
Sementara Nicholas masih terpaku di tempatnya. Tak lama kemudian, Jason datang membawakan mobilnya berikut pakaian dan lain-lain. Dibelakangnya ada Kevin yang juga membawa mobil.
Mereka mampir sejenak dan berbincang dengan Amaya. Sementara Nicholas mandi. Setelah itu, mereka pun makan bersama.
Amaya memesan makanan untuk mereka semua.
"Enak nggak makanan nya?"
Amaya bertanya pada Jason dan juga Kevin. Kedua pemuda itu pun mengangguk.
"Maaf ya, jadi nyusahin kalian juga." ujar Amaya lagi.
"Nggak apa-apa koq. Cuma tadi..., Ada yang panik."
Jason melirik Nicholas yang tengah makan. Diikuti senyum Kevin yang meledek. Nicholas yang sadar jika disindir itupun sontak menatap kedua temannya. Namun tiba-tiba Amaya mengelus kepala dan rambutnya. Membuat Nicholas menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
Jason dan Kevin terkejut namun mereka tertawa. Demi melihat Nicholas yang tersipu malu. Di belai oleh perempuan yang sangat ia cintai.
"Nich, awas sendoknya lo telen."
Nicholas melirik ke arah Kevin lalu tersenyum.
"Sumpah, tadi tuh dia panik banget. Sampe satu pesawat panik."
"Oh ya?"
"Mpin?"
Nicholas melotot pada Kevin.
"Tuh kan merah kan pipi lo. Kayak bo'ol monyet."
Kali ini mereka semua tertawa. Nicholas sendiri terus tersenyum namun lebih banyak menunduk dan salah tingkah. Ia benar-benar mati kutu dihadapan kedua temannya itu.
"Nich, Lo beneran nggak mau jujur sama dia. Kalau lo adalah temen masa kecilnya dia."
Kevin bertanya pada Nicholas ketika mereka bertiga berada di balkon lantai atas. Sementara Amaya tampak menelpon seseorang di dalam rumah.
"Gue kasih tau ataupun nggak. Yang terpenting gue ada disini. Ada untuk dia."
"Iya, tapi mungkin keadaan akan jauh lebih baik kalau lo kasih tau." timpal Jason.
"Dia akan jauh merasa lebih aman dan nggak segan buat ngadu sama lo. Seandainya terjadi apa-apa. Karena lo adalah orang terdekat dia."
lanjutnya lagi.
"Bener, Nich." Kevin menambahi.
Sementara Nicholas kini terdiam. Kedua temannya tak tau jika telah terjadi satu hal sebelum mereka datang.
Setelah mereka berpelukan di pintu masuk. Amaya mengajak Nicholas untuk duduk di ruang tamu dan memberinya minum.
Saat tengah meletakkan gelas dan hendak duduk kembali. Tanpa sengaja Amaya menyenggol sebuah majalah di atas meja. Majalah tersebut jatuh, bersamaan itu pula, foto masa lalu mereka ikut jatuh. Nicholas meraih foto itu. Lalu Amaya dengan sigap mengambilnya dari tangan Nicholas.
"Ini teman kecil aku." ujar Amaya.
"Namanya sama seperti kamu. Sama-sama Nich. Kamu Nicho, dia Nicholas."
"Dia dimana?" tanya Nicholas kemudian. Ia tetap menjaga sikapnya agar terlihat setenang mungkin. Kendati ia merasa gugup.
"Aku nggak tau Nich, dan nggak penting juga."
Amaya lalu menyimpan kembali foto tersebut. Ia mengatakan jika masa lalunya tidak penting. Lantaran ia tak ingin Nicholas yang ini bertanya lebih lanjut. Ia malas jika harus disuruh membahas teman masa kecilnya itu.
Sebab semua ada hubungannya dengan ayah Diana. Amaya tak ingin melibatkan Nicholas yang ada dihadapannya kini lebih dalam. Ia tak ingin pemuda yang dikenalnya sebagai Nicho tersebut terlalu larut, kedalam masalah yang sudah berakar selama bertahun-tahun tersebut. Ia merasa Nicholas yang ini adalah orang lain dan tak perlu dibawa lebih jauh.
Sementara Nicholas sendiri mengartikannya dengan berbeda. Ia menganggap jika Amaya memang tidak merasa persahabatan mereka dulu memang penting. Ia merasa jika Amaya tak begitu merindukannya. Bahkan setelah separuh hatinya ia berikan.
Jadilah Nicholas semakin tidak ingin mengungkap identitasnya. Nicholas kecewa dengan sikap Amaya. Meski disisi lain ia senang, karena agaknya gadis itu menaruh perhatian besar padanya. Namun sebagai Nicho, pasien dokter seniornya. Bukan Nicholas, teman masa kecilnya.
