
Siang itu, Amaya sedikit terlambat istirahat. Pasalnya pasien dokter Margaret kembali membludak. Ada beberapa yang bahkan harus menjalani operasi dibagian dalam telinga. Akibatnya Amaya pun menjadi ikutan sibuk. Karena saat ini ia masih menjalani program co assistant atau koas pada stase minor untuk THT.
Ia pergi ke kantin rumah sakit, mumpung ada kesempatan makan pikirnya. Segera saja ia membeli nasi dan juga soto ayam, karena sudah sejak tadi ia ingin memakan makanan tersebut.
Karena kantin sedang sangat ramai sekali, baik oleh tenaga medis yang baru beristirahat maupun keluarga pasien. Para pedagang tak bisa lagi mengantar pesanan. Pembeli harus mendekat dan mengambil pesanan mereka secara mandiri.
Alhasil, kini Amaya harus membawa nampan beserta makanan yang ia pesan. Ia harus hati-hati guna menjaga supaya makanannya tersebut tidak tumpah, ditengah begitu banyak orang yang lalu lalang.
Amaya kini masih harus mencari tempat duduk lagi. Beruntungnya ditengah keramaian itu, masih ada bangku panjang yang kosong dibagian pojok kiri. Meski bagian kanannya telah penuh. Segera saja Amaya memutar Arah, menuju ke bangku yang masih kosong tersebut. Namun betapa terkejutnya ia, ketika mengetahui siapa orang yang kini duduk dihadapannya.
Ya, Gerald dan juga Marsha. Amaya tadi tidak mengetahui jika kedua orang itu ada disana, karena posisi duduk Gerald dan Marsha yang tadi membelakanginya. Dan lagi suasana begitu ramai. Tak ada waktu bagi Amaya untuk mengenali ciri-ciri mereka dari belakang.
Amaya sudah keburu meletakkan makanannya di meja itu, dan lagi akan sulit menemukan bangku kosong lain. Sementara kini Marsha dengan sinis menatap ke arahnya. Gerald sendiri pura-pura cuek dengan Amaya.
Amaya tak takut dengan Marsha, ia hanya sungkan untuk bertengkar karena dirinya kini tengah dilanda lapar.
"Hai, maaf ya lama."
Tiba-tiba Nicholas muncul disampingnya sambil meletakkan makanan. Gerald akhirnya mengangkat wajah karena terkejut mendengar suara Nicholas.
Dengan wajah cuek, Nicholas segera duduk disisi Amaya. Seolah mereka memang telah janjian sebelumnya. Amaya pun akhirnya duduk disisi remaja laki-laki yang sudah menyelamatkan kecanggungannya tersebut.
"Gimana tadi sekolahnya?" tanya Amaya pada Nicholas, tanpa mempedulikan lagi Gerald dan Marsha yang ada dihadapannya.
"Good, nggak ada masalah." ujar Nicholas seraya melahap makanannya.
"Kamu sendiri, hari ini sampai jam berapa?" Nicholas balik bertanya.
"Aku ada jadwal jaga malem hari ini. Pulangnya besok siang."
"Ow."
"Kenapa emangnya?" tanya Amaya.
"Nggak, tadinya mau ngajak kamu nonton. Tapi ya udah, lain kali aja."
Nicholas sebenarnya tak ada niat seperti itu. Apa yang diucapkannya barusan, semata hanyalah untuk membuat agar Gerald merasa cemburu. Bahwa Nicholas, memiliki waktu yang banyak untuk Amaya.
Meskipun dirinya masih pelajar, ia juga sudah memiliki penghasilan sendiri. Lewat kanal YouTube dan pekerjaan paruh waktu sebagai pelatih judo dan juga penulis lepas dibeberapa situs.
"Nanti aku kasih tau kalau ada waktu senggang."
Nicholas mengangguk.
"Ok." jawabnya kemudian.
"Aaaaak." tiba-tiba Nicholas menyuapkan makanan pada Amaya. Amaya terdiam sejenak, namun ia lalu menerima suapan tersebut.
"Nggak pedes." ujarnya seraya menguyah makanan tersebut.
"Aku nggak suka gado-gado pedes."
"Kenapa?" tanya Amaya.
"Aneh." ujar Nicholas kemudian.
"Kenapa aneh?"
"Nggak tau, aneh aja menurut aku."
Amaya kini tertawa kecil.
"Diri kamu tuh yang aneh." ujarnya kemudian. Nicholas pun hanya tertawa kecil.
Usai makan, Amaya diantar Nicholas untuk kembali kedalam. Karena saat ini bagian THT memang sangat sibuk sekali. Syukur masih bisa makan, beberapa diantaranya bahkan masih terjebak diruang operasi.
"Nich, maaf ya. Aku nggak bisa nemenin kamu. Aku harus balik keruangan dokter senior."
"Ok, nggak masalah koq. Lagian aku kesini, cuma mau ngasih ini."
Nicholas memberikan sebuah paper bag pada Amaya.
"I, ini apa Nich?" tanya Amaya.
"Itu makanan ringan dan snack, buat jaga malem nanti. Daripada bete, misalkan nggak ada kerjaan. Mending kamu makan, sambil nonton drakor. Kalau lagi nggak ada pasien ya. Jangan nanti, ada pasien, kamu malah sibuk drakoran."
