mobil malem-malem."


Amaya mencoba menasehati Nicholas, sementara pemuda itu hanya tersenyum tipis padanya.


"Kalau masih sakit, dokter nggak mungkin menyatakan sembuh dan boleh pulang." jawabnya kemudian.


"Kan ada yang namanya fase pemulihan, Nicho."


"Iya, bukan berarti harus bed rest dong." Nicholas masih membela diri.


"Rada susah ya ngomong sama kamu, ngeyel."


Amaya berkata dengan nada sedikit kesal.


"Untuk keselamatan kamu, aku akan selalu ngeyel." ujar Nicholas.


Perempuan itu sedikit tersentak, ingin marah namun juga merasa hatinya begitu meleleh. Bagaimana mungkin pemuda dengan usia seperti Nicholas, merasa begitu bertanggung jawab atas keselamatan dirinya. Padahal dirinya bukan apa-apa, dan mereka bukanlah siapa-siapa.


"Aku cuma..."


"Bisa kan nggak usah ngerasa nggak enak terus."


Nicholas berujar sambil menoleh sejenak pada Amaya. Maka perempuan itu pun tak ingin berusaha menolak lagi. Karena percuma saja, pemuda ini sama kerasnya dengan batu.