I Heart You, Dr. Amaya

I Heart You, Dr. Amaya
Perkara Karlita



Karlita kembali ke sekolah. Dia yang dulunya tak begitu dikenal, kini menjadi buah bibir bak selebritis. Berita tentang ia mendapatkan bullying di sekolah telah tersebar kemana-mana.


Bahkan Dena pun sampai menutup semua akun sosial media miliknya. Lantaran tak tahan dengan hujatan netizen yang maha benar, dengan segala bacotnya.


Ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa memberi maaf, namun hukum harus tetap di tegakkan. Ada pula yang menyarankan pihak sekolah, untuk segera mengeluarkan Dena dan mem-blacklist namanya dari seluruh sekolah yang ada.


Bahkan sampai ada yang menyarankan untuk membuat petisi, agar pihak kepolisian memanggil dan memproses Dena secara hukum. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberi efek jera, pada semua pelaku bullying yang ada di tiap sekolah.


Ratusan pasang mata kini tertuju pada Karlita. Namun seluruh siswa disekolah tersebut bukan mengintimidasi, melainkan memberinya pandangan yang hangat dan bersimpati padanya.


Selama ini tak ada yang bersikap seperti itu padanya kecuali Nicholas. Bahkan tak ada yang pernah mengenal ataupun bergaul dengannya, saking tertutupnya anak itu.


Ia selalu merasa minder untuk berbicara dengan siapapun disekolah tersebut. Karena hanya dirinya lah siswa paling miskin, di antara semua siswa yang menempuh pendidikan di tempat itu. Ia bisa masuk ke sana karena pintar dan mendapatkan beasiswa.


Itu pun masih dibantu, karena ibunya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Nicholas. Saat dulu Nicholas pertama kali pindah ke kota ini. Ibu Nicholas pernah bercerita bahwa ia bercita-cita memasukan Nicholas ke sekolah ini, dan ibu Karlita pun mengatakan bahwa ia memiliki harapan yang sama terhadap Karlita.


Namun ibu Karlita sadar dirinya siapa. Ia tak punya cukup uang agar Karlita bisa masuk ke sekolah yang ia impikan. Atas bantuan dari orang tua Nicholas lah, gadis itu akhirnya bisa mendapat informasi mengenai beasiswa. Ia akhirnya bisa mengenyam pendidikan di sekolah bergengsi tersebut. Orang tua Nicholas bersedia membiayai setengah dari biaya masuk, termasuk biaya seragam dan buku. Karena Karlita tidak mendapatkan beasiswa full.


Namun sejak awal ia masuk, Dena sudah sering mengganggu bahkan sengaja menghinanya di depan anak yang lain. Dena pernah memergoki Karlita tengah membantu ibunya berjualan kue, setelah ibunya tak lagi bekerja di rumah Nicholas. Lantaran kedua orang tua Nicholas akhirnya bertugas ke luar negri.


Pada mulanya sekali, Dena bersikap biasa saja pada Karlita. Karena mengira jika anak itu adalah anak, yang berasal dari keluarga kaya sama seperti dirinya.


Namun saat ia tanpa sengaja memergoki Karlita, saat itulah yang membuatnya paham. Jika Karlita hanyalah anak orang miskin, yang masuk kesekolah ini karena sebuah keberuntungan. Ditambah lagi ia selalu terlihat sangat dekat dengan Nicholas, cowok yang menjadi incaran Dena sejak pertama kali masuk ke sekolah.


Dena menyebarkan kepada teman-teman dekatnya tentang siapa Karlita, sejak saat itu mereka mulai membullynya. Tak ada yang mau berteman dengan Karlita. Hanya Nicholas saja yang sering membelanya, apabila gadis itu mendapatkan perlakuan tak mengenakan.


Kini di hadapan semua orang, ia seperti mendapatkan perhatian. Mereka semua ternyata baik dan mau membela Karlita, meskipun ia orang miskin. Anak-anak disekolah ini tidaklah sesombong yang ia kira selama ini. Hanya Dena dan beberapa temannya saja yang seperti itu.


"Karlita, kamu udah sembuh?"


