
Beberapa saat pun berlalu, tiba-tiba saja mata Nicholas menangkap Dena yang tengah berjalan sendirian di tengah keramaian. Jason, Kevin dan Dirly pun sama melihat Dena.
Mereka bertiga saling bersitatap ketika akhirnya Nicholas memisahkan diri dari kelompok dan menuju ke arah dimana Dena berjalan.
"Gue heran sama Nicho. Masih aja dia peduli sama cewek jahat kayak Dena. Biarin aja, bego. Dia mau ilang kek, musnah sekalian. Nggak penting" ujar Kevin panjang lebar.
"Ya, kali aja dia mau ngasih tau Dena supaya jangan jauh-jauh. Soalnya kan kalau sampe satu siswa nggak balik, kita juga yang repot mesti nyari.” timpal Dirly kemudian.
"Mau ngasih tau sih mungkin, iya. Tapi lo sendiri tau Nicho kan. Dia itu gampang simpati sama orang. Apalagi sekarang Dena udah terpojok banget sejak kejadian waktu itu.” imbuh Jason.
"Gue kalau jadi Nicho mah, nggak mau. Biarin aja tuh anak mau ngapain.”
"Ya, elu sama Nicho mah beda, Mpin. Nicho itu tingkat kepeduliannya tinggi. Ibarat dia itu pangeran dari negri dongeng. Pangeran yang baik hati. Nah elu siluman kecoa nya.”
Ucapan Jason tersebut sukses membuat Dirly tertawa geli sementara Kevin memasang wajah super bete.
"Dena...”
Nicholas berhasil menyusul Dena ditengah keramaian. Meski perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
"Den..”
Kali ini Nicholas mencekal lengannya. Mau tidak mau akhirnya Dena pun mengalah dan menghentikan langkah.
"Ada apa, Nich?" tanyanya seraya menunduk. Ia tak berani menatap wajah Nicholas sedikitpun.
"Lo mau kemana dan kenapa sendirian?"
"Nich, gue mesti sama siapa lagi?. Nggak ada yang mau temenan sama gue lagi sejak kejadian hari itu.”
"Ya minimal lo jangan jalan sendirian juga. Jangan terlalu jauh dari rombongan.”
"Terus, gue mesti deket-deket sama mereka sambil nahan hati walaupun gue di nyinyirin dan di omongin?"
"Den...”
"Nich, lo nggak ngerti perasaan gue. Kalau boleh nggak ikut, gue milih nggak mau ikut perjalanan ini. Tapi kita semua wajib ikut buat nambah nilai.”
Nicholas menarik nafas, ia paham betul perasaan Dena. Tapi ini juga adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Ia yang dulu suka mengganggu dan menghakimi orang kini menuai apa yang ia tabur.
"Gue mau jalan sebentar. Sendirian..!”
"Den, gue temenin.”
"Nich....”
Tiba-tiba Karlita muncul dari suatu arah. Dena melirik ke arah gadis itu dan menatapnya penuh dendam. Tak lama kemudian ia pun berlalu. Sementara Nicholas tertahan di tempatnya. Ia sebenarnya ingin menyusul Dena. Tapi ia melihat Karlita juga datang sendirian.
"Lo mau kemana, Karlita?. Dan kenapa mesti sendirian juga. Heran gue sama kalian, suka banget jalan sendiri. Ntar kalau ada apa-apa gimana?"
Karlita tak menjawab. Ia hanya meraih tangan Nicholas lalu melangkah. Mau tidak mau Nicholas akhirnya ikut berjalan mendampinginya.
"Lo udah makan?" tanya Nicholas pada Karlita. Gadis yang terkenal pendiam itu pun mengangguk. Namun ada sedikit senyum di bibirnya. Tangan nya masih menggenggam tangan Nicholas dengan erat.
Nicholas sendiri tak merasa aneh atau apapun. Karena memang ia dan Karlita sangat dekat. Berpegangan tangan atau berbicara dari jarak yang begitu dekat sudah biasa bagi keduanya. Mengingat dulu ibu Karlita pernah bekerja dirumah Nicholas dan Karlita kerapkali ikut dengan ibunya bila disuruh menginap oleh kedua orang tua Nicholas. Kedua orang tua Nicholas pun sudah menganggap Karlita seperti anak mereka sendiri.
"Nich, kita ambil foto disitu yuk.” ajak Karlita kemudian. Ia menunjuk pada beberapa titik di sepanjang jalan Malioboro. Yang menurutnya cukup bagus untuk diabadikan dalam gambar.
