I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Teror Cinta dan Ego




Tiba-tiba sebuah pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp, masuk ke handphone Amaya. Ia tak tahu pesan itu dari siapa. Karena nomor pengirim tak ada di daftar kontak handphonenya. Ketika di klik pun, kontak tersebut tak ada namanya.



Amaya terkejut sekaligus takut, jantungnya kini berdebar-debar. Seketika ia ingat beberapa hari lalu, ada orang yang membuntuti dan sengaja ingin mencelakainya. Amaya merasa tidak pernah melakukan kesalahan terhadap orang lain.



Amaya membalas dengan wajah penuh ketakutan. Sementara pagi itu ia harus segera berangkat ke rumah sakit karena jadwalnya dimulai sejak pagi.


Orang itu tak menjawab, Ia pun mencoba menelpon ke nomor tersebut namun tak diangkat. Meski telah berkali-kali dicobanya. Ia amat sangat penasaran siapa orang itu.


Amaya mengintip dari kaca jendela rumahnya, ada seseorang yang sekelebat berlalu. Seolah tahu jika Amaya tengah mengintip dan memperhatikannya. Amaya kemudian mengunci sekeliling rumah dan kembali ke pintu depan. Ia berdiri disana sambil mengintip kembali keluar.


Tak ada siapapun lagi, namun kini ia takut untuk keluar rumah. Hatinya begitu cemas dan membayangkan bagaimana jika dirinya dicelakai oleh orang itu. Tapi tugas kini sedang menunggunya.


Amaya bingung, karena komplek perumahan mereka itu cukup sepi. Namun tiba-tiba saja ia mendengar riuh canda tawa serta perbincangan hangat di luar sana. Amaya kembali mengintip, ternyata pak RT beserta teman-temannya yang baru kembali dari jogging. Mereka tampak berpapasan dengan security komplek perumahan, lalu berbincang tepat di depan rumah Amaya.


Wanita itu lalu mengambil tas dan keluar dari rumah. Ia buru-buru mengunci pintu dan juga pintu pagar, mumpung sedang ramai pikirnya. Ia pun berjalan dengan cepat, ternyata memang ramai di depan.


Selain pak RT dan security komplek, banyak ibu-ibu dan asisten rumah tangga yang tengah menunggu tukang sayur. Amaya pun bernafas lega. Andai saja ada orang yang ingin berbuat jahat padanya saat ini, pastilah tidak bisa karena akan dilihat oleh banyak orang pikirnya.


Usai menyapa pak RT dan yang lainnya, ia pun berjalan keluar dari gerbang komplek dan menuju halte bus. Tanpa sepengetahuan Amaya, Nicholas ternyata membuntutinya sejak ia keluar dari gerbang komplek tadi. Pemuda itu telah lama menunggunya disana, dan kini ia pun berdiri agak jauh dari Amaya sambil mengenakan earphone.


Dari tempatnya berdiri, pemuda itu terus memperhatikan Amaya dan mengawasi gerak-geriknya. Bahkan ketika gadis itu naik bus, Nicholas pun berada di bus yang sama. Hanya saja mereka dipisahkan oleh ruangan khusus wanita. Amaya berdiri disana, sedangkan Nicholas ada di bagian belakang.


Nicholas terus mengikutinya, hingga wanita itu sampai di rumah sakit dan Nicholas bisa memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Tak lama kemudian, ia pun menelpon Kevin.


"Mpin, lo dimana?. Buruan, ntar telat. Gue dirumah sakit nih sekarang.”


"Ntar dulu Bujank, lo nggak tau apa kalau jalanan macet. Nih gue sama Jason masih terjebak. Lagian lo gaya-gayaan sih, pake ngikutin Amaya naik bus segala. Jemput aja pake mobil lo aturan.”


"Sekali-sekali gue naik bus. Gue pengen ngerasain rasanya berjuang demi cinta.”


Lalu hening sejenak.


"Nich, koq lo jadi menjijikkan ya sekarang?"