Raline beserta kedua dayangnya, mendekati Karlita  Dengan di dampingi oleh Rebbeca pacar Miko. Rebbeca sendiri adalah gadis yang tempo hari turut menyebarkan video, saat Karlita terjatuh dan merekam jelas wajah Dena. Ia juga membantu Raline bersaksi di hadapan guru BP dan dewan guru yang menangani kasus itu.


"Iya, Raline, Rebecca dan kalian semua. Makasih kalian sudah bantu biayain rumah sakit aku. Kalau nggak ada kalian, aku nggak tau harus gimana."


"Iya sama-sama." ujar Raline lalu tersenyum, begitupun dengan yang lainnya.


"Lebih baik kamu deket kita, nanti ada kunti yang ganggu." Rebecca melirik ke arah Dena yang tengah melangkah sambil menunduk.


"Wuuuuuu."


Para siswa berteriak menyoraki Dena. Bahkan yang dulu pro terhadapnya pun kini ikut-ikutan menghujat.


"Anak alay."


"Bocah micin."


"Kebanyakan sinetron tuh pasti."


Lalu ada beberapa yang melemparinya dengan benda apapun, termasuk ranting pohon dan kerikil. Gadis itu hanya menunduk, ia belum mendapat sanksi dari pihak sekolah maupun kepolisian. Karena Karlita sendiri belum melapor dan belum memberi keterangan kepada pihak sekolah maupun pihak yang berwajib lainnya. Namun hujatan demi hujatan seperti ini telah bertubi-tubi ia terima.


Dari tempatnya berdiri, Nicholas bisa melihat ekspresi Dena yang tampak begitu tertekan dan ingin menangis. Jujur ia merasa kasihan pada Dena, dalam sekejap reputasinya hancur. Teman-temannya yang dulu sangat akrab kini mulai menjauh. Akibat perbuatannya yang keterlaluan, kini ia harus menghadapi konsekuensi terkucil dari pergaulan.


"Syukurin." Kevin berteriak pada Dena.


"Mpin, udah." Miko mencoba meredam Kevin yang tampak begitu sengit dan sinis pada Dena.


"Biarin aja tau, emang pantes dia dapat perlakuan kayak gitu." ujar Jason membela Kevin.


Sementara Dirly dan Nicholas hanya diam, karena tak tau harus berbuat apa. Pagi itu Karlita dipanggil pihak sekolah untuk memberikan keterangan. Namun di luar dugaan gadis itu malah meminta pihak sekolah melupakan kejadian itu dan tak membawanya ke ranah hukum.


"Kamu benar-benar yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya salah seorang dewan guru yang duduk persis di samping guru BP. Mereka sangat terkejut mendengar keputusan Karlita.


"Iya bu. Ibu saya juga bilang, kalau masalah ini nggak usah diperpanjang. Lagian saya udah sembuh, udah nggak kenapa-kenapa. Kasian Dena, kita harus kasih kesempatan kedua sama orang yang menyadari kesalahannya. Lagipula Dena, sepertinya sekarang dia sudah sadar dengan apa yang dia perbuat. Tuhan saja maha pemaaf, bu. Kenapa kita nggak?"


Ucapan Karlita membuat semua guru yang ada di sana tertegun. Mereka salut dengan kebaikan hati gadis itu.


"Kamu benar-benar anak yang baik, Karlita."


Karlita diam dan menunduk. Ia tak biasa menerima pujian.


"Saya mohon, bu. Kasian Dena." ujarnya kemudian.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Kami akan sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ini."


Karlita pun tersenyum demi mendengar keputusan itu.


"Tapi kami akan tetap memberikan sanksi disiplin kepada Dena."


"Kalau itu demi kebaikan, saya terima bu."


Guru pun akhirnya menjatuhkan hukuman disiplin kepada Dena, yakni harus piket kelas dan membersihkan peralatan laboratorium selama 3 bulan. Masih lebih ringan daripada ia harus berhadapan dengan pihak kepolisian.


Berita tentang Karlita yang mengampuni Dena itu pun, kemudian menyebar dengan cepat. Seluruh siswa berdecak kagum dengan kebaikan hati Karlita, yang tidak mau membawa kasus ini ke ranah hukum. Berita ini juga tersebar ke sosial media, sehingga membuat Dena semakin di bully.


