I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
The Secret



"Kamu tinggal disini dulu."


Nicholas berujar pada Amaya, ketika mereka telah sampai pada sebuah penthouse yang tak jauh dari rumah sakit.


"Tapi, Nich. Tempat ini punya siapa?" tanya Amaya seraya memperhatikan sekitar.


"Ini punya om ku, adik dari papa. Dia dan keluarganya sedang tugas ke luar negri. Dia bilang, kamu boleh pake sampai situasi sudah kondusif." ujar Nicholas menjelaskan.


"Tapi aku nggak enak, Nich. Aku juga nggak kenal mereka. Sampe kapan aku harus disini?"


"Tunggu sampe rumah papaku, yang ada disebelah rumah kamu itu selesai direnovasi. Biar aku bisa tinggal disitu dan bisa melindungi kamu. Karena kita nggak mungkin tinggal berdua dalam satu rumah kan?. Aku nggak mungkin tinggal dirumah kamu. Kita nggak sedang berada diluar negri, dimana semuanya serba bebas."


Amaya terdiam. Jujur, rasa tak enaknya bukan hanya perihal penthouse ini. Tapi ia merasa telah menyusahkan Nicholas terlalu banyak, padahal mereka baru saja kenal.


"Semua bahan makanan ada disini."


Nicholas membuka kulkas besar yang ada di dekat kitchen set, ketika mereka akhirnya mereka berjalan ke dapur.


"Tapi kalau kamu males masak sendiri, kamu bisa pesen dibawah. Aku ada deposit disitu dan kamu nggak usah bayar. Pesannya bisa langsung dari telpon ini." ujarnya menunjuk sebuah telpon yang telah terhubung otomatis ke bagian bawah penthouse.


"Kamu boleh pake kamar mana aja yang kamu mau." Amaya menatap Nicholas.


"Aku pulang dulu, ada banyak hal yang mesti aku urus." ujar Nicholas kemudian. Ia pun lalu berbalik.


"Nich, apa polisi bisa bantu aku?" ujar Amaya dengan nada lirih. Seketika Nicholas pun menoleh padanya.


"Percaya aja sama mereka, mereka pasti bisa melakukan tugasnya dengan baik. Yang penting, kita udah melapor."


Amaya menunduk. Nicholas menepuk bahu wanita itu dan kembali berbalik ke arah pintu lift.


"Nicho."


Lagi-lagi Amaya menghentikan langkahnya. Nicholas kembali ke arah Amaya yang masih tertunduk dan terpaku. Seketika Nicholas pun mendekat lalu memeluk wanita itu.


"It's ok. Semua akan baik-baik aja."


Amaya menangis di pelukan Nicholas, terasa banyak sekali beban yang menyesaki relung hatinya. Jujur, Nicholas tak ingin pulang rasanya. Ia ingin berada ditempat itu dan menemani Amaya, sebanyak yang ia mau.


Namun bajunya sudah kotor semua dan terkena noda darah pasca perkelahian tadi. Jadi mau tidak mau, ia harus pulang. Dan lagi banyak urusannya yang belum selesai. Dengan berat hati, Nicholas pun meninggalkan tempat itu.


Nicholas melangkah perlahan keluar dari penthouse. Sekujur tubuhnya masih terasa sakit, pasca perkelahian tadi. Ia menerima pukulan hampir di semua bagian tubuhnya. Bahkan untuk batuk, pun. Ia merasakan sakit yang amat sangat pada diafragmanya.


Nicholas menuju ke halaman parkir, namun tiba-tiba ada sesuatu yang terasa menyesaki rongga dadanya. Nicholas batuk, dan tiba-tiba saja ia mengeluarkan darah dari mulut. Ia pun terkejut, lalu menghapus darah itu dengan tangannya. Namun perlahan penglihatannya mulai kabur dan lama kelamaan kesadarannya pun hilang.


"Buuuk."


Nicholas terjatuh tepat didepan mobilnya.


Sementara di penthouse,


"Praaaaank."


