I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Sebuah Ingatan



Sore itu setelah bertugas cukup banyak, Amaya beristirahat dan duduk di kantin, sambil menikmati es teh manis kesukaannya. Amaya membuka aplikasi toko online di handphone dan memilah-milah barang. Sampai tak sadar jika Miranti sudah berada di dekatnya.


"Woi, khusuk banget.”


Amaya yang terkejut dengan kehadiran dokter muda atau Koas Miranti , langsung meletakkan handphonenya ke atas meja.


"Ada apaan, Mir?" tanyanya kemudian.


"Lagi ngeliatin apaan sih lo?" tanya Miranti penasaran.


"Lagi ngeliatin baju di online shop.”


"Baju?. Baju apa?. Liat dong!” Miranti memaksa melihat. Amaya terlihat sedikit ragu. Namun akhirnya ia menunjukkannya pada Miranti.


"Korean skirt?"


Miranti memperhatikan pilihan yang tertera di toko online tersebut lalu menatap Amaya dengan tatapan tak percaya.


"Lo cari Korean skirt?. Mau jadi member girls band lo?" Miranti tersenyum sementara Amaya tampak sedikit malu.


"Koq lo jadi kayak balik remaja deh, Sas." Miranti mulai menaruh curiga.


"Aa, gue tau. Lo jatuh cinta ya, sama pasien lo yang anak SMK itu?. Makanya lo mau ganti gaya jadi kayak ABG lagi, biar bisa mengimbangi dia kan?. iya kan?. Ngaku nggak lo!”


"Ih, apaan sih?.Ini tuh karna lucu aja, jadi gue suka. Lagian kita belum tua-tua amat perasaan, artis Korea aja usia 30 lebih masih pake itu koq."


Amaya berkilah. Padahal ia memang ingin mengubah penampilannya, agar sedikit terkesan masih muda.


"Alah ngaku aja, iya juga nggak apa-apa koq. Lo udah follow instagramnya dia belum?"


"Instagram?" Kali ini Amaya tertegun, ia tak tau apa-apa soal anak itu. Ia bahkan tak tau nomor handphonenya berapa.


"Iya, lo tadi ketemu dia kan?. Lo nggak nanya instagram dia apa?. Atau nomor handphonenya berapa?"


Amaya terdiam.


"Waduh nggak kepikiran sampe sana, Mir.” ujarnya kemudian.


"Ya, elo gimana sih. Kalau tau instagramnya, kan minimal lo tau tuh anak udah punya cewek apa belum."


"Belum koq kayaknya. Orang tadi aja dia ngejelasin ke gue. Kalau pasien korban bullying yang tempo hari gue kira ceweknya itu, ternyata bukan. Mereka cuma temenan doang.”


"Cieee, sampe di jelasin segala. Berarti dia ada hati juga sama lo jangan-jangan. Udah Sas, gas." Miranti kegirangan.


Amaya tersenyum, namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu.


"Tunggu-tunggu. Koq lo ngomong seolah-olah gue emang mau ngedeketin anak itu, sih?. Kan gue belum bilang apa-apa soal itu.”


Amaya masih berusaha menutupi perasaan nya. Karena ia sendiri pun masih tak yakin dengan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah benar-benar rasa suka atau hanya obsesi belaka.


"Alah, beneran juga nggak apa-apa kalau lo suka. Lagian ganteng, tinggi, putih, mobilnya keren. Udah gitu, baik lagi keliatannya.”


"Ih, Miranti apaan sih. Udah ah."


"Hahaha, ya udah. Gue balik dulu ke ruangan gue. Bentar lagi jadwal gue dinilai sama dokter Anton.”


"Lah terus lo kesini ngapain?"


"Godain lo doang, gue abis dari ruang bersalin tadi.”


"Oh ok lah kalau begitu.”


"Gue cabut ya." ujar Miranti kemudian.


"Ok."


Miranti melangkah, namun wanita itu sempat terpaku sejenak, ketika dirinya menatap seseorang yang baru saja tiba di dekat Amaya.


"Marsha?" Miranti mengucapkan namanya tanpa sengaja.


Marsha tak menjawab, dengan wajah dingin ia pun segera membalikkan tubuh Amaya. Membuat Amaya sedikit terhenyak. Miranti berlalu dari tempat itu.


Sebenarnya ia berniat ingin mengetahui kelanjutannya, andai saja jadwalnya tak terbentur dengan jadwal tugas yang diberikan. Jujur, ia agak khawatir meninggalkan Amaya sendirian.


