
Di sepanjang perjalanan Nicholas selalu resah. Balik kanan, balik kiri. Menempel pada bahu Kevin, merengek pada Jason, minta tolong pada Dirly dan juga Miko. Nicholas benar-benar seperti anak SMP yang menyebalkan, karena ia baru mengenal cinta dan tak tau harus berbuat apa ketika masalah cinta datang menyerangnya. Sama sekali bertolak belakang dengan sikapnya selama ini, sebelum bertemu dengan gadis itu.
Ia mengirim chat berkali-kali pada Amaya berisi permintaan maaf, namun tak satupun terjawab. Makin ia melihat chat via WhatsApp yang belum terbaca, makin ia merasa resah dan rusuh dengan sendirinya.
Sampai di suatu titik perjalanan. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 1 lebih, tiba-tiba Amaya membalas. Nicholas yang hampir tertidur itupun langsung melek dan membuka pesan tersebut.
Nicholas menarik nafas lalu buru-buru membalas pesan tersebut.
Nicholas tak sabar menunggu jawaban berikutnya. Namun karena suasana di rumah sakit makin ramai, Amaya tak bisa lagi memeriksa handphone karena sibuk mengurus pasien. Nicholas kembali ketar-ketir hingga membuat Kevin ingin memberikan jurus, “Rasengan" padanya.
"Ya ampun Nich, lo kenapa sih?. Amaya udah balas belum sih?" tanya Kevin dengan tatapan yang heran sekaligus gemas.
"Udah, Mpin. Dia cuma bilang nggak apa-apa, tapi gue takut dia marah. Gue yakin dia liat gue sama Raline tadi. Gue udah bales dia, tapi dia belum bales lagi.”
"Ya kali aja dia sibuk.”
"Ah, kesel dah gue.”
"Tuh kan, lo mah. Udah santai aja, lo nggak bakal kenapa-kenapa dan dia juga nggak bakal kenapa-kenapa.”
"Tapi, Pin.”
"Nich, lo minum dulu deh.”
Miko menyerahkan sebotol air mineral yang isinya tinggal beberapa ml lagi. Tanpa basa basi Nicholas langsung mereguknya, namun kemudian ia merasakan sesuatu yang aneh pada air tersebut.
"Koq air ini rasanya agak aneh, ya?" Nicholas memperhatikan sisa air minum tersebut.
"Koq agak butek gini?"
Miko tak menjawab, beberapa saat kemudian Nicholas mulai merasakan berat di matanya. Seolah ada setan batu yang bergelayut disana. Perlahan kesadarannya pun mulai hilang, karena ia diserang kantuk yang teramat sangat. Jason, Miko, Dirly dan Kevin kompak memperhatikan wajah pemuda itu. Hingga ia akhirnya menyerah dan tertidur.
"Lo kasih apaan, Mik?" tanya Kevin kemudian.
"Obat anti mabok perjalanan, biar dia tidur.”
"Tapi nggak banyak kan?" tanya Jason khawatir.
"Kagak, cuma satu doang. Sesuai dosis anjuran. Tanya nih sama Dirly, kalau nggak percaya.”
"Tapi kan dia posisi lagi nggak mabok perjalanan.” ujar Kevin lagi.
"Dari pada dia rusuh mulu.
"Brengsek lo pada.”
Nicholas masih bisa berceloteh meski sudah diambang tidur, ia mendengar dan mengetahui perbuatan temannya. Namun rasa kantuk yang melandanya lebih berat dari apapun. Jason, Miko, Kevin dan Dirly hanya tertawa kecil.
"Kasian nih anak, baru kenal cinta sekarang." ujar Miko kemudian. Dirly dan Jason tertawa.
Kevin mengambilkan selimut dan bantal. Lalu meletakkan kepala Nicholas pada bantal tersebut, kemudian menyelimutinya.
"Kurang sayang apa gue sama lu, Nich, Nich. Sebagai temen gue selalu ada buat lu, masih aja lu berpaling sama Amaya"
"Buuuk.”
Dirly memukul kepala Kevin lalu menoleh pada suatu sudut. Tempat dimana seorang siswa laki-laki yang terkenal ngondek sedang memperhatikan Kevin.
"Ntar lo dikira Sikomo beneran loh sama dese.”
ujar Dirly sambil melambaikan tangannya ala ben to the cong.
"Sikomo apose?" tanya Kevin dengan gaya tak kalah gemulai. Matanya turut memperhatikan siswa ngondek yang tengah melihat kearahnya tersebut.
"Siswa Kelompok Homo.”
"Amit-amit.”
