I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
4,5



"Fuuuuuu....." Suara angin yang berhembus lembut menerbangkan setiap helai rambut nya yang bewarna putih perak, di tambah dengan senyuman kecil yang terukir di wajahnya, membuat ku tidak mau tidak terpana oleh dirinya.


Karena senyum itu dan rambut itu mengingat kan tentang satu hal yaitu mamaku Duchess sebelumnya,


"Tidak Albert kau tidak boleh lengah dia adalah penyusup yang beruntung karena dia mencuri kesempatan, berkat kutukan ku ini!!!" Gumanku sendiri.


Tapi dia benar-benar mengingatkan ku tentang mama, pikir ku saat menoleh kearah nya lagi, dan orang itu sekarang sedang salto dan kayang setelah mendengar suara setuju dari para penonton.


"Tunggu dulu kenapa aku bisa tau nama dari gerakan itu ya? Padahal aku belum pernah melihat gerakan barusan" Ucap ku dalam hati,


"Ah ......  mungkin saja aku pernah membaca deskripsi dari gerakan itu di buku, makanya aku hafal di luar kepala tanpa harus mengingat buku apa yang kubaca waktu itu dan yang membahas tentang kayang dan salto" guman ku sambil mengangguk angguk kan kepala sendiri.


"DEG!!!!"  Tiba tiba nafas ku tercekat rasa sesak seperti kesulitan bernafas ini tanda tanda aku akan menjadi pribadi kedua ku sebentar lagi, rasaku sambil memegangi leher .


"Dasar kutukan sialan!!!, Aku harus pergi ke gelandangan itu dengan cepat sebelum aku menghancurkan semuanya" ucapnya dalam hati lalu berlari kearah Florence dengan kecepatan yang dia bisa.


Sebenarnya aku mempunyai satu rahasia yang bahkan Duke tidak tahu, yaitu saat aku dalam keadaan terpengaruh oleh kutukan ini,


Kesadaran ku tetap ada tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa seperti halnya seorang penonton tanpa bisa mengubah alur cerita sedikit pun,


Jadi yang bisa ku lakukan adalah menyaksikan dengan tenang dan berfikir penyelesaiannya lalu ketika aku sudah sadar aku akan membereskan masalah yang dibuat oleh kutukan ini,


Dan itu juga sedikit menguntungkan ku karena aku bisa menyeleksi orang orang yang benar benar berada di pihak kami, dan menyingkirkan yang menghalangi,


Dan saat ini aku hanya ingin tau bagaimana reaksi gelandang itu, mungkin aku bisa melihat sifat aslinya juga tujuan nya berubah saat ini.


...............


Saat Albert berlari, seketika itu juga auranya berubah gelap dan matanya berubah menjadi lebih tajam dan kosong, dan jika ia tersenyum orang akan mengira kalau senyuman itu adalah senyuman iblis.


Dia melihat seseorang sedang mengangkat pedang kearah Florence, dan seketika itu dia marah lalu selagi berlari kearah nya dia menggambil belati prajurit yang ada didekatnya lalu melempar ke arah


Boateng Valcke dengan cepat dan akurat.


Sampai Florence menyadari ada sesuatu yang terbang dengan cepat menuju ke arah gurunya lalu dengan sigap dia menghadang belati itu dengan pedangnya, suara benturannya membuat orang orang menjadi ngilu, lalu membuat belati itu terpental jauh dari semua orang.


"Huh!!!.... Siapa itu melempar belati dengan mudahnya, ingin melukai orang lain ya?" Ucap Florence dalam hati lalu menengok kebelakang dan melihat Albert sedang berlari kearahnya,


"Eh?" Florence memasang wajah kaget karena yang melempar belati itu adalah Albert sendiri,


"Albert?" Suaranya sedikit kaget


"Kenapa kau disini nak?"tanya ku bingung


Dia memelukku dengan erat seakan takut di tinggal pergi,


"Mama menghilang jadi aku mencari mu hingga sini"jawabnya manja, lalu berkata lagi sambil mengeluarkan aura membunuh,


"Siapa orang yang berani menyodorkan pedangnya ke arah mama ku!!!, Apa kau ingin menyakitinya!!!?" Teriaknya nyaring


Semua orang yang ada di situ seketika ciut dan menghindar jauh-jauh dari mereka berdua.


"Huff...." Aku menghela nafas lalu tersenyum kepada Albert, dan jongkok agar bisa sejajar dengan nya,


"Tidak ada yang ingin menyerang ku, mereka hanya ingin melihat caraku berlatih dengan guruku apa kau paham Albert?" Balas ku memberi pengertian baginya.


"Oh berarti dengan menyodorkan pedang seperti itu, memberi pelajaran pelatihan?" tanya Albert berbinar binar,


"Em.... Tidak begitu juga sayang, intinya kau tidak boleh meniru adegan ini kecuali nanti besar ya?" Ucap ku yang sendiri kebingungan.