Kevin merasa aneh dengan tingkah sahabatnya itu. Nicholas pun lalu tertawa terbahak-bahak. Ia hanya bercanda, namun Kevin menanggapinya dengan serius.


"Asal lo tau ya, Mpin. Waktu dulu lo lagi pedekate sama Miranda, lo sama menjijikkannya dengan gue saat ini. Lo berpuisi-puisi lah di taman belakang sekolah, segala guru lo kasih bunga. Giliran ditolak aja, galau, diem, males kemana-mana. Udah kayak mimi peri kepleset dari kayangan, terus kakinya keseleo. Sampe mau ke toilet aja, lo mesti di seret-seret saking nggak berdayanya.”


"Iyaaaa bujaaaank, ngeledek gue mulu lo. Udah nyusahin, ngeledek lagi. Mobil lo mana sih?"


"Mobil gue di bengkel, makanya tadi naik bus. Sekalian nganter Amaya, biar aman.”


"Mobil lo rusak?"


"Ada masalah lah dikit.”


"Beli baru dong, kan lo sultan.”


"Abis gimana dong, gue udah terlanjur sayang. Sama kayak perasaan gue ke dia.”


"Tai, kagak pantes lo sok-sok Dilan. Pantesnya lo tuh berantem di ring tinju sama tawuran. Watak lo keras, bray. Walaupun muka lo imut kayak oppa Gangnam style.”


"Hahaha, bangsat. Cakepan gue jauh ya dari PSY, nggak liat gue udah mirip Lee Min Ho gini."


"Iye, Solihin. Lu doang dah paling cakep.”


"Hahaha, Udah ah buruan...!”


"Iye, iye. Udah ah, lo tunggu aja disana. Bentar lagi sampe Imnida. Saranghaeyo oppa, muaach.” Kevin memonyongkan bibirnya.


"Geli gue, anjay."


Nicholas kembali tertawa lalu menutup telpon nya. Tak lama kemudian Kevin pun sampai, ia menjemput Nicholas lalu mereka sama-sama pergi ke sekolah.


"Nicho, tumben hari ini kamu tidak terlambat?"


tanya gurunya ketika pelajaran mulai berlangsung.


Beberapa hari ini ia selalu terlambat karena sering membuntuti Amaya. Ia sendiri sengaja tak menyapa Amaya dan membiarkan perempuan itu tidak tahu, jika dirinya selalu diawasi oleh Nicholas. Alasannya, Nicholas tak ingin Amaya merasa risih karena selalu bertemu dengan dirinya.


Apartment Nicholas sebenarnya tak begitu jauh dari sekolah. Namun karena jalur yang ditempuh harus memutar arah. Mulai dari rumah Amaya hingga rumah sakit demi memastikan keselamatan wanita itu, jadilah ia sering terlambat akhir-akhir ini. Apalagi Amaya kadang lama keluar dari rumah. Namun tadi wanita itu berangkat lebih pagi dan Nicholas pun dijemput oleh Kevin dirumah sakit, maka dari itu ia tidak terlambat ke sekolah.


"Hari ini nggak bangun kesiangan, bu.” jawab Nicholas sambil memperhatikan pulpen yang ada di genggaman tangannya. Ia sama sekali tak menatap ke arah gurunya tersebut.


"Kamu kenapa bisa bangun kesiangan terus beberapa hari belakangan ini?. Main game online sampai pagi?"


Nicholas diam, ia terus memperhatikan pulpen yang ada ditangannya itu.


"Kamu itu juara umum loh, harusnya jadi panutan bagi teman-teman kamu. Jangan sering terlambat.”


"Juara umum juga manusia, bu. Masa juara umum nggak boleh main game dan nggak boleh telat.”


Walau ia suka berkelahi lantaran membela temannya, ataupun tawuran demi membela harga diri sekolah. Tapi belum pernah sekalipun ia membantah omongan guru. Ia termasuk salah satu siswa yang patuh dan taat dengan peraturan. Tapi hari ini ia tampak begitu santai menanggapi teguran gurunya tersebut, bahkan dengan leluasa ia membantah.


