I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Raline dan Dena



Setibanya di sekolah, Nicholas dikejutkan oleh beberapa orang siswa yang tengah berkumpul dan sedikit berisik. Seperti telah terjadi sesuatu. Nicholas pun buru-buru mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Raline...?"


Nicholas terkejut melihat Raline yang berjalan tergopoh-gopoh dengan rambut kusut dan beberapa lecet di tubuhnya.


"Honey Baby...”


Raline berkata sambil menatap Nicholas dengan nanar. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Bahkan ia hampir saja terjatuh, jika saja Nicholas tak segera menangkap tubuhnya.


"Koq bisa sih lecet semua gini?" tanya Nicholas penuh kekhawatiran, ketika akhirnya ia dan beberapa siswi membawa Raline keruang UKS. Nicholas bertanya seraya mengobati semua luka yang ada di tangan dan kaki Raline.


"Tadi Raline kan ke sekolah...”


“Nich, Raline, gue sama Mirna masuk kelas duluan ya. Ada kuis hari ini. Gurunya rese, suka masuk sebelum bel berbunyi.


“Pak Aryo, ya?” tanya Nicholas.


“Ember” jawab mereka nyaris bersamaan.


“Ok, makasih ya Lia, Mirna.”


“Sama-sama. Cepet sembuh, Raline.”


Nicholas dan Raline membiarkan dua siswi yang membantunya itu untuk masuk ke kelas. Kini hanya tinggal mereka berdua saja di ruangan tersebut.


“Tadi gimana ceritanya?”


“Tadi Raline kan berangkat naik bus umum. Terus pas turun di jalan depan sana, Raline di jambret sampe Raline jatuh. Raline kejer dan Raline jatuh lagi di jalan.”


"Terus?" tanya Nicholas panik, ia tidak tau jika permasalahan nya seperti itu.


"Untung ada banyak yang kejer penjambret itu, ada juga kakak-kakak kuliahan gitu yang bantuin Raline tadi. Dia kembaliin kalungnya Raline dan nganter Raline sampe depan gerbang. Terus penjambretnya udah dibawa ke kantor polisi katanya.”


"Mobil lo kemana sih?. Lagian nggak pernah naik kendaraan umum, coba-coba naik kendaraan umum. Kalau mau naik kendaraan umum itu harus ekstra hati-hati.”


"Mana Raline tau, honey. Raline pikir dunia tuh aman-aman aja. Mobil Raline lagi di bengkel soalnya.”


"Biasanya kan lo bisa dianter sama supir dan mobil bokap lo juga banyak kan?"


"Raline pengen mandiri aja, Raline nggak mau jadi anak manja terus. Sekali-kali kek, Raline ngerasain hidup kayak orang normal. Biar nggak di cap anak papi terus.”


Nicholas menghela nafas.


"Kalau udah kejadian kayak gini, gimana? Untung lo nggak kenapa-napa. Kalau tadi sempat dicelakai sama jambret itu gimana?. Dan lagi ke sekolah itu nggak usah pake perhiasan segala, apalagi perhiasan mahal. Kejahatan itu juga bisa terjadi karena keteledoran kita sendiri.


Raline menunduk, ia memang adalah tipikal gadis imut yang terkadang membuat orang tak tega untuk memarahinya.


"Maaf." ujarnya kemudian. Nicholas lalu duduk disisinya dan menatapnya dalam-dalam.


"Ya udah, lain kali hati-hati. Kalau butuh sama gue, minta dijemput atau apa. Telpon atau WhatsApp gue aja. Atau kalau gue nggak bisa, lo bisa hubungi Mpin dan Jason.”


Raline mengangguk.


"Mau minum?"


Raline kembali mengangguk. Nicholas lalu pergi ke luar dan membelikannya sebotol air mineral dan sebatang coklat. Raline terkejut karena Nicholas sebegitu perhatian terhadapnya.


"Ini buat Raline?" tanyanya kemudian.


"Emangnya disini ada orang lain?" Nicholas balik bertanya.


Raline tersenyum, hatinya kini berbunga-bunga.


"Honey baby koq tau kalau Raline suka coklat?"


