
Esoknya di sekolah, Prince mengalami perubahan perilaku. Dari yang biasa sok serta petantang-petenteng, kini menjadi lebih pendiam.
Ia juga tak lagi menggoda atau melecehkan para siswi, seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.
Banyak orang yang merasa aneh pada sikap Prince hari itu. Termasuk teman-teman terdekatnya. Malah Prince menolak, ketika teman-temannya mengajak keluar dan jajan es anggur merah pada sebuah toko jamu terselubung di dekat sekolah.
Biasanya Prince dan teman-temannya selalu menghabiskan jam istirahat di tempat itu. Tak akan ada guru yang menegur meski mulutnya berbau alkohol. Sebab ia memiliki privilege di sekolah itu. Tapi hari ini ia berubah 180 derajat.
"Prince kenapa dah hari ini?"
Salah satu teman Prince bertanya pada temannya yang lain. Mereka kini sama-sama mengamati Prince yang tengah duduk diam di suatu tempat.
"Ada masalah kali." jawab temannya yang lain.
"Coba aja tanyain." lanjutnya lagi.
"Gimana mau nanya, dari tadi dia cuma diem aja koq. Pas papasan juga melengos doang."
Mereka semua menarik nafas dan kembali menatap ke arah Prince.
"Ya udah deh, tunggu aja. Nanti juga dia kalau udah baik, bakalan nyamperin kita koq." Teman Prince kembali berujar. Sementara teman yang lain kini sepakat untuk mendiamkan Prince terlebih dahulu.
***
Siang itu, Prince menyambangi rumah sakit tempat dimana Amaya menjalani koas. Dia tidak mendekat, pun juga tidak menyapa wanita itu.
Hanya bersembunyi di suatu sudut sambil memperhatikan Amaya. Setiap gerak, langkah, suara, serta canda tawa yang keluar dari bibir Amaya. Membuat Prince nyaris tak bergerak.
Belum pernah ia merasakan perasaan semacam ini sebelumnya. Meski telah banyak perempuan yang singgah dan ia permainkan.
Amaya benar-benar membuatnya paham, jika jatuh cinta itu memanglah nyata dan ada. Dan ketika hal tersebut datang, kita akan benar-benar terkejut dibuatnya.
"Sas."
Tiba-tiba Nicholas muncul dan menghampiri Amaya. Tentu saja hal tersebut menyentakkan Prince.
"Hai, Nic. Aku udah nunggu kamu dari tadi."
"Sorry ya agak telat, tadi ngantri dulu di spbu soalnya."
"Oke, nggak masalah koq. Istirahatnya juga masih lama." jawab Amaya.
"Ya udah, jalan sekarang aja." ujar Nicholas.
"Oke." Amaya tampak bersemangat.
Ia dan Nicholas kini bergerak ke sebuah arah, Prince lalu mengikuti langkah kedua orang itu. Mereka tampak pergi ke halaman parkir dan masuk ke dalam mobil Nicholas.
Segera saja Prince kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam. Tak lama ia pun mengekor di belakang mobil Nicholas. Entah kemana Nicholas dan Amaya akan pergi, yang jelas dirinya ingin tau.
***
"Nic, aku mau makan nasi goreng kambing deh rasanya."
Amaya berujar pada Nicholas ketika mereka telah setengah jalan.
"Nggak jadi mau makan Korea?" tanya Nicholas.
"Mmm, lain kali aja deh. Eh tapi boleh nggak merubah rencana kayak gini?"
"Boleh aja." jawab Nicholas.
"Nggak masalah dong ya." ujar Amaya lagi.
"It's ok. Lagipula sekitaran sini ada koq nasi goreng kambing yang enak." ucap Nicholas.
"Ya udah deh, aku ngikutin kamu aja." tukas Amaya.
Maka Nicholas pun sedikit menaikkan kecepatan mobilnya. Sementara Prince masih setia di belakang mereka. Nicholas sendiri tak sadar jika diikuti, sebab Prince berada tak terlalu dekat dengan mobilnya.
"Nih, ini tempatnya."
Nicholas berujar ketika mereka akhirnya sampai.
"Waw, rame juga ya ternyata." Amaya memperhatikan sekitar.