Keduanya pun bergidik ngeri, apalagi ketika si siswa ngondek itu mulai melambaikan tangan ke arah Kevin dan juga Dirly.
"Lindungi hamba dari amfibi, ya Tuhan.” ujar mereka berdua secara bersamaan.
"Hiiiii."
Lagi-lagi keduanya bergidik ngeri.
Perjalanan pun berlangsung menyenangkan sekaligus melelahkan. Kebanyakan dari mereka tertidur di sepanjang perjalanan tersebut. Sebagian lagi membuat vlog, mengambil potret dengan menggunakan kamera yang mereka bawa atau kamera handphone. Sebagian lagi mendengarkan musik atau mengobrol dengan teman sebangku mereka.
Ketika di seperempat perjalanan, bus mereka singgah di sebuah rumah makan untuk beristirahat sejenak. Para siswa melakukan kegiatan seperti makan, ke toilet maupun melaksanakan ibadah sholat bagi yang muslim. Ada juga yang diam-diam merokok di suatu sudut.
Nicholas sendiri turun dari mobil sambil sempoyongan menuju toilet. Pengaruh obat anti mabuk perjalanan yang diberikan Miko masih sangat terasa baginya.
Ia hampir menabrak orang beberapa kali saking ngantuknya. Masih untung ia tidak salah masuk toilet. Usai buang air kecil dan mencuci muka, ia segera masuk ke dalam rumah makan. Menghampiri teman-temannya yang sudah duduk, sambil menunggu makanan yang mereka pesan.
"Dih, udah bangun dia.” ujar Miko sambil tertawa. Teman-temannya yang lain pun menyambutnya dengan gembira. Nicholas masih memasang wajah sewotnya yang ngantuk berat.
"Brengsek lo pada, berat banget nih pala gue.” ujarnya kemudian lalu menidurkan kepalanya ke atas meja makan sambil melihat handphone. Miko, Dirly, Jason dan Kevin kompak menahan tawa.
"Aarrgghh, kenapa sih dia nggak bales.” gerutunya kemudian.
Suaranya hampir terdengar seperti anak mami yang tengah merengek. Miko, Dirly, Kevin dan Jason menahan hati untuk tidak memukulnya. Belakangan ini, Nicholas memang agak sedikit menyebalkan dan seperti anak kecil.
"Nih, lo minum teh dulu.”
Kevin menyodorkan teh panas yang sengaja ia pesankan untuk Nicholas. Pemuda itu pun lalu meminumnya perlahan untuk mengusir kantuk yang masih tersisa.
Tak lama kemudian, handphonenya pun berbunyi. Betapa antusias nya ia ternyata itu adalah telpon dari Amaya.
"Ha, Hallo.” ujarnya dengan suara yang sengaja dibuat cool dan tenang. Meski sesungguhnya hatinya tengah berjingkrak-jingkrak bak kecoa yang menemukan tempat sampah. Kevin dan yang lainnya merapatkan barisan untuk menguping.
"Nicho udah sampai mana?" Renyah suara Amaya terdengar di seberang.
"Hm, kita lagi istirahat di jalan.”
"Lagi pada makan ya?"
"Iya." Nicholas senyum-senyum sendiri.
"Tadi maaf ya, aku lagi sibuk banget. Pasien banyak, jadi nggak sempat balas lagi.”
"I, iya nggak apa-apa koq. Aku ngerti.”
"Ya udah, kamu makan dulu ya. Aku lanjut tugas lagi. Hari ini aku kebagian tugas jagain bayi-bayi yang baru lahir."
"Oh ok. Kamu yang kuat ya.”
“Aku kuat ko.” ujar Amaya sambil tersenyum.
“Tapi, makasih ya. Semangatnya.”
“Iya.”
“Aku tutup ya.”
"Hmm, Sas.”
Nicholas menghentikan Amaya yang sudah hendak menutup telponnya. Jujur ia masih ingin bicara banyak namun ia juga sadar itu tak kan mungkin terjadi. Ia tak ingin mengganggu jadwal kerja Amaya lebih lanjut.
"Iya, Nicho. Ada apa?" tanya Amaya kemudian.
"Jangan lupa makan dan tetap hati-hati"
Amaya kembali tersenyum.
"Iya, semoga study tour kamu menyenangkan ya.”
"Thanks.”
"Bye Nicho.”
"Bye.”
Nicholas akhirnya bernafas lega karena sudah mendapat kabar dari Amaya. Seketika saja rasa kantuknya hilang, berganti menjadi senyuman yang kian lama kian sumringah.
