I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
First Kiss



Siang itu, akhirnya tugas Amaya selesai sudah. Ia sudah sangat ingin pulang dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Baru menjadi koas saja sudah segini capeknya, bagaimana jika nanti sudah resmi menyandang gelar dokter.


"Hhhh."


Amaya menghela nafas, ia seperti terjebak kedalam labirin raksasa yang tak berujung. Jika bukan karena cita-cita orang tuanya, rasanya ia ingin mengambil kuliah jurusan lain saja. Yang kerjanya ringan serta tak menyita waktu banyak.


Paling tidak waktunya bisa ia gunakan sebagian, untuk menjadi selebgram. Foto-foto, posting-posting, dapat endorse. Jalan-jalan gratis kemana saja, menikmati liburan dan lain sebagainya. Setidaknya itulah pikiran yang acap kali muncul, ketika ia melihat kehidupan para selebgram yang seliweran di beranda sosial media miliknya.


Namun setiap kali dirinya merasa lelah, ia selalu teringat pada wajah kedua orang tuanya. Dan lagi ini merupakan pekerjaan mulia, bisa membantu orang banyak dalam memerangi penyakit yang mereka derita.


"Sas, lo balik." tiba-tiba Miranti melintas didekatnya.


"Iya Mir, lo baru dateng?" tanya Amaya pada sahabatnya itu.


"Iya, ini udah hampir telat. Gue ke dalam yak, sebelum di nyap-nyapin sama dokter Dan.


"Dokter Daniel?"


"Iya." ujar Miranti dengan nyaris tanpa suara.


Dokter Daniel adalah dokter senior yang terkenal cukup galak dalam mendampingi para koasnya. Maka dari itu, para koas sangat terburu-buru jika harus berurusan dengan laki-laki itu.


"Gue balik ya." ujar Amaya kemudian.


"Hati-hati, Sas."


"Lo yang hati-hati."


"Hahaha."


Miranti tertawa dan menghilang di balik pintu. Amaya berjalan ke arah depan, tiba-tiba Gerald hadir dihadapannya.


"Sas, pulang bareng yuk." ajak Gerald.


Tiba-tiba Nicholas muncul dan menggandeng lengan Amaya di hadapan Gerald. Ia menoleh sekilas ke arah wanita itu dengan wajah datar serta dingin. Namun genggaman tangannya terasa hangat.


"Saya pulang bareng Nicho, dok." Amaya berimprovisasi. Ia tidak tahu dari mana pemuda ini muncul dan untuk keperluan apa ia ada di sini.


"Ok."


Dokter Gerald berlalu, meski ada kekecewaan di wajahnya. Amaya menatap Nicholas, namun pemuda tampan itu kini berjalan seraya masih menggandeng tangannya.


"Kita mau kemana Nich?" tanya Amaya kemudian. Nicholas menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Ya kerumah kamu lah, masa ke KUA."


"Ya nggak apa-apa sih ke KUA, asal kamu mau tanggung jawab." ujar Amaya.


"Ntar tunggu kamu hamil." ujar Nicholas kini membuka pintu mobil. Sementara Amaya hanya tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nicholas masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Amaya. Sebelum menghidupkan mesin mobil, remaja itu mengambil sebuah permen karet dan mengunyahnya. Ia memberikan satu pada Amaya namun Amaya menolak.


"Aku mual, Nich. Kalau makan permen karet." ujarnya kemudian.


"Oh ya udah." Nicholas meletakkan permen itu di dashboard mobil.


"Kamu ngerokok, ya?" tanya Amaya padanya. Nicholas mengangguk lalu menghidupkan mesin dan menginjak pedal gas.


"Iya."


"Kalau mau ngerokok ya ngerokok aja, nggak apa-apa."


"Janganlah, kasian kamunya." ujar Nicholas kemudian. Ia memang sengaja mengunyah permen, agar keinginan merokoknya bisa berkurang.


"Nanti kalau bisa dikurangin ya, rokoknya." Amaya mengelus kepala Nicholas. Membuat pemuda itu seketika diam dan terhenyak. Ada perasaan hangat yang kini menjalar dihatinya. Ia terus fokus menyetir, meski tubuhnya kini gemetar. Belum pernah ia disentuh seperti itu oleh seorang gadis manapun.


"Kamu udah makan siang?" tanya Nicholas ketika mobil telah berjalan cukup jauh.


"Belum." jawab Amanda kemudian.


"Makan siang dulu, ya." ujar Nicholas.


"Dirumah aja, Nich. kita pesen online."


"Ya udah."


Nicholas menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam. Hingga dalam waktu yang tak begitu lama, mereka sudah tiba di kediaman Amaya.


Sesampainya disana, Amaya pamit mandi sebentar. Karena merasa tubuhnya sudah sangat lengket sekali. Tak lama kemudian ia pun tiba, lalu mereka memesan makanan.


"Makasih loh, Nich. Semalem dah kirim makanan ke IGD." ujar Amaya ketika mereka mulai makan.


