
“Mpin."
Tiba-tiba saja Nicholas menghubungi Kevin, yang saat itu wajahnya tengah berlumuran masker cocoa.
"Apa, Bambang?” tanyanya Kevin sambil mengunyah salah satu potongan timun yang ada di mata kanannya.
"Lo lagi ngapain?"
"Memperganteng diri.”
“Ngapain lu?” tanya Nicholas lagi.
“Mandi susu?” lanjutnya kemudian.
"Mandi kembang sama comberan.”
“Hahaha.”
Nicholas tertawa demi mendengar suara Kevin yang terdengar sewot itu.
"Gue lagi maskeran, Karnadi." ujar Kevin lagi.
"Sok kecakepan, anjay.”
"Eh Nich, cowok juga mesti merawat diri. Biar makin banyak cewek-cewek yang ngejer. Kayak gue dong, banyak dikejer cewek-cewek. Emang lo, jomblo akut.”
"Alah, mereka juga ngejer lo karena pengen tau gosip terbaru. Lo kan Suneo, Lambe gosip.”
"He, sirik aja lo.”
"Mending lo kerumah gue.” ujar Nicholas kemudian.
"Hm, kangen ya lo sama gue?” Kevin berujar dengan kepedean tingkat dewa.
"Pede lo, bangsat.”
"Lah terus ngapain nyuruh gue kerumah lo jam segini?. Nyuruh gue jadi babi, biar bisa ngepet?”
Nicholas tertawa sejenak, lalu terdiam. Ia tak memberikan alasan apa-apa.
"Hmmm gue tau nih kalau udah begini nih. Lo pasti lagi nggak enak hati kan?"
Pertanyaan Kevin tersebut sukses membuat Nicholas sedikit terusik. Namun ia tetap berkilah.
"Kagak, Bambang. Gue cuma lagi rada parno aja, abis nonton film horor. Lo nginep sini yak."
"Sejak kapan lo takut sama dunia perdemitan?. Dulu aja waktu camping di hutan, orang udah pada teriak-teriak ketakutan, udah pada masuk tenda lantaran ada anak yang ngeliat tante Kunti. Nah elu malah santuy masak mie instan, dua lagi.”
"Hehehe. Udah buruan kesini...!”
"Tapi lo bilang dulu, kenapa gue mesti kesana?. Udah jujur aja, lo abis mengalami sesuatu yang mengusik hati kan dengan Amaya?"
"Bawel lu ye, udah buruan kesini. Kalau lo nggak kesini, gue sumpahin besok lo nyasar ke desa penari.”
"Ketemu Badarawuhi dong gue.”
"Iye, Lucinta Badarawuhi"
"Anjir, serem ege.”
"Ya udah buruan makanya...!”
"Iye, iyeee, tunggu. 20 menit lagi.”
Kevin pun segera membereskan semua peralatan ketampanannya. Ia lalu mencuci muka, mengambil jaket lalu pergi menuju kediaman Nicholas. Sekitar kurang lebih 20 menit kemudian ia pun tiba, dengan membawa satu kotak martabak manis.
"Lo beli martabak?" tanya Nicholas ketika akhirnya Kevin tiba, lalu meletakkan martabak tersebut ke atas meja.
"Iye di depan tadi, kesukaan lo. Biar lo nggak galau-galau amat.”
"Galau apaan gue?" tanya Nicholas kemudian.
"Alah, ngeles mulu lo kayak tersangka. Gue tau elu, Nich. Lu kan son of brokenheart.”
Nicholas tidak membenarkan pendapat Kevin, namun tidak pula berniat menyangkal lebih jauh. Ia malah membuka martabak tersebut lalu memakannya. Sesaat kemudian, Kevin pun melepaskan jaketnya dan duduk di samping Nicholas. Ia turut memakan martabak tersebut sambil berbincang dengan Nicholas.
"Lo udah makan nasi belum, Mpin?" tanya Nicholas pada Kevin.
"Udah koq tadi sore.”
"Kalau belom, gue masak noh.” ujar Nicholas lagi.
"Iye gampang, ntar juga bisa.”
Setelah hampir menghabiskan martabak tersebut, mereka berdua pergi ke wastafel besar yang ada di kamar mandi lalu menggosok gigi bersama.