Karena ia tau masalah apa yang terjadi antara Amaya dan juga Marsha. Amaya pernah menceritakan semuanya pada Miranti. Tinggal lah Amaya yang kini saling bersitatap dengan Marsha.


"Ada apa?" tanya Amaya santai.


"Kenapa tadi lo sampai kesini naik mobil Gerry?" Suara Marsha terdengar ketus.


"Gue cuma minta tolong dijemput, karena kebetulan gue ada urusan di dekat rumahnya dia.”


"Ya nggak harus sama Gerry juga kali, lo bisa naik ojol atau taxi online. Lo kan tau, Gerry itu udah dijodohin sama gue.”


"Ya apa salahnya, toh gue juga nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Tapi Gerry suka sama lo, dari dulu dia suka sama lo dan lo tau itu. Lo itu dari dulu selalu merampas kebahagiaan gue. Pertama sahabat gue meninggal gara-gara lo, dan sekarang lo mau merebut laki-laki yang gue cintai."


"Eh, Diana itu juga sahabat gue ya. Dia meninggal bukan karena gue.”


"Karena lo yang menolak mendonorkan hati lo ke dia."


"Bukan gue yang menolak tapi dokter yang menolak memberikannya untuk Diana. Karena perjanjian awalnya adalah hati gue untuk Nicholas."


Tiba-tiba saja Amaya terdiam. Ia teringat pada Nicholas setelah sekian lama.


"Kalau saat itu lo bersedia memberikannya pada Diana, Diana nggak akan meninggal.”


"Berapa kali gue harus bilang sama lo, saat itu gue sama sekali nggak tau kalau Diana juga kena sirosis dan berada di rumah sakit yang sama dengan Nicholas. Gue nggak tau kalau ayahnya memaksa dokter mencocokkan hati gue kepada Diana. Gue nggak tau sama sekali dan lo ataupun ayahnya Diana tau akan hal itu.


Kalian itu marah sama diri kalian sendiri, karena kalian nggak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Diana. Tapi kalian nggak mau mengakui itu, kalian lemparkan kesalahan itu ke gue. Seolah-olah gue yang salah, seolah-olah gue nggak mau menolong sahabat gue sendiri. Mau sampai kapan lo terus nyalahin orang atas sesuatu yang sebenarnya lo inginkan, tapi nggak mampu lo lakukan?. Sampai kapan, Sha?. Yang harus lo salahkan itu adalah diri lo sendiri, kenapa hati lo nggak cocok untuk Diana."


Nafas Marsha bergemuruh, seketika wanita itu mengangkat dan mengayunkan tangannya ke wajah Amaya, namun refleks Amaya menangkis lalu menahan tangan Marsha dengan kuat. Sementara banyak pasang mata yang mulai memperhatikan mereka.


"Jangan gunakan tangan kotor lo itu, untuk menutupi kekacauan yang lo buat sendiri. Pergi lo dari sini, sekarang!”


Amaya menghempaskan tangan Marsha, detik berikutnya wanita itupun pergi dari tempat tersebut. Amaya kembali duduk di bangku kantin, lalu membenamkan wajah sejenak pada kedua telapak tangannya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Hhhhh."


Tak lama kemudian, ia meraih liontin kalung yang melingkar di lehernya. Perlahan ia membuka liontin berbentuk hati tersebut dan menatap sebuah foto yang ada disana. Itu adalah foto saat ia, Marsha dan Diana sedang makan di kantin sekolah. Hatinya begitu sakit seperti di sayat. Mereka berteman sejak masih kanak-kanak, namun kini mereka terpecah. Satunya terpisah oleh maut, satunya lagi terpisah oleh keegoisan dan kesalahpahaman yang sengaja dibuat.


Amaya begitu sedih. Ia lalu hendak menutup kembali liontin tersebut, namun matanya kini tertuju pada foto yang ada di bagian sebelahnya. Ya foto masa lalunya bersama Nicholas.


Kali ini wajah Amaya berubah sedikit cerah, ia menatap foto itu lalu tersenyum. Di usap-usapnya foto tersebut dan dipandanginya dengan penuh haru. Tiba-tiba saja ia merasakan kerinduan yang amat besar terhadap anak itu.


Entah dimana kini ia berada. Karena sekembalinya dari Belanda, Amaya hanya sempat satu kali mengunjungi kota tempat tinggalnya terdahulu. Karena ia harus pindah ikut tantenya di kota lain dan juga melanjutkan ke universitas. Ia tak menemukan Nicholas disana. Rumah itu telah terjual, dan pemilik yang baru tidak tau kemana pemilik lamanya pindah.


