I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Curiga



Amaya masuk pagi, dan saat ini dirinya tengah membantu di UGD. Tiba-tiba ia ingin sekali melihat ke suatu arah, dokter muda itu pun menoleh.


"Degh."


Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari balik sebatang pohon. Namun ia buru-buru menepis anggapan tersebut.


"Gue capek kali." gumamnya kemudian.


Amaya pun berlalu. Sedang dari balik sebatang pohon yang ia curigai, seseorang tengah berdiri mematung. Dengan nafas yang cukup memburu.


Ya, dia adalah Dena. Ia sengaja menguntit Amaya dan kini tengah berfikir. Mengatur rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


***


"Degh."


"Degh."


"Degh."


Setiap kali melewati ruangan tempat dimana Nicholas dirawat. Setiap itu pula, hati Amaya seakan berdetak memberi firasat.


Ia sendiri bingung, mengapa ia ingin sekali membuka pintu kamar tersebut dan melihat siapa yang tengah terbaring di dalamnya. Namun ia menahan diri, mengingat dirinya hanyalah dokter muda atau koas yang tidak memiliki wewenang di rumah sakit tersebut.


Apalagi asal masuk ke kamar pasien bukanlah hal yang sopan untuk dilakukan. Terlebih jika kita adalah seseorang yang tidak memiliki urusan sama sekali, dengan pasien tersebut.


Namun gemuruh hatinya setiap kali melintas, membuat ia terkadang tidak tahan. Ada suatu kali ia benar-benar sudah di kuasai rasa penasaran.


Maka ia pun mendekat dan hendak memegang gagang pintu, tempat dimana Nicholas dirawat. Namun kemudian ia dikejutkan dengan kehadiran dokter serta beberapa perawat yang tengah bertugas memeriksa pasien. Akhirnya niat Amaya pun urung dilakukan.


***


"Nich, lo baik-baik aja kan sekarang?"


Dena menyempatkan diri menjenguk Nicholas, kebetulan sedang tak ada siapa-siapa siang itu. Teman-teman Nichola belum ada yang datang.


Mereka telah mengkonfirmasi pada Nicholas melalui pesan WhatsApp. Jika mereka akan datang agak telat, karena masih harus mengerjakan banyak hal.


Nicholas sendiri sejatinya tak masalah, toh ia juga tak selalu harus ditemani. Ia sudah bisa beraktivitas meski di jarak dekat. Seperti pergi ke toilet sendiri, makan atau mengerjakan tugas sekolahnya.


"Gue baik Den." ujar Nicholas.


"Makasih udah nyempetin kesini." lanjutnya lagi.


"Tadi gue kebetulan lewat." ujar Dena.


"Lo sendiri baik juga kan?" Nicholas mempertanyakan kondisi gadis itu.


"Gue..."


Dena menarik nafas.


"Gue baik-baik aja koq." ujarnya sambil memaksakan sebuah senyuman.


Nicholas paham jika kondisi gadis itu tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, meski Dena berusaha keras menutupi. Namun ia tak mau mengorek lebih dalam, karena takut Dena akan kepikiran.


"Syukur deh kalau lo baik-baik aja." ujar Nicholas.


Dena masih memaksakan sebuah senyuman. Mereka lanjut berbincang, hingga beberapa saat ke depan.


***


"Miko."


Raline tergopoh-gopoh menghampiri Miko yang baru saja keluar dari sebuah minimarket. Miko telah menyelesaikan urusannya siang itu dan kini hendak menuju ke rumah sakit.


"Raline, dari mana lo?" tanya Miko pada gadis itu.


"Dari beli kue sama buah, Raline mau ke ayank Nicho."


"Ya udah bareng aja, gue juga mau kesana."


"Apa?. Gue nggak akan godain atau ngeledekin lo koq, tenang aja gue lagi serius hari ini."


Raline tersenyum.


"Ok deh, Raline ikut." ujarnya kemudian.


Mereka pun lalu masuk ke dalam mobil Miko. Mereka tiba di parkiran rumah sakit, berbarengan dengan Jason, dan juga Kevin. Sedang Dirly mengatakan jika ia tak bisa menjenguk hari ini. Lantaran harus menemani ibunya ke acara keluarga.


"Hallo my honey Raline."


