
"Sas, gue liat beberapa hari ini lo selalu diantar jemput sama anak SMK ganteng itu, dia siapa?"
Dokter muda Miranti, teman dekat Amaya yang juga masih Koas, bertanya padanya ketika mereka tengah istirahat dan makan di kantin. Sudah beberapa hari berlalu sejak peristiwa pelemparan batu itu terjadi.
"Dia itu, pasien dokter Margaret. Kan gue lagi ngintilin dokter Margaret sekarang di THT."
"Koq bisa nganterin lo mulu?"
"Soalnya...."
Suara Amaya tercekat di tenggorokan. Tak lama kemudian ia pun mulai bercerita mengenai dirinya, yang diikuti oleh orang tak dikenal. Bahkan sampai dilempar batu.
"Hati-hati Sas, Lo hati-hati dari orang asing yang mau mencelakakan lo itu. Serem ih, ngeri gue. Jaman sekarang ya kan?. Apalagi lo tinggal sendiri. Mana kompleks perumahan lo sepi gitu lagi kayak Ladda Land."
"Tapi gimana kalau ini semua rencana anak itu." Amaya berspekulasi.
"Maksud lo?"tanya Miranti heran.
"Kalo orang jahat itu suruhan dia gimana?. Bisa aja kan dia sewa temen buat sok-sok an mau mencelakakan gue. Biar gue berlindung sama dia terus dan akhirnya gue jatuh cinta deh sama bocah ingusan itu. Kayak di FTV-FTV"
"Hahaha." Kali ini Miranti tertawa.
"Koq lo ketawa sih?" tanya Amaya sewot.
"Sas, spekulasi lo ketinggian. Kebanyakan nonton sinetron sih lo. Anak segitu mana mungkin punya pikiran se-ekstrem itu."
"Siapa tau aja tuh berondong sengaja, mau macarin cewek lebih tua buat jadi parasit. Biar bisa di biayain bensin dan kuotanya."
"Hahaha."
Lagi-lagi Miranti tertawa, kali ini cukup keras. Namun ia segera mengecilkan volume suara nya, mengingat ia tengah berada dirumah sakit. Ia takut suaranya akan mengganggu kelangsungan istirahat para pasien yang tengah dirawat. Pun ia tak tahan dengan hujatan puluhan pasang ekor mata, yang kini menatapnya.
"Sas, kalau dia niat mau begitu. Ngapain ceweknya harus lo. Kenapa nggak Artis-artis aja sekalian atau tante-tante yang duitnya banyak. Tanggung amat ngerjain dokter muda kayak kita. Mau dapet apa dia dari kita. Lagian tuh anak kayaknya anak orang kaya deh. Mana ada orang susah mobilnya begitu"
"Iya juga sih."
Hati Amaya membenarkan ucapan Miranti. Ia mulai membayangkan visual Nicholas, serta gaya hidupnya yang tak mencerminkan bahwa anak itu adalah warga misqueen. Bahkan wangi parfumnya saja terdeteksi sebagai parfum yang cukup mahal. Bukan Made in Condet. Tak lama kemudian dokter Gerald menghampiri mereka.
"Sas, gue duluan." dokter muda Miranti buru-buru menyelesaikan makannya.
"Lo kenapa sih setiap ada Gerry selalu gitu. Kayak menghindar." tanya Amaya heran.
"Nggak ada apa-apa, gue banyak kerjaan aja." Miranti pergi meninggalkan Amaya, sementara kini Gerald duduk di depan Amaya.
"Koas Sasi udah makan?" Gerald mulai membuka omongan.
"Ini piring saya, dok. Baru aja selesai." jawab Amaya lalu tersenyum.
"Kali aja mau makan lagi." ujar Gerald berbasa-basi.
Amaya tertawa.
"Cukup dok, saya udah kenyang."
Tak lama kemudian seorang wanita melintas dengan wajah angkuh dan tampak tidak senang menatap ke arah Amaya. Dia adalah Marsha, dahulunya ia bersahabat dengan Amaya. Tapi sejak Marsha menyalahkan Amaya atas kematian Diana, Amaya memilih untuk tidak mau mengenal wanita itu lagi. Namun mereka kembali dipertemukan di fakultas kedokteran beberapa tahun lalu.