Sebuah gelas terjatuh oleh Amaya, bertepatan dengan jatuhnya Nicholas di halaman parkir depan. Hati Amaya bergemuruh, jantungnya berdegup kencang. Seperti sesuatu telah terjadi, namun ia tak tahu apa dan dimana.


"Nich."


Karlita berteriak dari suatu arah dan langsung berlarian menghampiri Nicholas yang sudah tergeletak. Gadis itu baru saja mengantar kue titipan ibunya pada sebuah toko di seberang penthouse tersebut. Kemudian ia melihat Nicholas dari kejauhan.


"Nich, Nicholas." Karlita mengguncang-guncang tubuh Nicholas, mencoba menyadarkan pemuda itu.


"Nich."


"Nich, bangun Nich."


Namun Nicholas tak bergeming sedikitpun. Karlita melihat darah terus mengalir dari sudut bibir Nicholas. Karena didera rasa panik, ia pun mengambil kunci mobil Nicholas lalu membawa tubuh Nicholas dengan susah payah kedalam mobil. Kebetulan di sekitar penthouse itu sangat sepi. Hanya ada security namun jauh didalam lobi.


Karlita lalu mengemudikan mobil Nicholas dan melarikannya ke instalasi gawat darurat, pada rumah sakit yang ia dulu sempat dirawat disana.


Sesampainya di instalasi gawat darurat, tubuh Nicholas langsung disambut oleh perawat yang tiada lain adalah suster Lani. Suster Lani panik ketika melihat Nicholas yang sudah tak sadarkan diri. Perawat itu lalu meminta penjelasan pada Karlita dan Karlita menjelaskan dengan sejujur-jujurnya. Bahwa ia melihat Nicholas terjatuh dari kejauhan, kemudian menghampirinya.


Tak lama kemudian, dokter pun datang. Dokter tersebut didampingi koas Miranti yang juga tengah bertugas di bagian itu.


Kantor kedutaan besar republik Indonesia di Korea Selatan.


"Pa, Nicho belum juga telpon?." Ibu Nicholas bertanya pada suaminya yang tengah sibuk bekerja.


"Belum, ma. Kabar terakhir ya tadi, waktu mereka selesai berkelahi dengan komplotan ayah Diana. Tapi tadi Nicho bilang, mereka sudah diamankan dan hendak menuju kantor polisi." jawab ayah Nicholas kemudian.


"Mama jadi khawatir sama mereka berdua, pa. Mana keluarga kita jauh-jauh semua. Mostly tugas diluar negeri semua."


"Kita berdoa ajalah, ma. Lagipula Nicholas itu bukan anak yang lemah kalau soal menghadapi orang. Dia bisa melindungi dirinya sendiri dan juga Amaya."


Ibunya menghela nafas, lalu melanjutkan pekerjaan. Meski hatinya masih diliputi kecemasan.


Disebuah rumah besar yang halamannya begitu luas. Bahkan untuk mencapai rumah yang ada didalamnya, mesti menaiki kendaraan. Karena saking jauhnya rumah itu dari pintu pagar depan.


Di halaman rumah tersebut terdapat begitu banyak pepohonan. Sehingga kalau orang tidak mengetahui, itu akan tampak seperti sebuah perkebunan milik keluarga yang didalamnya hanya terdapat tumbuhan saja.


Di dalam rumah tersebut, seorang pria yang tak lain adalah ayah Diana tampak tengah mereguk minuman keras dari sebuah botol. Isinya sudah hampir habis, karena ia mulai meminumnya sejak beberapa saat yang lalu.


Disekitarnya ada beberapa orang yang tadi berkelahi dengan Nicholas. Mereka tengah mengobati diri dengan dibantu beberapa perempuan.


"Bocah, brengsek itu." ujar ayah Diana dengan penuh dendam.


"Kita harus melenyapkan dia terlebih dahulu, supaya bisa menghabisi si perempuan." ujarnya penuh kebencian. Ia lalu mereguk kembali minumannya sampai habis.


Dirumah Sakit.