"Kayaknya hampir setiap cewek suka sama coklat. Lagipula itu bisa mengurangi stress dan rasa sakit.”


Nicholas memegang kepala Raline lalu mengacak sedikit rambutnya. Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk masuk ke kelas. Sementara kini Raline yang ditinggalkan di ruangan UKS, merasa menjadi perempuan paling bahagia sedunia. Jika saja dengkulnya tidak terluka, sudah pasti ia berjingkrak-jingkrak sekarang saking senangnya.


Saat masuk ke kelas, Nicholas langsung diberondong pertanyaan oleh teman-temannya. Termasuk Jason dan Kevin yang masih saja nongkrong di kelasnya padahal bel tanda masuk sebentar lagi akan dibunyikan.


"Belum balik lo ke kelas?" tanya Nicholas pada Jason dan juga Kevin.


"Belum ah, bentar lagi. Di kelas juga gitu-gitu doang. Duduk, belajar, nyatet. Nggak ada gitu main motor-motoran di dinding ke atas.” ujar Kevin ngawur.


"Lo kata tong setan.” celetuk Nicholas diikuti tawa Miko dan juga Dirly.


"Raline kenapa?" tanya Dirly kemudian.


"Dia di jambret tadi dijalan.”


"Lah terus?" tanya mereka serentak.


"Jambretnya udah ketangkep, kalungnya selamat. Tapi dianya lecet-lecet, tuh masih di UKS.”


"Koq bisa sih tumben-tumbenan.” ujar Miko heran.


"Dia nggak bawa mobil, tadi naik kendaraan umum. Pas turun dijambret.”


"Duh ada-ada aja dah.” ujar Jason kemudian.


"Kan sayang kalau dia kenapa-napa.”


lanjutnya lagi sambil menatap Kevin.


"He, Solihin. Iya-iya, besok gue ajak Raline bareng.” ujarnya kemudian. Namun dengan nada setengah sewot.


"Lo peka juga ya, zeyenk." ujar Jason sambil merangkul Kevin dan melakukan gerakan seolah hendak mencium-cium pipinya. Sementara Kevin bergidik ngeri dan gusar.


"Apaan sih lo, ih."  Kevin berusaha menjauhkan muka Jason.


Mereka semua pun lalu tertawa. Tak lama kemudian bel tanda masuk dibunyikan, Jason dan Kevin kembali ke gedung sekolah dan kelas mereka. Sementara Nicholas dan teman-temannya memulai pelajaran.


Siang itu, Nicholas menemui Axl Hadley di ruang musik SMA. Dia adalah teman Nicholas namun bersekolah di SMA yang sama dengan Kevin dan juga Jason. Axl adalah adik kelas mereka yang suka nongkrong sesekali bersama mereka.


Sementara temannya yang lain sudah pulang. Nicholas menyambangi ruangan itu sambil membawa makan siang dan juga minuman.


"Temen-temen lo mana, Ax?" tanya Nicholas kemudian.


"Udah pada pulang.”


"Bener kan feeling gue. Untung gue bawa makanan cuma buat lo doang. Kalau beliin semuanya tadi kan sayang.”


"Tadi mau lo beliin makan?"


"Iya, tapi gue ragu jangan-jangan udah pada balik. Di WA pada nggak bales. Makanya gue beliin buat lo doang. Lo belum makan siang kan, nih...!”


Nicholas menyerahkan plastik berisi makanan kepada Axl.


"Thanks ya...!”


"Yoi, makan sekarang aja yuk. Laper gue.” ajak Nicholas kemudian.


"Ayok...!” jawab Axl.


Nicholas dan Axl pun sama-sama membuka makanan tersebut lalu memakannya.


"Ini beli di bude Ti?" Axl menanyakan perihal makanan tersebut, apakah dibeli di kantin bawah langganan mereka.


"Bukan, yang didepan jalan situ loh. Arah belokan ke sekolah adek lo.”


"Belokan arah sekolah Rio?"


"Iya, namanya pakde Kun.”


Seketika mereka terdiam.


“Kalau digabung jadi KUNTI.”


Keduanya berujar di waktu yang bersamaan. Lalu mereka pun sama-sama tertawa.


"Gimana kabar lo sama bu Dokter?"