Malam itu, Nicholas menginap dirumah Amaya. Sepertinya mulai besok, ia akan tinggal dirumah ayahnya yang berada di sebelah rumah Amaya. Ia tidak ingin membiarkan wanita itu sendirian lagi. Terlalu beresiko baginya. Mengingat ayah Diana belum tertangkap oleh polisi. Laki-laki itu bisa saja mencelakai Amaya kapanpun dan dimanapun.
"Nich, kamu kenapa nggak pulang aja?. Aku nggak enak loh ngerepotin kamu. Kamu juga masih harus sekolah, banyak tugas, harus mengerjakan hal lain."
Kali ini Nicholas memberikan tatapan tajam pada Amaya. Gadis itu lalu menggaruk kepalanya.
"Di..., dikamar sebelah nggak ada AC nya. Kamu..."
"Aku tidur disini aja." ujar Nicholas. Kebetulan ia tengah duduk di sofa ruang tengah. Di sana terdapat air conditioner.
"Yakin?. Nggak apa-apa?. Aku tuh nggak enak loh."
Nicholas menggelengkan kepala. Memastikan jika ia tak apa tidur disana. Amaya pun lalu mengambilkan bantal serta selimut untuknya.
Nicholas mulai berbaring dan mencari posisi yang nyaman. Sejujurnya Amaya kasihan melihatnya. Sebagus apapun sofa, tak akan pernah benar-benar nyaman jika dipakai untuk tidur.
Apalagi perawakan Nicholas yang tinggi. Sedang sofa tersebut lebih pendek ketimbang kaki Nicholas. Sudah pasti ia akan merasa tidak nyaman.
Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin Amaya mengajak pemuda itu tidur satu ranjang dengannya. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Meskipun ia tau, Nicholas adalah pemuda yang baik. Tapi tetap saja ia harus jaga-jaga. Karena gairah muda kadang sulit ditolak. Apalagi Amaya yang memang pernah begitu intens dengan seorang laki-laki semasa ia kuliah dulu.
Malam itu Amaya tidur dengan nyenyak. Karena merasa ada yang menjaganya. Namun tak begitu dengan Nicholas. Pemuda itu baru bisa tidur nyenyak pada pukul 03:00 dini hari. Setelah ia melihat patroli satpam komplek dari kaca rumah Amaya. Barulah ia tenang dan bisa tertidur lelap.
Kebetulan esok harinya adalah hari libur. Amaya pun tak ada jadwal dirumah sakit. Amaya membiarkan Nicholas bangun lebih siang ketimbang dirinya.
"Hmmmmmhhhh..."
Seperti biasa, ketika bangun. Nicholas terdiam beberapa saat di tempat. Lalu kemudian ia beranjak menuju kamar mandi.
"Duh lupa lagi..."
Nicholas keluar dari kamar mandi sesaat dirinya sudah selesai mandi dan berganti celana. Ia lupa membawa kaosnya sekaligus. Ia pun melangkah keluar. Berjalan ke arah sofa, tempat dimana ia meletakkan tasnya yang berisi baju.
Tanpa ia sadari. Dari sebuah sudut, Amaya yang tengah membersihkan kaca tiba-tiba melihat ke arah Nicholas. Ia tak bersuara sedikitpun.
Bibirnya seketika beku. Melihat pemandangan yang kini ada di depan mata. Ia pernah melihat Nicholas telanjang waktu itu. Saat Nicholas pertama kali tertidur dirumahnya. Saat itu refleks ia kembali menutup pintu karena terkejut.
Tapi kali ini, pemuda itu dihadapannya dengan bertelanjang dada. Memperlihatkan tubuh sixpacknya yang baru disadari Amaya. Wanita itu berusaha mengambil nafas. Tubuhnya gemetar demi melihat pemandangan yang menakjubkan tersebut.
Tubuh Nicholas yang nyaris sempurna, dipadu dengan perawakan yang tinggi serta wajahnya yang tampan. Benar-benar merupakan perpaduan yang menggetarkan jiwa.
"Praaaank...!"
Tanpa sengaja Amaya menyenggol pajangan hingga membuat pajangan tersebut terjatuh ke lantai. Akhirnya Nicholas pun terkejut dan refleks menoleh serta menyadari keberadaan wanita itu.
"Aaaa, hai." ujar Amaya lalu nyengir. Ia terlihat begitu salah tingkah.
"Aku mau, a, anu..."
Amaya melangkah serabutan karena bingung harus kemana. Sementara Nicholas masih terus menatapnya.
"Aku...."
"Pleeekkk...."
Amaya merasakan tangan nya menyentuh meja pajangan di belakangnya. Namun terasa sangat lembek dan...
"Bergerak..."
"Aaaaaaa...!"
