I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Sakit



"Gue harus bilang sama Nicholas, dia harus tau cerita yang sebenarnya. Gue udah nggak tahan lagi dengan semua ini."


Dena mematut diri didepan kaca. Ia berbicara dalam hati sambil memandangi matanya sendiri. Tangannya kini terkepal, emosinya memuncak. Ada sesuatu yang harus segera ia beritahu pada Nicholas. Sebuah kenyataan yang tak bisa lagi ditutupi.


Maka pagi itu, disekolah. Matanya berkeliaran kesana-kemari mencari Nicholas. Tetapi sejauh mata memandang, ia tak menemukan pemuda itu. Bahkan setelah ia mencari di setiap sudut. Ia sendiri tak bisa bertanya pada siapapun, pasalnya seisi kelas membencinya. Bahkan siswa-siswi kelas lain pun, kini tak ada lagi yang ramah terhadapnya.


"Nich, dimana?"


Dena mengirim sebuah pesan singkat melalui WhatsApp pada Nicholas, namun tak ada jawaban. Sampai bel tanda masuk dibunyikan pun, Dena masih tak menemukan pemuda itu. Bahkan bangkunya kini kosong. Saat guru bertanya dimana Nicholas, Dirly hanya mendekat dan berbicara pada guru dengan suara perlahan. Sehingga Dena pun tak tahu percakapan apa yang tengah terjadi disana.


"Jangan sampe ada yang tau, kecuali kita dan Rebecca. Perihal Nicholas yang sekarang lagi dirawat."


Dena terkejut, lalu menyelinap di balik tembok. Ketika mendengar Miko bicara dihadapan Dirly, Jason serta Kevin. Saat itu sudah jam istirahat.


"Tapi Karlita juga tau." ujar Kevin seraya menatap Miko.


"Karlita kan temennya Nich. Nggak mungkinlah tuh cewek ember." tukas Jason.


"Iya, takutnya kalau semua pada tahu malah heboh. Amaya kan koas dirumah sakit itu juga. Kalau sampe anak-anak berkunjung kesana dan nggak hati-hati. Bisa-bisa Amaya curiga dan akhirnya tau, kalau Nich ada disana." Miko berbicara panjang lebar.


Dena kembali ke kelas, mengambil tas lalu berjalan ke arah gerbang. Ia mengelabui security, dengan mengatakan jika dirinya sudah meminta izin. Karena harus menjenguk ibunya yang sakit. Security pun mengizinkan.


Dena yang mobilnya sudah ditarik orang tuanya lantaran kasus tempo hari itu pun, pergi menggunakan ojek online. Ia tau rumah sakit yang dimaksud. Karena belakangan ini juga ia mendengar gosip tentang Nicholas dan Amaya yang menjadi koas disebuah rumah sakit.


Dena membeli buah-buahan, sebelum akhirnya ia melangkah masuk dan berjalan di koridor. Ia sudah sempat bertanya pula pada bagian informasi depan, tentang dimana Nicholas kini dirawat.


Dena bersiap masuk, ketika sudah sampai didepan pintu kamar Nicholas. Namun kemudian, ia melihat Karlita. Gadis itu berjalan memasuki ruangan Nicholas. Akhirnya Dena pun mengurungkan niatnya.


***


Amaya pergi agak siang hari itu, karena jadwalnya yang siang agak sedikit digeser. Lantaran ada koas yang tidak bisa masuk hari itu karena sakit. Ia diperbantukan untuk dokter umum yang hari ini kebetulan pasiennya sedang membludak.


Ia tak perlu naik kendaraan, karena penthouse tempat ia bersembunyi kini, sangat dekat dengan rumah sakit. Ia pun berjalan kaki menuju rumah sakit tersebut.


Sambil melangkah, Amaya sesekali melirik ke arah handphone nya. Berharap pagi ini, Nicholas akan menghubungi.


"Braaak."


Tiba-tiba bahu Amaya menabrak seseorang. Ia yang tengah fokus ke handphonenya itupun terkejut, lalu menatap seseorang yang ia tabrak tadi.


"Kamu?"


Amaya memperhatikan. Dialah pemuda tampan yang pernah bertemu dengannya waktu itu. Saat hari dimana Nicholas pergi study tour.


"Hai." ujar pemuda itu ramah.


"Kita ketemu lagi ya." lanjutnya kemudian. Amaya pun tersenyum.


"Kamu mau sekolah?" tanya Amaya.


"Mmm, tadinya sih iya. Tapi aku udah kesiangan. Aku dari nganter ibu-ibu yang ketemu dijalan, katanya kehabisan ongkos. Ya udah aku anterin. Pas mau balik lagi, mobilku mogok didepan sana. Mana udah siang begini."


