I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Mulai Sadar



Prince termenung di rumahnya. Ia masih mengingat peristiwa tadi dengan Amaya. Saat dirinya nyaris tertabrak dan Amaya menolongnya.


Untuk pertama kali dalam hidup, Prince merasa begitu jahat. Amaya menunjukkan sikap bahwa ia peduli pada Prince, namun Prince malah justru sebaliknya. Ia memiliki niat jahat terhadap wanita itu.


"Ika, Siti, Dira."


Prince memangil ketiga maid yang biasa melayaninya di rumah.


"Iya Prince." jawab Ika seraya mendekat, diikuti Siti dan juga Dira.


Ia sengaja minta dipanggil Prince tanpa embel-embel Den, tuan muda, atau apapun itu. Sebab Prince sendiri sudah berarti pangeran. Ia sangat suka dipanggil seperti itu, karena selama ini ia merasa dirinya memanglah seorang pangeran.


Ditambah ia selalu di fasilitasi oleh orang tuanya, dengan segala sesuatu yang serba mewah sejak kecil. Jadilah ia semakin congkak di dalam hidup.


"Saya mau tanya, apa selama ini saya jahat sama kalian?" Prince bertanya pada ketiga maidnya tersebut.


Ketiga maid itu menunduk, namun saling menatap satu sama lain untuk sejenak. Tak ada yang berani berkata jujur pada Prince.


"Jawab...!" ujar Prince kemudian.


"Mmm, nggak koq. Prince, ba, baik." jawab Dira mewakili. Namun dari nada bicaranya, seperti ada yang berusaha ia sembunyikan.


"Kamu nggak jujur, Dira. Saya tau itu." ujar Prince lagi.


Ketiga maid itu kembali saling bersitatap satu dengan yang lainya, lalu sama-sama kembali menunduk.


"Kalau kalian nggak menjawab dengan jujur, saya akan pecat kalian saat ini juga."


"Ja, jangan Prince." ujar mereka bertiga serentak, namun dibarengi dengan ketakutan yang teramat sangat.


"Jawab jujur...!" Prince berujar dengan nada sedikit membentak.


"Prince kurang ajar."


"Ika mengatakan hal tersebut dengan masih tertunduk. Dira dan Siti yang ikut mendengarkan, serasa terkena bom bunuh diri. Betapa tidak, Ika telah membahayakan nasib pekerjaan mereka bertiga.


"Saya nggak suka ketika Prince melecehkan saya. Seperti memukul pantat saya, kalau saya sedang membawa makanan ke kamar."


Prince terdiam.


"Sa, saya juga nggak suka. Prince orangnya temperamen, nggak sabar, dan suka memaki."


Kali ini Siti ikut berbicara. Prince makin terdiam, lalu ia menatap Dira.


"Prince suka menghina dan merendahkan orang lain." timpal perempuan itu.


Ika, Siti, dan Dira kini pasrah. Sudah pasti bila Prince marah atas kejujuran ini, mereka akan segera di pecat.


"Kalian kembali kerja, panggilkan pak Anton dan yang lainnya." ujar Prince dengan pandangan yang menatap jauh entah kemana. Yang jelas nada bicaranya terdengar begitu lemah.


"Baik." jawab mereka bertiga secara serentak.


Ika, Siti, dan Dira berlalu dari hadapan Prince. Tak lama kemudian, pak Anton sang kepala pelayan pun hadir di hadapannya. Berikut dua supir, dua tukang kebun, dan juga pembantu lainnya.


Masing-masing dari mereka berkata jujur tentang sikap Prince selama ini. Tak ada satupun keterangan yang baik mengenai dirinya. Lalu Prince menyuruh mereka kembali bekerja. Sementara ia kini tetap duduk termenung di kursi empuknya yang mahal.


Semua hal buruk tentang dirinya yang ia dengar, kini seperti tayangan iklan yang berulang. Selalu terngiang lagi dan lagi dalam benak dan telinganya.


Prince kemudian menghubungi teman-teman lamanya di grup SD dan SMP. Ia secara terang-terangan meminta teman-temannya untuk jujur mengenai dirinya. Dan hasilnya pun sama. Prince kini terdiam di kamarnya, dengan hati yang mulai terasa hampa serta sepi.


***


"Nic, nama panjang kamu itu siapa sih?"