Tiba-tiba Axl bertanya.


Nicholas terdiam dan menatap Axl.


"Koq lo tau sih?"


"Anak-anak tongkrongan juga udah pada tau kali.”


"Yang nyeritain siapa?"


"Siapa lagi kalo bukan Suneo nya kalian.”


"Hahaha, Mpin?"


"Lah iya.”


"Wah bener-bener tuh anak. Lambe turah.”


"Iya, dia kayaknya antusias banget liat lo akhirnya punya gebetan.”


"Belum di gebet sih. Baru pedekate doang.”


"Lah pedekate juga bagian dari ngegebet, Kardiman.”


"Hahaha, tau deh yang udah pengalaman sama kak Selena.”


"Kali ini Axl menghentikan makannya dan menatap Nicholas.”


"Lo tau juga?"


"Apa sih yang nggak gue tau dari lo dan temen lo. Gimana soal lo sama Selena?"


"Ya masih gitu-gitu aja sih. Soalnya gue juga masih ribet sama bapak gue. Orang seumur gue udah baper karena cewek, sibuk ngurus perasaan cewek. Lah gue, sibuk ngurus perasaan bapak gue.”


"Emang Om Darren kenapa lagi?"


"Baper dia, gue tinggalin balik ke daddy.”


"Lo sekarang tinggal di daddy lo lagi?"


"Iya, makanya itu dia kayak marah sama gue. Liat aja di instagram gue, dia udah nggak pernah komen, ngetag atau apa. Bingung gue, Nich. Bapak gue baperan setengah mati. Makanya gue belum fokus ke Selena, ribet urusan bapak gue.”


"Ya udah, lo sabar aja. Namanya juga bapak lo masih muda gitu, masih egois. Masih pengen segala sesuatu itu sesuai keinginan dia.”


"Iya sih, gue berpatokan sama itu aja. Setiap kali dia bikin gue sebel, ya gue selalu inget kalau bokap gue itu masih muda. Bahkan lebih labil dari gue.”


Nicholas menghela nafas. Seisi sekolah tau jika Axl ternyata bukan anak kandung dari ayahnya Andrew Hadley, yang selama ini telah membesarkannnya. Ia adalah anak dari aktor Cody Greyson yang pernah melakukan kesalahan dimasa remajanya dahulu.


Axl memilih kembali pada ayah angkatnya, tepat setelah beberapa bulan ia tinggal bersama Cody. Dan hal tersebut membuat Cody menjadi sakit hati.


"Pokoknya lo sabar aja ngadepin orang tua.”


Axl mengangguk.


"Oh ya, lo mau minta kolab lagu apa?" tanya Axl kemudian.


Nicholas membuka botol minumnya dan meminum air tersebut sampai hampir setengah. Ia lalu tertawa menatap Axl.


"Hmm, gue tau nih rona-rona nya.” ujar Axl sok dukun.


"Apaan coba?"


"Lo pasti mau nyanyiin lagu buat dokter Amaya kan?"


Nicholas menunduk lalu tertawa. Kemudian ia kembali menatap Axl.


"Ah, iya juga nggak apa-apa.”


"Seriusan, ini cuma buat konten doang.”


"Gue tau elu, Nich. Lo pasti lagi baper parah kan sama itu cewek.”


"Kagak, udah ah ayok.” Nicholas lalu mengambil gitarnya.


"Ya, lagu apa dulu Bambang?"


"Make you feel my love.”


"Versi?"


"Shane Filan.”


"Tuh kan, pasti buat Amaya kan?"


"Kagak, Junaedi. Curigaan mulu dah.”


"Mata lo kagak bisa bohong, Nich.”


"Mata lo tuh, belekan.” ujar Nicholas lalu tertawa.


“Gue nggak peduli. Yang gue pedulikan sekarang itu mata lo.”


Axl sengaja mendekatkan kepalanya untuk melihat hal tersembunyi di mata Nicholas. Sedang Nicholas sendiri berusaha mengalihkan pandangan. Namun setiap kali ia beralih, setiap itu pula kepala Axl nongol di hadapan matanya. Lengkap dengan senyumnya yang menyebalkan.