Banyak pihak yang tidak terima dengan keputusan ini. Alasannya, pelaku bullying haruslah diberikan efek jera seberat-beratnya. Agar tidak lagi melakukan perbuatan jahatnya.


Mereka menginginkan proses hukum tetap berjalan untuk para pelaku bullying dimanapun berada. Namun agaknya Karlita teguh pada pendiriannya. Ia tidak mau membawa masalah ini terlalu jauh.


"Eh, Nich. Itu beneran keputusan nya si Karlita kayak gitu?" tanya Jason ketika jam istirahat tiba. Mereka sama-sama nongkrong di taman dekat gerbang . Karena ada pedagang cilok kesukaan mereka yang suka mangkal di depan sekolah. Usai membeli cilok, mereka pun duduk disana secara otoriter.


Karena jika ada cewek-cewek kecentilan yang coba mengusir mereka untuk selfie-selfie, maka mereka bisa lebih galak dan mengusir cewek-cewek tersebut hingga lari kocar-kacir. Biasanya mereka menggunakan metode iguana milik Miko, yang sering ia bawa ke sekolah. Gunanya untuk menakuti para cewek kecentilan yang takut pada hewan melata.


Disekolah ini sebenarnya tidak diperbolehkan membawa hewan peliharaan, namun Miko sering menitipkannya di pos sekuriti dengan iming-iming uang rokok. Jika kondisi darurat, maka iguana tersebut akan bertindak sebagai penyelamat.


"Beneran, tadi udah gue tanya koq." jawab Nicholas sambil makan cilok dengan bumbu super pedas.


"Bener-bener baik ya, tuh cewek. Udah cantik, kalem, baik pula." ujar Dirly memuji.


"Heee, sa ae kang risol. Awas aja ntar ujung-ujungnya lo deketin Karlita, terus lo gebet."


ujar Kevin dengan penuh kecurigaan.


"He, kang sendal. Gue nggak gitu kali." Dirly menoyor kepala Kevin.


"Kali aja, semua kan tau kalau lo penjahat wanita. O uwo-uwo, lelaki buaya darat."


Kevin menyanyikan lagu lawas dari grup duo ratu yang berjudul buaya darat ,sambil berjoget ala kepala suku yang kesurupan setan kecoa.


"Deegghh."


Tiba-tiba hati Nicholas bergetar. Sama persis seperti ketika dirinya berada di dekat Amaya.


"Deegghh."


"Deegghh."


"Aneh, kenapa begini ya?" gumamnya kemudian.


Nicholas pun mencoba menepis rasa tersebut. Lalu ia menyelesaikan makannya dan menghabiskan hampir setengah botol air mineral. Ia pun sempat ke toilet untuk menggosok gigi di wastafel. Karena anak itu memang tidak betah berdiam diri sehabis makan dan membiarkan giginya kotor.


Sehabis itu ia kembali ke taman, ke tempat dimana teman-temannya masih makan untuk yang kesekian kalinya. Ia mencoba duduk tenang kali ini, namun getaran itu makin lama, makin kuat.


"Deegghh."


"Deegghh."


Nicholas pun memegang dadanya. Nafasnya mulai tak teratur sampai kemudian,


"Nich, gue kayak ngeliat Amaya deh." ujar Miko sambil terus menatap ke arah gerbang sekolah.


"Amaya?" tanya Kevin heran. Matanya ikut-ikutan berpatroli di sekitar area gerbang.


"Ngapain dokter muda kayak dia ada di sekolah jam segini?. Mau imunisasi polio kayak jaman SD?" cerocosnya kemudian.


"Gue serius, Panjul."


Miko lalu berjalan ke arah gerbang. Diikuti Kevin, Jason dan Dirly yang penasaran. Sementara Nicholas masih ditempatnya. Dengan mata yang tertuju pada gerbang sekolah tersebut.


Miko tampak berbicara dengan seorang wanita, tak lama kemudian wanita itu masuk dan menghampiri Nicholas. Nicholas berusaha tenang dan menatap wanita itu seolah tidak terkejut dengan kehadirannya. Padahal jujur ia cukup kaget, ketika melihat wanita itu ada di sekolahnya.