I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Amaya Si Otak Mesum



"Koas Sasi."


Tiba-tiba dokter Gerald sudah berada di muka Sasi Kirana Amaya. Tepat pada saat wanita itu sudah selesai bertugas dan hendak pulang kerumah. Ia bertemu dengan dokter Gerald di loby rumah sakit.


Tentu saja Amaya sangat terkejut. Apalagi tak lama kemudian, muncul Koas Marsha di belakang dokter Gerald secara tiba-tiba. Marsha melihat hal tersebut dan menatap Amaya penuh dengan kemarahan.


"Ada apa, dok?” tanya Amaya pada Gerald sambil melirik ke arah Marsha. Agaknya Gerald tidak menyadari kehadiran Marsha yang kini berdiri persis beberapa meter di belakangnya.


"Kita pulang bareng yuk. Saya mau ajak Koas Sasi ke tempat makan favorit saya.”


"Ee, a, anu."


Amaya tidak mungkin menerima ajakan Gerald, karena ada Marsha di belakangnya. Meskipun saat ini, ia sangat ingin makan sesuatu. Ia tak ingin berurusan banyak dengan wanita itu. Namun ia pun bingung bagaimana caranya menolak ajakan Gerald secara baik-baik.


Mau beralasan sibuk, Gerald tau jika Amaya tak punya kesibukan lain, selain menjalani masa Koas. Jika pulang kerumah kerjanya hanya tidur dan main sosial media. Mau bilang ingin jalan ke suatu tempat, nanti yang ada Gerald malah minta ikut.


Gerald sendiri adalah tipikal laki-laki yang tak bisa menangkap gerak-gerik orang lain, jika orang lain tersebut tidak menyukai kehadirannya. Ia akan terus memaksa agar tujuannya tercapai.


Amaya pun kini bingung dibuatnya. Dalam suasana kalut itulah, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil datang dan berhenti tepat di halaman parkir yang tak jauh dari depan loby rumah sakit. Dari dalam mobil tersebut keluarlah Nicholas dengan gayanya yang seperti biasa. Berwibawa, tampan, namun dingin. Tiba-tiba Amaya memiliki ide cemerlang.


"Ee, maaf dok. Saya ada janji sama pasiennya dokter Margaret."


Amaya buru-buru menghampiri Nicholas lalu menggandeng lengan pemuda itu sambil senyum-senyum. Ditempelkannya kepalanya  dengan manja dibahu Nicholas. Nicholas pun terkejut dengan sikap Amaya yang mendadak seperti cabe-cabean tersebut.


Keliatan sekali jika Amaya ingin dilihat oleh Gerald dan Marsha bahwa kini ia telah memiliki seorang gebetan dan tidak ada maksud ingin merebut Gerald dari Marsha. Nicholas yang bingung pada sikap Amaya hanya bisa terdiam blo'on. Sikapnya yang cool menjadi agak ternoda karena ulah perempuan itu.


"Koas Sasi mau pergi sama anak ini?” tanya Gerald tak percaya. Ia melangkah mendekat ke arah Amaya sambil memperhatikan Nicholas dari atas ke bawah.


"Iya dong, iya kan Nich.” ujar Amaya sambil menginjak kaki Nicholas.


"Awww"


Nicholas merasakan sakit di kakinya. Lalu Amaya mencubit bagian belakangnya dan lagi-lagi Nicholas kesakitan.


"I, iya."


Kali ini Nicholas merangkul Amaya dan masuk ke dalam drama yang telah dibuat oleh wanita itu.


"Dia akan pergi sama saya.”


Tegas suara nya terdengar, agar kelihatan seperti pria dewasa yang berkarisma. Walau sebenarnya dia masih terus menahan sakit karena Amaya masih mencubit bagian belakangnya.


"Ok."


Dokter Gerald tampak kecewa, ia lalu kembali ke dalam rumah sakit. Dari tempatnya berdiri, Marsha masih terus memperhatikan Amaya. Ia menatap Amaya dengan tatapan yang amat sangat tidak senang. Amaya makin menempelkan kepalanya di dada Nicholas. Detik berikutnya, Marsha pun berlalu menyusul Gerald ke dalam rumah sakit.


Sementara kini Nicholas melepaskan rangkulannya. Ia menatap Amaya penuh dendam karena sudah dicubit beberapa kali.


"Sakit tau nggak?"