Karlita mondar-mandir di depan ruang instalasi gawat darurat. Sudah lebih dari satu jam, namun dokter belum juga keluar dan memberi kabar. Tak lama kemudian teman-teman Nicholas yakni Miko, Dirly, Jason dan Kevin pun tiba sambil berlarian. Beberapa saat yang lalu, mereka menerima kabar tentang Nicholas lewat pesan singkat yang dikirim Karlita.


"Kar, Nich gimana?" tanya Miko dengan wajah panik. Yang lain pun tak kalah paniknya.


"Belum tau, Mik. Dokter aja belum keluar dari tadi." Karlita terlihat resah. Tak lama kemudian seorang dokter pun menghampiri.


"Dok, teman kami gimana?"


"Iya dok, Nicho gimana?"


"Gimana?"


"Gimana?"


Mereka berebut bertanya dan berharap duluan dijawab.


"Sabar, tenang." dokter tersebut berujar. Karlita, Miko dan yang lainnya akhirnya diam memperhatikan.


"Teman kalian, tampaknya habis berkelahi hebat dengan seseorang ataupun kelompok."


"Berkelahi?"


Miko, Dirly, Jason dan Kevin saling pandang. Mereka bahkan tak mengetahui soal itu. Biasanya jika ada apa-apa, Nicholas selalu berbicara pada mereka semua dan mereka bergerak bersama.


"Iya, ada banyak bekas pukulan disekujur tubuhnya dan dia...."


Dokter tersebut menghela nafas, seperti ada sesuatu yang berat untuk ia bicarakan. Sementara Miko, Dirly, Jason, Kevin dan Karlita menanti kelanjutan kata-katanya.


"Apa dok?" tanya Karlita penasaran.


"Dia mengalami luka dalam."


"Oh God."


Kevin berucap sambil mengusap wajah dan kepalanya. Kini mereka semua didera rasa panik yang teramat sangat.


"Apa itu, parah dok?" tanya Dirly kemudian.


"Cukup parah, tapi tidak sampai harus di operasi."


"Hhhhhh."


Mereka semua kompak menghela nafas. Ada sedikit kelegaan yang kini menyelimuti hati mereka. Meskipun rasa khawatir yang mereka miliki tetap saja besar.


"Tapi pasien harus istirahat total, dia tidak boleh bergerak dulu selama satu atau dua minggu ini. Dia harus benar-benar bedrest." dokter tersebut kembali berujar.


"Terima kasih ya, dok." ujar mereka semua di waktu yang nyaris bersamaan.


Dokter tersebut pun lalu meninggalkan tempat itu. Sementara didalam ruangan, Nicholas mulai sadar dan menyadari jika tubuhnya telah berada dirumah sakit. Dan yang membuatnya lebih kaget lagi adalah, ketika ia menyadari jika Miranti ada didekatnya.


"Mir." ujarnya lirih namun terlihat panik.


"Iya, Nich. Aku disini." ujar Miranti sambil menatap Nicholas.


"Apa Sasi tau?" tanya Nicholas lagi. Miranti kemudian memperhatikan pemuda itu lebih dalam.


"Jadi, Sasi nggak tau kamu disini?" tanya Miranti tak percaya. Nicholas menggeleng lemah.


"Aku kasih tau sekarang, ya." ujarnya lagi. Ia lalu mengambil handphone dari dalam saku, namun Nicholas mencekal lengannya.


Miranti kembali menatap Nicholas, pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh harap.


"Kenapa, Nich?. Sasi harus tau hal ini." ujar Miranti lagi.


Nicholas lalu menjelaskan, jika ia tadi berkelahi untuk melindungi Amaya dari si peneror yang selama ini mengganggunya. Ia takut jika Amaya tahu dirinya celaka, Amaya tak akan lagi mau dilindungi oleh Nicholas. Sementara Nicholas tak akan membiarkan Amaya sendirian. Siapa lagi yang akan melindungi wanita itu kecuali dirinya. Meski berat, Miranti pun akhirnya mengerti. Namun kemudian, Miranti teringat akan sesuatu.


