
Usai membenarkan pintu rumah Amaya, Nicholas duduk pada sebuah kursi yang terdapat di bagian teras rumah tersebut.
Rumah Amaya memiliki bentuk yang unik, yakni pintu masuknya berada pada dataran yang tinggi. Sehingga untuk menuju ke pintu masuk tersebut, harus menaiki tangga terlebih dahulu.
Apabila duduk di depan teras, maka akan terasa seperti tengah berada di balkon. Meskipun tidak terlalu tinggi seperti balkon pada umumnya.
Amaya keluar membawakan segelas kopi untuk Nicholas. Pemuda itu sedikit terkejut, karena ia tidak memintanya.
"Nih, minum dulu..!”
Amaya menyerahkan kopi tersebut kepada Nicholas. Pemuda itu pun menerimanya.
"Ini kamu yang bikin?" tanya Nicholas seraya memperhatikan kopi tersebut.
"Siapa lagi?. Emangnya ada orang lain disini.”
Nicholas lalu tersenyum tipis.
“Aku emang nggak bisa masak, tapi kalau cuma sekedar bikin minuman mah, bisa.” lanjut Amaya kemudian.
"Dan lagi, kamu kan udah memperbaiki pintu itu. Sebagai hadiahnya ya, aku bikinin minum.
"Tapi kan aku juga yang ngerusakin pintunya.”
"Nggak apa-apa, lagian niat kamu baik kan. Kamu khawatir sama aku, takut terjadi apa-apa sama aku.”
Nicholas kembali memberikan senyum tipisnya.
“Sorry ya, soal tadi. Waktu aku, nuduh kamu mau berniat macem-macem.”
“It’s ok.” jawab Nicholas singkat.
"Aku, belum tau banyak soal kamu, Nich. Walaupun kita udah sering ketemu dan berinteraksi. Makanya aku jadi sedikit curigaan. Aku mau tau tentang kamu lebih lanjut.”
Amaya berkata sambil terus menatap Nicholas.
"Kopinya enak."
Nicholas mencoba mengalihkan arah pembicaraan. Ia tahu tak banyak keterangan yang bisa ia berikan pada Amaya, jika wanita itu bertanya perihal dirinya lebih lanjut.
"Kamu kenapa selalu nolongin aku?"
Tiba-tiba Amaya mengeluarkan pertanyaan yang membuat Nicholas terdiam.
“Udah terlanjur.”
“Maksudnya?”
“Aku udah terlanjur masuk ke kehidupan kamu. Terlanjur tau ada seseorang yang mau mencelakakan kamu. Jadi ya, aku harus selesaikan itu. Sampai kamu benar-benar merasa aman.”
“Tapi aku jadi ngerepotin kamu, padahal kamu adalah orang yang baru aku kenal.”
“Aku nggak merasa berat koq. Aku justru kepikiran, kalau aku belum memastikan keselamatan kamu di setiap hari.”
Amaya menghela nafas.
“Aku nggak tau orang itu siapa, aku mau lapor polisi juga bingung. Sampai hari ini belum ada bukti yang bisa aku kasih ke pihak yang berwajib. Bahwa orang itu terus menguntit dan mau mencelakai aku. Kadang rasanya, pengen aku biarin aja sampe dia nyakitin aku. Paling nggak, aku punya bukti kekerasan buat menjerat dia dengan hukum.”
Nicholas menatap Amaya.
“Iya kalau dia cuma melukai kamu dikit doang. Kalau kamu langsung dibunuh?. Kamu mau ngelapor kemana?. Kalau udah nggak hidup lagi.”
Amaya terdiam, ucapan Nicholas ada benarnya.
“Terus aku harus gimana?. Aku nggak mungkin nyusahin kamu tiap hari, Nich. Tapi aku juga nggak punya banyak temen. Aku nggak punya keluarga, saudara atau siapapun yang bisa melindungi aku.”
Nicholas menarik nafas, tatapan matanya yang teduh kini menembus mata Amaya. Membuat gadis itu seketika terpaku didepannya.
