I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Demi Amaya



"Ayaaaank, fotoin Raline.”


Raline merengek pada Nicholas. Seketika Jason, Kevin dan Dirly menawarkan diri. Miko hendak ikut-ikutan namun Rebecca keburu datang.


"Sama ayank Jason aja sini.” Jason nyengir bajing.


"Nooo, yayank Dirly here.” Dirly menggeser Jason.


"Sama yayank Mpin aja sini.” Kevin tak mau kalah.


"Iiiihhh, Raline kan maunya sama ayank Nichooo.”


"Ya udah sini.”


Nicholas meraih handphone Raline.


"Ngacau aja lu, Nich.” gerutu Kevin.


"Tau, semuanya aja Lo ambil. Mentang-mentang ganteng lu.”


Jason mengepalkan lengannya ke kepala Nicholas tanda geram. Sementara Nicholas hanya tertawa. Ia lalu mengambil foto Raline.


"Jason..”


Tiba-tiba Raline memanggil Jason. Pemuda itu rasa tak percaya. Ia menatap ke arah Kevin dan Dirly sebelum akhirnya mendekat kepada Raline.


"Iya, ayank beb.” ujar Jason bersemangat.


"Fotoin Raline ya.”


"Oh tentu mau dong. Mau dimana?" tanya Jason lagi.


Raline lalu berjalan dan berhenti disisi Nicholas yang tengah melihat stupa.


"Nah disini aja, sama ayank Nicho.”


"Hahahaha...”


Kevin, Dirly dan Miko tertawa jahat demi melihat ekspresi wajah Jason yang keki abis. Ternyata Raline minta difoto kan dengan Nicholas.


"Aseem dah guee...!” gerutu Jason.


"Ayank foto ya.”


Raline menarik Nicholas. Nicholas pun memenuhi permintaan Raline. Toh dia juga hanya menganggap Raline sebagai temannya.


"Apes lu, Jas.” celetuk Kevin yang membuat temannya makin tertawa geli. Sementara Jason melebarkan bibirnya sampai kuping.


Hari itu berlangsung sangat menyenangkan. Nicholas benar-benar menggunakan waktunya untuk menikmati kemegahan bangunan bersejarah tersebut. Kebetulan sejarah adalah salah satu mata pelajaran favoritnya. Ia banyak mengkoleksi buku-buku sejarah baik Indonesia maupun dunia.


Sementara itu di Jakarta. Ketika hari mulai senja, Amaya berencana pulang kerumahnya. Namun ditengah jalan, ia teringat jika ia harus belanja keperluan rumah yang telah habis. Ia menelpon Miranti agar ditemani. Namun wanita itu mengatakan jika ia baru akan tiba sekitar  satu setengah jam ke depan.


Amaya pun akhirnya pergi sendiri menuju ke supermarket. Ia pergi dengan menggunakan taxi online. Awalnya ia biasa saja saat menaiki taxi tersebut. Namun ketika taxi itu mulai melalui jalan yang tidak menuju ke arah tempat yang dimaksud. Amaya mulai panik.


"Pak, koq kita nggak ke supermarket ya? Ini kan jalan nya beda sama rute ke arah tujuan saya.”


Supir taxi online tersebut tak menjawab. Malah makin menekan pedal gas sehingga kecepatan mobil bertambah.


"Pak jangan macam-macam ya. Saya bisa laporkan bapak ke tempat diamana bapak bekerja sekarang juga.”


Supir tersebut malah makin melaju. Amaya panik. Ia segera mengirim pesan singkat pada Miranti dan menelpon customer Service pada layanan aplikasi yang telah ia gunakan. Supir tersebut menghentikan mobilnya tepat dipinggir tol. Ia menoleh dan menyeringai.


"Ka....kamuu...?"


Amaya mengingat nya sebagai ayah Diana. Segera saja Amaya membuat gerakan refleks ke depan dan membuka kunci pintu.


Ayah Diana tak menyangka gerakan Amaya akan secepat itu hingga pintu pun terbuka. Amaya keluar dan laki-laki itu berusaha menahan nya dimobil namun Amaya berhasil mencolok matanya dan keluar.


Ia berlari sambil meminta tolong. Melambaikan tangan pada mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa diantaranya akhirnya menepi dan berhenti. Ayah Diana berbalik arah kemobilnya dan meninggalkan tempat itu.


"Ada apa mbak?" tanya beberapa diantara mereka. Amaya pun menceritakan kronologi kejadian nya. Mereka pun menelpon polisi yang biasa berpatroli di tol.