Amaya berteriak kencang ketika menyadari jika tangannya menyentuh seekor cicak yang kebetulan merayap di atas meja tersebut. Karena meja itu begitu rapat dengan dinding.
Amaya langsung berlari serta merta. Namun ia oleng dan jatuh ke depan. Dengan sigap Nicholas pun menangkap tubuh nya. Lalu....
"Buuukkkk.....!"
Keduanya terjatuh di sofa. Dengan posisi Amaya berada di atas Nicholas. Lalu hening. Keduanya terdiam dalam Beberapa saat. Dengan mata yang saling bertemu pandang.
Amaya merasakan hangatnya tubuh Nicholas. Jantung keduanya berdegup kencang dan tubuh mereka gemetaran. Nicholas belum pernah bersentuhan tubuhnya dengan wanita manapun.
"A, sorry."
Amaya lalu beranjak. Keduanya kini salah tingkah. Nicholas lalu mengambil kaos dan segera berpakaian.
Siang itu, Nicholas menemani Amaya yang bersikeras ingin pergi ke supermarket. Padahal Nicholas sendiri sudah menawarkan untuk belanja online saja.
Mengingat bahaya yang masih mengintai di luar sana karena ayah Diana masih berkeliaran.
Namun Amaya memaksa pergi. Jika tidak ditemani, ia akan pergi sendiri. Tentu saja Nicholas tak akan membiarkan wanita itu berada dalam bahaya. Jadilah mereka pergi berbelanja bersama.
"Nicho, aku butuh dairy milk."
Nicholas yang agak jauh dari Amaya itu pun mengangguk. Ia lalu pergi ke sebelah dan mencari dimana susu cair berada. Sementara Amaya mencari yang lain.
Mereka tampak menikmati hari itu. Amaya sendiri lupa jika Nicho pasien dokter seniornya itu adalah pemuda yang mungkin masih berusia 17 tahun.
Mereka berbincang dan bercanda layaknya teman seumuran. Hal tersebut dikarenakan Amaya yang masih sedikit kekanakan serta Nicholas yang memang cenderung bersikap dewasa.
Nicholas menyerahkan kartu debitnya kepada kasir. Ketika Amaya baru saja hendak membayar semua belanjaan nya.
"Eh, ini kan belanjaan aku. Aku dong yang bayar." ujar Amaya.
Ia merasa tak enak jika harus dibayari. Karena ia sendiri memang berniat belanja. Ia membawa uang dan bukan minta untuk dibayari. Namun Nicholas hanya diam. Ia tak mempedulikan Amaya yang sewot padanya.
"Nicho."
Nicholas tetap tak menjawab. Akhirnya Amaya pun pasrah saja. Usai membayar semuanya. Mereka menuju ke halaman parkir.
"Tunggu disini." ujar Nicholas kemudian. Amaya mengangguk. Nicholas pergi mengambil mobil di halaman parkir.
Amaya kini tampak tengah bermain handphone.
"Aaaaa..., tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah tempat dimana Amaya berada. Dan Nicholas pun menyadari jika suara yang ia dengar tersebut adalah milik Amaya.
Segera saja ia berlarian, ternyata ada sekelompok orang yang seperti hendak menculik gadis itu. Para security swalayan coba menyelamatkan Amaya. Namun mereka dipukul hingga tak sadarkan diri.
Nicholas berlarian, namun ia dicegat seseorang. Yah, orang tersebut adalah supir taxi yang ia temui dijalan sepulang dari Bandara.
Secara serta merta supir tersebut pun menyerangnya. Nicholas tak gentar sedikitpun. Ia menghadapi orang tersebut dan balas memukulnya.
" Lepasin, saya...!"
Amaya masih terus berteriak. Kali ini ayah Diana menamparnya hingga gadis itupun terjatuh. Melihat hal tersebut, Nicholas yang masih terjebak perkelahian sengit, segera bergerak ke arah Amaya. Namun lagi-lagi supir itu berhasil menahannya dan mereka kembali berkelahi.
Dengan susah payah ia berusaha mengalahkan lawannya itu. Hingga kemudian ia tumbang. Segera saja Nicholas menghampiri ayah Diana dan menghajarnya. Ayah Diana kualahan. Hingga ketika tinggal satu pukulan lagi, yang diperkirakan bisa membuat ayah Diana menyerah. Tiba-tiba si supir bangkit dan memukul kepala Nicholas.
"Buuuuukkk...!"
Semua terjadi begitu saja dan berlangsung cepat. Ayah Diana mendapat kesempatan untuk membawa Amaya. Namun warga keburu datang dengan membawa peralatan seperti kayu dan batu. Merasa terdesak, ayah Diana beserta yang lain pun akhirnya kabur. Tinggalah kini Amaya yang histeris melihat Nicholas.