"Lo lagi galau kenapa sih?" tanya Kevin ketika ia sudah selesai berkumur, sedangkan Nicholas sendiri masih menyelesaikan kumur terakhirnya.
"Galau apaan, anjay?. Emang gue sobat ambyar?"
"Lo dari tadi ngeles mulu. Lo kalau udah nyuruh gue nginep tanpa alasan yang jelas kayak gini, biasanya ada sesuatu yang mengganjal di hati lo. Gue temenan sama lo bukan sehari-dua Nich, dari SMP kelas 1 smester 2 sampe sekarang. Gue tau elu.”
Nicholas menyelesaikan urusannya lalu berlalu, sambil sebelumnya menoyor kepala Kevin terlebih dahulu.
“Lo nggak ada berantem sama Miko kan?”
Kevin bertanya seraya mengikuti langkah Nicholas yang menuju ke arah lemari es.
“Kagak.”
Nicholas membuka lemari es dan mengambil sebotol air dingin.
“Sama Dirly?”
“Kagak.”
“Jason?”
Nicholas yang baru saja hendak meminum air, memberikan lirikan ekor mata pada Kevin.
“Gue minum dulu bisa nggak?”
“Jawab dulu, lo ada masalah sama Jason?”
“Kagak, dibilangin kagak.”
“Fix Amaya berarti.”
Beberapa saat kemudian, mereka sudah terlihat rebahan di atas tempat tidur dikamar Nicholas. Kevin sibuk mengompres matanya dengan plastik berisi gel dingin, sementara Nicholas fokus menatap langit-langit kamarnya.
"Pin."
"Hmmm."
“Lo pernah nggak berada deket banget sama cewek yang lo suka.”
“Ya pernah dong, tiap hari juga gue gandengan ke sekolah, duduk deketan kalau jam istirahat. Eh ternyata dia cuma nganggep gue temen. Kan bangsat.”
“Maksud gue bukan itu.”
“Terus apa dong?.”
“Lo nih, berada deket banget. Hadap-hadapan, muka lo di deket muka dia, mata lo di deket mata dia. Hidung lo di deket hidung dia dan bibir lo berada di deket...”
"Haaaaaa, ketauan kan lo.”
Kevin membuka penutup matanya, lalu menunjuk wajah Nicholas sambil memberinya tatapan curiga.
"Ketauan apaan, Bambang. Gue cuma tanya.”
"Bilang aja lo tadi first kiss kan sama Amaya?”
"Kagak.”
"Ngeles lagi, lo.”
Lagi-lagi Kevin meledeknya. Kali ini Nicholas menoyor kepala temannya itu untuk yang kesekian kali.
"Gue cuma nanya, Bambang.”
Kevin mengecilkan matanya lalu tersenyum lebar sampai kuping. Ekspresinya masih meledek Nicholas.
"Apaan sih?"
Nicholas makin sewot dan siap menoyor kembali kepala temannya itu, namun dengan cepat Kevin menghindar sambil tertawa.
"Nih ya, gue kasih tau. Intinya kalau kejadian beneran, lo akan merasa melayang.”
"Melayang maksudnya?" tanya Nicholas heran.
"Pokoknya nih ya, lo serasa berada ditempat paling menyenangkan. Jantung lo bakal berdetak kencang, berpacu dengan nafas lo yang memburu. Suasana akan menjadi tegang, dan semuanya tegang.”
Kali ini Nicholas melebarkan bibirnya lalu mengeplak kepala Kevin dengan gemas.
"Bisa nggak sih nggak usah nyerempet ke arah sana, kan gue kepikiran.”
“Nah lo kan, ayo loh ngaku aja. Udah sampe mana pikiran lo ke Amaya?.”
“Hahaha, kagaklah bego. Gue nggak sebangsat elu.”
"Dikit-dikit nggak apa-apalah.”
Kali ini Nicholas memejamkan matanya, nafasnya menjadi sedikit tidak teratur. Ia lalu membuang pandangannya ke sisi tempat tidur, sambil membayangkan adegan terakhirnya bersama Amaya benar-benar terjadi.
