
"Hai Nich." Amaya menyapa Nicholas sambil tersenyum, lalu duduk di sebelahnya.
"Hai." jawab Nicholas santai.
"Aku kesini mau mengembalikan ini."
Amaya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ketika akhirnya ia duduk di sebelah Nicholas. Ternyata sebuah dompet, wajah Nicholas pun seketika berubah panik. Ia buru-buru mengambil dompet tersebut dari tangan Amaya.
"Kamu ketemu ini dimana?" tanya Nicholas dengan mimik wajah penuh kecemasan.
Dia benar-benar tidak tau kalau dompetnya terjatuh. Ia takut Amaya tau siapa dirinya yang sebenarnya, dari kartu identitas pelajar yang ada di dalam dompet tersebut. Jujur untuk saat ini, ia masih ingin bermain-main dengan ingatan Amaya. Ia belum ingin wanita itu tau siapa dirinya. Ia ingin memastikan apakah selama ini Amaya pernah mengingatnya atau tidak.
"Tempo hari waktu kamu menjenguk pacar kamu." Amaya berujar dengan nada agak sedikit berat.
"Pacar?" tanya Nicholas bingung.
"Karlita maksudnya?" tanya nya lagi.
"Iya Karlita. Pasien yang terkena kasus bullying itu." jawab Amaya dengan nada sedikit kecewa.
Nicholas bisa menangkap nada kekecewaan tersebut, meskipun sangat kecil. Ia pun lalu tertawa. Ia sama sekali tak menyangka jika Amaya menganggap, bahwa Karlita adalah pacarnya.
"Dia temen aku. Temen baik." ujarnya kemudian.
"Oh."
Amaya berusaha untuk bersikap biasa saja meski sesungguhnya hatinya kini jingkrak-jingkrak bak cacing tersiram cuka.
"Ternyata dia bukan pacarnya yess, yess, yess." gumamnya geli dalam hati. Bahkan dalam khayalannya ia sedang menari-nari dengan diiringi lagu dari boy band BTS yang berjudul boy with luv."
"Ehm, dompet kamu terjatuh di kantin rumah sakit. Salah satu pedagang di kantin itu yang menemukan. Kebetulan aku lewat, dia titip ke aku. Katanya ini dompet anak sekolah yang waktu itu makan di meja depan aku. Pelajar yang waktu itu makan di depan aku ya cuma kamu dan teman-teman kamu."
"Koq kamu tau dompet ini punya aku?" tanya Nicholas dengan penuh hati-hati.
"Feeling aja sih." jawab Amaya kemudian.
Nicholas menarik nafas panjang. Sampai detik ini Amaya belum menunjukkan tanda-tanda jika ia sudah mengetahui siapa Nicholas sesungguhnya.
"Buka dulu dong. Periksa ada yang hilang apa nggak?"
Amaya menyarankan Nicholas membuka dompetnya. Pemuda itu kembali diserang rasa cemas. Ia takut identitasnya di lihat Amaya.
"Ayo, diliat dulu." Amaya kembali meminta.
Nicholas membuka dompetnya perlahan. Dan tidak ada apapun disana kecuali uang dan sebuah foto dirinya sedang ngumpul bareng Miko, Jason, Dirly dan Kevin. Dengan posisi ia tengah makan banyak dan difoto oleh seseorang. Ekspresi wajahnya di foto tersebut membuat Amaya terkekeh-Kekeh.
"Kocak banget ya muka kamu."
Ingin rasanya Nicholas memukul kepala wanita itu, saat melihat ekspresinya mentertawai foto tersebut. Nicholas berusaha keras mengingat dimana kartu pelajarnya. Sesaat kemudian ia pun sadar, jika ia memasukkan kartu tersebut di sebuah tempat kecil di dalam tasnya. Yang ada di dompet tersebut memang hanyalah foto itu dan beberapa lembar uang yang masih utuh.
"Bener kan punya kamu?. Feeling aku nggak salah kan?" tanya Amaya lagi.
"Eeeee iya bener koq."
"Aku sih udah liat foto ini, awalnya rada bingung ini punya siapa. Karena foto kalian ramean. Tapi feeling aku mengatakan kalau ini punya kamu." ujarnya kemudian.
Nicholas pun lalu tersenyum.
"Bagaimana bisa feeling kamu setepat itu?. Kamu mikirin aku?" tanya Nicholas dengan nada sedikit menggoda.
"Mmm, nggak. Nggak koq. Ya, cuma feeling aja."
Amaya tetap berkilah. Padahal memang beberapa hari ini ia selalu memikirkan anak itu. Sementara kini Nicholas hanya tersenyum.
"Sssstt."