Amaya sempat mencari dengan berbagai cara, termasuk di sosial media. Namun sampai hari ini, belum ada kabar apa-apa mengenai teman masa kecilnya itu. Seperti apa dia, bagaimana rupanya, sekolah dimana dia, bagaimana keadaannya.


"Nich, I do miss you so."


Kata-kata itu mengalir begitu saja, dan matanya pun mulai berkaca-kaca. Sementara disisi lain,


"Huacim."


"Huaaciim."


Nicholas bersin berkali-kali saat sedang video call bersama kedua orang tuanya, yang tengah berada di luar negri karena tugas.


"Nicho kamu sakit?" tanya ibunya khawatir.


"Nggak tau, ma. Tadi baik-baik aja deh perasaan.”


Nicholas mengambil tissue lalu membersihkan hidungnya yang meler.


"Kebanyakan jajan kamu ya?. Minum dingin terus pasti kan?. Ngerokoknya kuat pasti.” Ibunya mulai curiga.


"Nggak juga sih, ma. Normal aja. Jajan juga nggak terlalu sering.”


"Lah terus kenapa bisa pilek begitu?"


"Ya mana Nicho tau, namanya juga penyakit. Datang tak dijemput, pulang tak di antar.” ujarnya membela diri.


"Penyakit apa jelangkung itu?. Udah minum obat belum?" Kali ini ayahnya yang bertanya.


"Makanya cari pacar, biar ada yang ngurus."


"Papa apaan sih, ngasih solusi koq cari pacar.”


gerutu Nicholas lalu tertawa.


"Ya iyalah, papa waktu seumur kamu pacarnya 2 loh.”


"Dih gaya banget, sekarang pacarnya berapa coba?" goda Nicholas masih terus tertawa.


"Satu.”


Tiba-tiba ibu Nicholas langsung memberikan tatapan menyeramkan kepada suaminya.


"Mmm maksud papa, sekarang pacarnya udah jadi istri. Nih orangnya di samping papa.”


Ayah Nicholas merangkul istrinya, namun semua terkesan terpaksa hingga membuat Nicholas tertawa geli.


"Hayo loh papa, marahin aja ma.”


"Kamu jangan jadi kompor ya.” ujar Ayahnya kemudian.


"Awas ya, papa.” Ibu Nicholas mengepalkan tinjunya.


"Macem-macem awas ya.” lanjutnya kemudian. Membuat Nicholas makin tertawa geli.


"Lagian kenapa sih kamu nggak mau dirumah Opa aja, biar ada yang ngurus kalau sakit.”


"Males, ma. Lagian biarin aja sih, Nicho mau belajar mandiri. Opa tuh cerewet tau, apa-apa nggak boleh. Mana ada jam malem segala lagi dirumahnya. Masa, Nicho jam 8 malem udah harus dirumah. Udah kayak perawan aja.”


"Ya, opa kamu kan emang gitu. Orangnya disiplin.”


"Nah itu dia, makanya Nicho males. Lagian ini apartment nggak ada yang nunggu, ntar berhantu lagi kalau kelamaan di biarin kosong.”


"Biarin aja, ma. Anak laki-laki ini.” Kali oni ayahnya membela Nicholas.


"Tuh, dengerin papa tuh ma. Papa aja nggak marah.”


"Iya deh, yang anak papa. Ya udah, mama sama papa mau makan dulu. Kamu jangan lupa makan ya, sayang. Abis itu minum obat.”


"Iya ma.”


"Dah sayang."


"Dah ma, pa."


"Love you, Nicho.”


"Love you too.”


Nicholas menutup telponnya, lalu menarik selimut. Namun tiba-tiba...,


"Tingtong."


Terdengar suara bel yang di tekan. Nicholas yang baru saja hendak istirahat terpaksa bangun dan menggerutu.


"Siapa sih yang dateng jam segini, orang mau tidur juga.” gerutunya.


Nicholas mengintip dari lubang pintu, seorang perempuan berdiri diluar namun tampak membelakangi. Nicholas tidak bisa melihat wajahnya. Karena penasaran, ia pun segera membuka pintu apartment tersebut dan gadis itu pun berbalik.


"Karlita?"


"Nich.”


Nicholas memperhatikan Karlita yang berdiri. Dengan membawa sebuah kotak makan susun menyerupai rantang, namun dari bahan plastik. Benda yang sangat terkenal di kalangan ibu-ibu dan kalau hilang, bisa dicoret dari kartu keluarga.


"Masuk, Kar."


Nicholas mempersilahkan Karlita masuk. Gadis itu pun lalu melangkah.


"Koq tumben lo kesini?. Mendadak lagi.” tanya nya kemudian.