Amaya tersenyum.
"Makasih ya, Nicho."
"Sama-sama."
Amaya mulai menjauh, sementara Nicholas tak melanjutkan langkahnya.
"Bye." ujar Amaya.
Keduanya bersitatap untuk sejenak, tak lama kemudian Nicholas pun melangkah keluar, sedang Gerald kembali ke dalam rumah sakit.
Nicholas berlarian ke parkiran, ketempat dimana kini mobilnya berada. Sementara dari suatu sudut, seorang pria tampak memperhatikannya.
Malam itu, Sasi Kirana Amaya kebagian jadwal jaga malam. Tidak pada stase nya sendiri melainkan pada Instalasi Gawat Darurat.
Awalnya biasa saja, hingga menjelang pukul 01:00 pagi ia mulai mengantuk. Namun matanya masih harus terjaga, takut ditegur oleh dokter residen atau dokter senior yang juga tengah jaga. Mereka saja memiliki performa yang prima, tak terlihat mengantuk sama sekali. Amaya yang seorang dokter baru harusnya bisa mencontoh mereka. Usia para dokter residen itu tak lagi muda, namun mereka tampak tak sedikitpun terlihat lesu. Meski tak ada satupun pasien yang masuk malam itu.
Sejak tadi bahkan Amay a hanya bermain handphone dan memakan snack yang diberikan oleh Nicholas.
"Sas, sibuk kah?"
Tiba-tiba Nicholas mengirim sebuah pesan singkat. Amaya terkejut, namun entah mengapa hatinya begitu senang.
"Kamu belum tidur?" tanya Amaya kemudian.
"Kebangun." jawab Nicholas.
"Sekarang lagi apa?"
"Jalan ke kulkas, ngambil minum."
"Abis itu cobalah tidur lagi, jangan begadang."
"Iya, kalau bisa ya. Hehe." balas Nicholas.
"Harus bisa dong, sayang loh. Aku aja pengen tidur banget ini, tapi nggak bisa."
"Diliatin mulu kan sama dokter residen."
"Anda benar, hahaha."
"Cemilannya udah dimakan?"
"Udah, aku makan barengan perawat jaga."
"Mau makan yang lain nggak?. Aku kirimin, ya."
"Jangan ah, nggak enak sama yang lain." ujar Amaya.
"Ya udah, aku kirimin juga buat yang lain."
"Jangan, Nich. Nanti aku bingung mau bilang apa ke mereka. Semisal aku kasih dokter senior, nanti sesama koas bilang aku nyogok atau cari perhatian. Tau sendiri kan, aku masih dalam tahap penilaian."
Nicholas menghela nafas.
"Ya udah deh, kalau kamu nggak mau. aku juga nggak bisa maksa."
"Sorry ya, Nich."
"It's ok."
Obrolan mereka pun berlanjut sejenak. Tak lama, seorang pasien masuk dan Amaya terpaksa menyudahi pembicaraan itu.
Satu setengah jam kemudian, tiba-tiba seorang dokter residen mengarahkan seseorang dari restoran cepat saji menuju ke sebuah tempat. Orang dari restoran tersebut pun meletakkan banyak box berisi makanan disana.
Para dokter residen, perawat maupun koas agak sedikit tercuri perhatiannya. Sebab mereka tak tahu dalam rangka apa, tiba-tiba rumah sakit menyediakan makanan ini.
"Dari siapa dokter Yandi?" tanya salah seorang perawat kepada sang dokter residen.
"Dari keponakan saya, anaknya temen. Dia tadi nanya, saya udah makan apa belum. Saya bilang belum. Dia nanya lagi, di IGD ada berapa orang, saya bilang aja ada sekian. Eh nggak tau nya dikirim sebanyak ini. Kalian ambil aja, yang lain juga ambil aja. Gratis koq."
Para dokter, perawat, koas dan siapapun yang bertugas di IGD malam itu mengambil makanan tersebut. Karena masih banyak sisanya, maka bagi yang meski bukan bertugas di IGD pun boleh mengambilnya.
Amaya juga kebagian, kini ia makan sendirian di suatu sudut. Karena yang lain pun ada banyak yang makan sendirian. Hanya beberapa saja yang terlihat berdua atau bertiga. Miranti tak terlihat malam itu, karena ia kebagian jadwal jaga malam di hari berbeda.
"Makanannya udah sampe?"
Tiba-tiba dokter Yandi mendekat. Amaya sedikit terhenyak.
"Nich tadi bilang, katanya kamu menolak pemberian dia. karena nggak enak makan sendirian. Kalau dikirim semua, takut dikira caper."
Amaya tersentak mendengar pernyataan tersebut.
"Jadi ini dari Nich, dok?" tanya nya tak percaya.
"Iya, dari Nich buat kamu. Tapi makasih ya, kita jadi kebagian semua. Sering-sering aja begini."
Dokter Yandi tersenyum, Amaya tersipu malu. Detik berikutnya dokter itupun berlalu.
"Nich, kamu tuh ya."
Amaya mengirim pesan singkat pada Nicholas. Namun pemuda itu sudah kembali tidur.