“Selama aku masih ada, aku akan terus jagain kamu sebisa aku. Tapi yang terpenting, kamu juga harus tetap waspada. Kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri juga, karena aku nggak akan bisa 24 jam mengawasi kamu. Jangan teledor, pintu jangan lupa dikunci. Save nomor HP security, biar kalau ada apa-apa, kamu bisa minta pertolongan. Karena mereka yang terdekat dengan kamu.”
Amaya menerima semua ucapan tersebut, dengan pandangan yang masih tak teralihkan. Ia terus menatap Nicholas hati yang berdebar.
“Tuhan, mengapa dia begitu memperhatikan aku. Apakah dia malaikat pelindung yang kau kirimkan untukku. Tapi mengapa dia, mengapa anak ini?.”
“Hey."
Nicholas membuyarkan lamunan Amaya.
“Ah, iya. Hmm, iya aku denger koq.” ujar Amaya kemudian. Ia lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain.
“Kamu kenapa nggak ngajak Miranti untuk tinggal disini.”
“Mi, Miranti?. Kamu tau dia?.”
Nicholas mengangguk.
“Tadi aku ketemu dia, waktu dirumah sakit. Karena aku pikir kamu masih disana, ternyata kamu udah pulang.”
“Terus kamu ketemu Miranti?.”
“Iya, dan kami berbicara banyak hal.”
“Oh ya, soal apa?” Wajah Amaya mulai panik. Ia berfikir jangan-jangan Miranti mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
Karena selama ini Amaya memang selalu bercerita soal apapun kepada Miranti. Termasuk tentang Nicholas atau yang lebih ia kenal sebagai Nicho.
“Hmmm, kasih tau nggak ya.” Nicholas menggoda Amaya. Membuat wanita itu menjadi sewot.
“Tuh kan, pasti Miranti ngomongin hal macem-macem nih. Ngomong apa coba dia?”
Amaya merengek pada Nicholas. Ia benar-benar ingin tau apa yang telah dibicarakan oleh sahabatnya itu. Sementara kini Nicholas hanya tertawa sambil tetap merahasiakannya.
“Tuh kan kamu jahat, ih. Penasaraaan."
Lagi-lagi Nicholas tertawa. Namun tak lama kemudian, Amaya tanpa sengaja melihat ada sebuah luka di jari-jari tangan kirinya.
“Loh, kamu luka?" tanya Amaya kaget.
Nicholas sendiri sudah lupa kalau jari-jarinya terluka. Rasa perihnya pun sudah tertutup kedamaian saat ia tertawa bersama gadis itu.
"Ini waktu tadi aku benerin pintu.”
"Kenapa nggak bilang.”
Amaya lalu beranjak ke dalam rumah.
"Aku nggak apa-apa.” ujar Nicholas setengah berteriak, namun Amaya tetap menuju ke dalam dan akhirnya keluar dengan membawa kotak P3K.
"Aku nggak apa-apa, ini luka-luka kecil doang.”
Nicholas kembali berujar ketika Amaya kini sudah berada tepat dihadapannya. Wanita itu duduk di lantai dan membuka kotak P3K nya, tanpa menghiraukan ucapan Nicholas sedikitpun.
Ia lalu meraih tangan Nicholas, namun tiba-tiba saja ia terdiam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda setelah bersentuhan dengan tangan pemuda itu.
Ya, seperti sebuah perasaan yang tak asing, dekat dan begitu hangat. Jantungnya kini berpacu, sama sepeti jantung Nicholas yang mulai berdegup kencang.
Lama keduanya saling terpaku, sampai kemudian Amaya sadar pada apa yang seharusnya ia lakukan. Ia lalu mengobati luka-luka kecil yang terdapat ditangan Nicholas tersebut dan membungkusnya dengan kasa serta plester.
Saat semua itu sedang berlangsung, Nicholas malah tertegun menatap Amaya. Melihat betapa lembut dan manisnya wanita itu. Ingin rasanya ia segera memberitahukan perihal siapa dirinya sebenarnya. Namun semua itu masih terhalang egonya yang tinggi. Ia masih berharap Amaya mengenali dirinya dengan sendirinya.