"Suster Lani." ujarnya kemudian.


"Suster Lani kenapa?" tanya Nicholas bingung.


"Dia juga tau kamu disini. Aku takut dia yang bilang sama Sasi."


Seketika Miranti pun berlari meninggalkan ruangan tersebut dan mencari dimana suster Lani berada. Tak sulit menemukan perawat itu. Miranti pun lalu menghampiri dan bertanya, apakah perawat itu telah memberitahu Amaya atau belum.


Ternyata suster Lani belum memberitahukan hal ini pada Amaya. Karena ia sendiri mengira jika Amaya sudah tahu. Maka Miranti pun memintanya merahasiakan perihal Nicholas yang dirawat. Ia juga mengungkapkan apa alasannya dan suster Lani tampaknya mengerti.


Miranti kembali ke kamar Nicholas dan mengabarkan semua itu padanya. Nicholas pun bernafas lega. Selang beberapa saat kemudian, teman-temannya diperbolehkan masuk.


"Nich, lo kenapa sih?. Ribut sama siapa?" Miko langsung memberondongnya dengan pertanyaan, ketika mereka semua diminta untuk masuk. Nicholas pun menjelaskannya secara rinci.


Sementara Karlita hanya menyimak. Ia bahkan tidak mengetahui, siapa sosok Amaya yang tengah dibicarakan oleh temannya tersebut. Apakah benar, Amaya adalah wanita yang sempat ia lihat mengunjungi Nicholas disekolah waktu itu. Atau juga orang lain.


"Nich, udah. Lo bilang aja ke Amaya, lo itu temennya dia. Kenapa sih lo batu banget." ujar Kevin kesal. Ia khawatir dengan keadaan Nicholas.


"Pin, belum saatnya gue ngomong. Lagipula hal yang lebih penting itu adalah gue bisa melindungi dia dari ayah Diana."


"Paling nggak dia merasa aman dan mau dengerin lo, Nich. Kalau dia tau lo itu temen masa kecilnya."


"Gue justru takut kalau gue jujur. Dia nggak akan mau melibatkan gue lagi, Pin. Karena nggak mungkin Amaya akan membahayakan temennya sendiri, terlebih itu gue."


Kevin menghela nafas, ia lalu menghentikan perdebatan tersebut. Lagipula kondisi Nicholas saat ini masih lemah. Nicholas pun meminta teman-temannya untuk tidak berbicara pada Amaya, jika ia tengah terbaring dirumah sakit ini.


Ia meminta tolong pada teman-temannya untuk mengawasi Amaya, sampai saat masa istirahatnya berakhir. Teman-teman Nicholas pun siap membantu. Mereka meyakinkan Nicholas bahwa ia tak perlu khawatir soal Amaya. Nicholas pun sangat berterima kasih pada mereka semua.


Semalam suntuk, Amaya tak menerima kabar dari Nicholas. Pemuda itu bak hilang ditelan bumi. Ia juga tak mengangkat telpon maupun membalas pesan yang dikirimkan Amaya.


Amaya sendiri tidak tau jika pemuda itu kini tengah terbaring dibawah pengaruh obat. Dokter menyarankan ia untuk istirahat total guna memperbaiki jaringan-jaringan ditubuhnya, yang mengalami kerusakan maupun pembengkakan.


"Kamu kemana sih, Nich?" ujar Amaya dalam hati. Ia masih mencoba menghubungi pemuda itu via telpon. Entah mengapa, muncul kekhawatiran dihatinya.


Ia khawatir kalau-kalau ayah Diana menemui dan mencelakai Nicholas. Meskipun ia tahu jika Nicholas tinggal di sebuah apartemen. Namun bisa saja kejadian buruk menimpanya ketika dalam perjalanan pulang, atau Nicholas sedang hendak pergi kemana. Amaya benar-benar khawatir saat ini.


Tiba-tiba pintu lift terbuka. Amaya berlarian dan mengira itu adalah Nicholas. Ternyata Miko dan juga seorang gadis yang tidak dikenalnya.