“Apaan sih, Bambang?”


"Mau tambah puisi rayuan nggak nih?. Sekalian ungkapin perasaan. Biar kayak Dahlan 1990.”


"Apaan sih, lo?"


Axl tertawa renyah. Demi melihat Nicholas yang sewot.


"Kali aja ye kan, lo mau bikin hal yang menghebohkan. Bikin video ngungkapin perasaan, Abis itu viral.”


"Dan besokannya, gue dapet endorse pembesar payudara. Gitu?”


Celetukan Nicholas tersebut sukses membuat keduanya tertawa geli.


"So, jadi nggak nih tambah puisi?" tanya Axl lagi.


"Nggak, gue nggak se Fiersa besari itu. Masa iya gue berpuisi-puisi. Kopi ku tercipta dari sepetnya masa lalu dan manisnya dirimu kini. Kan nggak lucu kalo gue begitu.”


"Ya nggak apa-apa. Besoknya palingan subscriber dan followers lo nambah. Nambah bocah-bocah alay yang masih piyek-piyek. Kayak fans nya boyband. Lo bakal jadi pembicaraan hangat dimata para pemuja ke baperan tingkat dewa. Dan mereka akan komen di instagram ataupun YouTube lo dengan gaya kecentilan mereka. “Kak, baper banget kak. Ih baper banget”. Kayak bencong kejepit pintu neraka"


"Hahahaha, kampret lo.”


Nicholas kembali tertawa.


"Ya udah, ayok mulai.” ujar Axl kemudian.


"Oke."


"By the way, lo mau posting ini di YouTube lo biar Amaya liat gitu?"


Axl masih berusaha mengorek isi hati Nicholas.


"Kagak, cuma posting doang.”


"Heleh, masa?.”


"Serius, ngapain gue bohong sih.”


"Muka Lo merah. Kayak bo'ol monyet.”


"Njing...” Nicholas tertawa.


"Mau mulai nggak nih?” tanya nya kemudian.


Iya, iya. Beresin ini dulu.”


Axl membereskan bekas makannya lalu membuka tas dan mengambil sikat gigi. Nicholas pun melakukan hal yang sama. Usai membersihkan gigi, mereka pun kembali ke ruangan tersebut dan mulai mengatur kamera serta lighting yang memang sudah tersedia.


Kamera milik Nicholas sedangkan lighting milik sekolah. Sekolah mereka memfasilitasi anak-anak didiknya untuk berkarya. Terutama dalam bidang penyiaran YouTube. Disana tersedia kamera dan juga lighting serta background. Namun Nicholas lebih suka memakai kameranya sendiri, dengan alasan kepraktisan dan bisa ia bawa kemanapun untuk merekam apapun.


"Ready?" tanya Nicholas kemudian. Axl mengangguk.


Tak lama kemudian, mereka pun mulai duduk didepan kamera sambil memetik gitar masing-masing. Menyanyikan lagu bertajuk, "Make you feel my love" milik Adele, namun dengan arransmen versi Shane Filan.


When the rain is blowing in your face,


And the whole world is on your case,


I could offer you a warm embrace


To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,


And there is no one there to dry your tears,


I could hold you for a million years


To make you feel my love.


I know you haven't made your mind up yet,


But I will never do you wrong.


I've known it from the moment that we met,


No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,


And I'd go crawling down the avenue.


No, there's nothing that I wouldn't do


To make you feel my love.


Setelah video tersebut dirasa sudah bagus, Nicholas dan Axl pun menghentikan aktivitasnya. Usai menyelesaikan pekerjaan rumah masing-masing, Axl pun berpamitan pulang.


"Lo nggak mau bareng gue?" tanya Nicholas kemudian.


"Gue bawa mobil, Nich.”


"Oh, ok. Ati-ati yak.”


"Sip, gue duluan ya.”


"Oke, thank you ya..."


"Sip, sama-sama.”


Axl pun meninggalkan ruangan musik tersebut sementara Nicholas masih melihat hasil rekaman tadi. Beberapa menit kemudian ia pun bersiap untuk pulang. Niatnya ingin ke rumah sakit dulu, melihat apakah Amaya butuh bantuannya atau tidak. Setelah itu ia baru akan pulang ke rumahnya.