Jason menggoda Raline, Kevin pun ikut-ikutan mendekat.


"Ih Miko, temen kamu nih. Raline lagi nggak mau di godain, Raline mau biasa aja."


"Jas, Pin. Jangan macem-macem." ancam Miko.


"Ayank Raline kenapa sih?" tanya Kevin sambil melambaikan tangannya. Sejatinya mereka bukan ingin menyentuh ataupun kurang ajar pada Raline. Mereka hanya suka meledek cara Raline berbicara. Dan lagipula Raline itu cantik, serta gampang sewot seperti anak kecil. Makanya mereka suka menggoda gadis itu.


"Miko, Mpin nih." rengek Raline setengah memangih.


"Pin, gue lagi nggak mau di omelin Rebecca. Ntar Raline pasti ngadu ke dia, kalau kita ngeledekin Raline terus."


"Iya, iya." ujar Kevin kemudian.


Tak lama mereka pun berjalan masuk ke lobi rumah sakit, dengan sikap waspada tentunya. Mereka tak ingin ketahuan oleh Amaya. Maka mereka pun berjalan berdua-duaan. Raline dan Miko terlebih dahulu, diikuti oleh Jason dan juga Kevin.


Mereka menyelinap sebisa mungkin, dengan mata yang begitu awas. Layaknya peserta squid game yang takut dilihat oleh si boneka penjaga.


Raline dan Miko tiba di muka ruang rawat Nicholas terlebih dahulu. Pada saat yang bersamaan Dena selesai menjenguk dan keluar dari dalam ruangan tersebut. Mereka bertemu muka, Jason dan Kevin di kejauhan juga melihat sosok Dena.


Raline sendiri baru saja hendak sinis dan mencak-mencak kepada Dena. Namun gadis itu terlanjur melengos dan tak menggubris Raline maupun Miko.


"Gaya banget sih, si ular." gerutu Raline.


Miko mengajak Raline untuk segera masuk, sebelum Amaya melintas dan mencurigai mereka semua. Tak lama kemudian, Jason dan Kevin pun menyusul.


"Ayank Nicho, itu tadi ngapain si Dena di biarin masuk kesini?" Raline bertanya dengan nada yang lebih mirip orang marah.


"Namanya juga orang datang, Raline. Masa kita usir."


"Ya nggak apa-apa, usir aja. Orang dia ular ini, nggak apa-apa di basmi."


Raline makin sewot, sementara Nicholas kini tertawa.


"Orang dateng kalau dia nggak bikin keributan ya, kita juga bingung mau ngusirnya gimana." ujar Nicholas lagi.


"Pokoknya Raline sebel sama dia."


Lagi-lagi Nicholas tersenyum, bahkan kini ia tertawa. Raline merupakan sumber penghiburan bagi semua orang yang dikenalnya. Betapa tidak, tingkahnya yang apa adanya tersebut kadang terlihat begitu menggemaskan dan lucu di mata orang lain.


Mereka semua pun lanjut berbincang. Ada banyak hal yang ditanyakan oleh Nicholas, terutama masalah sekolah. Kebetulan Miko pun telah menyalin tugas yang harus Nicholas kerjakan untuk mengejar ketertinggalan.


"Ayank, Raline kan bawa kue nih. Ayank sambil makan ya, Raline suapin."


"Ntar aja Raline." ujar Nicholas masih fokus pada tugasnya.


"Ih nggak mau, pokoknya makan."


"Ayank Mpin aja, Raline. Aaaaa'k." Kevin membuka mulutnya.


"Ih Mpin ambil aja sendiri dan makan sendiri, jangan ribet deh." Raline kembali sewot dan semua yang ada di ruangan tersebut pun kini tertawa.


Waktu berlalu, mereka telah larut di berbagai perbincangan. Sampai kemudian mereka semua harus pamit.


Miko, Raline, Jason dan Kevin mendekat ke arah pintu. Sesaat setelah mereka bergantian memeluk Nicholas dan menyatakan harapan mereka agar pemuda itu lekas sembuh.


"Braaak."


Pintu dibuka oleh Miko, namun kemudian waktu terhenti. Tatkala ia dan yang lainnya, menatap sosok Amaya berdiri persis dihadapan mereka.