"Ini jangan kena basah dulu ya?" ujar Amaya kemudian sambil masih terus memperhatikan tangan Nicholas.
"Ya mana bisalah ibu calon dokter, ini kan tangan kiri. Kalau cebok gimana?"
Amaya terdiam, lalu keduanya pun sama-sama tertawa.
"Kalau aku minta di obatin disini tiap hari gimana?" Nicholas melirik nakal ke arah Amaya.
Perempuan itu lalu mengambil sebuah majalah yang berada tak jauh dari sana dan memukulkannya ke kepala Nicholas.
"Buuuuk."
"Aaaw."
Nicholas meringis kesakitan, sementara Amaya kini masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak obatnya.
Nicholas pun lalu tertawa demi melihat wajah sewot wanita itu. Amaya hendak kembali keluar, namun tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan Nicholas, yang sudah berada di bibir pintu.
"Kamu, mau ke dalam?" tanya Amaya kemudian.
"Nggak, aku mau pulang. Tutup dan kunci pintunya. Biar nanti pagar, aku yang gembok dari luar. Gembok itu ada kuncinya kan?.”
“Ada.”
"Ok.”
“Tapi, kenapa buru-buru banget?. Kamu ada urusan?.”
Nicholas mengangguk.
“Urusan papaku. Tapi karena dia sekarang jauh, dia minta aku yang selesaikan.”
“Oh, ok. Kamu hati-hati di jalan.”
Lagi-lagi Nicholas mengangguk.
"Bye.” Pemuda itu berujar pelan.
“Bye."
Nicholas hendak berbalik, namun tak lama kemudian Amaya menghentikan langkahnya.
"Nich.”
"Ya?" Nicholas kembali menoleh pada Amaya.
"Selama kita kenal beberapa hari ini, aku belum tau nomor handphone kamu. Boleh aku minta?"
Nicholas terdiam, ia sendiri bahkan tak menyadari bahwa ia pun telah melewatkan hal besar tersebut. Saking seringnya ia berada di dekat Amaya, sampai-sampai ia lupa menanyakan nomor handphone wanita itu.
"Boleh.”
Nicholas lalu memberikan nomor handphonenya, untuk kemudian disimpan oleh Amaya. Kebetulan nama pengguna di akun WhatsApp nya hanya Nicho saja, jadi ia tidak perlu khawatir Amaya akan mengenalinya.
“Udah aku missed call ya.” ujar Amaya.
“Ok, udah aku save.”
Amaya tersenyum pada Nicholas dan begitupun sebaliknya.
"Aku pulang ya.” ujarnya kemudian. Pemuda itupun berbalik arah namun lagi-lagi Amaya menghentikannya.
"Nich."
Nicholas kembali menoleh, kali ini entah mengapa jantungnya berdegup kencang. Pasalnya Amaya kini mendekat ke arahnya, sambil terus memperhatikan wajahnya.
Amaya sendiri merasa ada sesuatu yang sangat familiar dengan wajah Nicholas. Ia merasa seperti mengenali pemuda itu, ia bahkan kini berada sangat dekat dengan Nicholas. Hangatnya nafas keduanya pun seakan menyatu dengan detak jantung yang kian cepat.
Mereka pun bergejolak, apalagi bibir keduanya hanya terpisah jarak beberapa centimeter saja. Amaya memejamkan matanya, sementara jantung Nicholas berpacu dengan cepat. Disentuhnya pipi wanita yang dicintainya itu, ia sudah ingin menyerah. Namun dengan cepat Nicholas lalu berbalik dan mengambil arah jalan pulang.
Sementara kini Amaya terpaku ditempatnya, sambil terus memandang kepergian Nicholas. Dari tempatnya berdiri, ia masih bisa menyaksikan Nicholas yang memberhentikan mobilnya tepat di luar pagar. Lalu pemuda itupun keluar dari dalam mobil, guna mengunci pintu pagar dengan gembok melalui celah pagar itu sendiri.
Amaya menutup pintu rumahnya lalu bersandar panda pintu tersebut, sambil menengadah ke langit-langit rumah. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Nicholas. Namun ia sendiri tak tau apa itu.
