
Entah ada angin apa, tiba-tiba saja Nicholas Diovano Marcell melihat ada notifikasi permintaan video call di handphonenya. Dan nama yang tertera di situ adalah,
"Sasi Kirana Amaya.”
"God."
Nicholas menatap layar handphonenya dengan wajah tak percaya.
"Gaes, dia video call gue. Gimana nih?" tanya Nicholas panik.
"Ya angkat bego, masa di diemin.” ujar teman-temannya kemudian.
"Gue harus gimana dan ngomong apa?"
"Lah dia bingung, apalagi kita.” ujar Kevin sambil tertawa.
"Udah angkat dulu, buruan. Lama lo ah. Kayak nggak pernah ngomong sama Amaya aja.”desak Jason kemudian.
“Ini beda Jas, video call an. Gue belum pernah."
"Kalau ketemu sering kan, lo?"
"Ya sering."
"Kenapa masih deg-deg an?"
"Ya mana gue tau."
“Udeh angkat, berisik lu. Keburu dimatiin ntar.”
Nicholas pun lalu mengangkat panggilan tersebut. Konektivitas kebetulan sedang stabil. Ia bisa melihat wajah cantik Amaya dari layar handphone nya tanpa gangguan signal. Sementara kini teman-temannya kompak merapatkan diri untuk menguping dan mengintip.
"Kamu lagi dimana?" tanya Amaya kemudian.
"Di, di Malioboro. Abis makan tadi.” jawab Nicholas lalu tersenyum.
"Oh, sama siapa?" tanya Amaya lagi.
Nicholas memperlihatkan teman-temannya.
"Hai bu calon dokter.”
Kevin dan yang lainnya melambaikan tangan sambil tersenyum dengan ramah. Sejenak kemudian Nicholas kembali mendekatkan handphonenya. Hingga hanya wajahnya saja yang terlihat.
"Ah, pelit lo Nich.” gerutu Kevin.
"Tau, kikir lo.” timpal Dirly.
"Temen kamu kenapa?" tanya Amaya kemudian.
"Biasa, mereka mau liat kamu lebih lama.”
"Lah terus?"
"Nggak boleh.”
Kali ini Amaya yang tertawa.
"Kenapa nggak boleh?" tanya nya lagi.
"Nanti, mereka suka sama kamu.”
Amaya tersenyum.
Nicholas agak menjauh dari teman-temannya. Mereka pun tampak menikmati pemandangan sekitar. Sementara Nicholas melanjutkan obrolannya.
"Kamu nggak pulang?" tanya Nicholas pada Amaya.
"Nggak, aku kebetulan ada jadwal malam juga. Harusnya tadi siang aku pulang dulu. Tapi karena hari ini ruang bersalin rame, jadinya kerjaan aku banyak.”
"Tapi kamu udah makan kan?" tanya Nicholas lagi.
"Udah koq tadi.”
"Oh ya, besok kamu masuk kerja lagi?"
"Aku off besok.”
"Baguslah, kamu bisa istirahat.”
"Iya, capek banget aku pengen tidur seharian penuh rasanya.”
"Lusa, kalau kamu mau minta jemput. Aku bisa minta tolong temen ku, Axl Hadley. Dia pasti mau koq. Daripada kamu pergi sendirian.”
"Axl Hadley yang anaknya Darren Greyson itu kan?. Youtuber, cucunya Edward Greyson yang punya rumah sakit ini?"
"Iya, dia temen aku.”
"Jangan lah, nggak enak. Aku nggak kenal Axl dan aku juga bukan siapa-siapa kamu. Lagipula, aku bisa jaga diri koq.”
"Ya, aku cuma khawatir aja. Takut orang itu masih berniat jahat sama kamu.”
Amaya tersenyum.
"Aku nggak bakalan kenapa-kenapa. Kamu nggak usah khawatir.”
"Ok, tapi kamu hati-hati ya.”