"Oh gitu, kamu baik juga ya orangnya."


Pemuda itu tersenyum.


"Kamu mau kerumah sakit lagi?" tanya pemuda itu.


"Iya."


"Mau aku antar lagi?" tanya pemuda itu. Amaya tersenyum sambil menggeleng.


"Aaa, coffe?" Pemuda itu kembali bertanya. Kebetulan didekat tempat itu ada kedai kopi, Amaya melirik arloji dan mengiyakan. Karena masih tersisa beberapa saat lagi sebelum masuk.


Pemuda itu lalu membeli 2 cup kopi dan mereka berbincang sejenak. Sebelum Akhirnya berpisah ke jalur masing-masing.


***


"Mir, gue mau bicara sama lo."


Amaya mendekati Miranti yang tengah berjalan, menuju instalasi gawat darurat.


"Mmm, ada apa ya Sas?" tanya Miranti. Wanita itu kini menjadi agak takut menghadapi Amaya. Pasalnya ia tengah menyimpan rahasia soal Nicholas.


"Pasca penyerangan kemaren, Nicho khawatir kalau gue terus tinggal dirumah. Terus dia bawa gue ke penthouse om nya. Tapi abis itu dia ngilang."


"Ngi, ngilang?" tanya Miranti pura-pura kaget.


"Iya, nggak ngilang banget sih. Dia masih nyuruh temennya, sama pacar temennya itu buat nengokin gue dan nganterin gue makan."


"Ya, itu namanya bukan ngilang, Sas."


"Tapi dia nggak bisa dihubungin."


"Ya, ya mungkin, lagi sibuk kali."


Amaya menghela nafas.


"Temennya bilang sih, gitu. Mir."


"Nah ya udah, berarti dia sibuk. Lo jangan mikir yang macem-macem, Sas. Kalau gue liat-liat, dia anaknya baik koq."


Amaya mengangguk.


"Ya udah, gue ke dalam dulu ya." ujar Amaya. Miranti mengangguk lalu tersenyum.


"Koas Miranti, itu si Nich."


Tiba-tiba suster Lani muncul dan mengatakan sesuatu yang membuat Amaya seketika curiga. Miranti sendiri menempelkan jari di mulutnya sambil melotot, suster Lani pun mengerti.


"Itu Nicholas Hoult, bintang kesayangan koas Miranti, bentar lagi main film baru."


Amaya menatap Miranti. Sementara Miranti memasang wajah terkejut sekaligus gembira yang dipaksa.


"Beneran?" tanya Miranti seraya berlarian kearah suster Lani. Mereka pun berjingkat-jingkat, layaknya fans kpop yang tengah semangat membicarakan idolanya. Sangat alay dan membuat Amaya akhirnya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ketika Amaya akhirnya berlalu, wajah suster Lani berubah serius bahkan penuh kepanikan.


"Nicho." ujarnya kemudian.


"Kenapa dia?" tanya Miranti tak kalah cemasnya.


"Dia tiba-tiba kritis. Sekarang sedang ditangani sama dokter Abraham."


"Hah?"


Miranti baru saja hendak menuju ruangan tempat dimana Nicholas dirawat, ketika ia dipanggil oleh salah seorang dokter yang bertugas di instalasi gawat darurat.


"Dek koas Miranti, tolong kesini."


"Suster Lani, tolong liatin Nicho. Saya nggak bisa kesana."


Suster Lani mengangguk, sementara kini Miranti berlarian kearah dokter yang memanggilnya.


Amaya melangkah disepanjang koridor. Ia melihat suster bolak-balik disebuah kamar rawat. Wajahnya begitu serius, seperti tengah ada pasien yang kritis.


"Deegghh."


Hati Amaya bergetar, entah mengapa ingin sekali ia mengintip dari balik pintu. Ia ingin mengetahui, siapa kira-kira pasien yang tengah ditangani tersebut. Perlahan, Amaya pun mendekat.


"Deeghh."


"Deeghh."


Hatinya kian bergemuruh, tubuhnya entah kenapa tiba-tiba jadi gemetar. Seolah energinya tersedot oleh suatu sebab. Ia terus melangkah sampai kemudian,


"Koas Sasi."


Seseorang memanggilnya. Ternyata salah satu perawat yang bertugas hari itu.


"Iya suster Vega."


"Koas Sasi dicari dokter Fadly."


"Oh, iya baik."


Amaya tersenyum lalu mengurungkan niatnya mengintip. Namun entah mengapa hatinya merasakan sebuah keadaan yang tak begitu nyaman. Seperti sesuatu terjadi pada orang terdekatnya. Namun amaya buru-buru menepis semua itu. Ia pun melangkah, menuju keruangan dokter Fadly.