Di sepanjang jalan, Nicholas terus terpikir pada adegan terakhir tadi. Saat ia nyaris berciuman dengan wanita itu. Ia tak tau apakah ia harus senang atau merasa takut, perasaannya kini campur aduk.
Sementara disisi lain, dokter muda atau Koas Miranti tampak tengah senyum-senyum sendiri sambil menyaksikan tayangan YouTube yang menyajikan cover lagu bertajuk, "Make you feel my love” versi Shane Filan Westlife.
Cover lagu tersebut baru saja di upload oleh Nicholas dan karena trending #1 maka munculah di beranda Miranti.
When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.
When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
Miranti terus memperhatikan Nicholas yang berada dalam video tersebut, mendengarkan dengan seksama suaranya yang begitu merdu. Bahkan menikmati setiap senyum manis dan lirikan matanya yang sesekali tertuju pada kamera. Seolah Nicholas sendiri tengah menatap ke arahnya.
"Lucu ih nih anak, gemes banget.” Kata-kata itu keluar sendiri dari bibir Miranti, yang saat itu tengah duduk diruangan tugasnya.
Sementara jauh di sebuah ruangan. Tampak suster Lani berteriak kegirangan ketika menyaksikan layar handphonenya, yang menyajikan tayangan di aplikasi YouTube.
"Ya ampun, gue baru tau kalau dia bisa nyanyi. Gemeeeeees."
Beberapa perawat lain memperhatikannya.
"Ada apaan sih, Lan?. Lo kayak cacing kesiram cuka apel gitu.” tanya salah seorang dari mereka kemudian.
"Ini loh, berondong yang mau gue deketin, ternyata dia itu youtuber. Kayak gini kan gue jadi bisa lebih sering ngeliatin dia. Duh, gemeees.”
"Yang mana sih orangnya?" Beberapa orang perawat lain mendekat ke arah suster Lani dan ikut memperhatikan layar handphone miliknya.
"Oh Nicholas ya?" Salah satu dari mereka ternyata ada yang mengenali Nicholas.
"Oh namanya Nicholas?. Gue pikir Nicho aja kayak yang dibilang Koas Sasi. By the way Koq lo tau sih?” tanya Lani heran.
"Makanya lo sering-sering nonton YouTube, Lan. Jangan nonton acara alay mulu. Nih anak udah lama jadi youtuber, instagramnya aja pengikutnya banyak.”
"Apa sih nama instagramnya." tanya suster Lani antusias.
"Nih, @n_icho
Temannya itu menunjukkan pada suster Lani, apa nama akun instagram milik Nicholas. Segera saja suster Lani pun memfollow akun tersebut. Ia memberikan bomb like pada hampir semua postingan, berharap Nicholas akan melihat dirinya dan memfollow back akun nya.
"Iiiih, ganteng banget sih kamu baby. Kemana aja sih gue selama ini, nggak tau tentang dia.”
Suster Lani terus menikmati setiap postingan Nicholas dan memuja-muja ketampanannya. Sementara teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Sementara di kamarnya yang bak kamar Princess, Raline tampak juga tengah menonton channel YouTube Nicholas sambil memberikan beberapa komentar yang diikuti emoticon love yang juga banyak.
"I am Touched 🥰😚😘"
Begitulah salah satu cuitan Raline pada kolom komentar di Channel Nicholas. Sementara dirumahnya, Dena tersenyum tipis demi menyaksikan tayangan tersebut. Ia masih sangat tertekan dengan keadaannya, namun suara Nicholas membuatnya sedikit damai.
Karlita sendiri hanya diam menyaksikan hal itu. Ia tidak tersenyum sama sekali. Tetapi ia terus menonton tayangan itu sampai habis, lalu mengulangnya kembali.
Beberapa saat berlalu, Nicholas pun tampak terbaring di tempat tidurnya sambil masih terus memikirkan Amaya. Tepatnya pada adegan terakhir yang membuat mereka nyaris berciuman. Ia telah memikirkan hal ini sejak masih di jalan tadi. Dan sampai saat ini semuanya belum hilang.