Nicholas berjalan menyusuri koridor, namun tanpa sengaja ia menoleh ke arah gedung seberang dan melihat sebuah pemandangan yang membuatnya sangat terkejut.


"Denaaaa...?”


Nicholas melihat diatas gedung tersebut, Dena tampak tengah berdiri dipinggir pembatas. Dengan tangan terentang serta mata yang terpejam.


"Denaaaaa."


Nicholas berteriak panik. Langsung saja tanpa basa basi lagi ia segera berlari turun dan menuju gedung sebelah. Ia mencoba memencet lift namun semua lift sedang menuju ke atas.


"Oh my God.”


Nicholas berlari menyusuri tangga darurat. Ia berlari sekuat tenaga sampai kemudian, ia tiba dan mendapati Dena telah pasrah menjatuhkan diri.


"Denaaaaa."


Dengan sekuat tenaga ia berlari lalu menangkap tubuh Dena, beruntung ia tidak terlambat. Ia berhasil menangkap tubuh Dena dan memeluknya dengan erat, agar gadis itu tak mengulangi perbuatannya.


"Lepasin gue...!" teriak Dena histeris.


"Lepasin gue, Nich. Gue mau mati aja, gue udah nggak tahan sama semua ini.”


"Denaaa."


"Lepasin Nich..!”


"Denaaa."


Kali ini Nicholas membentak Dena, hingga gadis itu terdiam lalu menangis dihadapannya.


"Nggak gini caranya, Den. Lo jangan kayak orang nggak beriman, lo punya Tuhan kan?"


"Nich.”


"Lo sendiri yang bilang ke gue waktu itu, kalau lo mau buktiin ke semua orang kalau lo itu nggak salah. Kenapa sekarang lo nyerah?"


"Gue nggak tahan, Nich. Gue nggak sanggup terus di bully dan ditekan kayak gini. Keluarga gue nggak ada yang peduli. Lo liat Prince aja nggak ada ngebelain gue sedikitpun. Gue sendirian.”


"Den, waktu dulu lo ngebully Karlita. Dia juga sendirian, nggak ada yang belain dia.”


"Tapi dia, punya elo Nich.”


"Gue juga ada disini buat lo?"


Kali ini Dena terdiam. Ia menatap Nicholas dengan mata yang masih berlinang.


"Gue ada disini, Den. Antara lo dan Karlita. Gue nggak membela siapapun. Semuanya temen gue. Kalau emang lo ngerasa lo nggak salah, lo buktikan aja. Nggak perlu ngelakuin hal bodoh kayak gini.”


"Apa lo akan percaya?"


"Kalau emang ada buktinya kenapa nggak?. Kenapa lo nggak bilang aja ke gue ceritanya gimana?"


"Nich, Karlita itu temen deket lo. Walau lo bilang nggak ada membela siapapun diantara gue sama dia, udah pasti lo akan lebih percaya Karlita daripada gue.”


"Den, sekarang lo bilang aja. Kejadian hari itu sebenernya kayak apa?"


Kali ini Dena terdiam, ia agaknya sangat berat untuk mengatakan semuanya.


"Gue janji akan buktikan semuanya, Nich. Lo akan tau cerita yang sebenernya. Tapi nggak sekarang.”


Nicholas menghela nafas.


"Ok, tapi janji sama gue. Jangan ngelakuin hal bodoh lagi kayak gini.”


Dena menunduk. Nicholas menyeka air mata perempuan itu dengan tangannya. Dena merasa Nicholas begitu baik padanya. Tak salah jika selama ini ia mencintai laki-laki itu.


"Iya Nich, gue janji.” ujar Dena kemudian.


"Ya udah, kita pulang ya. Gue anterin.”


"Nggak usah, Nich.”


"Gue nggak mau lo ngelakuin hal ini lagi. Nanti lo malah berubah pikiran dan malah berbuat hal bodoh lagi pas gue udah pulang. Pokoknya lo pulang bareng gue.”


Nicholas lalu menggandeng tangan gadis itu dan mereka sama-sama turun ke bawah. Nicholas mengantar Dena sampai kerumahnya.