
"Nich, lo dimana?. Buruan....!”
Suara Jason di seberang terdengar penuh kecemasan dan kepanikan tingkat dewa. Pasalnya sudah jam segini, namun Nicholas belum juga terlihat batang hidungnya. Hari ini mereka akan mengadakan study tour ke beberapa kota dalam beberapa hari kedepan.
"Ntar dulu, macet banget ini.”
"Buruan, bus udah pada sampe di sekolah. Anak-anak juga udah pada naik. Bentar lagi kita jalan.”
"Iya-iya.”
Nicholas berusaha menerobos kemacetan. Saking fokusnya pada jalan yang penuh sesak, ia lupa pada Amaya yang seharusnya ia jemput dan antar ke rumah sakit. Ia hanya berfikir bagaimana caranya agar bisa cepat sampai ke sekolah.
Amaya sendiri tak tau, mengapa Nicholas tidak menjemputnya seperti biasa hari ini. Ia menunggu cukup lama namun anak itu tak kunjung menampakkan diri. Handphone nya tak bisa dihubungi. Pesan yang ia kirimkan, tak satu pun yang sudah terbaca. Beberapa waktu belakangan, mobil Nicholas sudah selesai di perbaiki dan ia pun kembali sering mengantar atau menjemput Amaya.
Sementara jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 45 menit. Akhirnya ia pun memutuskan untuk naik kendaraan umum. Keadaan di jalan benar-benar penuh sesak. Hampir tak berjalan sama sekali. Baik Jason, Kevin, Dirly maupun Miko tak henti-hentinya menelpon anak itu. Membuat keadaan terasa semakin runyam.
Dalam suasana yang semakin ruwet tersebut tiba-tiba saja seseorang menggedor kaca mobilnya dari sisi kiri. Nicholas yang terkejut pun menoleh. Ternyata Raline, ia lalu membuka kap atas mobilnya dan membuka lock pintu.
"Raline...”
"Nich ikut ya, mobil Raline jauh di belakang. Raline liat ada mobil kamu dari jauh sana tadi. Terus Raline buru-buru kesini. Nggak bakal jalan kalau Raline bertahan di belakang.”
"Ya udah, ayok.” ajak Nicholas kemudian.
Raline masuk ke dalam mobil Nicholas. Bertepatan dengan bus TransJakarta yang ditumpangi Amaya melintas di sisi kanan mobil Nicholas. Dalam penuh sesak itu, tanpa sengaja mata Amaya melihat Raline yang masuk ke dalam mobil Nicholas karena kap mobil pemuda itu yang tengah terbuka. Tampak mereka berbincang begitu akrab. Hati Amaya pun seketika bergemuruh. Entah untuk alasan apa tiba-tiba hal tersebut membuatnya merasa tak nyaman.
Ia berusaha menepis rasa itu ketika bus yang ia tumpangi berhenti tepat di lampu merah tak jauh dari tempat dimana mobil Nicholas berada. Ia berusaha untuk tak menoleh. Namun rasa penasaran dan cemburu yang tiba-tiba hadir, mendorongnya untuk menoleh serta melihat semuanya. Dimana Raline dan Nicholas terlihat makin dekat. Entah sedang mengobrol apa keduanya itu.
Sampai kemudian lampu hijau pun kembali menyala. Semua mulai bergerak maju dan bus yang di tumpangi Amaya melesat lebih dulu karena berada di jalur khusus yang sepi. Hatinya tiba-tiba lemah. Ia merasa dirinya sudah terlampau jauh masuk ke dalam rasa yang tercipta akhir-akhir ini.
Ia harusnya sadar sepenuhnya bahwa Nicholas yang ia kenal sebagai pasien dokter Margaret adalah seorang pelajar, muda dan terkenal. Ia digandrungi banyak wanita. Tak pantas seorang dokter muda yang sudah berusia dewasa seperti dirinya mengharapkan rasa yang lebih dari seorang pelajar seusia Nicholas.
Tapi rasa itu benar-benar mulai membuatnya gila. Rasa pantas dan tak pantas itu kadang sudah tak terpikirkan lagi. Yang ada di benaknya hanyalah, ia menyadari bahwa ada perasaan semacam suka kepada anak itu. Entah kapan persisnya rasa itu mulai terbentuk. Yang jelas, ia mulai menyadari dan merasakannya kini.
Bus terus melaju. Sementara di sepanjang jalan hati Nicholas terus berguncang. Jauh di tengah kemacetan tadi ia sudah merasakan hal tersebut. Namun ia tidak sadar jika guncangan yang terjadi di hatinya itu adalah guncangan yang sudah biasa ia rasakan ketika berhadapan atau berada dekat dengan Amaya. Ia benar benar tidak menyadarinya karena sudah bergulat dengan kemacetan. Pun karena ada Raline yang mengajaknya bicara di sepanjang perjalanan.
Kini rasa itu masih terus berlanjut meski perlahan memudar karena Amaya sendiri sudah berada jauh darinya.
Amaya turun dari bus TransJakarta yang mengantarnya sampai ke halte yang tak jauh dari rumah sakit. Namun ia masih harus berjalan sedikit ke rumah sakit tersebut. Di sepanjang jalan ia masih terus teringat bagaimana tadi Nicholas berbicara begitu akrabnya dengan Raline.
