
Jason kembali masuk ke dalam kamar tempat dimana Nicholas dirawat, dengan wajah yang pucat serta nafas ngos-ngosan. Seperti habis melihat sesuatu yang menakutkan.
"Kenapa lu, abis ngeliat suster ngesot?" seloroh Kevin. Membuat Nicholas dan Dirly tertawa.
"I, itu. Si Miko ditarik sama suster ngesot. Eh, Amaya."
"Hah?, serius lo?"
Nicholas dan yang lainnya berujar dengan wajah yang tercengang. Mereka kaget sekaligus syok dengan apa yang barusan mereka dengar.
"A, Amaya?" ujar Dirly kemudian.
"Iya, itu barusan."
"Kira-kira Amaya tau nggak kalau gue disini?" tanya Nicholas.
"Mana gue tau, Nich. Orang Miko langsung nyuruh gue masuk."
Wajah Nicholas kini diliputi ketakutan, sementara di luar Miko terus berusaha bersikap biasa didepan Amaya. Ia tidak ingin mengundang kecurigaan apapun pada diri wanita itu.
"Mik mau makan apa?" tanya Amaya pada Miko.
"Mmm, aku mau gado-gado deh." ujar Miko menjawab asal saja. Padahal saat ini dirinya tak begitu ingin makan.
"Ya udah, aku juga sama deh." ujar Amaya lalu mendekat ke arah tukang gado-gado diikuti Miko. Mereka pun lalu memesan makanan tersebut.
"Mik."
Kevin mencoba mengirim pesan singkat pada Miko, ia disuruh oleh Nicholas.
"Gue lagi mau makan sama Amaya, gue turutin aja supaya dia nggak curiga." balas Miko.
"Tapi aman kan?" tanya Kevin lagi.
"Aman, udah santai aja." balas Miko.
Seisi ruangan tempat dimana Nicholas kini dirawat pun, merasa sedikit lega.
"Hadeh, takut banget gue." ujar Kevin kemudian. Nicholas tampak menghela nafas.
"Ya udah, pokoknya lo pada hati-hati kalau keluar masuk rumah sakit ini." ujar Nicholas memperingatkan.
"Iye, makanya lo cepet sembuh. Sebelum ketahuan Amaya." Kevin berseloroh.
"Iye bawel." ujar Nicholas seraya mengeplak kepala sahabatnya itu.
***
"Mik, kamu nggak nutupin sesuatu dari aku kan?"
Tiba-tiba Amaya membuat Miko terhenyak. Ia yang sudah tegang tersebut, kini malah semakin khawatir, khawatir jika keberadaan Nicholas diketahui wanita itu.
"Mmm, nutupin apa kak?" tanya Miko berusaha bersikap biasa. Mereka kini telah duduk disalah satu bangku kantin dan makan bersama.
"Soal Nicho." ujar Amaya.
Miko makin terhenyak, entah mengapa feeling wanita itu begitu kuat. Apa karena hatinya ada di dalam diri Nicholas, pikir Miko.
"Kenapa emangnya Nicho, kak?" tanya Miko yang masih setia dalam kepura-puraan. Ia memasang tampang super blo'n agar dikira remaja polos.
"Iya, aku khawatir aja. Dia tuh sebenernya kenapa-kenapa, tapi dia sembunyikan dari aku. Hati aku bilang, dia bohong soal keadaannya."
Miko berusaha menelan makanan, tiba-tiba saja selera makannya terganggu.
"Mm, nggak koq kak. Orang dia baik-baik aja, cuma ya emang agak sibuk. Nicho itu bukan tipikal pembohong." ujarnya kemudian.
"Pokoknya kalau kamu bohongin kakak, kakak sumpahin jomblo."
"Ya jangan dong, kak. Nicho yang bermasalah, kenapa saya kena getahnya."
"Hahaha." Amaya tertawa, ia hanya bercanda pada Miko. Namun itu cukup membuat wajah Miko mendadak pucat, seperti anemia akut.
Mereka pun lanjut makan, dan Miko terus menanggapi obrolan Amaya dengan sangat hati-hati, agar tidak keceplosan.
***
"Gue heran loh sama si Dena, kenapa ya dia gitu banget sama Karlita. Padahal kan, selama ini juga Nicho nggak ada mengkonfirmasi soal hubungan dia sama Karlita."