Malah pada menit berikutnya, ia pun keluar dari kelas dengan alasan mau ke toilet. Setelah itu ia malah mampir ke kantin dan tidak kembali lagi ke kelas sampai jam istirahat tiba. Hal yang sama sekali belum pernah ia lakukan selama mata pelajaran berlangsung selama ini.


Miko dan Dirly yang menangkap pemandangan tak biasa itupun akhirnya membahasnya, ketika mereka semua pergi ke kantin dan berkumpul bersama Kevin serta Jason.


Udah mulai keliatan aslinya tuh anak.”


Miko berbicara pada Dirly, Jason, dan Kevin sambil memperhatikan Nicholas yang tengah mengantri minuman di kantin.


"Udah mulai blangsak dia.” imbuh Dirly.


"Blangsak mah emang udah dari dulu kali.” ujar Kevin menambahi.


"Dia mah kagak blangsak, Mpin. Blangsakan juga elu. Dia juga kalau berantem pasti ada alasan kuat. Nakal juga standar, telat kagak pernah, bolos apalagi.” ujar Jason dengan mimik wajah heran. Ia heran pada sikap Nicholas akhir-akhir ini.


"Iya tapi belakangan ini sejak dia ketemu lagi sama Amaya, dia jadi agak cuek sama peraturan sekolah, sama pelajaran. Biasanya kan dia nggak gitu. Apa-apa disiplin, sekolah aja nggak pernah telat. Nilai pelajaran 100 semua, peringkat nggak usah ditanya. Kalo kayak gini terus, gue khawatir sama nilai-nilainya.” ujar Miko kemudian.


"Ya mudah-mudahan nggak sampe gitu lah. Jangan sampe nilainya ikutan jeblok.” tukas Dirly.


Tak lama kemudian Nicholas menghampiri mereka sambil membawa minuman. Agaknya dia curiga pada tingkah para sahabatnya tersebut.


"Lo pada ngomongin gue ya?" tanya Nicholas sambil memperhatikan temannya satu per satu.


"Iya, emang napa?" tanya Kevin kemudian.


"Dasar anak-anak lambe turah.” ujar Nicholas kemudian duduk lalu menyedot minumannya.


"Lagian lo nggak pernah-pernah membantah guru, tadi lo bantah. Lo nggak liat seisi kelas sampe kaget liat sikap slengek'an lo tadi.” ujar Dirly yang disusul tawa renyah Nicholas.


"Gue nggak membantah, cuma menjelaskan bahwa gue juga manusia biasa. Walaupun gue juara umum, populer dan lain-lain. Masa gue nggak boleh melakukan kesalahan, nggak adil dong buat gue.”


"Bener, bro. Gue dukung lo.” ujar Kevin bersemangat.


Selama ini yang paling sering nakal disekolah adalah Kevin. Walau mereka semua berprestasi di bidang akademik maupun olahraga di sekolah masing-masing. Namun Kevin yang berusia paling muda diantara yang lain tersebut, kerap kali membuat masalah.


Mulai dari membantah guru, pacaran saat jam pelajaran berlangsung, pura-pura ke toilet padahal tidur siang di ruang perpustakaan. Temannya yang lain suka mengingatkan agar Kevin mengurangi kenakalannya. Namun kini ia merasa ada teman yang baru mulai nakal dan bisa menjadi komplotannya, yakni Nicholas.


"Mpin, temen mau jadi blangsak malah di dukung.” Jason mengingatkan Kevin.


“Eh, Jas. Hidup itu perlu warna. Dan lo nggak perlu memenuhi tuntutan sekitar maupun netijen, soal gimana lo harus menjalani hidup. Kalau lo terlalu bergantung sama anggapan orang, kapan lo bisa hidup atas dasar kemauan lo sendiri?.”


“Iye, iye.”


"Lo kenapa sih Nich?. Akhir-akhir ini tingkah lo aneh.” tanya Miko penasaran.


"Gue nggak aneh, Mik. Cuma emang gue harus melakukan hal ini, setidaknya gue akan sering telat ke sekolah demi Amaya. Lo pada inget kan yang gue ceritain waktu itu. Soal bapak temennya Amaya yang dendam sama dia dan berniat mencelakakan dia?"