Hari itu, dokter bersusah payah menangani Nicholas. Mencoba segala cara untuk menyelamatkan hidup pemuda itu. Pasalnya, beberapa organ dalamnya mengalami infeksi pasca perkelahian yang terjadi antara dirinya dan kelompok ayah Diana.


Hanya suster Lani yang tau persis keadaan Nicholas, karena sejak tadi ia diperbantukan untuk membawa alat-alat yang dibutuhkan dokter.


Setelah melalui beberapa tahap dan sekian jam perjuangan, akhirnya Nicholas pun dinyatakan telah melewati masa kritisnya. Suster Lani berlarian keruangan tempat Miranti tengah melakukan tugasnya. Ia lalu memberitahu keadaan Nicholas. Sedang Amaya sendiri tiba-tiba saja hatinya yang tegang, menjadi lega dengan sendirinya.


Nicholas membuka mata, dan ia mendapati Miko, Dirly serta Jason dan Kevin ada didekatnya.


"Nich." Kevin mendekati Nicholas dengan mata sembab, seperti habis menangis.


"Lo kenapa, Pin?" tanya Nicholas dengan suara lemah. Kevin yang cengeng itupun, makin menangis tersedu. Nicholas kian bingung.


"Lo kritis, Nich." ujar Miko kemudian.


"Kritis?" tanya Nicholas. Miko mengangguk dan menahan air matanya.


"Pas kita lagi di sekolah, ada chat dari suster Lani. Katanya disuruh koas Miranti, buat ngasih tau kita." ujar Jason.


"Karlita mana?"


"Dia tadi harus pulang, dia udah jagain Lo semaleman. Dia nggak tau kalau lo kritis."


"Oh ya Nich, gue tadi ngangkat telpon lo." ujar Dirly.


"Soalnya Amaya ngehubungin nomor lo terus." lanjutnya kemudian.


"Terus lo bilang apa?" tanya Nicholas.


"Gue bilang, hp lo tinggal, nanti gue balikin."


"Mending sekarang lo chat dia dulu deh, Nich." ujar Kevin. Sebelum dia curiga dan nyari tau sendiri.


Nicholas mengangguk, ia meraih handphonenya lalu mengetik sebuah pesan untuk Amaya. Tak lama Amaya pun menelpon.


"Nich, kamu dimana. Aku khawatir."


"Maaf ya, aku sibuk banget. Bukan nggak mau ngabarin."


"Iya nggak apa-apa. Kalau kayak gini kan aku lega. Tadi aku lewat didepan sebuah ruangan rawat. Nggak tau kenapa, hati aku bilang itu kamu. Aku mau liat tapi nggak sempat. Kamu nggak apa-apa kan, Nich."


Nicholas sedikit terdiam mendengar penjelasan Amaya barusan. Tak disangkanya tadi Amaya begitu dekat dengannya.


"Nggak, itu bukan aku koq. Aku baik-baik aja. Aku ada di apartment sekarang."


"Koq suara kamu lesu banget."


"Iya, karena abis ngerjain tugas, bikin video YouTube bareng YouTuber lain. Capek jadinya." Nicholas memberi alasan. Namun agaknya Amaya percaya dengan apa yang ia ucapkan.


"Ya udah, kamu istirahat dulu ya. Jangan lupa makan."


"Kamu juga dan tetap hati-hati, dimana pun."


Amaya tersenyum, lalu mengangguk.


"Iya, jawabnya kemudian."


"Pin, lo masih nangis?" Nicholas memberikan tissue pada Kevin yang duduk disisinya. sesaat setelah ia menutup sambungan telpon dengan Amaya.


"Lo kan tau, Nich. Mpin over thinking." ujar Jason.


"Alah Jas, tadi juga lo cemas udah kayak dikejer debt collector pinjol." ujar Kevin sewot.


Nicholas lalu mengelus rambut dan kepala Kevin seperti adiknya sendiri.


"Awas lu, Nich. Kalau lo mati, gue nggak terima. Gue akan marah sama lo selama-lamanya."


"Sorry, Pin. Sorry ya gaes, gue bener-bener nggak tau kalau gue kritis. Terakhir yang gue inget, gue mau tidur, ada Karlita disamping gue. Udah."


"Yang penting sekarang, lo udah nggak apa-apa, bro." ujar Miko diikuti senyuman Dirly dan Jason.


"Jadi lo pada bolos nih, sekolah?" tanya Nicholas.


"Bolos lah, orang panik." ujar Kevin.