"Ayok, mumpung lagi nggak banyak orang tuh.”
Nicholas menarik Karlita agar semakin mendekat ke tempat yang dimaksud. Disana ia dan Karlita mengambil foto sendiri-sendiri secara bergantian. Kemudian minta tolong pada orang yang lewat untuk mengambil foto mereka berdua.
Keduanya tampak sangat antusias dan bahagia. Nicholas sendiri tak pernah melihat wajah Karlita sebahagia itu.
"Nich, ke titik nol kilometer yuk.” ujar Karlita bersemangat. Nicholas memperhatikannya lalu tersenyum.
"Koq lo senyum gitu sih?" tanya Karlita heran.
"Seumur-umur kenal sama lo, gue belum pernah liat lo sesemangat ini.” ujar Nicholas kemudian. Karlita yang sejatinya pendiam itu pun tersipu. Ia tersenyum meski dengan senyuman yang sangat irit.
"Ya udah yuk.”
Nicholas menuruti keinginan gadis itu. Mereka menuju ke titik 0 kilometer. Cahaya hijau dengan garis ke kekuningan terpancar di sekitaran tempat itu. Bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang terdapat disana, menambah kesan romantis serta cita rasa klasik tersendiri bagi keduanya.
Nicholas berfikir andai ia dan Amaya bisa berjalan berdua di tempat itu. Sambil menikmati suasana malam Jogja yang ramai dan menyenangkan.
"Nich, foto yuk.” ajak Karlita lagi.
Nicholas pun tersenyum lalu menurutinya. Kali ini mereka tidak menyusahkan siapa-siapa. Mereka mengambil banyak foto wefie di beberapa titik. Tawa renyah Nicholas kadang terdengar di sela-sela obrolan mereka yang makin seru.
"Hai gaes, kita lagi dimana Kar?" tanya Nicholas sambil merekam video insta story di instagram miliknya.
"Di titik nol kilometer.” jawab Karlita lalu tersenyum.
Nicholas merangkul gadis itu sambil tersenyum. Tak lama kemudian ia mengupload insta story tersebut dan dengan cepat sudah dilihat para pengikutnya.
"Sas...”
Miranti yang tengah melintas tiba-tiba masuk ke ruangan Amaya yang saat itu baru saja menyelesaikan tugas.
"Kenapa, Mir?" tanya Amaya heran.
"Adek lo lagi sama siapa tuh, di instastory nya?"
"Adek?" Amaya tak mengerti.
"Nicho, gebetan lo.”
Amaya setengah tertawa.
"Emang dia kenapa?" tanya Amaya lagi.
"Gue liat dia di Jogja.”
"Emang di Jogja. Tadi gue telponan sama dia.”
"Oh ya?" ujat Miranti sumringah.
"Biasa aja kali, Mir. Koq lo bersemangat gitu sih?" goda Amaya sambil tersenyum.
"Ya gue seneng aja kalau lo udah mulai menjalin kedekatan yang intens sama anak itu.”
"Dia itu pasien, Mir.”
"Jadi demen juga nggak apa-apa. Eh tapi ini dia insta story sama siapa sih? Ada cewek, cantik.” Miranti memperlihatkan insta story tersebut pada Amaya.
"Degggghhh...”
Entah mengapa hati Amaya agak sedikit terpukul. Namun ia segera kembali dari perasaan tak enaknya tersebut.
"Itu kan si Karlita, yang tempo hari viral di bully. Yang masuk rumah sakit ini loh.”
"Oh iya-iya, gue inget. Koq disini rada beda ya. Cantik banget disini.”
"Namanya juga waktu itu sakit, sekarang kan udah nggak. Orang secantik apapun kalau sakit ya pucat, Mir.”
"Ya juga sih, hahaha. Udah ah, gue mau balik ke UGD.”
"Jadi lo kesini cuma buat ngabarin itu doang?"
"Iya, gue takut lo cemburu terus kejang-kejang dan berbusa.”
"Sialan lo.” Amaya tertawa.
Miranti pun akhirnya kembali keruangan tugas nya. Amaya bersiap untuk melalukan hal lain, namun agaknya ia sedikit terganggu kali ini. Ia terus mengingat bagaimana Nicholas tersenyum saat merangkul Karlita.
