
Tak lama kemudian pesanan tiba. Amaya menyimpan handphone nya begitupun dengan Nicholas.
"Ada yang lain?" tanya sang pelayan kepada keduanya. Nicholas dan Amaya sama-sama menggeleng sambil tersenyum.
"Terima kasih.” ujar mereka nyaris bersamaan.
Pelayan itu pun meninggalkan meja mereka dan kini mereka mulai makan. Nicholas fokus pada makanan sementara Amaya mulai memperhatikannya diam-diam. Ia menikmati wajah tampan dan berwibawa itu sambil senyum-senyum sendiri. Entah apa yang tengah merasuki pikirannya.
Ia sangat menyukai Nicholas dalam segala hal. Mulai dari gestur, cara bicara, sampai pada tatapan matanya.
"Ah andai saja anak ini sudah dewasa.” pikirnya.
Amaya larut dalam lamunan liarnya, sampai kemudian Nicholas menyadari bahwa ia tengah diperhatikan. Nicholas mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Amaya secara spontan. Amaya refleks membuang muka dan pura-pura tidak melihat. Nicholas yang menyadari hal itu pun hanya tersenyum lalu melanjutkan makan.
"Kamu suka makanannya?" tanya Nicholas kemudian. Membuat Amaya refleks melihat ke arahnya dengan ekspresi yang gelagapan.
"Eh, iya. Ini enak koq. Hehe.” Amaya salah tingkah.
"Good."
"Oh ya, kenapa tadi kamu tiba-tiba bilang ke dokter Gerald kalau kamu ada janji sama aku?"
Amaya terhenyak mendengar pertanyaan itu, tak disangkanya bocah ini cukup kepo terhadap urusan orang lain.
"kepo kamu ah.” ujarnya kemudian.
"Kalau merasa nggak nyaman, ya nggak usah cerita. Aku cuma penasaran aja.”
Nicholas kembali melanjutkan makan. Amaya merasa tak apa untuk sedikit bercerita.
"Kamu liat Koas perempuan yang berdiri di belakangnya tadi?"
"Ya, yang mukanya judes itu kan?"
"Hush, kamu mah.”
Amaya dan Nicholas lalu tertawa.
"Dia suka sama dokter Gerald sejak lama. Bahkan katanya sudah tunangan.”
"Ooo."
"Makanya tadi saat liat kamu, aku refleks seperti itu. Karena dokter Gerald ngajak aku makan bareng dan untungnya kamu bisa di kode in.”
"Iya, tapi kode nya sakit.”
Keduanya saling menatap, detik berikutnya mereka kembali tertawa.
"Oh ya, tadi kamu ke rumah sakit mau ngapain?. Jangan-jangan urusan kamu malah jadi batal karena hal ini?"
"Ya, emang batal sih. Tadi kan aku rencana mau jemput ibunya temen ku yang melahirkan. Tapi udah ada temen ku yang lain yang jemput.”
"Lagian kamu sih, abis akting tadi bukannya biarin aku pergi. Kalau gitu kan kamu bisa selesaikan urusan kamu. Sekarang kita malah disini. Temen kamu marah nggak?”
“Nggak, orang tadi yang jemput pake mobil aku juga.”
Amaya tak mengerti.
“Mobil yang lain maksudnya, aku suruh bawa.”
“Oh, syukur deh kalau gitu.”
Lagi-lagi Nicholas tersenyum tipis. Hati Amaya meleleh demi melihat senyuman itu. Namun ia berusaha bersikap wajar karena ia sadar jika pria tampan yang ada di hadapannya ini adalah pelajar SMK. Tak pantas jika ia berperilaku seperti cacing kepanasan. Terlebih ia sudah dewasa dan merupakan seorang dokter.
"Kamu abis ini mau kemana?" tanya Nicholas kemudian.
"Mmm nggak kemana-mana sih, cuma ada beberapa barang yang mesti dibeli.”
"Apa itu.”
"Makeup."
"Oh urusan cewek.”
