
Nicholas menghidupkan klakson sekencang mungkin, ketika mobilnya tepat berada disisi terduga Amaya yang tengah berjalan. Klaksonnya yang kencang membuat wanita itu terkejut dan refleks menoleh. Dan benar, dia memang Amaya.
"Buruan masuk, ada orang yang dari tadi memperhatikan dan mengikuti kamu."
Nicholas secara serta-merta menyuruh Amaya masuk ke mobilnya. Amaya tampak bingung. Ia menoleh ke belakang lalu kembali menatap Nicholas, yang tengah berada di dalam mobil dengan kap atas yang terbuka.
"Maksud kamu?" tanya Amaya kemudian.
"Kita nggak punya banyak waktu. Kita juga nggak tau orang itu baik atau jahat. Kamu jangan banyak nanya, Buruan....!"
"O, ok."
Karena takut, Amaya pun langsung buru-buru masuk ke dalam mobil Nicholas. Detik berikutnya Nicholas menyerahkan handphone padanya.
"Maksudnya ini apa?" tanya Amaya heran.
"Map arah kerumah kamu."
Amaya segera mencari alamat rumahnya di map lalu menyerahkannya pada Nicholas. Tak lama kemudian, mobil pun melaju kencang. Dari kaca spion, Nicholas bisa tau jika dirinya sedang diikuti oleh laki-laki yang ia lihat tadi.
"Yang ngikutin kita itu siapa?" tanya Amaya dengan raut wajah yang panik.
"Aku juga nggak tau persis, tapi yang jelas perasan aku nggak enak. Aku yakin dia bukan orang baik."
"Lalu kamu sendiri?. Kamu bisa menjamin kamu orang baik?" Amaya melempar pertanyaan yang membuat Nicholas sedikit geram. Wanita itu masih menggemaskan dan sedikit menyebalkan seperti dulu.
"Aku orang baik koq, tenang aja."
Mata Nicholas kembali tertuju pada kaca spion. Laki-laki yang mengikuti mobilnya melesat dengan sangat cepat. Nicholas pun semakin dalam menginjak pedal gas.
"Gimana bisa aku tau kamu orang baik kalau kamu aja ngebut banget begini. Kamu mau kita celaka?. Kalau nabrak gimana? .Kamu pasti belum punya SIM kan?"
Amaya ngoceh panjang lebar kali tinggi. Sementara Nicholas fokus menyetir dan terus melihat ke belakang lewat kaca spion.
"Awas, didepaaaan."
"Wooooww."
"Minggiiiiir."
"Awaaaaas."
"Pelan-pelaaaan."
"Aaaaaaaa."
Amaya menyeracau dengan wajah panik dan keringat bercucuran. Mobil melesat sangat cepat melewati jalan demi jalan, bahkan nyaris menabrak beberapa kali.
Nicholas segera menutup kap atas mobilnya dan semua kaca. Mereka melesat, hingga akhirnya sampai di tujuan. Orang yang mengikuti mereka tersebut pun kehilangan jejak mereka.
Nicholas dan Amaya mendarat tepat di depan sebuah rumah minimalis bercat putih, yang diketahui adalah rumah Amaya. Dengan nafas terengah-engah seperti habis berlari dikejar kamtib.
"Kamu mau minum?"
Amaya bertanya pada Nicholas, ketika suasana sudah mulai tenang dan nafas mereka mulai teratur.
"Nggak usah, aku takut orang tadi melihat mobil aku disini. Sekarang kamu masuk, aku jaga disini. Pastikan rumah kamu aman"
Amaya segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah. Sesuai instruksi Nicholas, ia pun memeriksa seluruh ruangan bahkan ke dalam lemari. Beruntung rumahnya tak begitu besar, hingga ia bisa memastikan bahwa kondisi didalam aman.
Dari dalam mobil, Nicholas memberinya kode untuk segera mengunci semua pintu. Ketika Amaya mengintip dari kaca dan mengatakan bahwa rumahnya aman terkendali. Usai memastikan wanita itu baik-baik saja, Nicholas pun segera meninggalkan rumah itu.
Amaya terpaku di dalam rumahnya, ia tak tau apa yang sebenarnya tengah terjadi. Siapa yang mengikutinya tadi, apa maksud dan tujuannya. Apakah orang itu ingin mencelakai dirinya. Kalau iya, mengapa?. Apa alasannya?. Lalu, anak itu tadi, dia siapa?. Amaya berusaha mengingat-ingat.
"Dia kan, pasiennya dokter Margaret. Dia juga yang, soal gula kapas itu."
"Deegghh."
Amaya terkejut tatkala teringat akan hal itu dan ia pun makin terpaku. Ia belum tau ini semua kebetulan atau apa. Ia hanya berharap jika semuanya akan baik-baik saja.