"Iya-iya.” jawab mereka serentak.


"Akhir-akhir ini dia tuh sering seliweran di depan rumahnya Amaya. CCTV dari rumah bokap gue yang ada disamping rumah Amaya, selalu menangkap orang itu lagi keliaran disana. Dia udah tau kalau Amaya tinggal disitu, gimana gue nggak khawatir coba?"


"Waduh, bahaya juga tuh.” ujar Kevin sambil mengernyitkan dahi. Tampak ia dan temannya yang lain menjadi khawatir.


"Makanya itu, gue selalu kepikiran sama keselamatan dia. Akhir-akhir ini gue stress banget, gue nggak tau harus gimana lagi buat melindungi dia.”


"Lo nggak coba lapor polisi.” tanya Miko kemudian.


"Mau lapor polisi, polisi juga nggak akan percaya sama apa yang bakal kita jelaskan. Sampai bener-bener muncul kejadian yang membahayakan. Mau bilang apa coba?. Amaya diikutin orang misterius?. Kita nggak bisa menuduh orang tanpa bukti yang jelas. Bisa aja kan itu orang ngeles kalau ditanyain polisi."


"Iya juga sih, kan kita nggak bisa mencurigai atau menuduh orang tanpa bukti. Bisa-bisa kita yang dituntut balik.” ujar Dirly menambahi.


"Gue takut Amaya di apa-apain sama tuh orang.”


"Kenapa lo nggak tinggal dirumah bokap lo yang disitu aja, biar lo lebih leluasa mengawasi Amaya. Lo nya juga nggak repot mesti muter lagi kesana lagi tiap pagi.” ujar Kevin memberi saran.


"Emang bakalan gue tempatin, Mpin. Tapi nggak sekarang. Tempat itu masih direnovasi, bagian atasnya aja masih ada yang mau diruntuhin. Lo tau sendiri kan bokap gue hobi banget merombak rumah. Kayak pesugihan kandang bubrah anjir rumah gue, nggak selesai-selesai.”


Kali ini mereka semua tertawa.


"Ya udah, lo sabar ya. Kita semua bakal bantuin lo koq. Si Mpin juga walau kadang bacotnya nggak bisa dikontrol, tapi dia sayang koq sama lo.” Miko berkata sambil melirik ke arah Kevin, yang kini tampak melebarkan mulutnya sampai kuping.


"Dia aja mau bela-belain jemput lo, kalau mobil lo lagi nggak bisa dipake dan lo terpaksa harus mengawasi Amaya.” lanjutnya kemudian.


Nicholas tersenyum, Kevin memang anak baik meskipun suka sewot seperti emak-emak. Teman-temannya yang lain pun sama baiknya dan Nicholas beruntung berada di circle mereka.


"Nich, lo harusnya bilang lah sama Amaya kalau lo itu teman masa kecilnya. Dan lo kasih tau juga ke dia kalau dia sekarang diikuti sama bapak dari temannya itu. Paling nggak kan dia bisa mawas diri, bisa hati-hati.” ujar Jason kemudian.


"Gue sependapat sih sama Jas.” ujar Dirly.


"Kalau lo gimana, Mpin?" tanya Dirly pada Kevin.


"Gue, setuju sih. Tapi terserah Nich aja, gue dukung. Yang jelas, semua saran temen lo ini, tolong di dengerin dan lo pertimbangkan. Buat kebaikan lo dan Amaya juga.”


Kali ini Nicholas terdiam, ia berada dalam kebimbangan yang mendalam. Apa yang dikatakan teman-temannya itu benar, tapi ia juga masih berada dalam ego nya yang tinggi. Ia belum bisa memberi tahu Amaya secara langsung tentang siapa dirinya, iaa belum siap untuk itu. Lagipula, ia ingin Amaya ingat sendiri pada dirinya. Ia tak ingin terkesan mengemis untuk diingat. Nicholas pun kembali menyedot minumannya sambil berfikir.