Tak lama kemudian polisi dan pihak keamanan dari aplikasi penyedia jasa taxi pun tiba. Mereka langsung mengamankan Amaya dan membawanya. Miranti tiba dikantor polisi dan langsung memeluk Amaya.


"Mir, ayah Diana Mir. Yang pernah gue ceritain ke elo. Dia muncul lagi.”


"Sas, pokonya abis ini lo jangan pernah pergi sendirian lagi. Kayaknya Lo udah diincer deh sama dia. Lo harus lebih hati-hati lagi"


Amaya mengangguk seraya mengusap air matanya. Miranti memberikan pelukan padanya. Amaya terpaku cukup lama di kamarnya. Kini ia menjadi sangat takut untuk kemana-mana. Miranti menginap dirumahnya dan sudah dipastikan rumah mereka telah terkunci semua.


"Sas, Lo nggak mau makan?" tanya Miranti Kemudian.


"Lo duluan aja, Mir. Gue belum laper.”


"Ya udah, yang penting nanti Lo makan ya.”


Amaya mengangguk. Ia terus terpikirkan akan kejadian tadi. Semua ini benar-benar diluar kendalinya. Selama ini ia merasa hidupnya sudah aman. Ia sudah pindah dari kotanya yang dulu. Entah mengapa ia harus bertemu lagi dengan laki-laki itu. Mengapa hidupnya yang sudah tenang harus kembali kacau seperti ini.


Andai ayahnya masih hidup. Atau ia berada di dekat keluarga Nicholas. Mungkin ia akan lebih aman saat ini. Setidaknya Nicholas teman masa kecilnya itu pernah melihat bagaimana ayah Diana mengancam akan membunuhnya. Setidaknya ia punya saksi kuat jika suatu waktu ayah Diana ingin mencelakainya lagi.


"Nich, Lo kenapa manyun gitu. Kayak artis yang belom dibayar honornya.” tanya Kevin yang membuat Jason, Dirly dan Miko tertawa.


"Amaya kemana ya?"


"Hmmmmm...”


Teman-temannya kompak melebarkan bibir sampai kuping.


"Bucin bangeeeet.” sindir Dirly sambil tertawa.


"Emang dia nggak hubungin lo?" tanya Miko kemudian. Nicholas menggeleng.


"Hati gue nggak enak rasanya.”


Jason, Miko, Dirly dan Kevin bersitatap


"Perasaan lo aja kali, Nich.” Dirly mencoba menghibur Nicholas.


"Aku disini ayank beb.” tiba-tiba Jason menongolkan kepalanya tepat disisi bahu Nicholas. Membuat Nicholas refleks mengeplak kepalanya.


"Geli gue, bangsat.” gerutu Nicholas


Mereka pun makin tertawa-tawa. Malam itu Amaya benar-benar tidak dapat dihubungi. Pesan yang dikirim Nicholas pun hanya centang satu. Nicholas sangat khawatir. Apalagi hati nya kini sangat tidak bisa tenang.


Seolah ada sesuatu yang menimpa Amaya. Namun ia berusaha untuk berfikir positif dan berharap agar wanita itu baik-baik saja.


"May......"


"Maaaaay....."


"Maaaaaaaayyyy..."


Nicholas berteriak dan terbangun dari tidurnya. Baru saja ia memimpikan hal buruk tentang Amaya. Jason dan yang lainnya yang kebetulan belum tidur dan masih bermain kartu tersebut langsung berlarian ke kamar Nicholas.


"Kenapa Nich?" tanya Mereka panik.


Seketika mereka pun tersadar jika Nicholas telah mengalami mimpi buruk. Kevin buru-buru mengambil air minum dan memberikannya pada Nicholas. Nicholas lalu mereguk minuman tersebut sampai hampir habis.


"Lo jangan mikir yang nggak-nggak. Biar nggak mimpi buruk.” ujar Miko menasehati.


"Tau Lo, ini pasti dari pikiran Lo sendiri nih.” timpal Dirly.


"Udah kedepan yuk. Main kartu bareng kita.” Jason memberikan ide.


Nicholas pun mengikuti teman-temannya. Mereka bermain kartu. Yang kalah harus minum Soju satu sloki. Kebetulan Soju tersebut dibawa oleh Kevin tanpa sepengetahuan guru mereka.


Permainan pun berlangsung di sepanjang malam. Nicholas dan teman-teman nya menang dan kalah bergantian. Hingga semua minuman mereka habis. Dan mereka semua tertidur dibawah pengaruh alkohol. Sementara di Jakarta. Ketika malam mulai beranjak naik, Amaya dan Miranti mendengar sebuah suara.