"Otak lo tegang kan Nich?" tiba-tiba Kevin nyeletuk dengan kepala sudah di dekat Nicholas,
"Apaan sih?. Muka lo nggak usah deket muka gue juga Bambang."
"Ntar gue khilaf, gue sosor juga lu pake raket nyamuk.” gerutu Nicholas, Kevin makin terkekeh.
"Kenapa sih lo nanya gini?" tanya Kevin makin penasaran.
"Kagak, gue nanya doang. Emang nggak boleh?"
"Lo tadi nyaris ciuman ya, sama Amaya?"
Kevin mengeluarkan statement yang membuat Nicholas agak sedikit terdiam cukup lama. Meski ia tidak mengakuinya secara langsung, namun Kevin mengerti apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.
"Kalau lo dapat kesempatan lagi, jangan sia-sia in bro. Biar dia terngiang-ngiang sama lo.”
"Apa sih lo, ****** Fir'aun."
Kali ini Nicholas menggulung Kevin dengan selimut, sampai anak itu terlihat seperti gumpalan dan hanya sisa hidungnya saja yang terlihat. Nicholas kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut dan menuju ke dapur untuk membuat segelas kopi. Tak lama kemudian Kevin pun menyusul dan melakukan hal yang sama.
Malam mulai beranjak. Di kamarnya yang dingin, Amaya mulai membuka YouTube Channel. Di beranda YouTube nya muncul gambar Nicholas tengah memegang gitar, didampingi oleh Axl Hadley.
Amaya sudah familiar dengan Axl yang memang seorang youtuber terkenal dan anak seorang aktor, namun kali ini ia agak kaget. Kenapa ada Nicholas yang duduk bersamanya. Karena penasaran, ia pun membuka dan menonton video tersebut.
When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.
When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
Seketika Amaya pun tertegun, ia tak menyangka jika Nicholas memiliki suara seindah itu. Ada getaran yang kini muncul dihatinya. Seperti sebuah perasaan haru, kagum dan bahagia yang bersatu padu.
Amaya terus menikmati lantunan lagu tersebut, sambil terus tersenyum menatap wajah Nicholas yang tampan.
Tak lama kemudian ia pun menelpon Miranti.
"Miiiir."
"Apaan sih, Sas?. Lo Ngeliat setan?" tanya Miranti setengah khawatir, karena suara Amaya yang begitu keras terdengar.
"Ih, kagak. Gue barusan liat Nicho nyanyi di YouTube.” suara Amaya terdengar penuh kegembiraan.
"Ye, kemana aja lo seharian ini baru liat?"
"Maksud lo?" tanya Amaya tak mengerti.
"Gue udah liat dari tadi siang kali.”
"Lo juga ngeliat?"
"Yaiyalah, makanya lo kalau ada apa apa itu gercep. Keburu dia dipuja cewek lain tau nggak.”
"Ah elu mah.”
"Hahahaha, lo pasti lagi kesengsem kan Sas?" tanya Miranti dengan nada nakal.
"Apaan sih Mir?" Amaya mengelak.
"Senyum-senyum kan lo sekarang?"
Kali ini Amaya benar-benar tersenyum. Namun karena gengsinya tinggi, ia tetap kekeuh tidak mau mengakui.
"Nggak koq.”
"Iya juga nggak apa-apa kali, Sas.”
"Ih udah ah, gue mau lanjut nonton lagi.”
"Nonton apaan?"
"Ya nonton dia lah, siapa lagi"
"Cieeeee."
"Hahaha."
Amaya dan Miranti sama-sama menutup telpon sambil tertawa.
Malam itu, Amaya tak langsung tidur. Ia membuka kembali akun YouTube di handphone nya. Kali ini ia pergi ke channel milik Nicholas.
Bukan hanya sekedar melihat kembali lagu yang tadi, tapi juga lagu-lagi pada video sebelumnya. Ada juga beberapa vlog yang berisi kegiatan nya sehari-hari, maupun saat ia tengah traveling ke berbagai negara. Suara dan cara bicara Nicholas di video-video tersebut, kini menyita perhatian Amaya. Entah mengapa ia jadi sangat menyukai anak itu.