"Ya gimana ya, udah ditutupin cinta buta kali matanya si Dena." ujar Raline seraya menyedot minuman bersoda yang ada dihadapannya."
"Susah, kalau udah ngomongin cinta." Raisa nyeletuk.
"Iya juga sih." ujar Rebecca.
"Tapi maksud gue, harusnya Dena lebih bisa menahan diri. Soalnya kan dia udah pernah kena kasus sekali sama Karlita, kenapa di ulang-ulang terus gitu loh."
"Nah itu yang bikin gue juga bingung sama dia. Kayaknya Dena harus di bawa ke psikiater deh." ujar Isyana.
"Nonton pertunjukan dong." ujar Raline dengan wajahnya yang blo'on."
"Raline, itu theater." celetuk Raisa lagi.
"Oh beda ya, hehe?"
"Beda." ujar Isyana kesal.
"Theater tempat pertunjukan. Psikiater, tempat mengobati kondisi psikis, mental, dan kejiwaan." lanjutnya lagi.
"Gila dong?" tanya Raline.
"Nggak gila juga, yang perasaannya tertekan, suka nangis nggak jelas, suka cemas berlebihan bisa kesana." ujar Rebecca.
"Wah, Raline mau tuh. Raline suka auto kangen nggak jelas sama yayank Nicho."
Isyana dan Raisa kompak melebarkan bibir tanda kesal, sedang Rebecca hanya tertawa dan lanjut makan.
Sementara di tempat lain, Dena tengah terpaku di balkon apartemennya yang tinggi. Ia kini tengah berada di lantai 29, sambil menatap ke suatu arah. Tangan gadis itu terkepal dan giginya gemertak. Ia begitu kesal dan marah, namun berusaha untuk tak berteriak. Meski sudah sangat ingin sejak tadi.
"Lo berani main-main sama gue, tapi gue nggak akan tinggal diam. Gue nggak akan kalah sama lo, meski 1000 kali lo sok lugu didepan semua orang. Dasar uler beracun, sok innocent." gerutunya lagi.
Tiba-tiba Prince menelpon ke handphone Dena, setelah sekian lama sepupunya itu bungkam dan seolah tak peduli lagi padanya.
"Hallo, sepupu gue yang cantik." ujar Prince di telpon.
"Lo mau apa?." jawab Dena ketus.
"Ssshh, galak amat. Santai dong, jangan tegang."
"Udah cepet lo bilang aja, nggak usah bertele-tele. Lagian juga ngapain lo hubungin gue lagi, setelah selama ini lo pura-pura nggak kenal sama gue."
"Den, kalau gue ikut ngebelain lo. Dua-duanya dari kita, akan dianggap sama. Dianggap bersekongkol. Dengan gue tidak melibatkan diri didalam masalahnya elo, gue bebas untuk masuk ke mana aja dan bebas mengumpulkan informasi apa aja yang ada disekolah. Gue itu menguntungkan loh, gue tau cerita yang sebenarnya."
"Lo, lo percaya sama gue?" tanya Dena pada sepupunya itu.
"Gue bukan percaya lagi, gue ngeliat sendiri kejadiannya."
Dena terhenyak, ia kini penuh dengan emosional.
"Serius, Prince?" tanya nya kemudian, akhirnya ada satu orang yang bisa membelanya.
"Iya dong, dan gue akan bersaksi. Tapi lo juga harus tolongin gue."
"Soal apa?" tanya Dena pada Prince.
Lalu Prince pun menceritakan maksud serta tujuannya.
"Tapi Prince, gue nggak mau nyakitin Nich." Dena merasa permintaan Prince kali ini agak berlebihan.
"Kata lo, lo cinta sama dia."
"Iya, cinta. Tapi nggak gitu juga caranya."
"Den, gue menawarkan sesuatu yang nggak menyakiti secara fisik. Masalahnya gue juga lagi jatuh cinta."
"Udah deh, Prince. Mending lo pikirin lagi, jangan kayak gini. Kalau gini gue berat, gue tuh nggak bisa nyakitin Nicholas."
"Gini deh, kalau ini bisa kelar. Masalah lo juga akan kelar. Gue janji untuk itu dan gue akan tepati."
"Tapi."
"Lo pikirin dulu masak-masak, ok."
Prince lalu menutup sambungan telpon, sementara Dena kini berada dalam kebingungan.