
Nicholas akhirnya terbangun, ia mendapati Sasi Kirana Amaya berikut teman-temannya ada di sekitar. Ia tak sadarkan diri hampir tiga jam lamanya.
Melihat Nicholas yang sudah siuman, teman-temannya berpamitan keluar sejenak. Karena mereka tau pastilah Nicholas hendak berbicara dengan Amaya.
Amaya menatap Nicholas, seketika pemuda itu teringat akan sesuatu. Ia melirik ke arah tangannya dan ia pun sedikit bernafas lega. Sebab gelang pasien yang dia tanggalkan, belum dipasang kembali. Hingga kemungkinan besar Amaya masih belum mengetahui siapa dirinya.
"Sas."
"Nic, jangan kayak gini lagi ya."
Amaya berkata dengan nada yang begitu lembut di telinga, namun syarat akan ketegasan. Hingga membuat Nicholas terdiam dan merasa sangat bersalah.
"Maafin aku, aku udah bohongin kamu." ujar Nicholas.
"Kali ini aku maafin kamu." Amaya berkata sambil menatap dalam ke mata pemuda itu.
"Tapi kamu janji kan, nggak bakal nggak melibatkan aku dalam apapun yang kamu hadapi?"
"Hhhh." Amaya menghela nafas, ia agak berat untuk hal yang satu ini.
"Sas, please..!"
Amaya terus menatap Nicholas dalam-dalam.
"Ok." jawabnya kemudian.
Nicholas akhirnya bisa bernafas lega. Ia tersenyum menatap dokter muda itu, meski Amaya sendiri masih sangat keberatan di dalam hati.
"Tapi kamu juga janji. Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu harus bilang ke aku. Aku berhak tau Nic."
Nicholas mengangguk dan tersenyum. Digenggamnya tangan wanita itu dan tiba-tiba saja, Amaya merasakan sebuah debaran asing namun terasa begitu familiar. Seperti sebuah rindu yang telah udang, namun masih tersimpan utuh.
"Nic, who are you?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja di bibir Amaya, membuat Nicholas tersentak. Namun ia berusaha untuk tetap terlihat normal.
"Braaak."
Seorang perawat tiba-tiba membuka pintu dan masuk.
"Koas Sasi, dicari dokter Fathia." ujar perawat itu pada Amaya. Seketika Amaya pun melepaskan genggaman tangan Nicholas.
"Oh baik suster, terima kasih. Saya segera kesana."
Perawat itu berlalu, Amaya kini kembali menatap Nicholas.
"Aku tinggal dulu. Nanti kalau hari ini udah selesai, aku kesini lagi."
Nicholas mengangguk, lalu Amaya meninggalkan ruangan tersebut. Wanita itu melangkah dan sempat berpapasan dengan koas Miranti di depan. Namun Amaya melengos saja, karena masih kesal.pada sahabatnya itu.
***
Flashback.
Kembali ke pada saat Amaya marah dan keluar dari kamar Nicholas. Sebelum Nicholas melepas infus lalu menyusul, hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
"Sas."
"Sasi."
"Sas."
Miranti menyusul Amaya yang buru-buru melangkah.
"Sas, please. Dengerin aku dulu...!"
"Dengerin apa, Mir?"
Amaya menghentikan langkah dan menatap tajam ke mata Miranti.
"Lo udah nutupin kondisi Nicho dari gue, padahal lo sendiri tau kalau gue sangat-sangat mengkhawatirkan keadaan dia. Gue curhat sama lo, ngadu ke elo. Tega-teganya lo ngelakuin ini semua ke gue."
"Sas, ini semua tuh gue dan Nicho lakukan supaya lo nggak kepikiran."
"Lo pikir dengan kalian bohong, hati gue bisa tenang?. Hah?"
Miranti terdiam.
"Nggak bisa Mir, gue kepikiran terus sama dia. Hati gue nggak percaya kalau dia baik-baik aja, firasat gue nggak enak. Lo dengan nggak ada dosanya merahasiakan hal ini dari gue. Sahabat macam apa lo?"
Miranti kian terkunci oleh tatapan yang penuh intimidasi dari Amaya. Ia ingin membela diri, namun lidahnya mendadak terasa kelu.
"Lo jangan ngomong sama gue dulu, gue lagi nggak mau berurusan sama lo."
Amaya kembali melangkah, kali ini lebih cepat.
"Sas."
"Sasi."
"Stop di sana karena gue benci sama lo, Mir."
Amaya berujar sambil terus melangkah ke depan. Sedang kini Miranti hanya bisa terdiam pasrah.
***
"Nic sumpah, jantung gue mau copot anjir."
"Sorry ya Pin."
Nicholas mengusap kepala Kevin dan mengacak rambut temannya itu.