"Ya udah. Sebagai permintaan maaf, gue traktir ya, mau makan apa?" tanya Nicholas.


"Nggak usah, Nich. Ntar gue yang pesen." ujar Miko.


"Pake duit, Mpin." lanjutnya kemudian. Mereka semua memperhatikan Kevin sambil tersenyum.


"Iye, ntar gue yang bayarin." ujarnya masih menghapus air mata.


Siang itu, saat semua siswa baru saja bubaran. Karlita pergi ke sekolah untuk mengambil beberapa buku yang ia letakkan di loker. Ia masih mengenakan pakaian kemarin, karena belum sempat berganti. Ia pulang sejenak lalu membantu mengantarkan kue-kue buatan ibunya. Toh dia juga tak sekolah hari ini dan sudah meminta izin, makanya ia bantu saja pekerjaan ibunya.


Tapi siang ini, dia sengaja mengambil buku untuk belajar dirumah. Namun ketika ia berjalan ke arah gerbang, tangannya dicekal dan dicengkeram oleh Dena begitu kuat. Hingga menyebabkan bukunya terjatuh.


"Lo tuh uler brengsek, tau nggak." Dena menjambak Karlita dan mendorong tubuhnya.


"Eh apa-apaan nih?" Tiba-tiba Rebecca, Raline dan kedua teman Raline muncul. Mereka langsung mendekati Karlita yang dianiaya oleh Dena.


"Apaan lagi sih, lo?. Kurang puas, lo nyiksa dia?"


Rebecca terlihat sangat marah, sementara Raline mengamankan Karlita.


"Lo nggak usah ikut campur, Rebecca."


"Gimana gue nggak ikut campur, lo aja nggak jelas gitu. Tiba-tiba jambak anak orang."


"Apa lo bilang?. Anak orang?. Dia itu anak iblis tau nggak."


"Kamu yang anak iblis." Tiba-tiba Raline nyeletuk dan melawan Dena.


"Cuma gara-gara masalah Nicholas aja, kamu sampe segitunya sama Karlita."


"Lo juga diem, princess cengeng. Gue nggak ada urusan juga sama lo."


"Plaaaak."


Secara serta merta, Dena menampar wajah Karlita. Raline dan kedua temannya terkejut, Rebecca naik pitam. Ia menjambak Dena dan terjadilah perkelahian sengit siang itu. Beberapa siswa yang menyaksikan sempat merekam kejadian tersebut hingga sampailah ke handphone Jason.


"Mik, Mik, Mik, cewek lo, Mik. Berantem sama Dena." Jason memperlihatkan rekaman tersebut.


"Ini siapa yang ngirim?"


"Adhisty, anak kelas sebelah."


"Ya udah, gue telpon dulu."


"Nih, nih pake handphone gue." Jason memberikan handphonenya pada Miko. Miko lalu keluar dan menelpon Adhisty. Ia menanyakan apakah pertengkaran tersebut masih berlanjut. Adisthy bilang mereka sudah di relai, Miko akhirnya bernafas lega.


Amaya keluar dari ruangannya untuk makan siang. Namun kemudian, matanya tertuju pada Miko yang tengah menelpon.


"Ok, ok. Thanks ya." ujar Miko mematikan sambungan telpon.


"Miko."


Tiba-tiba Amaya sudah berada di muka Miko. Pemuda itu kaget dan tak bisa menghindar lagi.


"Ko, koas Sasi?" ujarnya gelagapan.


"Kamu ngapain disini?" tanya Amaya.


"Hmm, aku." Miko berfikir keras. Namun kemudian ia menemukan jawaban.


"Aku disuruh Nicho, buat mastiin, mmm, kamu baik-baik aja." ujarnya lalu tersenyum. Hati Amaya meleleh. Tak disangka Nicho sampai sebegitu perhatiannya.


"Bilang sama dia, aku nggak perlu diawasi. terus. Bukan nggak terima kasih, tapi kasihan kamu dan teman-temannya Nicho yang lain. Masa di tugasin ngawasin aku melulu."


Amaya tersenyum.


"Nggak apa-apa sih, kak. Kebetulan tadi mama minta aku cari tau jadwal praktek dokter anak, langganan adek aku yang bayi."


"Oh ya udah, udah makan siang?"


"Mmm."


"Ya udah, yuk." Tiba-tiba Amaya menggamit lengan Miko dan membawanya menuju kantin.


Jason sempat keluar dan mencari Miko. Namun Miko yang melihat keberadaan Jason segera menyuruh Jason menjauh. Pasalnya ia takut Amaya melihat Jason. Ia tak ingin perempuan ini menjadi makin curiga, mengapa teman-teman Nicholas semuanya ada di rumah sakit.