Beberapa bulan setelah pindah ke Belanda, kedua orang tua Amaya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Lalu Amaya kembali ke Indonesia dan melanjutkan studinya disini. Pada saat ia kembali, Nicholas dan keluarga nya sudah pindah ke kota lain. Gerald adalah salah satu dosen mereka saat itu.
Amaya, Marsha dan mendiang Diana memang siswi andalan sekolah mereka. Ketiganya sangat pintar dan berjanji akan bertemu di fakultas kedokteran. Mereka punya target untuk lulus SMA lebih cepat dari siswa lainnya. Namun sayang Diana harus pergi terlebih dahulu. Dan hanya Amaya serta Marsha lah yang berhasil mewujudkan impian tersebut.
Marsha sendiri amat cemburu pada Amaya, karena ia sangat suka pada dokter Gerald. Sejak mereka pertama bertemu di kampus pada saat itu. Namun Gerald agaknya lebih menyukai Amaya ketimbang Marsha.
"Koas Sasi, anak yang suka nganterin Koas Sasi itu siapa?" Kali ini Gerald mempertanyakan perihal Nicholas.
Amaya baru saja hendak menjawab. Namun matanya kini menangkap beberapa orang siswa sekolah, yang tengah mencari tempat duduk sambil membawa makanan. Salah seorang diantara mereka ada Nicholas. Ia heran mengapa Nicholas ada disini.
"Mau berobat lagi, mungkin" pikir Amaya dalam hati. Karena untuk apa seorang pelajar akan mengunjungi rumah sakit saat jam sekolah, jika bukan untuk keperluan berobat.
"Deegghh."
Hati Nicholas bergetar seperti biasanya, dan matanya mulai menjelajah sekitar. Karena ia tau jika hatinya bergetar, pasti ada Amaya di sekitar situ. Dan benar saja, mata mereka kembali bertemu pandang.
Nicholas melihat dokter Gerald ada di depan Amaya, hatinya bergemuruh. Apalagi Miko, Dirly, Kevin dan Jason juga melihat keduanya. Harga diri Nicholas seakan terusik. Gadis yang ia cintai dan ia banggakan selama ini di depan teman-temannya, ternyata sangat dekat dengan orang lain.
Meski ia pernah berkata jika ia tidak akan mundur sedikitpun, tetap saja dalam hati kecilnya ia merasa saingannya berat. Gerald adalah seorang dokter sementara dirinya hanya berstatus sebagai pelajar SMK yang masa depannya sendiri belum jelas.
"Udah, Nich. Santai aja."
Miko berusaha menenangkan hati Nicholas. Nicholas pun makan dengan berusaha cuek, terhadap Amaya dan dokter yang ada di hadapannya itu. Namun tak disangka kini Amaya lah yang terusik. Ia baru saja hendak menyapa Nicholas, ketika akhirnya pemuda itu bersikap dingin dan seolah tak mengenalnya.
Entah mengapa hati Amaya terpukul. Padahal ia sendiri tak mengenal siapa Nicholas sebenarnya. Pandangannya tak terlepas dari Nicholas, hingga Gerald pun akhirnya menoleh ke arah Nicholas dan teman-temannya.
"Koas Sasi, boleh saya tau anak itu siapa. Kayaknya beberapa hari ini, kalian selalu bersama"
Gerald kembali bertanya. Tak lama kemudian Amaya tersadar dari lamunannya.
"Dokter Gerald, saya harus kembali ke ruangan saya sekarang. Maaf, permisi."
Amaya pergi meninggalkan Gerald tanpa memberikan jawaban atas pertanyaannya. Nicholas melirik sekilas ke arah Amaya, ketika wanita itu akhirnya pergi. Amaya menunggu di ruangan dokter Margaret dengan antusias dan harap-harap cemas. Kebetulan hari itu, ia kembali diperbantukan disana.
Ia membenarkan rambutnya berkali-kali dan menyemprotkan banyak pewangi di ruangan dokter Margaret. Ia mengira siang itu Nicholas akan berobat lagi dan menyambangi ruangan tersebut. Entah mengapa ia jadi begitu salah tingkah. Ia sendiri tidak mengerti.
Satu persatu pasien dipanggil keruangan tersebut. Namun tak ada nama Nicho yang disebutkan. Amaya mulai hopeless, tak lama kemudian perawat berteriak pada pasien di ruang tunggu.
"Nicho."