Lagi-lagi ia terpaksa harus membuang perasaan negatifnya tersebut jauh-jauh. Ia tak mau menjadi budak perasaan. Segera ia menarik nafas dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa tidak mungkin ia cemburu.
Cemburu hanyalah milik remaja bau kencur yang baru mengenal rasa. Tidak pantas seorang dewasa seperti dirinya menaruh cemburu pada dua orang bocah yang berteman baik. Apalagi, dia dan Nicholas tak memiliki hubungan apa-apa. Hanya sebatas calon dokter dan pasien milik dokter lain. Jadi untuk cemburu pun percuma.
Amaya segera meletakkan handphone ke dalam saku. Ia lalu mengambil catatan dan keluar dari ruangan. Ia berjalan didampingi dokter senior serta perawat yang kebetulan kebagian tugas bersamanya.
Kembali ke Jogjakarta.
"OMG whaaaaaaat?. Baby Darliiiing?. Honey bunny Nicho bikin insta story sama Karlita?"
Raline melihat layar handphone dan menatapnya dengan mata terbelalak.
"Harusnya Raline dong yang nemenin yayank Nicho.” ujar Raline diikuti anggukan kedua dayangnya.
"Bener Raline, harusnya Raline yang ada disana.”
"Iya Raline, bukan dia tapi Raline.”
"Duh, kalian ini. Itu mah judul lagu.” rengek Raline manja sekaligus sewot. Bibirnya ditekuk dan wajahnya keliatan merajuk tingkat dewa.
"Hahahaha...” suara renyah tawa Nicholas yang khas sampai ke telinga Raline.
Gadis yang posisi nya tidak begitu jauh dari Nicholas tersebut pun langsung bisa tau, dimana letak sumber suara tawa tersebut berasal.
"Itu yayank Nicho.” ujarnya antusias.
Dalam waktu relatif singkat, matanya sudah bisa menemukan dimana Nicholas dan Karlita berada. Segera saja Raline mengajak kedua dayang nya untuk menuju ke tempat itu.
"Baby darliiiiiiiiiing.”
Raline berlari dan langsung nemplok di di bahu kanan Nicholas. Pemuda itu terkejut dengan kehadiran Raline yang tiba-tiba.
"Baby darling koq nggak ngajak Raline sih. Berdua aja sama Karlita. Curaaang...”
"Lah tadi kan nggak tau Raline dimana.”
Sekarang kan Raline udah disini. Ajak Raline dong buat bikin insta story.
"Hhhhhhh...”
Nicholas menarik nafas. Ia memperhatikan wajah Raline yang seperti anak kecil. Tak tega untuk menolak permintaan nya. Nicholas pun membuat insta story kembali. Kali ini bersama Raline.
Betapa senangnya gadis itu. Sampai-sampai ia menggenggam lengan Nicholas dengan erat sambil terus menempelkan kepalanya di bahu pemuda itu
Karlita masih ada ditempat itu. Namun ia hanya diam dan berdiri. Sementara kedua dayang Raline tampak bahagia melihat tuan puteri mereka sumringah.
Raline sendiri tak mengganggu ataupun bersikap sinis pada Karlita. Meskipun ia cemburu pada gadis itu, namun Raline lebih bisa menunjukkan perdamaian. Ia membuat insta story dengan menggunakan handphone nya juga. Tak lupa ia mengajak kedua dayangnya dan juga Karlita.
Jadilah Nicholas seperti pengawal bayaran. Ia terpaksa harus mengawal keempat gadis itu di waktu yang bersamaan. Ia sedikit kerepotan namun cukup menikmati malam itu dengan baik. Sebagai laki-laki, tak masalah baginya untuk menjaga teman-temannya agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Malam perlahan larut, seluruh siswa kembali ke penginapan dan kamarnya masing-masing. Nicholas sendiri sudah terlebih dahulu tiba dan merebahkan diri ke atas tempat tidur sambil berkutat dengan laptopnya. Tak lama berselang Jogja pun diguyur hujan deras. Beruntung Kevin dan yang lainnya juga sudah tiba.
"Nich, dari mana aja lo tadi?" tanya Kevin sambil merebahkan diri ke atas tempat tidur yang ada disisi kiri Nicholas.
"Tau tuh, menang banyak dia.” ujar Dirly kemudian.
"Nggak bagi-bagi lu, Nich. Curang.” celetuk Jason. Pemuda itu tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk karena sempat terkena hujan.