Amaya nyengir lalu berlalu begitu saja. Namun Nicholas kini menahan dan mencengkram tangan wanita itu. Ia lalu menyeret paksa perempuan itu untuk masuk ke dalam mobilnya, Amaya pun memberontak.


"Eh, eh. Kamu mau apain aku?. Lepasin nggak...!”


"Enak aja, udah nyubit terus lari.”


"Lepasin, ihhhh." Amaya memukul lengan Nicholas hingga pemuda itu pun terpaksa melepaskan nya.


"Oh gitu, dokteeeeer Geraaald. Ada yang  bohong nih."


Nicholas berteriak mengancam akan memberitahukan Gerald yang kebetulan masih belum jauh. Dengan sigap Amaya membungkam mulut pemuda itu.


"Sssssttt, Jangan bilang-bilang...!” ujarnya kemudian.


"Ya udah, kalau nggak mau aku bilang. Kamu ikut aku sekarang. Kamu kan udah pake aku sebagai alasan, dan aku minta bayarannya sekarang"


"Dasar pamrih.” rengek Amaya dengan gaya manja bercampur marah.


"Iya dong, masa iya gratis. Ayo naik...!"


Amaya masih terpaku di tempatnya. Kali ini Nicholas memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Ihhhh kamu tuh mau bawa aku kemana sih?"


ujar Amaya sewot ketika akhirnya ia masuk dan duduk di dalam mobil tersebut. Disusul Nicholas yang kemudian masuk lalu menghidupkan mesin.


"Mau aku bikin enak.” ujar Nicholas dengan mimik serius. Sementara kini mobil perlahan mulai berjalan dengan kap atas yang sengaja ia tutup.


"Haaaahhh?. Mau bikin aku enak gimana?"


Amaya terjebak ambiguitas.


"Ya mau ngenakin kamu, masa nggak mau.” Wajah Nicholas terlihat makin serius.


Amaya terdiam, detik berikutnya.


"Aaaaaaaaa.” Ia berteriak di dalam mobil membuat Nicholas terkejut.


"Ada apa sih?" tanya Nicholas heran. Ia benar-benar kaget atas sikap spontan dari wanita itu.


"Aku nggak akan melakukan suatu hal seperti itu dengan sembarang orang. Harus orang yang aku suka dan aku cintai. Kamu jangan maksain aku untuk begituan. Stop in nggak mobilnya, aku nggak mau.”


"Sssssttt, Jangan teriak-teriak begitu. Nanti dikira orang apa.”


"Stop nggak sekarang. Aku nggak mau begituan sama kamu, kita belum nikah.”


"Udah sampe.” ujar Nicholas kemudian.


Amaya melongo. Tempat itu adalah tempat makan yang tengah viral dan hits di jagad maya, lantaran pelayan nya cantik dan ganteng bak artis korea. Ia terkejut karena dugaan nya pada Nicholas ternyata salah.


"Jadi maksudnya bikin enak itu, makan?" tanya Amaya masih dengan ekspresi setengah blo'on.


"Lah kamu pikir?"


Nicholas tertawa kecil lalu keluar dari dalam mobil sambil menggelengkan kepalanya. Seketika Amaya menutup mukanya. Ia sangat malu sudah menuduh Nicholas akan berbuat mesum padanya. Berkali kali ia kesal pada diri nya sendiri.


"Duuuuuh bodoh banget sih aku, maluuuuuu.”


Amaya gregetan sendiri, tak lama kemudian Nicholas kembali ke mobil. Namun hanya kepalanya saja yang nongol dari pintu.


"Mau disini sampe kapan calon bu dokter?. Aku laper tau. Buruan keluar.”


Amaya pun akhirnya keluar sambil masih menahan malu. Namun sepertinya Nicholas sudah tak peduli, pada tuduhan yang tadi sempat di lemparkan Amaya kepadanya. Pemuda tampan dengan tubuh tinggi dan badan atletis itu pun tiba-tiba menggenggam tangannya, dengan wajah dan tatapan yang fokus ke depan.


Amaya terkejut, hatinya kini berdebar kencang. Di lihatnya nya wajah Nicholas yang stay cool itu dengan seksama. Ada sesuatu yang terjadi pada hatinya kini. Ya, Amaya seolah merasakan getaran yang sepertinya dulu pernah ia rasakan. Tapi dimana?, dengan siapa?. Entahlah, ia sendiri sulit mengenali rasa itu meski terasa sangat familiar.


