I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Dena



"Aaaaaaaaaaaa."


Raline beserta kedua dayangnya berteriak kencang, ketika mendapati seseorang terjatuh dari tangga darurat dan tertelungkup tepat dibawah kakinya.


Raline rencananya hendak menggunakan tangga darurat itu, setelah beberapa saat yang lalu semua lift di sekolah mereka mati. Karena listrik padam secara mendadak dan belum diketahui apa penyebabnya.


"Oh my God."


Raline dan kedua dayangnya tampak ketakutan dan gemetaran.


Seketika para siswa lain pun berkumpul. Mereka mendengar teriakan Raline yang kencang dan sontak berlarian ke arah sumber suara. Lalu menyaksikan kejadian itu secara bersama-sama.


Mereka melihat ke arah siswa yang tertelungkup itu, lalu sama-sama melihat ke atas tangga darurat. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika mendapati seseorang yang mereka kenal tengah berada di atas sana.


"Dena?"


Seluruh siswa yang menyaksikan kejadian itu, tampak tak percaya sekaligus marah. Sementara Dena hanya bisa gelagapan, dengan tubuh yang mulai gemetar dan keringat dingin yang mengalir deras. Raline segera membalikan tubuh siswa yang terjatuh tersebut dan bukan alang kepalang betapa terkejutnya ia, ketika menyadari siapa siswa itu.


"Ya ampun, Karlita. Bangun, Kar. Karlita."


Raline mengguncang-guncang tubuh Karlita, namun gadis itu pingsan. Kepala bagian kanannya berdarah, tulang pipinya lebam. Hingga membuat semua yang ada disitu panik tak terkira.


"Haduh gimana nih.?" Raline dan yang lainnya ketakutan sekaligus cemas.


Mendengar kegaduhan tersebut, Nicholas dan teman-temannya pun berlarian menerobos kerumunan. Mereka tak kalah terkejut, ketika melihat Karlita yang sudah tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah.


"Karlitaaaaa."


Nicholas memeluk tubuh Karlita dan mencoba membangunkannya. Namun gadis itu tetap tak bergeming sedikitpun.


"Raline, Karlita kenapa?" tanya nya panik.


"Tuh."


Raline menatap ke atas tangga darurat dengan sengit. Dari tempatnya berada, Nicholas bisa menyaksikan Dena yang masih terpaku. Tanpa banyak basa basi lagi, Nicholas segera mengangkat tubuh Karlita dan membawanya keluar.


"Mik, Miko. Mobil, Mik. Ambil


Mobil Mik. Pin, kunci di kantong gue tolong."


Kevin merogoh saku baju Nicholas dan mendapatkan kunci mobil, untuk kemudian ia berikan pada Miko.


Ia dan teman-temannya berlari ke halaman parkir, lalu membawa Karlita menuju rumah sakit. Sementara kini Dena menghadapi hujatan seluruh siswa di sekolahnya, terutama Raline.


"Eh, Dena. Kamu nggak perlu sampe segitunya sama Karlita. Raline juga suka koq sama yayank Nicho. Tapi Raline nggak norak kayak kamu. Kalau mau bersaing, ya bersaing sehat lah. Nggak perlu sampai mencelakakan nyawa orang."


"Betuuul." teriak siswa-siswi yang lainnya mendukung ucapan Raline.


"Tapi Raline, bukan gue yang melakukan itu" Dena membela diri.


"Terus siapa pelakunya?. Tante Barbie Kumalatai?. Atau Cimoy?. Mas Fanta Halilintar? Hahhh?. Orang jelas-jelas pas dia jatuh, kamu ada diatas. Kamu pikir Raline sama semua orang disini buta apa ?"


"Betuuuuul." Para siswa dan siswi kembali membenarkan ucapan Raline.


"Tapi emang bukan gue pelakunya." Dena tetap bersikukuh membela diri.


"Nggak usah membela diri, kamu bukan Amoeba kan?. Bukan bakteri?" Raline masih nyerocos.


"Kalo amoeba membelah diri, Raline. Ini mah membela." salah seorang dayangnya mencoba membenarkan ucapan Raline yang keliru.


"Ya pokoknya gitu lah." Raline bersikukuh.


"Udah salah, jatuhin anak orang. Ngegas lagi kamu." lanjutnya kemudian.


"Udah, Raline. Bawa aja dia ke ruang Bp." celetuk salah seorang siswi yang berada di tengah kerumunan.


"Iya bener-bener, bawa aja ke ruang BP." Siswa siswi yang lain turut mengompori.


"Bukan gue pelaku nya. Gue berani sumpah."


teriak Dena pada semuanya.


"Sumpah sekarang udah dijual di online shop. Nggak akan ada yang percaya sumpah lagi, kalau bukti sudah di depan mata. Lagian ya, selama ini kamu udah sering banget nyakitin Karlita. Ngerjain dia, ngata-ngatain dia. Sekarang malah kamu mencelakakan dia. Naksir sama cowok nggak gitu-gitu amat kali."


"Beneeeeer."


"Berlebihan sih lo, timbang saingan dapetin cowok doang."


"Norak lo." teriak siswa dan siswi lain. Yang didukung oleh yang lainnya pula.


"Udah Raline, bawa aja dia sekarang." siswa yang lainnya lagi semakin mengompori.


Raline lalu naik ke atas tangga mendekati Dena. Ia mencekal lengan gadis itu dan paksa menurunkannya. Ia dibantu oleh kedua dayangnya agar Dena tak memberontak dan kabur.


"Tapi...."


"Nggak usah tapi, ayo ke ruang Bp."


"Ayooo...!"


"Lepasin, Raline...!"


"Nggak akan."


