
Flashback...
Kembali ke saat setelah Amaya dijemput Gerald di sekolah Nicholas. Ketika Nicholas sendiri belum tenggelam kedalam perasaannya yang tak menentu.
Waktu itu ketika mobil Gerald telah meninggalkan gerbang sekolah, sebuah percakapan antara Amaya dan Gerald pun terjadi didalam mobil.
"Koas Sasi, saya senang koas Sasi mau minta tolong sama saya. Lain kali kalau ada apa-apa bilang aja sama saya.”
Dokter Gerald berbicara disela-sela kesibukannya menyetir mobil. Sasi Kirana Amaya yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum. Ia tak begitu menggubris ucapan Gerald. Lantaran masih mengingat saat tadi Nicholas mengulurkan tangannya, dan mereka bergandengan sampai ke depan gerbang. Genggaman tangan anak itu terasa begitu hangat bahkan sampai menjalar ke hati. Sampai detik ini Amaya masih bisa merasakannya.
Dihatinya pun kini muncul jutaan cacing, yang membuat perasaaannya menjadi geli. Ia tak mampu menyembunyikan kegembiraan saat teringat bagaimana cara Nicholas memperlakukannya. Cara dia berbicara, tersenyum, berjalan, semuanya membuat Amaya begitu terpesona. Ditambah tubuhnya yang atletis, wajahnya yang tampan serta pembawaannya yang teduh itu.
"Ah, kenapa sih tuh bocah manis banget. Gregetan gue.” gumamnya sambil tersenyum.
Tak pernah ia bertemu dengan orang seperti itu sebelumnya. Amaya sadar betapa usia mereka terpaut jauh, mungkin sekitar 4 atau 5 tahunan. Tapi kali ini logikanya pun seolah terkunci.
Ia hanya memandang pemuda itu layaknya pandangan wanita lajang kepada laki-laki yang sama lajangnya. Jadilah kini ia mesem-mesem sendiri sambil membayangkan dirinya tengah dipeluk oleh Nicholas. Membuat Gerald menjadi ge-er dan mengira Amaya senyum-senyum karena berada disampingnya.
"Koas Sasi kayaknya seneng banget saya jemput.” ujar Gerald sambil sesekali memperhatikan Amaya. Untuk kali ini Amaya mendengar ucapan Gerald dan seketika saja hatinya menjadi enek.
"Ah nggak, biasa aja koq. Saya senang karena hal lain.”
"Jleb."
Amaya menurunkan sedikit tingkat kepercayaan diri Gerald, agar laki-laki itu tak melambung terlalu tinggi. Karena ia adalah tipikal laki-laki yang mudah ge-er serta memiliki kepedean tingkat dewa.
"Oh ya, tadi ngapain sih ketemu sama anak itu?" tanya Gerald kepo.
"Kan sudah saya bilang, kembaliin dompetnya dia, yang jatuh di kantin rumah sakit tempo hari.”
"Oh iya ya, lupa. Abisnya udah ngeliatin senyum manis kamu sih, jadi lupa.”
Gerald mencoba ngegombal, namun tetap terasa garing ditelinga Amaya. Dari dulu Gerald adalah jenis laki-laki kaku yang selalu serius dalam segala hal. Kalau bercanda ataupun menggombal kadang suka terasa aneh.
Meskipun candaan ataupun gombalannya, adalah candaan ataupun gombalan yang lumrah diucapkan banyak orang. Namun karena Gerald sudah terbiasa dengan image kaku, maka apapun yang ia ucapkan akan ikut terasa kaku pula.
Amaya kadang gerah mendengar gombalan Gerald. Namun Ia masih membutuhkannya sebagai senior sekaligus pemberi tebengan kemanapun ia pergi. Maklum perempuan, berhemat uang ongkos, bisa untuk membeli lipstik dan makeup yang harganya kadang tidak bersahabat. Lagipula ia harus bersikap baik, karena saat ini dirinya masih berstatus sebagai Koas. Ia harus mendapatkan penilaian yang bagus dari senior manapun termasuk Gerald.
Ketika sampai dirumah sakit, Amaya langsung menuju ke ruangan tempat dimana ia ditugaskan. Kali ini di poli anak dan kebetulan pasien hari itu sudah banyak yang mengantri. Sementara disisi lain, Nicholas tengah disidang oleh teman-temannya disekolah.
Mereka duduk saling berhadapan, ketika bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Kebetulan guru pada jam pelajaran tersebut tidak masuk. Begitu juga dengan guru di kelas Jason dan juga Kevin di SMA. Maka jadilah kedua anak itu malah nongkrong dikelas Nicholas.
"Lo kenapa sih tadi, waktu kita lemparin bunga malah nolak.” ujar Kevin sewot.
"Tau nih, maksud kita kan supaya lo bisa kasih itu ke Amaya. Cewek itu paling suka sama bunga tau.” Dirly menjelaskan.
"Sekarang kalau tiba-tiba gue ngasih bunga secara serta-merta, apa dia nggak bakal bingung?" ujar Nicholas sambil menatap teman-temannya.