"Iya. Oh iya, Aku udah in dulu ya. Soalnya bentar lagi mau periksa pasien.”
"Ok, baik-baik disana.”
Lagi-lagi Amaya tertawa.
"Kamu yang baik-baik disana. Jangan berbuat macem-macem di kota orang.”
"Emang aku mau ngapain sih?"
"Ya mana aku tau.”
"Ya udah, bye Nicho.”
"By, bu Koas.”
Nicholas menyudahi obrolannya. Ia menoleh ke tempat di mana teman-temannya berada. Para bedebah itu tengah menikmati alunan musik dari para pengamen jalanan. Mereka tampak antusias berjoget, berfoto bahkan membuat instastory.
Nicholas mendekat ke arah mereka. Bertepatan dengan datangnya Rebecca yang secara tiba-tiba menghampiri Miko.
"Mik, koq kamu kayak menghindar gitu sih?"
Rebecca menatap tajam ke mata Miko. Kevin, Jason dan Dirly yang tengah joget-joget bak kesurupan Nini thowok tersebut pun langsung terdiam dan ikut menatap ke arah Miko dan juga Rebecca.
"Bukannya menghindar, Rebecca. Kamu liat kan aku lagi sama temen-temen aku.”
"Ya paling nggak jalanlah kita kemana. Masa iya, udalah duduk di bus nggak barengan. Kamar jauhan. Sekarang jalan bareng pun nggak.”
"Yaelah, nggak duduk barengan di bus tapi kita di bus yang sama kan?. Bisa saling liatin dari jauh. Masalah kamar, emang kamu mau kita tidur satu kamar?. Ntar mblendung loh.” ujar Miko yang diikuti tawa Kevin dan yang lainnya. Sementara Nicholas menatap fokus pada keduanya sambil menahan senyum.
"Ya bukan gitu juga, paling nggak kamu ajak lah aku jalan bareng. Aku juga pengen kali punya foto bareng kamu. Vlog bareng, buat di insta story sama YouTube"
"Udah, Mik. Temenin sana. Lagian nggak ada guru yang ngeliat ini.” ujar Nicholas kemudian.
"Tuh, bener apa kata Nicho. Kamu mah emang the best honey.”
Rebecca mendekat menempelkan kepala nya ke bahu Nicholas dengan bibir yang ditekuk manja. Nicholas sendiri lalu menepuk dan mengusap kepala Rebecca sambil memasang wajah menyebalkan seolah dia adalah pemenang. Tentu saja hal tersebut mengundang kekesalan Miko. Tiba-tiba saja pemuda itu melebarkan bibir sampai kuping.
"Sa ae lo, merang padi. Lepasin cewek gua...!”
Miko menarik Rebecca. Nicholas dan yang lainnya makin tertawa.
"Kalau kamu nggak mau ya udah, aku minta temenin Nicho aja.”
"Itu mah emang kamu yang doyan. Tipikal gini kan emang cowok idaman kamu banget. Halu sama Oppa Korea. Padahal Nicho kayak Oppa Korea yang di oplas.”
Nicholas makin menyombongkan diri dengan bergaya sok ganteng di depan Miko.
"Jangan sama Nicholas, ntar mblendung.” ujarnya kemudian.
"Dih, enak aja. Gue tidak sekotor itu, Mik. Tenang Rebecca, gue masih perjaka. Dan kalau lo jalan sama gue, Gue jagain kayak jagain berlian. Nggak bakal lo lecet kalau sama gue.”
"Heh, sa ae lo kang sendal.” lagi-lagi Miko sewot.
"Jadi nemenin nggak nih?" Rengek Rebecca lagi.
"Ya udah, ayok-ayok dah. Ahhh...”
Miko menggerutu kesal diiringi tawa dari teman-temannya. Ia pun akhirnya menuruti keinginan Rebecca.
"Rebecca, sebenernya Miko tadi ada niatan mau ke Sarkem.” celetuk Kevin ketika Rebecca dan Miko belum lagi melangkah jauh.