Nicholas mengajaknya duduk pada sebuah kursi dan meja yang berada di pojokan.


Sementara Nicholas sibuk melihat menu, Amaya sendiri menutupi wajahnya dengan menu agar tak terlihat oleh Nicholas.


Jantungnya masih dag dig dug derrrrr. Ia benar-benar merasa malu atas sikapnya tadi saat ia menuduh Nicholas akan berbuat asusila kepadanya. Ia merasa wibawanya sebagai wanita dewasa sekaligus dokter tiba-tiba terperosok ke dalam got. Bisa-bisa nya ia menuduh pasien nya sendiri yang masih pelajar sebagai otak mesum.


"Kamu mau makan apa?"


Tiba-tiba kepala Nicholas sudah ada di sisi kanan diatas bahu Amaya. Telinga dan pipi mereka nyaris bersentuhan. Amaya tak tau persis sejak kapan pemuda itu beranjak dari tempat duduk dan kini berada tepat di belakangnya dengan kepala yang sejajar dengannya.


Kini mereka sama sama melihat ke arah menu yang sama, yang ada di tangan Amaya. Yang semula ia pakai untuk menutupi wajahnya dari Nicholas. Hati Amaya kembali bergetar.


"Kamu koq nggak jawab?"


Nicholas meminta kepastian, membuat jantung Amaya seakan hendak copot saat itu juga. Belum pernah ia sedemikian intim dengan laki-laki. Baru kali ini, dan dengan berondong pula.


"Hmmm, A, apa yang enak disini?"


Amaya mencoba mencairkan suasana. Meski tak dapat dipungkiri jantungnya makin berdegup kencang. Apalagi mendengar detak jantung dan nafas pemuda itu yang begitu dekat dengannya.


Nicholas lalu menatap Amaya dengan kepala yang masih berada sangat dekat dengan wajah wajahnya.


"Mmm, banyak sih. Semua menu makanan disini udah pernah aku coba dan lumayan enak semuanya.”


"Oh."


Amaya kembali memperhatikan menu tersebut.


"Mmm, aku mau yang ini aja. Minumnya yang ini.”


Amaya menoleh ke arah Nicholas dan begitupun sebaliknya. Tiba-tiba waktu berhenti dan mereka saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Sampai kemudian, Nicholas berdiri tegak lalu memanggil pelayan dan memesan makanan. Pemuda itu lalu kembali ke tempat duduknya.


Ia duduk dengan tenang sambil sesekali menatap sekitar sampai kemudian, ia mendapat notifikasi chat dari Miko.



Nicholas tersenyum bahkan nyaris tertawa geli jika saja ia tidak menahan suaranya. Belakangan ini tengah viral kata-kata sayang yang di ucapkan dengan cara paling menyebalkan dan menjijikkan dari salah satu artis cilik bintang sinetron. Ia mengucapkan kata sayang menjadi terdengar, "zeyeng" dan hal itu menjadi bahan bercandaan mereka dimanapun berada. Sekedar untuk saling mengganggu dan membuat sebal masing-masing dari mereka.



Nicholas lalu mengatakan jika tadi dia sudah kerumah sakit namun tiba-tiba harus pergi mendadak bersama Amaya, dan tiba-tiba saja Miko menelpon nya.


"Hallo, Mik.”


Nicholas agak menjauh dari Amaya. Ia tak ingin percakapannya dengan Miko sampai di dengar oleh wanita itu.


"Ati-ati lo. Jangan wikwikwik.”


Miko mengingatkan dengan serius, kali ini Nicholas tertawa.


"Nggak lah gila. Gue lagi makan sama dia.”


Nicholas memperhatikan Amaya sambil tersenyum. Meski wanita itu tak melihat ke arahnya.


"Oh ok, Ya udah ya zeyeng.”


"Ok."


"Dih nggak jawab zeyeng, malu lo ya ada Amaya. Sok jaim kan lo?"


Nicholas kembali menatap sekilas ke arah Amaya yang kini tengah sibuk dengan handphone nya.


"Iya kan zeyeng?" tanya Miko lagi dengan nada yang menyebalkan.


"Hahahaha."


"Ya udah ya, ntar gue kerumah lo.”


"Ok."


Nicholas memutus sambungan telpon dan kembali duduk di kursi. Ia terus menikmati wajah Amaya yang tampak antusias membalas chat di handphone nya.