Amaya bertanya pada Nicholas. Disaat mereka kini tengah berada dalam perjalanan pulang.


"Nikola Brawijaya." jawab Nicholas.


Ia memang telah menyiapkan hal ini jauh-jauh hari. Karena suatu saat akan ada masanya Amaya mempertanyakan perihal nama lengkapnya.


"Kayak nama distrik militer." ujar Amaya kemudian.


Nicholas terkekeh.


"Kodam V Brawijaya." jawab Nicholas lagi.


"Iya bener." ujar Amaya.


"Iya, mungkin orang tua aku pengen aku kayak prabu Brawijaya." selorohnya lagi.


"Apa mereka suka sejarah?" tanya Amaya.


Nicholas tak mengada-ada soal ini. Tapi soal nama itu tadi ia sedikit berdusta.


"Kamu sendiri, Sasi Kirana Amaya. Namanya bagus loh." ujar Nicholas.


Amaya tersenyum.


"Amaya itu bukannya hujan di malam hari ya, kalau di Jepang?"


Nicholas berpura-pura bertanya, padahal sudah tau artinya sejak dulu. Ia hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan. Agar Amaya tak lagi menanyakan perihal dirinya.


"Iya, mungkin orang tuaku kasih nama itu dengan harapan supaya aku seperti hujan dimalam hari. Yang membuat udara sekitar jadi dingin. Tapi pas paginya ternyata banjir."


"Hahaha."


Nicholas tertawa, begitupula dengan Amaya. Sementara mobil mereka kini melaju dengan cukup kencang.


***


"Kenapa tiba-tiba lo nanya gini?" tanya Dena pada Prince.


"Nggak, gue pengen tau aja. Menurut lo, gue ini orangnya gimana?. Tolong jawab dengan jujur." ujar Prince.


Keduanya kini terlibat sebuah percakapan di dalam telpon.


"Gimana ya, lo bakal tersinggung nggak kalau gue ngomong?" tanya Dena lagi.


"Lo bilang aja dengan sejujur-jujurnya." jawab Prince.


"Ok." Dena menarik nafas.


"Lo itu egois." ujarnya kemudian.


"Banget." lanjutnya lagi.


"Lo suka mikirin diri sendiri, nggak mikirin orang lain dan lo pengecut."


Emosi Prince serasa naik ke ubun-ubun ketika Dena mengatakan hal tersebut. Namun ia berusaha keras untuk meredamnya. Sebab apapun yang dikatakan orang terhadap dirinya, adalah apa yang saat ini ingin ia dengar.


"Lo brengsek, banyak cewek yang nangis karena lo. Dan lo sok ganteng. Walaupun emang lo itu charming, tapi sikap sok ganteng lo itu kadang nyebelin."


"Tapi lo juga sama egois dan merasa sok kan?" Prince membalas Dena.


"Kita nggak lagi sedang beradu siapa yang paling diantara kita. Lo lagi meminta penilaian sama gue, dan gue lagi memberikan penilaian itu. Ini nggak ada hubungannya sama gue." ujar Dena.


Prince menghela nafas.


"Sorry." ujarnya kemudian.


"Nah sama itu." tukas Dena.


"Lo itu susah banget buat bilang maaf ke orang lain. Itu sifat-sifat yang lo miliki."


Prince diam, Dena sendiri kini merasa bingung.


"Lo sibuk nggak?" tanya Prince lagi.


"Nggak, kenapa emangnya?" tanya Dena.


Prince menghela nafas.


"Gue mau ngopi bareng lo." ujarnya kemudian.


Dena yang diam kali ini. Ia menangkap ada kelesuan dalam nada bicara Prince. Seolah-olah ia tengah menanggung sebuah beban yang sangat berat.


"Ya udah, mau ngopi dimana?" tanya Dena pada sepupunya itu.


"Terserah, lo aja yang nentuin. Gue akan datang kesana."


"Ini serius?" tanya Dena lagi.


"Iya, lo kasih tau aja pengen ngopi dimana."


Dena berpikir, mencari tempat ngopi yang kira-kira bisa sekaligus menenangkan pikiran. Tak lama ia teringat pada sebuah tempat dan mengatakannya.


"Ok." jawab Prince.


"Gue kesana." lanjutnya kemudian.