"Parah loh Nic." ujar Dirly.
"Kaget gue pas Amaya datang." lanjutnya kemudian.
"Apa tadi dia ngeliat kita ya, pas masuk kesini?"
Miko mulai menduga-duga, sama halnya dengan Jason.
"Perasan gue sudah safety banget tuh masuknya. Udah bener-bener gue pastikan kalau Amaya nggak ada." timpal Jason.
"Udalah, dia juga udah maafin gue koq." ujar Nicholas kemudian.
"Serius Nic?" tanya Kevin diikuti tatapan teman-temannya.
"Iya, jadi kalian nggak perlu khawatir lagi. Sorry kalau gue bikin kalian jadi repot selama beberapa waktu belakangan ini." ujar Nicholas.
"Woles." ujar Miko sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
"Yang penting sekarang kita semua udah lega." lanjutnya lagi.
"Tinggal lo nya aja yang cepat sembuh, supaya cepat keluar dari sini." timpal Dirly.
Nicholas mengangguk, tak lama kemudian seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi pemuda itu.
"Gelangnya mana?" tanya sang perawat pada Nicholas.
"Ada di laci sus, pergelangan tangan saya gatel pakai itu. Saya tuh gampang gatel-gatel kalau pake gelang, kalung dan sebagainya."
Perawat tersebut mengecek ke dalam laci meja kecil, yang ada di samping tempat tidur.
"Ok." ujarnya kemudian.
***
Amaya bertugas sampai larut, ia baru bisa kembali menyambangi kamar Nicholas di malam hari. Ketika ia masuk, Nicholas telah tertidur lelap, karena tadi dokter memberikan obat yang memiliki efek samping mengantuk.
Amaya mendekat, di genggamnya tangan pemuda itu dengan erat. Hingga Nicholas akhirnya terbangun.
"Maaf, aku bangunin kamu." ujar Amaya.
Pemuda itu tersenyum tipis, namun kantuk masih begitu menguasai alam kesadarannya. Hingga ia pun kembali tertidur.
Amaya masih di sana selama beberapa saat, sampai kemudian ia beranjak untuk pulang. Karena besok ia juga masih harus masuk pagi. Ia ingin menggunakan waktunya yang sedikit, untuk istirahat.
Ia sejatinya bisa saja menginap, namun ia tak membawa baju ganti. Sebagai seorang dokter, kebersihan itu sangat diutamakan. Maka Amaya memutuskan untuk pulang.
***
Amaya melangkah ke pelataran halte bus. Kebetulan bus terakhir adalah di jam 00:00 malam. Sedangkan ini masih pukul 23:45. Masih ada waktu untuk mendapatkan moda transportasi tersebut.
Amaya memang sengaja tak naik taxi ataupun taxi online. Karena ini sudah malam dan ia sendirian. Ia merasa takut karena banyaknya pemberitaan mengenai kejahatan di taksi apabila telah malam.
Kalau bus, masih banyak orang yang menumpangi di jam segini. Karena banyak juga pekerja yang pulang di jam yang sama akibat lembur. Minimal Amaya tidak sendirian.
Amaya tiba di halte bus. Tampak sangat sepi, karena hanya dirinya yang berada di tempat itu. Ia pun duduk, namun sekali-sekali ia berdiri dan menengok ke suatu arah. Berharap bus yang ia tunggu segera datang. Namun kemudian sebuah sekelompok orang tak dikenal menghampirinya.
"Tangkap dia...!" ujar salah satu dari mereka.
Amaya yang terkejut itu pun berusaha menghindar. Namun salah satu dari mereka mendapatkan gadis itu.
"Lepaskan, tolooong..!"
"Tolooong."
"Diam kamu."
Salah satu dari kawanan itu membekap mulut Amaya, namun tak lama kemudian.
"Buuuk."
"Buuuk."
Seorang pemuda datang dan menghajar kawanan tersebut. Hingga mereka mengaburkan diri dan Amaya bisa selamat.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya sia pemuda.
Amaya menggeleng, namun ia menyadari sesuatu.
"Kamu?"
Amaya melihat pemuda itu, ia pernah menolong dan bertemu Amaya beberapa kali.
"Kita sudah sering ketemu, tapi kita saling nggak tau nama. Aku Prince." ujar pemuda itu kemudian.
"Sa, Sasi." jawab Amaya terbata-bata. Ia masih syok dengan kejadian ini.
"Aku antar kamu pulang." ujar Prince.
Amaya diam, ia sedikit ragu. Namun juga takut kalau kawanan tadi akan kembali.
"Ok." Ia memberikan jawaban pada Prince, dan akhirnya ia diantar pulang oleh pemuda itu.