"Teeekkkk, kreeeeekk...”


"Mir, suara apa itu?" tanya Amaya pada Miranti yang sudah tertidur.


"Apaan?"  tanya Miranti seraya menggeliat.


"Itu denger nggak?”


Miranti mulai mendengarkan secara seksama. Dan benar, seperti suara seseorang yang tengah beraktivitas.


"Sas, itu kayaknya orang deh.” ujar Miranti dengan mimik yang mulai khawatir.


"Praaaaank...”


Kali ini terdengar seperti sebuah piring atau gelas yang jatuh dan pecah. Amaya beranjak ingin memastikan namun Miranti menahan nya.


"Jangan Sas, kita nggak tau posisi dia ada dimana. Dia mau mencuri atau mau mencelakai kamu. Dan kita juga nggak tau mereka ada berapa orang.”


Miranti segera menuju pintu dan menguncinya dua kali. Serta mengunci pula dengan slot. Amaya bergegas menuju pintu ke arah balkon dan menguncinya pula. Kebetulan kaca kamarnya memiliki terali dan itu cukup aman.


"Kita harus telpon polisi" ujar Miranti kemudian.


Amaya pun menelpon polisi dan menjelaskan jika saat ini dirumah terjadi hal mencurigakan. Polisi pun segera bergerak dan meminta Amaya untuk tidak mematikan telpon selama perjalanan mereka menuju kesana. Amaya pun menuruti hal tersebut. Mereka terus berkomunikasi sampai suatu ketika.


"Buuukkk, buuukkk....”


Terdengar suara pukulan ke arah pintu dan ternyata itu kapak yang diayunkan ke pintu.


"Saaaas, itu dia bawa kapaaaaaak...”


"Paaaaak, cepat paaaak. Sekarang dia berusaha membuka pintu kamar saya paaaakk...”


"Aaaaaaaaaaa...”


"Toloooooong...”


Amaya dan Miranti pergi ke balkon dan menguncinya dari luar. Mereka berteriak pada warga sekitar. Tak lama polisi pun datang, warga bermunculan. Amaya dan Miranti berhasil diselamatkan. Namun pelaku telah berhasil kabur.


Amaya dan Miranti masih syok berat dan mereka saat ini masih berada di kantor polisi. Amaya menangis karena ketakutan. Ia mencoba menghubungi Nicholas dan ingin bertanya pada pemuda itu, apakah orang yang ingin mencelakainya tempo hari ciri nya sama dengan ayah Diana yang ia lihat dan ia perkirakan menjadi pelaku penyerangan malam ini.


Namun Nicholas yang telah mabuk berat tak menjawab panggilan telpon nya. Karena ia sendiri sudah tertidur lelap. Amaya kemudian dibawa oleh orang tua Miranti kerumah mereka. Sementara di rumah Amaya sendiri akan dilakukan penyidikan.


Esok harinya, saat bangun pagi. Nicholas langsung mandi dan tak melihat handphone nya terlebih dahulu. Pun lagi hari ini adalah hari terakhir mereka dikota ini.


"Niiiiiich...” Jason berteriak ketika Nicholas baru saja selesai berkemas.


"Apaan sih?" tanyanya seraya menongolkan kepala dari dalam kamar.


Teman-temannya kompak menatapnya. Membuat Nicholas akhirnya mendekat. Jason lalu menunjukkan headline news yang memberitakan penyerangan dirumah seorang dokter tadi malam. Seketika Nicholas pun panik. Ia lalu mengambil handphone nya dan melihat begitu banyak notifikasi panggilan dari Amaya.


Ia mencoba menelpon balik namun tak di angkat. Kepanikan pun bertambah. Saat semua berita tak ada yang mengetahui apa dan bagaimana nasib Amaya sekarang.


"Bro, gue harus balik secepatnya.”


"Kita bareng aja.” ujar Miko.


"Tapi kalian mesti lanjutin perjalanan. Study tour kita berakhir di Bali.”


"Gue nggak peduli. Lagian gue bisa ke Bali kapan aja. Gue akan pesen tiket pesawat sekarang juga. Untuk kita pulang.”


"Gue juga.”


"Gue juga.”


"Sama.” ujar yang lain nyaris bersamaan.


Nicholas menghela nafas.


"Ok...”


"Mpin, Lo bilang sama guru kalau kita ada keperluan mendadak.”


"Ok..”


"Dir...”


"Iya ini gue pesen taxi.” Dirly berkata seolah telah mengetahui isi kepala Miko.


Mereka pun akhirnya pulang lebih awal.