"Heh, dasar panjul.” Miko mengeplak kepala Nicholas.
"Tadi aja lo rusuh.” ujar Jason sewot.
"Tau, sampe Krasak-krusuk mulu di samping gue.” ujar Kevin.
"Nich, Nich, Nich.” ujar Dirly membuat gerakan menghalangi, ketika akhirnya teh tersebut habis.
"Itu kan panas yak?" ujar Dirly kemudian.
"Wah parah nih anak nih. Sejak jatuh cinta berubah jadi ahli debus.” celetuk Kevin dengan tatapan mata yang tak terlepas dari Nicholas.
"Emang itu panas banget ya?. Perasaan biasa aja deh.” Nicholas membela diri.
Kevin dan yang lainnya masih menatapnya dengan mulut yang menganga. Mereka memperhatikan teh mereka yang masih berasap-asap.
Teh tersebut mereka pesan berbarengan dengan yang sudah diminum Nicholas. Akhirnya mereka hanya bisa bengong sambil mengelus dada. Beberapa saat kemudian, makanan datang. Lalu mereka pun makan bersama-sama.
Usai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Nicholas sudah dipenuhi dengan semangat baru. Ia melihat chat dari Amaya sambil senyum-senyum sendiri. Ia tak lagi rusuh dan gusar seperti sebelumnya.
"Nich, lo sebenernya udah jadian apa belom sih sama Amaya?" tanya Kevin penasaran.
"Belum sih, masih pedekate.”
"Lo udah bilang kalau lo adalah teman masa kecilnya?"
"Belum juga.”
"Hah?"
"Iya kan udah gue bilang, gue mau liat dulu. Seberapa inget dia sama gue. Lagian dalam keadaan kayak gini tuh makin lama makin seru tau. Deg-deg an terus kalau ada hal baru tentang dia atau yang menyangkut dia.”
"Emang lo nggak pengen jadian terus bisa wikwik gitu?"
"Mpin."
"Buuuk." Sebuah pukulan mendarat di kepalanya.
Jason, Miko dan Dirly kompak menatap ke arah Kevin dengan tatapan ala guru BP yang sedang memarahi murid nakal. Bahkan Dirly dan Miko sengaja berdiri dari belakang untuk melototi anak itu. Miko mengeplak kepalanya supaya sadar.
"Wikwik enak bego, anget
"Buuuuk."
Kali ini Dirly yang mengeplak kepala Kevin.
"Percayalah Nich" bisik Kevin kemudian.
"Mpiiin."
Jason, Miko dan Dirly kembali memarahinya. Anak itu buru-buru menutup kepala dengan bantal dan selimut. Sementara Nicholas hanya menahan tawa.
"Sekali lagi lo ngomong, lo pindah duduk sama Roy Kimochi.” ujar Miko sambil melirik ke arah siswa melambai yang duduk di kursi agak depan barisan tempat dimana Jason duduk.
Siswa tersebut yang sejak awal perjalanan selalu memperhatikan Kevin. Karena merasa terancam, Kevin pun akhirnya tak lagi berceloteh. Jujur ia sangat takut pada makhluk setengah siluman tersebut. Meskipun itu adalah teman sekelasnya sendiri.
Kota pertama tempat dimana mereka singgah adalah Yogyakarta. Di kota ini mereka sudah disiapkan sebuah hotel untuk menginap. Nicholas dan keempat temannya memilih tidur dalam satu kamar karena mereka memang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Bahkan banyak yang menjuluki mereka sebagai anggota boyband kesasar. Saking mereka selalu bersama dalam segala kesempatan.
"Gue disini."
Nicholas merebut tempat tidur yang sebelumnya hendak ditempati oleh Kevin.
"Heeeee, panjul.” gerutu Kevin seraya berpindah ke tempat tidur yang satunya.
"Panjul?. Gue mah Nicholas Saputra.” ujar Nicholas seraya merebahkan diri dengan tenang nya.
"Nicholas Saputra?. elu mah Malih tong-tong, bego. Ngeselin, nyakitin hati.” celetuk Kevin penuh rasa keki. Sementara Nicholas hanya tertawa sambil membuat instastory.
"Dia mah Junior Roberts. Liat aja noh, mirip.” ujar Miko sambil memperhatikan wajah Nicholas.
"Gue mengamati dia selama ini, mirip siapa ya. Pas gue liat Junior Roberts ternyata mukanya sama sama dia.” lanjutnya lagi.
"Apa sih lo pada. Junior Roberts, Junior Roberts. Ntar Junior Roberts yang asli keselek biji salak loh. Di omongin mulu.”