"Ya, lo aja pada dimana tadi.” ujar Nicholas kemudian.
"Lah, kan elu yang ninggalin kita pada buat ngejer Dena.”
"Ya, karena gue pikir Dena sendirian. Kalau sampe dia kenapa-napa kan kita semua juga yang repot.”
"Terus lo koq bisa sama Karlita dan Raline sih?" tanya Kevin kemudian.
"Gue nggak sengaja ketemu mereka, Mpin. Tadinya Karlita doang. Nggak lama datanglah Raline. Capek banget gue nemenin mereka. Cewek mah jalan mulu kerjaan nya. Kagak ada capeknya"
"Lah elu, maruk. Bukan nya bagi-bagi kita. Tau gitu biasa gantian nemenin mereka" ujar Dirly keki.
Kali ini Nicholas tertawa.
"Ya, elu pada dimana gue kagak tau.”
"Chat kek.” ujar Jason kemudian.
"Lo pada Ngeliat insta story gue kan?. Dan kalian tau gue posisi nya dimana?. Harusnya ya kalian inisiatif lah, nyusul.”
"He, sa ae lu jepitan jemuran.” gerutu Kevin dengan wajah sewot bak bocah SD yang keselek Hp siomi.
"Bilang aja tadi lo keenakan kan berada ditengah cewek cakep sendirian.” lanjutnya kemudian. Lagi-lagi Nicholas hanya tertawa. Matanya masih menatap layar laptopnya karena sedang mengerjakan sesuatu.
"Hidup itu kesempatan, bro. Kalau lo Ngeliat ada kesempatan, harusnya lo samperin lah. Masa kesempatan yang nyamperin lo pada. Kalo misalkan tadi lo pada mau deket-deket sama tuh cewek-cewek. Harusnya kalian mendekat. Masa mesti gue tarik-tarik.”
"Ah telat lo ah, ngomongnya. Nggak asik.”
Kevin masih keki setengah mati. Begitupula dengan Jason dan juga Dirly. Mereka memang jomblo sejati yang merindukan belaian kasih sayang.
"Terus , lo pada maunya gimana?. Gue panggilin Raline atau Karlita atau kedua dayangnya Raline kesini?" tanyanya kemudian.
"Jangan mancing, Junior Roberts.”
Kali ini Miko yang semula diam pun nyeletuk. Ia tetap memanggil Nicholas dengan nama Junior Roberts. Karena menurutnya wajah Nicholas sangat mirip dengan aktor muda dan berbakat Itu. Seperti yang pernah ia katakan sebelum-sebelumnya.
"Mancing apaan, Iqbal Ramadhan?" Nicholas balas meledek Miko.
"Jangan mancing mereka dengan khayalan. Lo bilang mau ngajak Raline atau Karlita kesini. Ntar khayalan mereka pada khayalan babu. Udah tau hujan, pada ngaceng semua ntar.”
"Woeeeeeiiiii...."
Kevin dan yang lainnya melempar Miko dengan bantal.
"Mesum lu.” ujar Kevin sengit.
"Tau deh yang udah di lemesin.” ujar Dirly menimpali.
"Ho'oh kontras lo sama mukanya yang pucat lesu.” Jason memperhatikan wajah Miko.
"Eh gue lesu nemenin Rebecca banyak maunya kesana-kesini.”
"Heleh, sa ae lu biji kedondong.” Kali ini Jason, Dirly dan Kevin bangkit dari tempat tidur. Mereka kompak melempari Miko dengan bantal. Lalu mengeroyok anak itu dengan tindihan yang mengunci.
"Nich tolongin gua.”
Miko meminta pertolongan Nicholas. Pemuda itu malah tertawa menyaksikan Miko yang tersiksa.
Malah pada detik berikutnya ia pun menggunakan bagian belakang tubuhnya untuk ikut mengunci pergerakan Miko.
"Eh ntar diliat Jeremy lagi lo. Makin dikatain homo kita.”
"Udah gue kunci koq pintunya.” ujar Nicholas.
"Hahahaha...”
Mereka semua makin menyiksa Miko.
"Ahhhh, bangsat lo pada. Sakit, bego...!”
"Rasain, siapa suruh otak mesum.”
"Aaaaahhkkk bangsat, Lepasin. Hiyaaaaaaaa.”
Miko berhasil melepaskan diri, namun ia tak luput begitu saja. Mereka malah terlibat perang bantal dan saling memukul satu sama lain sambil tertawa.