Amaya tertawa.
"Iya, kan nggak ada juga cowok makeup. Kecuali keperluan syuting sama manggung mungkin.” ujar Amaya membela diri.
"Haha, iya sih. Aku temenin ya?" Nicholas menawarkan diri untuk menemani Amaya.
"Eeee."
Amaya mencoba berfikir, namun belum sempat ia terpikir sesuatu tiba-tiba Nicholas sudah menjawab secara otoriter.
"Ok Fix , kamu setuju.”
Kali ini bibir Amaya menganga lebar, anak itu makin seenaknya saja. Ingin rasanya ia marah dan mengatakan pada anak itu jangan terlalu sering mengikutinya. Namun kata-kata itu tertahan lantaran Amaya sudah mabuk pandangan saat melihat senyuman pemuda itu.
Usai makan, Nicholas menemani Amaya membeli kosmetik di sebuah mall yang cukup besar di kota itu. Favoritnya adalah produk-produk yang berasal dari negri ginseng, Korea. Nicholas pun terjebak menjadi kelinci percobaan. Amaya mencoba produk skincare di kulit tangan dan wajah Nicholas.
Nicholas melirik ke arah sekitar. Ke tempat dimana begitu banyak pasangan yang cowoknya jadi korban kelinci percobaan skincare yang ingin dibeli oleh ceweknya.
"Gini ya rasanya jadi budak cinta?" Nicholas berujar tiba-tiba, membuat Amaya terkejut dan sontak tertawa geli.
"Iya sebaiknya kamu belajar dulu sebelum punya pacar. Belajar nemenin belanja. Eh tapi, Kamu punya pacar nggak sih?" tanya Amaya dan pertanyaan itu sukses membuat Nicholas akhirnya terdiam dan terpaku menatap Amaya, bahkan jauh ke dalam matanya.
"Ada." ujarnya kemudian.
"Degh."
Hati Amaya bergetar hebat. Berpacu dengan detak jantungnya yang mulai tak teratur.
Entah mengapa Amaya merasa jika yang dimaksud Nicholas itu adalah dirinya, namun ia juga ragu apakah perasaan itu benar atau tidak. Sementara Nicholas tak bergeming sejak ia mengatakan hal itu. Ia terus terpaku menatap Amaya. Membuat persendian wanita itu seketika lemas. Ia pun buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau bayar sekarang.”
"Oh, ok."
Nicholas akhirnya menghentikan tatapannya, lalu mereka tampak kikuk satu sama lain.
Mereka pergi ke kasir. Nicholas pun membayar semuanya. Awalnya Amaya menolak keras, karena ia bawa uang dan memang niat ingin belanja. Namun Nicholas tak peduli dan malah membayar semuanya. Usai belanja kosmetik, mereka pun nonton film bersama.
Ketika menjelang malam, sepulang dari nonton mereka singgah ke sebuah taman yang dipenuhi lampu warna-warni. Mereka duduk pada dua buah ayunan sambil menikmati es krim coklat. Tempat itu sangat indah dan romantis.
"Aku baru tau kalau ada tempat ini.” ujar Amaya sambil terus berjalan menikmati indahnya malam itu. Cuaca relatif hangat, hingga mereka masih bisa makan es krim disaat hari mulai gelap.
"Kamu sudah berapa lama tinggal disini?" tanya Nicholas kemudian.
"Belum setengah tahun.” jawab Amaya sambil menopangkan kakinya ke tanah agar ayunan nya terus bergerak.
"Oh, selama ini kamu dimana?"
"Pernah di Belanda.”
"Sebelumnya?"
Amaya terdiam, ia bertanya dalam hati mengapa anak ini menanyakan tempat dimana sebelumnya ia tinggal seolah-olah ia tau jika sebelum tinggal di Belanda, ia pernah tinggal di sebuah kota.
Nicholas yang menangkap sikap Amaya langsung serta merta mencari alasan. Ia tak ingin Amaya curiga tentang siapa dirinya.