"Gue mau ngomongin Christ Hemswort ah, biar dia keselek palu Thor.”
Jason membuat semua temannya berimajinasi lalu tertawa pada saat yang bersamaan.
"Kira-kira kalo ngomongin kakek Sugiono, dia keselek apa ya?" Kali ini Dirly sukses membuat semua temannya beralih menatapnya dengan tatapan yang mengerikan. Detik berikutnya.
"Woooeeii."
"Baaak."
"Buuuk."
"Tuing...."
"Jegiiikkk...."
Dirly menerima lemparan apa saja dari teman-temannya. Nicholas melemparkan buku, Kevin dan Jason melemparkan bantal sedangkan Miko menutup kepala Dirly dengan handuk. Mereka semua tertawa riuh.
"Terpapar otak Mpin nih, mesum lo dasar.” tukas Jason.
"Hahaha, gue ngebayangin bego. Kakek Sugiono keselek hahahah.” ujar Dirly kemudian.
Nicholas, Jason, Kevin dan Miko pun kompak menindih dan mengunci tubuh Dirly agar anak itu tak bergerak lagi.
"Aaaaakkkhh, sakit woi.” ujar Dirly meronta-ronta. Sementara Nicholas dan yang lainnya masih cekikikan sambil mengunci tubuh teman mereka itu dengan sekuat tenaga.
"Mampus lu, ngeres sih.” ujar Jason kemudian.
"Aaakkhh, tolong. Aku dilecehkan.”
Dirly berteriak seolah dirinya hendak di perkosa oleh teman-temannya. Mereka semua pun makin tertawa. Namun pemandangan tiba-tiba berubah horor, ketika mereka semua menatap ke arah pintu. Ke tempat dimana seorang guru tengah berdiri.
"Pak Jeremy?" Mereka semua pun terdiam, Dirly berhasil meloloskan diri. Jeremy menatap mereka dalam diam. Tentunya dengan tubuh yang sedikit gemetaran.
"Pak, ini nggak seperti yang bapak kira.” ujar Miko membela diri.
"It's ok, apa pun itu. Itu adalah pilihan hidup dan urusan kalian. Tapi tolong, jangan di lakukan di jam-jam sibuk. Kita semua mau keluar, untuk cari makan di sekitaran Malioboro. Kalau mau ikut, silahkan bergabung. Permisi, maaf mengganggu.”
"Aaa, itu. Kejer, bego. Ntar dia mikir kita macem-macem.” ujar Nicholas kemudian.
"Yang ada ntar kita dikira belok beneran sama si Jeremy.” tagasnya lagi.
Mereka semua pun kini bergegas. Menuju ke tempat dimana para siswa yang hendak keluar tengah berkumpul. Disana Jeremy berdiri di belakang guru yang tengah berbicara. Sesekali ia melirik ke arah Nicholas dan teman-temannya yang membaur dengan para siswa yang lain.
"Nah anak-anak, kalian boleh jalan-jalan di sekitaran tempat ini. Tapi sekitaran tengah malam, sudah harus kembali semua ya.”
ujar salah seorang guru memberi instruksi.
"Iya, pak." jawab para siswa serentak.
"Ya sudah, silahkan kalau mau jalan.”
Para siswa mulai membubarkan diri dan pergi menuju tempat-tempat yang mereka mau. Sementara Nicholas dan teman-temannya kini mengejar guru mereka, Jeremy.
"Pak, Jeremy. Pak."
"Pak, tunggu pak.”
Jeremy menghentikan langkah lalu menoleh ke arah mereka.
"Sudah saya bilang, saya tidak peduli dengan dunia perwarna-warnian. Terserah, itu jalan hidup orang. Masing-masing orang berhak atas hidupnya sendiri. Terima kasih.”
Jeremy melengos begitu saja meninggalkan Nicholas dan teman-temannya tanpa memberikan kesempatan mereka untuk membela diri.
"Yeeeee, dasar Jeremy Toti. Orang mau membenarkan salah paham, dia malah kampanye warna-warni. Rainbow cake kali ah.” gerutu Nicholas sewot.
"He dasar.” ujar Kevin ikut-ikutan.
"Bisalah.” teriak Dirly.
"Emang gue pikirin.” Miko menambahi.
Mereka pun lalu tertawa.
"Udah ah, cari makan yuk. Laper gue" ujar Nicholas kemudian.
"Yuk ah, pada-pada. Mending kita makan daripada ngurusin persepsi nya si Jeremy."
Mereka semua akhirnya berlalu meninggalkan tempat itu.