"Berarti sekarang aku ingin mama bermain dengan ku oke?"


"Baiklah, ayo kita ke taman" balas ku sambil menggandeng tangannya lalu  saat melewati kedua pelayan itu Florence berhenti dan berkata kepada mereka


"Maukah kalian menjadi pelayan pribadiku mulai sekarang?"


Mereka memasang wajah terkejut lalu beberapa detik kemudian mengangguk-angguk dengan semangat,


"YA KAMI MAU NYONYA!!!"ucap mereka hampir berteriak,


Aku tersenyum kecil karena kelakuan mereka, lalu lanjut berkata


"Tolong siapkan alas di taman dan beberapa cemilan, aku akan berkeliling sebentar di taman lalu istirahat"


"Ba.....baik!!!!" Dengan serempak mereka membereskan bekas tempat istirahatku tadi, lalu buru-buru pergi entah kemana.


Lalu sekarang, aku memohon pamit kepada guruku dengan beri isyarat harus pergi sekarang karena tugasku adalah menjadi penawar bagi kutukannya, dia tersenyum kecil lalu mengangguk dan melangkah pergi dari tempat itu.


Aku tersenyum senang karena hari ini berjalan dengan baik lalu menggandeng tangan Albert dan membawanya pergi berjalan-jalan sebentar di taman.


Dia senang sekali memegang tanganku dengan erat, bahkan sampai membuat tanganku kesakitan karena sedikit tekanan dari genggamannya, setelah selesai berkeliling Aku akhirnya memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang yang dibawahnya telah tersedia tempat untuk berpiknik.


Albert dengan mata cemerlangnya ingin tau banyak hal, lalu dengan semangat bertanya ini dan itu, aku cukup senang dengan cara mengajar saat dia sedang terpengaruh oleh kutukannya, karena jadi lebih mudah didekati.


Aku juga sekalian mengajarinya menulis, berhitung, perkalian, sampai tanpa sadar aku merasakan perasaan Dejavu karena momen ini saat aku, dan Rangga sedang mengajari Brian di waktu kecil, senyum ku hilang tanpa sadar berganti menjadi raut kesedihan dan Albert pun bertanya dengan wajah polosnya.


"Mama.... Mama.... kenapa wajahmu bersedih....? siapa yang berani menyakiti Mama akan aku bunuh sekarang!!!"


"Tidak, sayang! tidak ada yang menyakitiku...... Aku hanya teringat kenangan masa lalu"


"Kenangan-kenangan seperti apa itu? apa mama bisa bercerita tentang kenangan?"


"Ah..... Itu tidak sekarang ya sayang, lain kali pasti Mama akan ceritakan atau paling tidak kamu pasti akan tahu sendiri kenangan apa itu....."


"Baiklah kalau itu mau mama, aku tidak akan memaksakan"


"Kruyuk-kruyuk" bunyi dari perut Albert yang lapar


"Mama...... Aku lapar....." rengeknya seperti anak kecil aku hanya bisa tertawa kecil menanggapi prilakunya yang seperti ini,


"Baiklah, baiklah ayo kita makan sekarang" ucap ku sambil membuka beberapa makanan yang dibungkus pelayan dan memberikan nya kepada Albert sampai ada suara seseorang yang memanggil ku.


"Yang mulia!!! ada surat dari keluarga  blrooming" ucap nya sopan


"oh sini berikan padaku suratnya" balasku singkat lalu mengambil surat yang ada di tangan pelayan itu lalu membukanya dan membaca isi surat tersebut ternyata, yang berisi kalau akan ada pesta teh pada Minggu ini.


"Kurasa kali ini aku harus ikut acara-acara seperti itu karena tidak akan bisa ditunda lagi demi membuat sedikit perubahan pada pandangan orang tentang Florence ini" pikir ku sendiri.


"Baiklah, aku akan segera membalas suratnya" balas ku cepat dan memberikan surat itu kembali,


"baiklah nyonya, saya pamit undur diri dulu" jawab nya


Aku kembali melihat Albert yang makan dengan lahap, lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil, karena akhirnya setelah merasa kesepian selama 2 tahun lalu tiba-tiba aku mati tapi hidup kembali untuk bertemu dengan kalian lagi,  aku jadi merasa tidak sia sia waktu itu mati.


karena aku sangat ingin bertemu dengan kalian berdua bersama sama saat momen momen yang penting seperti sekarang ini yaitu Brian sedang makan dengan lahap.


"Ah..... Aku benar-benar bahagia meskipun mereka tidak mau dengan ku dan tidak menerima ku" ucap ku dalam hati sambil menatap langit yang cerah.