Nicholas hanya mengangguk seraya menyendok makanannya. Sementara Amaya kini terus memperhatikan pemuda itu. Entah kenapa, ada sebuah perasaan aneh dalam dirinya.


Mungkin karena Nicholas adalah seseorang yang memang baik dari dalam hatinya, hingga mengundang perasaan orang sekitar untuk menyayanginya.


Nicholas mengangguk sekali lagi, lalu menelan makanannya yang masih berada di dalam mulut. Ia lalu mengambil air minum dan mereguknya sedikit.


Amaya tersenyum, melihat betapa polosnya pemuda ini. Seperti belum pernah mendapat pernyataan sayang dari perempuan.


Tak lama setelah makan, Nicholas pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Ia tak begitu menutup pintu kamar mandi tersebut, hingga Amaya bisa memerhatikan pemuda itu dari celah pintu.


Ia pun tersenyum, tak lama ia sendiri pun membersihkan mulut pada kamar mandi satunya. Mereka bertemu diruang tamu.


"Aku, pulang dulu ya." ujar Nicholas setelah beberapa saat duduk di sofa.


"Koq cepet banget?"


"Kan kamu mesti istirahat." ujar Nicholas lagi.


"Ya kalau kamu mau disini dulu nggak apa-apa. Paling aku tinggal tidur."


"Nggak usah. Aku pulang aja, biar kamu bisa kunci pintu dan tidur selama yang kamu mau."


Nicholas bersiap, lalu beranjak.


"Hati-hati ya, Nich."


Pemuda itu mengangguk lalu berjalan ke arah pintu.


"Nich."


"Iya."


Nicholas menghentikan langkahnya lalu menoleh. Tiba-tiba Amaya mendekat lalu mencium pipi pemuda itu. Ia mencium di area pipi yang sangat dekat dengan bibir. Hingga Nicholas bisa merasakan ciuman itu menyentuh sudut bibirnya walau sedikit.


Waktu seakan terhenti, jantung pemuda itu kini berdegup kencang serta nafasnya yang memburu. Ia berbalik dan keluar dari pintu, sementara Amaya hanya tersenyum melepas kepergiannya.


Nicholas kini berpegang pada gagang pintu mobilnya, dengan jantung yang masih terus berdebar kencang. Gemetar rasanya ia mendapat perlakuan seperti tadi.


"Pin."


Nicholas menelpon Kevin. Saat itu Kevin telah berada dirumahnya.


"Kenapa lu, Nich?. Abis dikejer satpol PP?" tanya Kevin heran. Ia mendengar nafas Nicholas yang memburu.


"Pin gue harus gimana Pin?" suara Nicholas tampak seoerti orang yang begitu khawatir.


"Gimana apanya?. Lu kenapa, Nich?. Ini lo lagi serius bukan ngerjain gue kan?"


Nicholas diam.


"Nich, lu kenapa dah?. Ngomong, khawatir gue."


"Pin, Amaya. Dia nyium gue."


"Hah?" Kevin terperangah tak percaya.


"Te, terus perjaka lo direnggut?" tanya Kevin lagi.


"Nggak, nggak sampe kesitu." jawab Nicholas.


Kali ini Kevin yang menghela nafas. ia khawatir temannya itu sudah melakukan hubungan sexual. Bukan apa-apa, Nicholas itu masih polos untuk urusan seperti itu. Kevin takut perasaan temannya akan campur aduk jika telah melakukan hal tersebut.


"Ya udah, sekarang lo tenang. Perasaan yang lo alami sekarang itu normal. Ok?"


"Ok."


Nicholas mulai bisa mengatur nafasnya.


"Lo dimana ini sekarang?"


"Masih didepan rumah dia. Ini mau balik gue."


"Rumah Amaya?"


"Iya."


"Ya udah, lo tenangin dulu diri Lo sampe setenang mungkin, baru lo jalan balik."


Nicholas mencoba menenangkan bathin dan pikirannya. Kini nafasnya berangsur teratur. Ia masih berkomunikasi pada Kevin beberapa saat, selanjutnya ia pun menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.


Di apartemen, Nicholas kini berbaring di tempat tidur, seraya mengingat kejadian tadi. Ia memejamkan mata, dalam pikirannya kenapa ia tadi tak membalas saja ciuman Amaya. Menikmati kecupan itu, memegang apapun yang ia inginkan dari wanita itu atau membuka sedikit kancing kemejanya.


"Aaah." Nicholas membenamkan kepalanya di bantal. Bisa-bisanya ia berfikiran seperti itu.


Tidak, ini tidak boleh Ia tidak boleh berfikiran sampai sejauh itu, siapa tau tadi Amaya hanya iseng menciumnya. Atau sekedar ucapan terima kasih seorang kakak pada pasien yang dianggapnya sebagai adik. Tapi kenapa dia mencium didekat bibir, kalau memang wanita itu tidak memiliki perasan lebih padanya.


"Aarrgghh." Nicholas kini tengkurap, lalu makin membenamkan kepalanya di bantal.