Amaya bersiap di tempatnya sambil menarik nafas. Ketika pintu dibuka ia begitu antusias. Namun seketika ia seolah jatuh dari ketinggian. Saat Nicho yang dimaksud ternyata bukanlah yang ia harapkan, melainkan seorang mas-mas dengan gaya heboh serta ikat kepala bak Fanta Halilintar.
Amaya kecewa, namun ia tetap membantu dokter Margaret melayani secara profesional. Meski sesungguhnya yang ia harapkan adalah Nicho, yang ia temui di kantin tadi. Bukan Nicho dengan gangguan asiyap seperti ini.
Lagipula, meskipun masih dalam tahap penilaian dan didampingi dokter senior, Amaya tidak boleh membeda-bedakan pasien. Karena tugas seorang dokter adalah melayani siapapun yang membutuhkan pertolongan.
Siang itu Amaya berkeliling, Ia ikut dokter jaga yang memeriksa pasien satu persatu. Tiba di sebuah kamar, ia diperintahkan untuk memeriksa seorang gadis yang tampak sudah lebih sehat dari sebelumnya.
"Sepertinya besok kamu sudah boleh pulang."
Dokter jaga memutuskan, setelah melihat kondisi gadis itu berdasarkan laporan Amaya. Agaknya apa yang diucapkan Amaya memanglah akurat, setelah diperiksa ulang oleh dokter tersebut.
"Bener, dok?" tanya gadis itu dengan mimik wajah senang.
"Iya, yang penting kamu udah nggak ngerasa sakit lagi di bagian kepala kamu."
"Bagus."
Amaya melengkapi catatannya. Karena Koas harus banyak mencatat apapun itu yang berhubungan dengan pasien.
Amaya kemudian beranjak keluar dari ruangan itu, namun di pintu masuk ia berpapasan dengan Nicholas. Amaya terkejut, namun Nicholas tidak. Ia sudah merasakan getaran sejak jauh di koridor tadi. Dan ia tau pasti, hatinya bergetar karena ada Amaya di sekitarnya.
Pemuda itu menatapnya tanpa bereaksi apa-apa. Melihat sikapnya itu, lagi-lagi entah mengapa hati Amaya seperti dipukul benda keras. Sakit, namun tak berdarah, hanya perasaan lumpuh layu dan tak berdaya. Pemuda itu masuk dan langsung disambut hangat oleh si gadis.
"Karlita."
"Nich."
Karlita memeluk Nicholas. Dari tempatnya berdiri Amaya menyaksikan kejadian itu. Dan entah mengapa tiba-tiba hatinya merasakan cemburu yang aneh. Berkali-kali ia berusaha menetralkan perasaannya. Namun logikanya seolah hilang, hanya perasaannya saja yang berbicara.
Ia tak suka melihat adegan tersebut, tidak sama sekali. Ia mengira Karlita adalah pacar Nicholas. Itulah sebab mengapa pemuda itu pura-pura tidak mengenalnya. Mungkin Nicholas takut si gadis akan cemburu, bila Nicholas bersikap ramah pada Amaya. Amaya pun lalu pergi meninggalkan ruangan itu, dengan hati yang remuk redam.
Ia melangkah di sepanjang koridor dengan tatapan kosong yang lurus kedepan. Baru kali ini ia merasakan yang namanya patah hati, sebelum ia menyadari apakah ia pernah jatuh cinta atau tidak.
"Serius lo, Sas?"
Miranti bertanya pada Amaya di telpon. Ketika akhirnya Amaya bercerita soal perasaannya yang sakit. Ketika melihat Nicholas yang ia kenal sebagai Nicho, memeluk gadis pasien itu tadi siang.
"Iya gue serius, Mir. Mungkin itu ceweknya. Tapi gue nggak ngerti kenapa. Sejak awal gue ketemu anak itu, ada perasaan aneh di hati gue. Sampai tadi, gue bener-bener makin nggak ngerti. Hati gue tiba-tiba sakit banget ngeliat dia sama pasien itu pelukan."
"Dia ke elo gimana?" tanya Miranti penasaran.
"Ya dia sih cuek aja waktu papasan sama gue di pintu. Kayak nggak kenal tau nggak. Anak itu, aneh. Kadang bersikap seolah-olah kenal sama gue, kadang juga cuek dan seolah nggak pernah ketemu sebelumnya. Gue kan jadi bingung ya, sebenernya dia mau apa sama gue."