Raline dan siswa-siswi lainnya membawa paksa Dena menuju ruang Bp. Disepanjang perjalanan menuju ruangan tersebut, banyak siswa dan siswi yang melempari Dena dengan kertas yang diisi batu kerikil. Ada juga yang menghujat bahkan menoyor kepalanya saking geramnya. Berita begitu cepat menyebar disana.


"Dasar lo, jahat."


"Perempuan sampah."


"Anak alay lo."


"Mabok micin."


"Bangsat."


Begitulah hujatan yang ia terima, hingga akhirnya ia dihadapkan dengan guru BP. Raline dan beberapa orang tetap disana dan bertindak sebagai saksi mata


Sementara beberapa saat kemudian, pada instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit, Nicholas tampak sangat cemas. Apalagi ketika tubuh Karlita yang masih pingsan dibawa ke ruang pemeriksaan. Nicholas tampak begitu stress, ia mondar-mandir dengan nafas yang tak beraturan.


"Nich, sabar Nich."


Teman-temannya mencoba menenangkannya hingga akhirnya ia pun duduk di kursi ruang tunggu.


"Ini semua salah gue, Dena melakukan semua ini karena dia terobsesi sama gue. Karena gue selalu terlihat dekat sama Karlita." ujarnya kemudian.


"Udalah, lagian juga Dena semestinya nggak harus sampe segitunya. Tuh cewek emang rada-rada tau nggak." Kevin nyerocos dengan nada penuh kemarahan.


"Iya, gue setuju sama Mpin. Dena itu harus di kasih pelajaran. Dia itu punya otak, tapi nggak dipake buat mikir. Dia nggak tau apa, kalau perbuatannya ini bisa bikin nyawa orang melayang." Jason menimpali.


Sementara Miko dan Dirly tampak Diam, dan mencoba menenangkan Nicholas dengan menepuk pundaknya. Beberapa saat kemudian, dokter pun datang dan mengatakan jika Karlita perlu dirawat inap. Lantaran kepalanya mengalami benturan cukup keras, sehingga harus mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Dokter mengatakan ada cidera di telinga bagian dalam Karlita, yang juga diakibatkan oleh benturan. Nicholas pun mengurus segala biaya administrasi untuk perawatan temannya itu.


Ia terus memegang tangan Karlita, setelah gadis itu dipindahkan ke sebuah kamar rawat. Sampai akhirnya gadis itu siuman dan mendapati Nicholas disisinya.


"Nich."


Suara Karlita terdengar sangat lirih.


"Gue disini, Kar. Lo akan baik-baik aja. Gue udah kasih tau ibu. Tadi Dirly udah gue suruh jemput ibu."


"Nich, rumah sakit dan kamar ini gimana?. Kasian ibu nanti."


"Udah tenang aja, ada gue, Jason, Dirly, Miko dan Kevin yang akan bertanggung jawab atas biaya perawatan lo. Lo istirahat aja, nggak usah mikirin apa-apa. Ok?"


"Tapi, Nich."


"Percaya sama gue, Kar."


Karlita pun lalu mengangguk lemah.


Setelah kedatangan ibu Karlita, Nicholas menjelaskan apa yang telah terjadi. Ibunya terlihat sedih namun sangat tegar. Nicholas pun lalu berjanji pada ibu Karlita, bahwa ia dan teman-temannya lah yang akan bertanggung jawab atas semua biaya perawatan Karlita. Selama ia berada di rumah sakit. Ia juga berjanji akan terus memantau kesehatan Karlita setiap harinya, sampai gadis itu benar-benar sembuh.


Nicholas berpamitan untuk pulang kerumah. Karena ada beberapa urusan yang mesti diselesaikan olehnya. Dan pula ia ingin tau bagaimana pihak sekolah menanggapi hal ini. Ia ingin memastikan apakah Dena akan mendapatkan hukuman atau tidak.


"Kalian ngeliatin apaan?" tanya Nicholas pada teman-temannya, ketika ia memasuki pelataran parkir rumah sakit dan melihat teman-temannya berkumpul di satu titik. Pandangan mata mereka tertuju pada suatu arah.


"Itu, Nich. Orang itu dari tadi ngeliatin Amaya mulu." ujar Dirly sambil melirik pada orang yang dimaksud. Orang itu berada tak jauh dari mereka.


"Amaya?. Kalian liat Amaya?" tanya Nicholas tak percaya. Ia bahkan nyaris lupa kalau Amaya bekerja dirumah sakit ini, saking sibuknya memikirkan kondisi Karlita.


"Itu didepan yang lagi jalan itu loh. Itu Amaya tau, orang tadi dia lewat depan kita disini." Ujar Miko membenarkan


Nicholas memperhatikan seorang wanita yang tengah berjalan di luar pagar rumah sakit. Wanita itu berada cukup jauh dari tempat dimana Nicholas kini berdiri. Ia tampak menyusuri jalan raya menuju ke sebuah halte bus.


"Deegghh."


"Deegghh."


Hati Nicholas bergemuruh seperti biasanya. Menandakan jika wanita yang tengah berjalan tersebut memanglah Amaya. Meski ia sendiri masih sedikit ragu, karena yang terlihat hanya bagian belakangnya saja.


Lalu mata Nicholas beralih memperhatikan laki-laki, yang terus mengamati wanita terduga Amaya tersebut. Laki-laki itu tengah bersiap masuk ke dalam mobilnya.


"Itu kan...?"


Nicholas seperti mengingat sesuatu. Sementara teman-temannya mulai memperhatikannya.


"Siapa Nich?" tanya Kevin penasaran.


Nicholas hanya diam. Tak lama kemudian ia pun segera berlari ke mobilnya dan keluar dari halaman parkir rumah sakit. Ia mendahului laki-laki itu.