Tiba-tiba terdengar suara dari suatu arah. Tampak Kevin dan yang lainnya, tengah melambai-lambai memberi kode. Sejak tadi mereka memang sengaja memisahkan diri. Nicholas bertanya kepada mereka tanpa bersuara. Hanya menggerakkan kepala dan matanya.
"Apaan?"
"Buukk."
"Aaww."
Sebuah minuman dalam kemasan botol plastik mendarat di kepala Nicholas. Kevin, Miko, Dirly dan Jason cekikikan sambil menahan suara.
"Kenapa?" tanya Amaya kaget sekaligus heran.
Nicholas buru-buru bersikap sok cool lalu memberikan minuman itu pada Amaya. Ia tak berbicara sepatah pun. Hanya tatapan matanya yang tegas dan tajam menatap gadis itu.
Persis seperti pria dewasa yang dingin namun penuh perhatian. Padahal ia yakin betul ada benjol di kepalanya akibat lemparan tadi. Ia masih merasakan sakit dibagian itu. Amaya mengambil minuman itu, namun ia kini bertanya-tanya.
"Kamu, dapat minuman ini dari mana?. Tadi perasaan kamu nggak pegang apa-apa."
Nicholas agak gelagapan mendengar pertanyaan tersebut. Tidak mungkin ia memberitahu keberadaan teman gaibnya yang memberikan minuman itu.
"Kamu minum aja, aku tau kamu haus. Itu nggak beracun koq." ujarnya kemudian.
Amaya menunduk dan tersenyum. Ia lalu membuka minuman tersebut dan meminumnya. Nicholas menoleh pada teman-temannya. Masih dengan sikapnya yang sok cool itu. Terlihat keempat temannya kompak menari-nari, bak kecoa yang di semprot pembasmi hama. Mereka senang akhirnya Nicholas bisa sedekat itu dengan wanita yang ia cintai.
Tak lama kemudian mereka kembali melemparkan sesuatu. Dengan cepat Nicholas menangkapnya tanpa di sadari Amaya yang tengah fokus pada minumannya. Ternyata sebatang coklat. Nicholas sedikit terkejut dan tak menyangka, jika teman-temannya akan melakukan hal ini lebih lanjut.
Nicholas kembali memberikan coklat tersebut pada Amaya. Masih dengan sikapnya yang dingin bagai es balok. Namun jauh di lubuk hatinya ia jingkrak-jingkrak, laksana bakteri yang mendapat asupan zat berbahaya.
"Kamu sakti juga ya." ujar Amaya kemudian.
"Sakti?" tanya Nicholas heran.
"Iya sakti, dari tangan kamu bisa keluar minuman dan coklat. Padahal tadi nggak ada. Abis ini jangan-jangan keluar lemari nih."
Amaya menatap pemuda itu dengan nakal. Nicholas menunduk lalu tersenyum tipis. Hati Amaya meleleh demi menyaksikan senyum manis itu.
Kevin kembali memberi kode. Nicholas menghela nafas lalu kembali menoleh.
"Buuukkk."
Seikat bunga mawar segar nemplok di kepala Nicholas, sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Nicholas melihat ke arah teman-temannya. Dan lagi-lagi mereka terlihat seperti suku primitif, yang tengah menari-nari sambil memberi kode. Mereka ingin Nicholas memberikan bunga itu pada Amaya. Namun Nicholas pikir ini bukan momen yang pas, .aka ia pun mengalihkan perhatian Amaya.
"Eee, itu siapa ya di gerbang?"
Nicholas melihat ke arah gerbang sekolah. Amaya lalu ikut melihat ke arah sana.
"Siapa?"
"Itu."
Nicholas segera melempar balik bunga itu ke arah Kevin dan yang lainnya. Mereka lalu memberi kode lagi, namun kali ini tidak dimengerti oleh Nicholas. Kevin kembali melempar bunga itu, namun Malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba saja bunga itu mengenai kepala seorang siswi perempuan, yang tengah cekikikan dengan teman-teman satu gengnya.
Siswi tersebut adalah anak yang belum lama ini viral, lantaran suka memakan pentol.
Nicholas menahan tawa melihat kejadian itu. Sementara Kevin dan yang lainnya bergidik ngeri. Tak lama kemudian seorang guru yang pun melintas dan melihat kejadian tersebut.
"Kekey, dari mana kamu dapat bunga itu?" tanya sang guru kemudian.
"Dari sana, bu."
Kekey yang belakangan heboh lantaran proses Fuller hidung yang dijalaninya itu, menunjuk ke arah Kevin dan teman-temannya. Mereka sebenarnya sudah hendak berlari, namun mata sang guru keburu mendapatkan mereka.