Seperti mengingatkannya pada seseorang. Ya, seseorang yang rasa-rasa nya dulu pernah ada di kehidupannya. Bersamanya, selalu. Tapi, siapa orang itu?. Siapa yang mampu memberikan rasa yang sama seperti ini?.
Kapan persisnya itu semua pernah terjadi?. Dimana?.
Amaya kini berada dalam lingkaran rasa yang begitu di kenalnya, namun ia tak tau persis apakah ini semua sama. Atau hanya perasaannya saja. Yang jelas, sosok Nicholas kini berada di hadapannya dan menyita seluruh perhatiannya.
Esok paginya, Amaya bangun pagi-pagi sekali. Karena ia mendapat jadwal pagi hari untuk melaksanakan tugas koasnya. Ia sudah mandi dan berpakaian meskipun hari masih terbilang gelap.
Tak lama kemudian handphonenya berdering, Amaya antusias dan langsung menyambar handphonenya yang terletak di atas tempat tidur. Ia mengira panggilan tersebut dari Nicholas. Entah mengapa ia berharap seperti itu, namun ternyata bukan. Panggilan tersebut justru dari nomor yang tidak dikenalnya.
“Hallo.”
Jauh disudut sana, pada sebuah penthouse yang menjulang dan menyajikan pemandangan ke arah gedung-gedung pencakar langit. Seorang pemuda berwajah tampan namun dingin, tampak tersenyum menyeringai ketika ia menelpon seseorang.
“Amaya?” Pemuda itu menyebut nama seseorang. Sementara dirumahnya, Amaya menjawab.
“Ini siapa ya?” tanya nya kemudian.
Pemuda itu hanya tersenyum lalu tertawa kecil, namun terkesan aneh. Tak lama kemudian, ia pun mematikan sambungan telpon tersebut.
“Prince, hari ini jadwalnya memakai handphone dengan warna black mate.”
Seorang asisten membawakan handphone untuk pemuda itu dan mengambil handphone yang tergenggam di tangannya.
Sementara di kediaman Nicholas, Kevin sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Pemuda itu sudah berpakaian rapi dan kini menunggu dengan resah di ruang depan. Pasalnya, Nicholas tak kunjung keluar dari kamarnya.
“Nich, buruan, Nich. Gue ada jadwal guru killer hari ini.” teriaknya memecah.
“Ntar dulu, nyari kaos kaki.”
“Kaos kaki lo ada di laci nomor 2 dari kiri. Lo nyimpen nya disitu.”
Nicholas membuka laci tersebut, dan ia kaget. Ternyata Kevin lebih tau dimana letak barangnya ketimbang dirinya sendiri.
“Koq lo tau sih?” teriak Nicholas dari dalam kamar.
“Jangankan kaos kaki, pala lo juga gue tau letaknya dimana.”
“Itu mah, nenek-nenek salto juga tau.”
“Buruan...!"
“Iyaaaa, bawel banget sih lo.”
Nicholas akhirnya keluar kamar.
“Gue ada guru rese hari ini, Nich”
“Siapa sih?. Supriadi?”
“Supriadi mah guru kita waktu SD. Ini tuh Robert Green.”
“Oh yang orang Amerika itu?”
“Iye, siapa lagi. Rese banget jadi orang, telat dikit nggak boleh.”
“Kasih aja rokok.”
“Lo pikir satpam depan bisa disogok.”
“Ye, jangan salah. Rokok Indonesia itu tembakaunya beda sama yang di luar negri. Percaya sama gue, rasanya lebih enak.”
“Iya kalau dia ngerokok, kalau kagak.”
“Sogok pake seblak lah.”
“Yang ada dia kepedesan dan gue di gampar sama dia. Udah ah buruan, napa jadi ngomongin seblak dah.”
“Gue belum sarapan, Pin.”
“Gue udah.”
“Ya elu, gue belom.”
“Suruh siap lo begadang, makanya kesiangan. Mikirin Amaya mulu sih lo.”
“Gue makan dulu, yak.”
“Nggak, buruan, buruan.”
Kevin mengambil sebungkus roti tawar diatas meja, lalu kemudian menyeret Nicholas.
“Pin serius, gue makan dulu.”
“Di mobil aja.”
Kevin kemudian berhasil membawa Nicholas untuk segera berangkat ke sekolah.