"Apa?. Oh jadi kamu gitu?" Rebecca ngambek dan menghentikan langkahnya.
"Mpin, lo jangan cari gara-gara ya. Gue hajar lo.” ujar Miko sambil mengepalkan tinjunya. Lagi-lagi Kevin dan yang lainnya tertawa geli.
"Beneran koq, Mpin nggak bohong.” timpal Jason penuh meyakinkan.
"Tuh kaaaaaaan, kamu maaaah.” Rebecca makin ngambek dan Miko pun makin kualahan.
"Lu pada bener-bener ya. Nggak gitu Rebecca, sayaaaaang. Tanya Dirly noh, nggak ada aku begitu.”
"Dih apaan, tadi lo bilang kan ke gue. Kalau mau ke Sarkem.” Dirly membuat posisi Miko makin sulit.
"Lo emang pengkhianat ya, Dir.”
"Udah ayok kita pergi.” ajak Miko pada Rebecca.
"Nggak mau, kamu mah jahat.”
"Kamu percaya aja lagian sama omongan bedebah-bedebah ini. Udah tau mereka emang suka godain kamu sampe nangis. Masih aja percaya.”
"Huaaaaaaaaaaaa, aku sedih tau nggak.”
"Udah-udah, sayang, sayang, sayang. Aku nggak gitu koq. Mereka aja yang ngada-ngada. Udah ayok jalan yok.”
Rebecca pun akhirnya menuruti Miko. Ia berjalan dengan wajah yang masih bete serta bibir yang ditekuk. Nicholas dan yang lainnya tak henti-hentinya tertawa.
"Seneng lo pada liat orang susah ya, awas lo ntar dikamar. Gue hajar satu-satu.”
Miko pun lalu berjalan menjauhi mereka. Nicholas dan yang lainnya tetap saja tertawa. Mereka senang jika Miko berada di dalam keadaan yang terjepit.
"Gue nggak ngebayangin. Pasti ntar agak jauhan dikit, Miko di pukulin sama Rebecca.” ujar Kevin geli.
"Gue sih berharap lebih.” ujar Jason kemudian.
“Kayak digebukin pake kayu yang banyak paku nya.” lanjutnya kemudian.
"Jahat lo pada.” ujar Nicholas seraya masih tertawa.
Tiba-tiba mereka semua terdiam. Pasalnya Jeremy Toti, guru mereka muncul secara mendadak dan kini tengah berdiri sambil menatap mereka dengan tatapan yang dingin mengerikan.
"Itu Miko kenapa dengan Rebecca.” tanya Jeremy pada mereka. Nicholas dan teman-temannya saling bertatapan lalu kembali menatap Jeremy.
"Ya, kan Rebecca emang pacarnya Miko pak.” jawab Nicholas.
"Lagi pula mereka cuma jalan-jalan di sekitar sini. Bukan niat mau mesum di suatu tempat.” lanjutnya kemudian.
"Saya tidak suka sama orang yang tidak punya prinsip. Apalagi kalau orang itu juga seorang pembohong.”
Nicholas dan teman-temannya kompak mengerutkan kening. Mereka tidak tau apa yang tengah dibicarakan Jeremy.
"Kalian ini kan saling menyukai satu sama lain?. Harusnya kalian punya prinsip dong. Jangan kesana mau, kesini mau. Jangan membohongi perasaan perempuan. Kasian kan Rebecca, punya pacar yang suka sama laki-laki.”
Jeremy berlalu begitu saja. Sementara kini Nicholas dan yang lainnya tertolong bengong persis sapi ompong.
"Tuh orang kenapa ya?" tanya Jason masih dengan wajah bengong.
"Udah-udah nggak usah diurusin. Di jelaskan juga percuma sama orang kayak gitu mah. Dia udah terlanjur menganggap kita itu saling suka satu sama lain.” ujar Nicholas kemudian. Mereka pun lalu kembali berjalan-jalan dan menikmati suasana malam