Keesokan hari nya disekolah, Dena langsung menjadi buah bibir. Pasalnya ketika Karlita jatuh kemarin, banyak yang merekam kejadian tersebut dan menyebarkannya ke sosial media. Ribuan viewers dan komentar tak mengenakkan pun langsung membanjiri akun sosial media gadis itu.
Ada yang mengatainya kuntilanak, perempuan jahat, kebanyakan nonton sinetron, bocah micin dan lain sebagainya. Semua kata-kata yang masuk sangatlah menyakitkan. Bahkan sampai ada yang mengirimkan direct Message, berupa ancaman untuk mencelakainya.
Para siswa yang menyebarkannya melalui YouTube pun mendapatkan jutaan viewers hanya dalam waktu beberapa saat saja. Bahkan mengalahkan Yangklek dan istrinya yang populer lantaran video klarifikasi hamil diluar nikahnya yang unfaedah itu.
Meski kasus ini sebenarnya masih dalam proses penyidikan pihak yang berwajib termasuk pihak sekolah, namun hukum sosial agaknya berjalan lebih cepat dari pada hukum yang berwenang. Nama Dena dan Karlita tengah viral-viral nya di jagad maya saat ini. Sampai-sampai muncul hashtag #justiceforkarlita dan #adilidena yang menjadi trending nomor satu di twitter.
Dena berjalan gontai di sepanjang koridor sekolah, dengan disaksikan puluhan pasang mata yang menghujat dan mencibirnya. Bahkan sepupunya Prince pun tak tampak batang hidungnya. Untuk sekedar melindungi atau membelanya. Teman-teman akrabnya bak hilang ditelan bumi. Ia melangkah menuju area taman belakang sekolah yang letaknya terpencil dan sepi.
Sementara kini Nicholas berada di tengah teman-temannya. Ia begitu stress dengan beberapa hal yang terjadi selama dua hari ini. Pertama soal Karlita dan kedua soal Amaya yang di ikuti oleh orang misterius.
"Nich, tadi udah gue transfer ya. Uang buat tambahan biaya rawat Karlita"
Miko yang baru datang langsung duduk di samping Nicholas, yang sejak tadi sudah bersama dengan Dirly, Jason dan juga Kevin.
"Iya, thanks ya Mik." ujar Nicholas kemudian.
"Sama-sama, Bro. Itu sama uang anak-anak lain ya, termasuk Raline dan teman-temannya." jawab Miko.
"Maksud lo, mereka ada nyumbang dana gitu?" tanya Nicholas heran.
"Iya, Raline yang menggalang sumbangan dari seluruh siswa. Ada juga dari kitabantu.com. Centil-centil baik tuh anak." ujar Miko lagi.
"Iyalah, Raline mah nggak jahat kayak Dena." ujar Dirly.
"Dena kan Mak lampir."
Suara cempreng Kevin, membuat Dena yang tengah melintas dan hendak menuju ke area taman belakang tersentak. Dari tempat duduknya Nicholas dapat memperhatikan gadis itu. Ia tidak menoleh sedikitpun dan terus berjalan dengan gontai sambil tertunduk.
"Huh, kalo cowok aja, udah gue ajak berantem tuh orang." Jason geram.
Sementara Nicholas masih diam. Ia masih merasa jika semua ini adalah salahnya. Karlita mendapat perlakuan buruk, karena dirinya terlalu dekat dengan gadis itu. Sementara ada gadis lain yang begitu tergila-gila padanya, dan tak ingin jika ia dekat dengan gadis manapun.
"Nich, yang kemarin ngikutin Amaya siapa?"
Dirly membuyarkan lamunan Nicholas dan seketika itu pula, ia teringat pada masalah yang satunya lagi. Urusan tentang Amaya.
Suara Nicholas tertahan sesaat. Ia lalu menceritakan semua pada teman-temannya. Tentang laki-laki yang dulu berjanji akan mencelakakan Amaya, lantaran anaknya meninggal karena tak dapat donor hati.
"Gue nggak nyangka serumit itu hidup lo dan Amaya." ujar Miko sambil terus menatap Nicholas.
"Lo sih kegantengan."
Kali ini Kevin mengeluarkan statement yang membuat suasana seketika mencair. Mereka semua akhirnya tertawa.
"Apa hubungannya, Bambang?" tanya Nicholas sewot.
"Nggak ada sih ya, Hahaha." mereka kembali tertawa.
"Tapi bener, Nich. Sebagian besar masalah yang muncul dihidup lo saat ini adalah akibat kegantengan lo yang paripurna itu. Cewek-cewek pada berantem gara-gara lo. Amaya jadi bulan-bulanan karena pernah donor in hatinya ke lo. Gue yakin Amaya mau nolong lo, karena lo good looking." Kali ini Jason menggoda Nicholas. Membuat pemuda itu ingin menoyor kepalanya.
"Nggak ada korelasinya sama bentuk muka gue, Paijo. Lo memuji apa ngeledek?" tanya Nicholas masih dengan nada sewot.