"Ee, maksud aku, Apa sebelumnya pernah tinggal di Indonesia atau memang sejak lahir sudah di Belanda?"
Amaya tersenyum.
"Nggak sih, dulu aku pernah tinggal di sebuah kota kecil di Indonesia.”
"Sekolah disana juga?"
"Iya, sampai SMA, terus pindah.”
"Kamu sendiri?"
"Eeee, aku, aku besar disini.”
Nicholas memaksakan sebuah senyum. Ia sedang menutupi masa lalunya agar wanita itu tak menyadari siapa dirinya.
"Oh."
Agaknya Nicholas berhasil mengelabui wanita itu.
"Kamu tinggal sama orang tua?" tanya Amaya lagi.
"Dulu sih iya, tapi sekarang mereka tinggal di Korea Selatan. Ayahku kerja di kedutaan besar Indonesia untuk Korea Selatan, sejak beberapa tahun yang lalu.”
"Oh gitu.”
"Orang tua kamu sendiri?"
Amaya menundukkan kepalanya tiba-tiba. Nicholas sendiri merasa tak ada yang salah dengan ucapannya. Ia terus memperhatikan Amaya dan menanti jawabannya.
"Mereka meninggal nggak lama setelah kami pindah ke Belanda.”
"What?"
Nicholas tak percaya pada apa yang barusan ia dengar. Tubuhnya kini gemetar. Ia benar-benar tak menyangka jika kedua orang tua Amaya sudah meninggal. Bahkan hanya setahun setelah kepindahan mereka.
"Mereka kecelakaan mobil pada sebuah perjalanan.”
Raut wajah Amaya berubah sedih, begitu juga dengan Nicholas. Ia mengenal kedua orang tua Amaya cukup baik. Dan karena kebaikan hati mereka juga lah, Nicholas akhirnya mendapatkan donor hati yang cocok dan dapat sembuh dari penyakitnya. Andai saja waktu itu Amaya tidak diizinkan untuk mendonorkan hati oleh kedua orang tuanya itu, Mungkin Nicholas tidak akan bisa bertahan sampai detik ini.
"I am sorry to hear that.” ujarnya kemudian.
Amaya lalu tersenyum.
"Nggak apa-apa, semua udah berlalu.”
"Lalu setelah mereka meninggal, kamu bagaimana disana?"
"Aku kembali lagi ke Indonesia.”
"Hahh?"
Nicholas benar-benar terkejut. Ia tak tau jika Amaya kembali lagi ke Indonesia saat itu.
"Kenapa kaget?" tanya Amaya.
"Hmmm, nggak. Maksud aku, ehm. Kamu balik lagi ke kota sebelumnya?"
"Nggak, aku ikut om dan tanteku yang berada di kota lainnya. Ikut akselerasi dan lanjut ke universitas. Tadinya, aku mau di Belanda aja. Kuliah disana. Tapi kalau jurusan kedokteran di universitas luar negri, aku nggak akan sulit untuk praktek di Indonesia. Ada banyak prosedur yang mesti dilewati lagi. Sedangkan orang tuaku, dimakamkan di Indonesia. Jadi, aku pikir, biar lebih deket aja ke mereka. Makanya aku kembali lagi.”
Amaya menarik nafas, kini Nicholas memperhatikan nya dengan sangat. Mungkin itulah alasan kenapa suratnya tak pernah dibalas selama ini. Ia mengirimkan surat pada alamat rumah Amaya di Belanda. Sedangkan gadis itu telah kembali ke Indonesia dan bermukim di kota lain.
"Kamu tinggal sendiri, Nich?”
Nicholas mengangguk.
Obrolan pun berlanjut. Tak lama kemudian muncul semacam food truck yang menjual makanan. Food truck tersebut sengaja membuka lapaknya di sisi taman. Nicholas lalu mengajak Amaya untuk makan disana.
Mereka menikmati malam itu sampai kemudian,
"Aakkkhhh.”