"Tadi gue baca komentar-komentar lo di intsragramnya Mpin. Lo bilang lo sakit, makanya gue kesini.”


"Hahaha, gue cuma pilek doang Kar. Nggak kenapa-kenapa.”


"Gue liat komennya Mpin tadi, dia bilang lo kena flu babi.”


Lagi-lagi Nicholas tertawa.


"Lo kan tau satu geng itu isinya hiperbola semua. Orang demam aja dibilang kena santet sama mereka. Terus di sebar kemana-mana. Percaya deh, gue nggak apa-apa.”


"Tetep aja kan, lo sakit.” ujar Karlita sambil memperhatikan Nicholas.


"Ini gue bawain makanan. Ini titipan ibu.” lanjutnya lagi.


Karlita menyerahkan makanan yang ia bawa. Nicholas pun menerimanya lalu mempersilahkan Karlita untuk duduk.


"Lo mau minum apa?" tanya Nicholas kemudian.


"Nggak usah, gue ambil sendiri aja. Lo duduk aja disini...!"


Karlita kemudian beranjak ke dapur minimalis milik Nicholas, ia mengambil air minum dan beberapa peralatan makan seperti sendok dan garpu. Ia lalu kembali duduk dan membuka makanan yang ia bawa lalu menyerahkan makanan nya pada Nicholas.


"Nih, makan dulu. Mumpung masih anget.” ujarnya kemudian.


Nicholas mengambil makanan itu lalu memakannya pelan-pelan.


"Itu bubur nya dicampur bayam sama wortel. Lo suka kan?"


Nicholas mengangguk sambil menahan panas di lidahnya.


"Ini bayam yak yang Ijo-Ijo ini?" Nicholas memperhatikan bubur tersebut.


"Iya, ada salmon nya juga tadi.”


"Oh ya ini, ni.” Nicholas mengaduk buburnya dan menemukan banyak potongan salmon disana.


"Salmon kan mahal, Kar.” ujarnya kemudian.


"Iya, tapi ibu bela-belain buat lo. Ibu tau lo suka banget sama salmon. Ibu takut lo nggak mau makan, makanya dibeliin salmon biar mau. Dia kira lo sakit parah tadi.”


Nicholas menatap Karlita. Ia tak menyangka ibu Karlita akan sebegitu peduli pada dirinya.


"Enak nggak?" tanya Karlita kemudian.


"Enak koq. Bilangin sama ibu kalau gue baik-baik aja dan bilang juga makasih makanan nya. Repot-repot banget pake dibikinin segala. Kan gue jadi enak.”


Karlita tersenyum.


"Nanti salmon nya gue ganti.”


"Nggak usah, ibu ikhlas koq. Abisin makanan nya.”


Nicholas pun menghabiskan makannya. Mereka ngobrol sejenak lalu Karlita memberinya obat Flu. Tak lama kemudian, Nicholas pun tertidur di sofa. Karlita menyelimutinya, untuk beberapa saat ia tertegun menatap Nicholas yang mulai terlelap.


Ia begitu beruntung memiliki Nicholas didalam hidupnya. Pemuda itu selalu tampil bagaikan tembok yang siap menahan orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya. Selalu melindunginya dari berbagai ancaman dan selalu siap menghapus air matanya dikala tak ada seorang pun yang peduli. Tak ada sahabat yang sebaik dirinya.


"Kar...”


Tiba-tiba Nicholas terjaga. Karlita yang semula tertegun menatapnya pun kini terkejut dan salah tingkah.


"Kenapa Nich?. Lo butuh sesuatu?" tanya Karlita sedikit cemas.


"Minta tolong pijitin kepala gue, Kar. Nih hidung mampet banget. Sedih aku tu, rasa pingin makan pinggiran sofa.”


Kali ini Karlita tertawa.


"Ok, tunggu bentar.”


Karlita lalu mengambil beberapa bantal dan meletakkannya di kepala Nicholas agar posisi kepala anak itu sedikit lebih tinggi. Ia pun mulai memijat kepala Nicholas hingga pemuda itu benar-benar terlelap dan tak bergeming lagi.


Usai memastikan Nicholas beristirahat, Karlita pun mencuci semua peralatan makan yang tadi digunakan. Tak lama kemudian ia pun lalu pergi meninggalkan kediaman Nicholas. Karena apartment tersebut memiliki kunci otomatis, yakni apabila tertutup maka pintu akan otomatis terkunci dan hanya bisa dibuka dari dalam atau dibuka menggunakan card maka Karlita pun dapat meninggalkan tempat itu dengan tenang.