"Dua-duanya, bray. Abisnya cewek-cewek pada histeris banget kalo ngeliat lo. Dena aja sampe melakukan hal ekstrem buat ngedapetin lo. Belum lagi Raline yang tiap hari nyamperin lo. Mereka nggak tau apa, kalo lo suka males mandi ampe berkarat."
"Heh itu dirumah ya. Kalau kemana-mana gue pasti mandi. Dirly tuh raja nggak mandi." Nicholas membela diri.
"Sama aja lo berdua." kali ini Miko menengahi.
"Kalian tuh jorok ya, gue dong mandi 3 kali sehari."
Kali ini Kevin menyombongkan diri karena memang diantara yang lain, dirinyalah yang paling resik dan wangi.
"Lo mah Aquaman, eh salah Empangman." Seloroh Jason yang diiringi tawa yang lainnya.
"Hahaha."
"Elo mah biangnya mandi sama parfum. Sampe wangi banget kayak Condet." tambah Dirly. Untuk kesekian kalinya mereka pun kembali tertawa renyah, sementara wajah Kevin kini berubah sewot.
"Oh ya, Nich. Lo nganterin Amaya sampe rumah kemarin?" tanya Kevin mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin diledeki lebih lanjut soal kewangiannya yang hakiki.
"Iya , gue udah tau rumahnya ada dimana" jawab Nicholas.
"Di daerah mana?" tanya Dirly.
"Komplek Kencana 3. Blok B3."
"Lah, bukannya bokap lo juga punya rumah disana ya?" tanya Miko.
"Ada, sampingan malah. Sekat tembok doang."
"Oh ya?" ujar mereka tak percaya.
"Iya." jawab Nicholas kemudian.
"Hmmm, bisa wikwik nih tiap hari." goda Kevin.
"Mpin." Jason menjewer telinga Kevin, membuat anak itu meringis kesakitan.
"Aduh, aduh. Sakit, bego. Kayak Guru BP lo, jewer kuping anak orang seenaknya." Kevin nyerocos sambil menutup telinganya.
"Abisnya kotor sih otak lo. Paling muda, paling ngeres lo."
Nicholas, Dirly dan Miko tertawa kecil.
"Gue nggak wikwik an, Mpin" Nicholas menjelaskan.
"Belum sih." ujarnya lagi. Tak lama kemudian mereka kembali tertawa.
"Mengkhayal lo ya" Goda Kevin.
"Dikit."
"Hahaha."
"Liat aja nanti waktunya."
"Hahaha."
Riuh suara mereka terdengar. Berbanding terbalik dengan Dena, yang kini tengah menangis tersedu-sedu di taman belakang.
Begitu menyayatnya suara tangisan itu, hingga membuat Nicholas terusik. Ia mendengar saat ia dan teman-temannya hendak kembali ke kelas dan melewati taman halaman belakang tersebut.
"Kalian duluan aja."
Nicholas meminta kepada temannya untuk kembali ke kelas duluan. Sementara kini ia menghampiri Dena yang masih menangis. Nicholas duduk disamping gadis itu, lalu memberinya sapu tangan.
Awalnya Dena tersentak, lama ia memandang Nicholas dan sapu tangan itu. Sampai akhirnya ia pun menerima lalu menyeka air matanya.
"Bukan gue pelaku nya, Nich" Dena berbicara terbata-bata. Matanya sudah sangat sembab sekali.
Nicholas hanya diam, ia tidak tau apa yang harus ia perbuat. Melihat tangisan Dena, ingin rasanya ia mempercayai gadis itu. Namun mengingat sikap dan kelakuan gadis itu pada Karlita selama ini, membuatnya tak bisa percaya sedikitpun.
"Kejadian nya seperti apa, Den?. Jelasin sama gue."
Dena makin menangis.
"Den, please. Nanti di denger guru loh. Nanti dikira gue bikin lo nangis." bujuk Nicholas kemudian.
"Kalau gue ceritain, lo ga akan percaya. Karlita itu nggak seperti yang kalian kira selama ini."
"Maksudnya gimana?" tanya Nicholas heran.
Dena menggelengkan kepalanya sambil terus menyeka air mata.
Nicholas kembali diam, ia hanya menyentuh bahu gadis itu dan mencoba membuatnya tenang agar tidak mengundang perhatian.
Untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membebaskan Dena dari tuntutan dan hujatan. Karena semua bukti kini mengarah kepada gadis itu. Saksi mata pun ada, Raline bersikeras jika ia melihat kejadiannya. Ia melihat ketika Karlita terjatuh dan Dena berada di atas tangga.
Dena akan menjalani hari-hari yang berat selama beberapa hari kedepan. Tepatnya sampai kasus ini menemui titik terang. Tentang siapa sesungguhnya yang salah, dan ada apa di balik peristiwa ini. Apakah ada soal yang berhubungan dengan Nicholas atau bukan.
Yang jelas mereka semua hanya bisa menunggu, sampai Karlita sehat dan bisa dimintai keterangan.