Nicholas memegang kepalanya dan menunjukkan ekspresi seperti tengah kesakitan. Saat itu mereka tengah berada di dalam mobil dan menuju ke kediaman Amaya.
"Kamu kenapa?" tanya Amaya panik.
"Nggak tau, kepala aku sakit banget.”
Pernyataan itu sukses membuat Amaya menjadi khawatir.
"Kamu sakit kepala?"
Nicholas mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba saja ia mengalami hal tersebut. Dan kini rasa sakit itu menjadi semakin hebat.
"Dari saat kamu periksa waktu itu, belum hilang juga?" tanya Amaya heran.
"Nggak, ini baru. Baru aja.”
Nicholas teringat jika ia pernah berpura-pura menjadi pasien sakit kepala ketika ia hendak menemui Amaya pertama kali. Saat itu ia tidak benar-benar sedang sakit, namun kini semuanya benar terjadi.
"Salah makan kah?" Amaya terus menginterogasi.
"Eeee, nggak tau sih, aku nggak ada alergi apa-apa kalau soal makanan.”
“Mending stop dulu deh.”
“Apanya?”
“Mobilnya.”
“Udah nggak apa-apa, aku masih bisa kontrol koq.”
"Nich, daripada kita nabrak.”
Kali ini Nicholas tertawa. Meski sambil menahan sakit.
"Nggak apa-apa, aku masih bisa nyetir koq. Santai aja....!” ujarnya kemudian.
"Beneran?"
"Iya...”
"Rumah kamu dimana sih?" tanya Amaya lagi.
"Apartment Green House.”
"Oh, deket tuh dari sini. Aku anterin pulang ya? Nanti aku yang nyetir. Abis dari nganter kamu, nanti aku pulang naik taxi. Udah stop in mobilnya”
"Jangan, aku aja yang anter kamu.”
Nicholas bersikeras.
"Rumah aku kan jauh dari sini. Lebih baik kamu yang aku anter pulang. Aku bisa nyetir koq. Tenang aja, aku anterin sampe rumah.”
Nicholas kembali tertawa. Seraya masih menahan sakit.
"Udah nggak apa-apa. Aku yang anter kamu pulang. Kan tadi aku yang ngajak pergi. Ya aku juga yang harus nganterin pulang.”
“Aku nggak apa-apa pulang sendiri, Nich. Beneran."
“Ssssst, udah jangan berisik. Bentar lagi juga sampe.”
Akhirnya Nicholas pun mengantar Amaya pulang kerumahnya dengan menahan sakit kepala yang makin lama makin hebat. Sepanjang perjalanan Amaya tampak terus mengawasi karena khawatir anak itu tiba-tiba pingsan atau apa. Ia mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua. Beruntung Nicholas pun dapat menahan rasa sakit nya dengan baik.
Sesampainya dirumah Amaya, wanita itu memintanya beristirahat sejenak. Ia memberi analgesik kepada Nicholas. Setelah itu ia meminta izin untuk merapikan beberapa bagian rumahnya yang masih berantakan.
Nicholas agak terkejut ketika masuk ke rumah itu, melihat keadaannya yang berantakan. Ia tak menyangka jika Amaya yang ia cintai ternyata adalah orang yang malas membereskan rumah.
Nicholas duduk di sofa sementara Amaya mulai berbenah. Selang beberapa saat kemudian, Amaya memergoki Nicholas yang sudah tertidur lelap di sofa ruang tamu. Ia terpaku, diperhatikan nya pemuda itu dengan seksama.
Tanpa sadar kakinya pun melangkah mendekati Nicholas. Di rabanya kening pemuda itu, terasa sedikit hangat. Ia lalu mengambil selimut dan menyelimutinya.
Malam mulai beranjak naik, Nicholas semakin lelap dalam tidurnya dan Amaya jadi tak tega untuk membangunkan pemuda itu.
Akhirnya ia malah menutup pintu pagar dan menutup pintu rumahnya lalu mematikan lampu. Nicholas pun tertidur disana sampai pagi.