Karena terus terpikir akan hal tersebut, tanpa sadar Amaya menyeberang saat sebuah mobil melintas dengan kencang.
"Aaaaaaaaaa......!”
Amaya berteriak dan menghindar secepat mungkin. Si pemilik kendaraan tersebut pun tak kalah kagetnya. Ia menghentikan mobilnya dan menghampiri Amaya yang berada di sisi jalan.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya si pemilik mobil tersebut khawatir. Ternyata ia seorang anak sekolah yang tampaknya juga tengah terburu-buru.
"Saya nggak apa-apa koq.” ujar Amaya kemudian.
"Beneran?" tanya anak itu lagi. Amaya mengangguk.
"Kamu mau ke rumah sakit itu?" Si pelajar tampan pemilik mobil itu, memperhatikan name tag yang dipakai Amaya. Wanita itupun kembali mengangguk.
"Ya udah, aku anter. Ayok....!”
"Nggak usah.”
"Nggak apa-apa koq.” Pemuda itu memaksa.
Pemuda itu kemudian mengantar Amaya ke seberang, sampai ke depan gerbang rumah sakit. Tak lama kemudian ia pun kembali ke
mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Setelah menghadapi caci maki pengguna jalan negara +62, karena dirinya telah parkir sembarangan
Nicholas tiba di sekolah tepat beberapa menit lagi bus akan berangkat. Ia buru-buru memarkir mobilnya dan masuk ke dalam bus tersebut diikuti Raline.
"Dari mana aja, Junior Roberts?.” tanya Miko dengan wajah yang masih menyimpan rasa cemas. Agaknya ia dan teman yang lain memang sangat menunggu kedatangan Nicholas.
"Dih enak aja, gue mah Vino Bastian.” ujar Miko lagi.
"Ho'oh, Vino Bastian diliat dari sedotan.” celetuk Nicholas sambil duduk di kursi kosong yang berada di sisi Kevin. Tempat itu memang sudah disediakan untuknya.
"Lama amat lu, Nich.” ujar Kevin kemudian.
"Macet, Mpin sayang. Nggak liat lo tampilan gue udah acak-acakan begini saking bete nya gue di jalan.”
"Eh, btw lo bareng Raline tadi?” tanya Dirly sambil menongolkan kepalanya dari atas. Ia dan Miko duduk di belakang, sementara Jason dan salah seorang siswa lain duduk disisi seberang jalan tengah. Mereka semua kini memperhatikan Nicholas.
"Gue nggak sengaja ketemu Raline di jalan.”
"Oh.” jawab mereka semua sambil tersenyum nakal.
"Apaan sih lo pada?" tanya Nicholas sewot.
Menangggapi tatapan nakal teman-temannya.
"Serius kagak sengaja ketemu. Lo pikir gue mau manfaatin situasi mentang-mentang Raline suka sama gue?"
"Kita nggak bilang gitu loh ya, itu persepsi lo sendiri.” ujar Dirly kemudian.
"Ho'oh. Kita cuma curiga aja sama lo. Jangan jangan lo lagi nyari cadangan, kalau misalkan Amaya nanti nggak mau sama lo.” celetuk Kevin
"Hahaha.” Mereka semua tertawa, namun tak lama kemudian.
"Amaya?"
Tiba-tiba saja Nicholas teringat pada perempuan itu. Seketika ia menepuk dahinya.
"Gue, gue nggak jemput Amaya ya hari ini?" tanyanya kemudian.
"Mana saya tau, saya kan ikan.” jawab teman-temannya serentak.
"Itu kan tugas elu Nich, masa kita yang ngingetin.” tukas Jason sambil meminta persetujuan teman-temannya.
"Iya bener, gimana sih lo?"
Nicholas mulai panik dan membuka handphone nya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Amaya dan beberapa pesan singkat lewat I Message dan WhatsApp.
"Oh my God, dia menghubungi gue ternyata."
Nicholas kemudian balik menghubungi Amaya. Namun tak diangkat sama sekali karena wanita itu tengah berada di jam sibuk. Karena saat ini pasien dokter Margaret sedang ramai.
Bus pun mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah. Sementara kini Nicholas berubah seperti cacing kepanasan.
"Duh ini gimana dooong?" ujar pemuda itu pada teman-temannya. Ia merengek layaknya anak kecil yang tidak di beri uang jajan.
"Ya hubungin aja, Nicho” ujar Kevin dengan nada gregetan. Ingin rasanya ia memukul kepala temannya itu dengan gas tiga kilo.
"Ya tapi kagak diangkat.”
"Ya kali dia di jam sibuk sekarang.”
"tapi gue nggak bisa nunggu, gue takut dia marah.”
"Lagian elu sih, masa bisa lupa sama gebetan.” ujar Dirly memarahi, yang kemudian di setujui oleh Miko dan juga Jason.
"Lo pada koq jadi mengintimidasi gue gitu sih?" ujar Nicholas sewot.
Teman-temannya mulai melebarkan bibir sampai kuping.
"Aarrgghh, kesel kan gue.” ujar Nicholas gusar sementara kini teman-temannya berusaha menahan tawa.