
"Hai."
Amaya tengah joging di pagi hari, ketika Prince tiba-tiba muncul dan ikut berlari di sampingnya.
"Hai Prince."
Amaya yang terkejut itu menyapa, sambil terus berlari kecil.
"Sendirian aja?" tanya Prince.
"Berdua dong, emang kamu makhluk gaib?" seloroh Amaya.
Prince tertawa, bahkan mungkin inilah tawa paling tulus di sepanjang hidupnya.
"Koq kamu tau aku tinggal di sekitar sini?" Amaya bertanya pada Prince.
"Aku nggak sengaja liat kamu aja. Aku tinggal dekat sini soalnya, itu gedungnya."
Prince menunjuk ke sebuah gedung apartemen, yang cukup dekat dari gedung apartemen yang kini ditempati Amaya.
Ia berdusta, tak ada yang namanya tak sengaja melihat. Ia memang mencari tau saat ini Amaya tinggal dimana. Prince memiliki niat yang tidak baik pada wanita itu.
"Oh kamu tinggal disana?" tanya Amaya lagi.
"Iya." jawab Prince.
Mereka kemudian lanjut berlari, sambil sesekali berbincang.
Sementara di lain pihak, Nicholas baru saja selesai workout. Pemuda itu beristirahat sejenak kemudian mandi. Usai mandi segera ia berpakaian dan mengambil kunci mobil. Nicholas pergi meninggalkan rumah, dan berniat menemui seseorang.
***
"Udah ah jalan dulu, capek."
Amaya berujar sambil berhenti berlari, ia kemudian menggantinya dengan berjalan. Prince ikut berjalan dan saat ini ia sedang memperhatikan lekuk tubuh Amaya, yang baginya sangat menggairahkan tersebut.
Ia tak sabar mencicipi bagian demi bagian yang menjadi incarannya. Usianya boleh muda, namun soal pengalaman dengan wanita tak perlu diragukan lagi. Prince cukup ahli dalam hal tersebut.
Ia ingin mendapatkan celah, agar segera bisa meniduri Amaya. Ia ingin Amaya tergila-gila dan mengejar dirinya. Saat itu ia akan melihat Nicholas yang depresi, akibat cinta pertamanya malah bersama orang lain.
"Sasi, apa kamu punya cowok?" tanya Prince pada Amaya.
Wanita itu hanya tertawa kecil.
"Nggak ada." ujarnya kemudian.
"Degh."
Batin Nicholas yang tengah berada di jalan berdetak, saat Amaya mengatakan hal tersebut. Sementara Prince tertawa lebar dalam hati.
"Berarti Nicholas nggak dianggap pacar dong sama dia." gumamnya kemudian.
Seketika pikiran jahat Prince pun semakin menguasai hatinya. Berarti emang Nicholas nya aja yang kepedean, pikirnya. Ia kini memiliki bahan untuk mentertawakan musuhnya itu.
"Sok ganteng sih lo." gumam Prince dalam hati.
Ia kemudian menarik salah satu sudut bibirnya, hingga tersenyum sinis.
"Kalau sama aku mau nggak?" tanya Prince lagi.
Amaya tertawa.
"Nggak ah, kamu masih piyik. Lebih cocok jadi adek, karena kamu imut."
Amaya mencubit pipi Prince dan mengelus kepalanya seperti anak kecil. Seketika Prince pun terdiam, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di hati pemuda itu.
Ya, ketulusan dan kepolosan Amaya dalam menatap dirinya. Telah sampai menyentuk hati Prince yang paling dalam. Prince merasa seperti anak kecil yang tak punya dosa apa-apa. Anak kecil yang hanya tau jika hidup ini indah.
"Prince, kamu bercanda kan soal itu?" Amaya memastikan.
"Ya iyalah."
Prince berkilah sambil tertawa, Amaya pun lalu ikut terbahak karena telah melontarkan pertanyaan yang sangat bodoh.
"Lagian bocah piyik, masa mau nembak kakak-kakak. Kepedean kamu." ujar Amaya sambil masih tertawa-tawa.
Prince pun hanya bisa cengar-cengir.
"Tiiiiin."
Sebuah klakson kencang terdengar.
"Awas...!"
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Amaya.
Prince yang masih melongo dan menatap Amaya itu hanya menggeleng.