"Koq bisa sih, si Amaya sampe nggak mengenali lo gitu?. Emangnya lo sebegitu berubahnya?" tanya Miko bingung.
"Iya Nich, baru juga 5 tahun kalian nggak ketemu. Masa dia udah lupa total sama muka lo.” timpal Jason.
"Atau jangan-jangan lo oplas?" Kevin nyerocos sambil memperhatikan wajah Nicholas.
Lalu hening, semua mata kini tertuju pada Nicholas. Pemuda itu pun menghela nafas, ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku jurnal yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah foto. foto yang selama ini tak pernah ia perlihatkan, sekalipun kepada teman-temannya.
Kevin, Dirly, Miko dan Jason memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Tampak seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan tersenyum menghadap kamera, sambil memegang kembang gula atau gula kapas berwarna biru.
"Ini, elo dan Amaya?" tanya Jason tak percaya. Ia lalu memperhatikan foto tersebut dan membandingkannya dengan Nicholas yang sekarang.
"Iya, foto itu diambil pas gue masih SD. Nggak lama setelah gue kenal Amaya di tempat kursus. Lo liat aja gue gimana disitu.” ujar Nicholas kemudian.
"Lo beda banget sih disini, parah. Manis tapi rada iteman, kurus, mata lo layu dan persis bocah.” ujar Kevin sambil memperhatikan foto namun sesekali menatap Nicholas.
"Tepatnya bocah penyakitan.” Nicholas melengkapi.
"Dulu gue sirosis, jadi badan gue juga cuma segede itu.” lanjutnya lagi.
"Kayaknya dulu tinggian Amaya ya dari lo?" tanya Jason sambil mengira-ngira.
Nicholas pun mengangguk. Wajar saja teman-temannya tak mengerti mengapa Amaya tidak mengenali Nicholas saat ini. Karena mereka juga tidak mengetahui apa dan bagaimana rupa Nicholas yang terdahulu, sebelum dia mendapat donor hati. Nicholas sendiri tak berasal dari kota ini.
Tak lama setelah kepergian Amaya, dia dan keluarganya pindah ke kota ini. Dan melanjutkan sekolah disini. Saat bertemu Nicholas kala itu, penampilannya sudah jauh lebih baik ketimbang saat foto itu diambil. Tubuhnya sudah lebih tinggi dan sedikit atletis. Makin tahun ia makin rajin berolahraga dan bentuk tubuhnya semakin bagus.
Seperti yang dijabarkan oleh teman-temannya, dulu ia memang anak yang manis. Namun dengan perawakan bocah dan kulit yang cenderung gelap. Karena sangat suka bermain di luar dan juga masih menderita sirosis hati. Ia pun tak lebih tinggi dari Amaya yang hanya berada di 160cm. Tapi sekarang ia memiliki tinggi sekitar 180 cm dengan tubuh atletis dan kulit yang bersih mulus.
"Kenapa lo nggak jujur aja sih, bro.” Kali ini Miko memberikan saran yang cukup mengejutkan. Namun semua teman-temannya menganggukkan kepala tanda setuju. Nicholas menunduk. Tampak ada sesuatu yang kini mengganggu pikirannya.
"Gue mau liat dulu, dia sebenernya pernah inget nggak sama gue. Lagian kalaupun dia inget, belum tentu juga dia jatuh cinta sama gue, kayak apa yang gue rasain ke dia selama ini. Gue belum siap menerima kenyataan, seandainya dia memang nggak pernah cinta sama gue.”
Kali ini Nicholas membuang pandangannya jauh kedepan. Beberapa hari bertemu dengan wanita itu, Nicholas belum juga menemukan tanda-tanda. Bahwa Amaya masih mengingat teman masa kecilnya, yang dulu sempat ia selamatkan hidupnya.
Nicholas memang anak yang kuat, pemberani, dia tak pernah takut menghadapi situasi apapun. Tapi soal asmara, ia sama sekali belum memiliki pengalaman yang cukup dibanding teman-temannya. Hatinya masih sangat rapuh dan ia masih suka terbawa perasaan.
"Tapi kalau lo nggak segera bertindak, lo bisa ditikung sama si dokter itu, bro. Minimal lo ambil langkah awal.”
Kali ini Kevin nyeletuk, membuat ketiga temannya yang lain melotot ke arahnya. Agar anak itu tak bicara sembarangan. Meskipun semua yang dikatakan Kevin itu benar, tapi Jason, Miko dan Dirly mengerti betul perasaan Nicholas yang selama ini sama sekali belum pernah jatuh cinta ataupun pacaran. Mereka tak ingin Nicholas makin berkecil hati.
"Gue cuma butuh waktu yang tepat, Pin.” jawab Nicholas kemudian.
Kevin sudah bersiap hendak menjawab, namun teman-temannya yang lain sudah keburu melotot lagi ke arahnya. Mereka tak ingin Kevin melanjutkan ucapannya, karena takut Nicholas akan makin berkecil hati. Alhasil Kevin pun hanya diam dan tak jadi bicara lagi.