"Kamu temen Nicho kan?" tanya Amaya seraya memperhatikan keduanya.


"Iya, aku Miko dan ini pacarku Rebecca."


Rebecca tersenyum, Amaya pun balas tersenyum.


"Nicholas mana?" tanya Amaya kemudian. Ia melihat ke arah lift, kalau-kalau Nicholas ada belakangan.


"Mmm, dia..." Miko agak ragu.


"Dia sedang ada urusan, kak." Rebecca menyela ucapan Miko yang tertahan.


"Iya." jawab Miko kemudian.


"Oh, pantes. Telpon aku nggak diangkat." ujar Amaya.


"Urusannya penting, kak." ujar Rebecca kemudian, diikuti anggukan Miko.


"Oh gitu, ayo duduk." Amaya mengajak mereka untuk duduk pada sebuah sofa diruang depan.


"Kalian mau minum apa?" tanya Amaya kemudian.


"Mmm nggak usah kak." ujar Miko.


"Ih, tapi aku haus." ujar Rebecca berbisik.


"Ntar aja." ujar Miko sambil melotot.


"Buru-buru banget, mau kemana sih?" tanya Amaya kemudian. Ia lalu berjalan ke arah kulkas yang ada diruang depan. Kebetulan ada orange jus kalengan. Ia lalu memberikannya pada Miko dan juga Rebecca. Rebecca pun sumringah.


"Makasih, kak." ujar Rebecca kemudian.


Ia lalu membuka dan mereguk minuman tersebut.


"Kita kesini, mau nganterin ini kak." Miko menyampaikan maksud dan tujuannya. Ia memberikan sebuah paperbag pada Amaya.


"Apa ini?" tanya Amaya.


"Ini makan malam buat kakak. Nich bilang, dia khawatir kalau kakak lupa makan."


"Loh, kan aku bisa masak atau pesen dibawah."


"Tapi Nich nggak percaya. Katanya dia harus pastiin kakak makan."


Amaya terdiam, tak disangkanya Nicholas akan sebegitu perhatian padanya.


"Ya udah, kita makan sama-sama ya." ujara Amaya kemudian.


"Mmm, nggak usah kak." ujar Miko.


"Loh, kenapa?" tanya Amaya heran.


"Kita mau makan di luar soalnya, udah janjian tadi." ujar Miko seraya melirik Rebecca.


"Kapan?" tanya Rebecca bingung. Membuat Miko ingin memukul kepala pacarnya itu dengan gas tiga kilo.


"Kan tadi aku bilang." Miko berujar sambil sedikit melototkan matanya.


"Oh iya kak, aku lupa. Tadi udah janjian, hehe." Rebecca menggaruk-garuk kepalanya.


"Oh gitu?"


"Iya kak, kita pamit ya kak." Keduanya tampak terburu-buru. Amaya sendiri tak punya pilihan lain selain mengiyakan.


"Ya udah, kalian hati-hati ya. Dan makasih udah mau nganterin ini repot-repot. Bilang juga ke Nicho, hubungi aku kalau udah siap."


"Iya kak."


Akhirnya kedua remaja itu pun menghilang dibalik lift.


"Kenapa tadi, nggak disana aja dulu." ujar Rebecca ketika mereka telah keluar dari penthouse tersebut.


"Kan lumayan buat bikin insta story." lanjutnya kemudian.


"Jangan kayak orang susah deh, kayak nggak pernah liat rumah mewah aja. Kan kita orang kaya."


"Tapi kan kita nggak punya penthouse."


"Rebecca, kalau tadi kita lama disana. Pasti Amaya akan banyak nanya soal Nicholas. Terus kita mau jawab apa coba?"


"Iya sih, ya udah. Kamu mau ajak aku makan kan?" ujar Rebecca menagih janji.


Sebenarnya tak ada janji apapun, hanya Miko saja yang berdusta didepan Amaya. Namun karena sudah terlanjur, dan ia pun merasa lapar. Maka Miko mengajak Rebecca untuk makan bersama.