"Mpiiiin, itu bunga sengaja ibu beli buat diruangan ibu."
"Tuing, byuuur."
Kevin dan yang lainnya pun lari pontang-panting, sementara Nicholas sudah sangat-sangat berusaha menahan tawa. Mata sang guru kini beralih ke arahnya, Nicholas pun refleks menoleh ke arah lain. Pura-pura tidak melihat.
"Ee, kamu nanti pulang naik apa?" tanya Nicholas pada Amaya kemudian.
"Ee, nam istirahat kamu udah selesai ya?" tanya Amaya dengan nada yang berat dan sedikit terdengar kecewa. Walau kecil, perasaan Nicholas bisa menangkap hal itu. Ia pun lalu tersenyum.
"Iya, sebentar lagi aku masuk." ujarnya kemudian.
Tak lama berselang, handphone Amaya pun berdering. Ia lalu berbicara sejenak pada orang yang menelponnya tersebut.
"Aku pulang sekarang aja, teman ku sudah ada di depan."
"Pulang ke rumah atau rumah sakit?"
"Ke rumah sakit, aku masuk siang, hari ini."
"Ayo."
Nicholas berdiri lalu memberikan tangannya pada Amaya. Wanita itu terdiam sejenak, ia menatap uluran tangan itu, lalu beralih menatap mata Nicholas. Detik berikutnya ia pun menyambut tangan itu. Keduanya lalu sama-sama tersenyum.
Nicholas mengantar Amaya sampai ke gerbang sekolah. Dari kejauhan Raline, Karlita bahkan Dena menyaksikan kejadian tersebut. Sesampainya di gerbang, Nicholas sangat terkejut, ketika mengetahui teman yang dimaksud Amaya itu ternyata adalah dokter Gerald. Nicholas menatapnya dengan biasa, tanpa menyapa. Bahkan ia tetap berdiri tegak seolah tengah menatap seorang saingan.
"Aku pulang ya."
Amaya memberikan sebuah senyuman, Nicholas hanya mengangguk. Dari sebuah arah, Prince dan kedua temannya tampak memperhatikan Amaya dan Gerald yang berdiri di sisi mobilnya.
Amaya lalu masuk, tak lama kemudian mobil itu pun berlalu meninggalkan sekolah tersebut. Nicholas berbalik arah, namun ia berpapasan dengan Prince. Agak lama mereka bersitatap, sampai akhirnya mereka sama-sama berlalu.
Kejadian hari itu amat sangat mengganggu Nicholas. Ia terus teringat saat Gerald menjemput Amaya tadi disekolah. Konsentrasi belajarnya pun terganggu. PR nya nyaris tak terselesaikan. Hatinya benar-benar sakit. Ia khawatir Amaya dan Gerald akan berpacaran, karena sudah sama-sama bekerja dan selalu bertemu setiap hari.
Dalam kegelisahan dan kesendiriannya di dalam kamar yang sepi, ia lalu meraih gitar ya dan mulai mencari nada. Tak lama kemudian, ia pun mulai menyanyikan lagu bertajuk Completely milik Shane Filan. Sebuah lagu yang melukiskan suasana hatinya saat ini.
I don't want you to hold my hand
I just need you to understand
It's all up in my head, I'm making no sense
But I'm trying to figure it out
'Cause it's something I never said
I'm so scared, I can't run I can't hide anymore
I'm falling so deeply
I love you completely
Sementara di lain pihak, entah mengapa Amaya jadi makin terus memikirkan Nicholas. Meski ia belum tahu benar siapa anak itu, namun ada perasaan lain di hatinya. Perasaan yang tak asing, yang seolah pernah ia rasakan dulu. Tapi kapan persisnya ia sendiri sudah lupa.
Mata itu, genggaman tangannya. Cara dia tersenyum, cara dia memberikan tatapan. Semuanya terasa hangat dan indah.
"Ah, nggak mungkin gue jatuh cinta."
gumamnya.
"Nggak-nggak mungkin." Amaya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menarik nafas dan menhembuskannya sekali.
Selama hidupnya ia bahkan belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Meskipun dulu. Ia sempat menjalin kasih dengan seorang teman sekampusnya. Namun perasaan Amaya tidak sesemangat saat ini.
Ia merasa begitu hidup dan penuh energi. Namun,
"Oh God, dia masih pelajar dan muda." gumamnya lagi.
Amaya lalu berusaha menepis, setiap kali rasa itu coba melandanya. Namun setiap kali ia coba membohongi perasaannya, maka perasaan itu sendiri malah tumbuh semakin kuat.
Seperti sebuah pohon yang mengakar jauh ke dalam tanah, demi mencapai air yang ia butuhkan. Begitulah gambarannya.