"Ngebut banget lagi tuh mobil, udah tau jalan begini." gerutu Amaya.
Prince masih diam dan terlihat sangat syok.
"Prince?"
"Aku mau pulang."
Prince seketika menjauh, tanpa Amaya mengerti apa yang telah terjadi pada remaja itu. Ia berlarian ke belakang lalu masuk ke dalam sebuah mobil. Tak lama mobil itu pun mulai merayap dan menjauh.
Amaya tak punya pilihan lain, selain melanjutkan jogging paginya. Perempuan cantik itu kembali berlari. Hingga kemudian ia tiba di suatu jalan, dimana banyak penjual minuman dingin disana. Ia berhenti karena merasa perlu mengisi energi.
"Mas, saya mau ini dong."
Amaya mengambil satu botol air mineral dan memberikan uang pada penjualnya. Namun mata wanita tertuju pada handphone, sebab ada sebuah pesan yang masuk.
"Uangnya kurang mbak." Si penjual berujar.
Amaya terkejut, dan jadi lebih terkejut lagi ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya kini.
"Nic?"
Nicholas tertawa, Amaya pun lalu ikut tertawa.
"Koq kamu bisa ada disini sih?" tanya nya kemudian.
"Ya karena aku tau setiap kamu jogging, kamu pasti berakhir di jalan ini."
"Dan kenapa kamu tau aku suka jogging di hari ini?. Kan kamu baru keluar dari rumah sakit, kayaknya mustahil kamu tau apa aja kegiatan aku, selama aku tinggal disini. Karena begitu aku tinggal disini, kamu nya langsung nggak sehat."
Lagi-lagi Nicholas tetawa.
"Apa guna temen-temen aku kalau nggak bisa ngawasin kamu?" ujarnya kemudian.
"Hmm, dasar. Stalker kamu." ujar Amaya seraya tersenyum.
"Bukan stalker, cuma sering kepikiran kalau kamu jauh dari jangkauan."
Amaya terdiam, entah mengapa tiba-tiba saja ada perasaan hangat yang menjalar tatkala mendengar semua itu. Nicholas mendekat, lalu tak lama kemudian mereka sudah terlihat berjalan ke sebuah arah. Setelah membayar minuman yang mereka ambil, pada pedagang yang sebenarnya. Tadi Nicholas hanya numpang mengejutkan Amaya saja disana.
"Kamu udah sarapan, Nic?" tanya Amaya pada Nicholas.
"Belum, sengaja mau bareng kamu." jawabnya kemudian.
"Aku pengen makan bubur ayam deh." ujar Amaya lagi.
"Ayo, ada di ujung jalan sana." ujar Nicholas.
"Kamu nggak apa-apa kan, aku pake pakaian begini?" tanya Amaya lagi.
"Ya nggak apa-apa, emang kenapa?" Nicholas balik bertanya.
"Bau nggak sih keringat aku?" Lagi-lagi Amaya bertanya.
"Banget." canda Nicholas sambil tertawa.
Amaya lalu mencubit dan memukul-mukul remaja itu.
"Ih nyebelin deh kamu, untung ganteng." ujarnya kemudian.
Nicholas pun makin terkekeh.
***
Sementara di perjalanan pulang, Prince masih teringat pada semua perkataan dan tindakan yang dilakukan Amaya padanya. Mulai dari cubitan dan usapan kepala yang ia berikan, sampai pada tahap Amaya menyelamatkan dirinya tadi yang nyaris tertabrak.
Prince tak terbiasa menerima sebuah kebaikan tulus. Ia tumbuh di tengah keluarga yang saling memanfaatkan orang lain demi kepentingan. Perusahaan yang dibangun ayahnya juga tak luput dari hasil kelicikan.
Sehingga Prince pun tumbuh menjadi anak yang tak pernah tulus terhadap apapun. Sebab orang yang mendekati diri dan keluarganya juga rata-rata orang yang memiliki maksud tersembunyi.
Namun tadi, ia bisa melihat ketulusan itu di mata dan sentuhan Amaya. Yang bahkan belum pernah ia lihat di mata dan sentuhan wanita manapun yang pernah ia kencani.
"Ah perasaan bodoh macam apa ini?"
Prince berusaha keras menepis, namun banyangkan Amaya tengah tersenyum kini melintas dalam benaknya. Prince pun memejamkan mata, dan mencoba menarik nafas.