"Ini lagi sepi nya." ujar Nicholas.
"Sepinya segini?"
"Iya, segini tuh sepinya. Biasanya mah, sampe tua ngantri disini. Kalau pake jasa abang ojol nih, abang ojolnya pasti minta maaf mulu karena ngantri parah."
"Oh gitu." ucap Amaya seraya masih tercengang. Tak lama ia dan Nicholas pun keluar dari dalam mobil.
Mereka mendekat dan mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan menu, mereka pun memilih. Amaya menginginkan nasi goreng kambing dengan rasa yang pedas, sedang Nicholas memilih rasa yang tidak pedas sama sekali.
Sambil menunggu, mereka lalu berbincang-bincang. Ada banyak hal seru yang mereka bahas. Sementara di suatu sudut yang sulit terlihat, Prince terus memperhatikan keduanya.
Entah mengapa perasaan ingin berada di dekat Amaya kini kian menggebu-gebu dalam benak pemuda itu. Rasanya ialah yang lebih pantas berada disana dan bukan Nicholas.
Ketika apa yang dipesan telah jadi dan tiba di meja. Amaya mencobanya terlebih dahulu ketimbang Nicholas.
"Waw, enak banget." ujarnya kemudian.
"Enak kan?"
Nicholas berkata sambil tersenyum, tak lama ia pun mulai makan.
"Punya kamu nggak pedes ya?" tanya Amaya.
Nicholas menggeleng."
"Mau coba?" tanya nya kemudian.
Amaya mengangguk. Nicholas lalu menyuapi wanita itu.
"Nih!" ujarnya seraya menyodorkan sendok berisi nasi.
Amaya menerimanya dan mencoba merasakan.
"Enak juga." ujarnya kemudian.
Tak lama ia menyendok miliknya dan memberikan pada Nicholas. Nicholas diam, sebab nasi goreng Amaya itu pedas level tiga. Di tempat ini yang paling pedas adalah level tersebut.
"Ayo, nggak pedes koq." Amaya meyakinkan.
Maka Nicholas pun akhirnya menerima suapan tersebut, meski agak ragu-ragu.
"Uhuk, uhuk."
Nicholas batuk dan tersedak, namun ia tertawa lalu meminum es teh manis yang tadi ia pesan.
"Pedes banget." ujarnya kemudian.
Amaya terkekeh-kekeh.
"Nggak koq, kamu aja yang nggak kuat berarti." Perempuan itu membela diri.
"Ya kan nggak semua orang bisa tahan mbak Jamilah." Nicholas berseloroh sementara Amaya makin terkekeh.
Setiap kali ada tawa yang pecah diantara mereka, setiap itu pula ada rasa sesak dan sakit yang menusuk di hati Prince.
Dalam hati ia bergumam, mengapa harus Nicholas yang duluan mengenal gadis itu. Mengapa tidak dirinya saja.
***
Usai makan, Nicholas kembali mengantar Amaya ke rumah sakit. Sebab jadwal perempuan itu sampai malam bahkan mungkin lembur.
Tak ada jam pasti bagi seorang koas. Harus selalu siap-sedia jika dokter senior membutuhkan jasanya.
"Nic, makasih ya. Jangan kapok ngajak aku makan siang." ujar Amaya sesaat sebelum masuk ke dalam rumah sakit.
"Sama-sama." jawab Nicholas sambil tersenyum. Tak lama kemudian keduanya pun berpisah.
Nicholas kembali ke halaman parkir, namun kini ia mendapati Prince di depan matanya. Prince berdiri sambil memberikan tatapan pada Nicholas.
Sementara Nicholas sendiri merasa kaget sekaligus aneh. Bisa-bisanya ia menemukan Prince di tempat ini.
"Gue mau bersaing untuk mendapatkan Amaya."
Tiba-tiba pemuda itu berujar, menambah keterkejutan di diri Nicholas. Darimana ia tau perihal perempuan yang sangat dicintai oleh Nicholas tersebut.
"Maksud lo apa?" suara Nicholas mulai di susupi rasa marah.
"Gue jatuh cinta sama Amaya."
Kata-kata tersebut sukses membuat Nicholas mendesak terdiam, dengan rasa kaget yang lebih besar dari sebelumnya.