"Wah jangan-jangan lo beneran jatuh cinta nih sama bocah ingusan. Kayak di FTV-FTV . Hahaha."
Suara Miranti sukses membuat Amaya sewot.
"Mir, jangan gitu deh. Apa kata orang kalau gue jatuh cinta sama bocah."
"Lah daripada jatuh cinta sama anggota gadungan, mending sama bocah yang mobilnya keren kan?. Udah gitu ganteng lagi, tinggi, atletis. Kurang apa coba?"
"Iya ya, bener juga. Apes dong, ya?. Kalau sama anggota gadungan, Hahaha." Amaya membenarkan lalu tertawa.
"Iyalah apes, udah foto prewed pake seragam ternyata eh ternyata abang anggota gadungan. Kayak kasus salah satu rekan tercinta kita." ujar Miranti lagi.
"Iya ya, hahaha. Gila pangkat sih. Eh, kita gosip nggak sih?"
"Lo kan Mak Lambe Murah."
"Lo, neneknya Lambe murah."
“Girl suport girl ya sis."
“Heleh, dia aja sering kan gosipin lo sama gue. Jelek-jelekin lo sama gue di depan rekan lain. Masih untung kita gosipin dia cuma antara kita berdua."
"Hahahaha, by the way rencana lo apa nih kedepannya?" tanya Miranti lagi.
"Rencana apaan?" Amaya heran dan tak mengerti.
"Ya anak itu mau lo apain?. Mau rencana lo deketin apa gimana?"
"Ah gila lo Mir, masa gue ngedeketin bocah."
"Hati lo bergetar nggak kalau liat dia?"
Tiba-tiba Miranti mengeluarkan pertanyaan yang sukses membuat Amaya terdiam seketika. Yang dikatakan wanita itu benar adanya. Ketika ia melihat atau berada di dekat Nicholas, maka hatinya akan serta-merta bergetar. Bahkan dalam keadaan jauh pun, ketika ia teringat pada pemuda itu, maka akan muncul perasaan gembira yang amat sangat di hatinya. Bahkan sampai bisa membuat ia senyum-senyum sendiri.
"Sas." Suara Miranti membuyarkan lamunan Amaya.
"Eh, oh iya, Mir."
"Lo mikirin dia ya.?" Miranti meledek Amaya. Wanita itu tersipu malu.
"Koq lo tau sih?"
"Ya tau lah, hahaha. Fix itu mah, lo jatuh cinta berarti."
"Ih apaan sih, Mir."
"Udah Sas, ngaku aja. Hati lo bergetar kan?"
"Hahaha, iya sih. Tapi gue mesti gimana?. Masa iya gue pacaran sama bocah. Dan cewek yang tadi itu, kalau pacarnya gimana?"
"Jangan kasih kendor lah, kalo emang lo mau. Lagian lo setingkat lebih tinggi dari tuh cewek. Lo dokter muda, cakep lagi. Masa kalah saing sama anak sekolah."
"Hahaha, ngaco lo ah. Makin lama makin jadi."
"Sas, itu anak gede loh."
"Apanya?"
Miranti memberikan sebuah pernyataan yang ambigu. Membuat otak Amaya langsung tersambung. Namun tetap pura-pura tidak tau dan bertanya.
"Anunya."
"Apanya?. Ngeres lo ah."
"Ye, badannya gue bilang. Ketahuan kan lo mikirnya jorok."
"Apaan sih Miranti?"
"Hahaha, udah ah, gue mau mandi." Miranti meminta izin
"Ya udah, mandi sana yang bersih. Sampe terkelupas semuanya."
"Hahahaha sa ae, kulit salak."
Amaya menyudahi telponnya. Kali ini ia menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Pikirannya kembali melayang pada Nicholas. Mengingat peristiwa yang terjadi pada mereka beberapa hari belakangan ini. Ia terus mengingat wajah pemuda itu, ia merasa seolah mengenalnya. Tapi dimana dan kapan, ia sendiri tidak tau.
Hari-hari pun mulai berlalu, makin lama perasaan yang tumbuh di hati Amaya kian bertambah besar. Meskipun pemuda itu selalu muncul dan pergi sesuka hati seperti hantu. Ya hantu yang kini selalu menghantui benak Amaya.
Muncul di setiap mimpinya, ada di setiap sadarnya. Memberikannya moment-moment yang tak bisa di lupakan dalam sekejap.