
POV Edward
Aku melihat tumpukan kertas dokumen di atas meja yang sudah menumpuk tinggi sekali, sampai terlihat seperti gunung gunung yang harus ku daki pelan-pelan.
"Hahh....."
Tiba-tiba saja aku menghela nafas lelah hanya dengan melihat tumpukan dokumen itu, tapi memang benar pekerjaan ku bertambah banyak atau bisa di bilang menumpuk karena sejak kemarin aku benar-benar fokus untuk mencari pelaku dan mengetahui dalang dari kejadian ini.
Dengan memanfaatkan informasi dari 8 orang atau 7 orang karena satunya telah mati, setelah diinterogasi dengan kasar dan penuh kekejaman agar angkat bicara.
Dan karena itu aku menemukan fakta bahwa seorang anak ke 2 dari viscount Addison yang jadi otak dari penyerangan ini, Itu masuk akal karena waktu itu Putri ketiganya menjelek-jelekkan atau mengkambing hitamkan Florence.
Tapi kenapa saat dirinya di introgasi secara ketat dia tidak membawa-bawa nama Putri kerajaan, 'Letizia?'.
Apakah countess berbohong, atau bawahannya yang mempunyai penglihatan masa depan berubah karena beberapa kejadian kecil, tapi apa bawahan nya yang menipunya.
Tapi Florence sangat mempercayainya, jadi aku sedikit mempercayai nya juga, bahwa putri kerajaan ikut dalam konspirasi ini, karena saat Dianna berkata bahwa sahabatnya adalah Putri kekaisaran.
Aku benar-benar tidak menyukai tatapan matanya yang seakan-akan ingin merebut semua, yang menjadi milik Diana disebabkan rasa iri dengki, tapi aku membiarkan nya karena Dianna terlihat senang.
Dan pada akhirnya hukuman diberikan kepada anak ke dua keluarga viscount Addison, dia dipenjara seumur hidup dan diwajibkan membayar denda yang sangat besar, yang aku temukan dari kasus ini dari anak kedua viscount ternyata berhubungan dengan kematian Dianna.
Dia mengakui bahwa sebenarnya ini adalah dendam pribadinya karena seorang bangsawan dan juga seorang penyihir yang pernah mengutuk Albert dan membunuh Dianna adalah wanita yang dekat dengannya, pria itu mencintai wanita itu secara sepihak meskipun dia telah di eksekusi mati karena melempar kutukan besar kepada Albert dan membunuh bangsawan sepangkat Duchess.
Wanita itu sebelum dieksekusi memberikan secarik kertas yang mungkin pesan terakhir kepadanya, yang berisi 'jika mungkin ada kehidupan kedua aku ingin memilihmu untuk dicintai',
Jadi anak ke dua viscount lebih memutuskan untuk siap menghadapi hukuman yang bisa mengakhiri hidupnya dengan membalas dendam wanita itu agar bisa bersama dengan nya di kehidupan lain, tapi dia hanya dihukum penjara.
Sedangkan yang lucunya nya bangsawan perempuan itu menyukaiku sejak debut pertama nya, lalu dia menggunakan anak kedua viscount ini untuk mendekatiku agar kami bisa berhubungan lebih dekat, tapi aku tidak menyukai atau tertarik dengan nya.
Dan saat aku mengumumkan bahwa aku akan menikahi Dianna, dia membenci Diana saat aku lebih memilih Diana daripada dirinya yang tidak kurang apapun, lalu pria itu malah menyukai wanita yang memanfaatkan nya.
Demi memisahkan ku dengan Dianna dia dengan cepat belajar sihir kutukan yang ternyata ia mulai, sejak terdengar kabar nya yang mulai menghilang dari pergaulan kelas atas.
"Haaah....."
Aku menghela nafas lagi, karena tidak sengaja memikirkan dokumen lagi, aku juga sibuk karena merawat Florence yang sedang koma, karena terlalu mengkhawatirkannya "bagaimana jika dia tidak bangun lagi?"
Apalagi saat aku melihat mimpi anehnya itu, pikiranku terus terbayang-bayang ke pria atau laki-laki misterius yang ada di mimpinya, sebenarnya aku penasaran siapa pria itu bagi Florence karena pria itu sama sekali tidak mirip seperti keluarganya.
Bahkan dia menyadari diriku yang menonton mereka, tapi aku sedikit merasa familiar dengan pria itu saat dia menatap wajahku karena wajahnya yang buram, seketika menjadi jelas bahkan dia menggumamkan sesuatu yang tidak aku pahami bahasanya.
Dan sekarang Florence saat ini masih dalam pemulihan karena akibat koma tersebut badan nya kaku,
"Sudah, sudah..... Aku harus mengerjakan dokumen ini sekarang"
Ucapku mengingat kan dirinya sendiri.
............
POV Destiana
Aku terdiam di atas kasur sambil memikirkan kejadian kemarin kemarin, entah hatiku terasa berat karena lebih memilih hidup di dunia khayalan daripada di dunia yang baru ini, meski bersama keluarga ku yang asli dan mereka belum mengenaliku atau mengingatku lagi.
"Tok tok tok"
"Yang mulia"
Ucap seorang pelayan yang masuk ke kamarku, aku meliriknya dengan tatapan yang bad mood dan membalas singkat
"Kenapa?"
"Ini adalah sarapan Anda" balas nya cepat tanpa mengubah ekspresi wajah karena pertanyaan ketus ku, mungkin dia mengetahui bahwa aku sedang bad mood.
"Taruh saja di nakas"
Jawabku singkat yang di dibalas dengan anggukan oleh pelayan itu dia dengan segera menaruh ke nakas dan kembali keluar dari kamar, saat pelayan itu pergi aku kembali sendirian lagi.
Aku menghela nafas hanya melirik makanan tanpa ada rasa nafsu makan yang besar, bahkan tadi para pelayan pribadi ku datang sebentar aku segera memberi mereka perintah untuk tidak datang ke kamar ku dulu.
Agar mereka tidak kena semprot aku yang sedang bad mood karena banyak masalah, "tok tok tok" pintu diketuk seseorang.
Seketika aku berdecak tidak senang, lalu dengan nada kesal berkata "siapa!?," Seseorang yang mengetuk pintu itu tiba-tiba terdiam dia mungkin kaget dengan nada suara ku tadi.
Tapi tidak lama dia segera berkata "I...ini......, Joy,"
"Ah... Sial"
Umpatku pelan karena sebisa mungkin aku tidak ingin menunjukkan bad mood ini kepada anak anak, karena jika aku benar-benar bad mood semua orang yang berada di sekitarku bisa terkena imbasnya dari amukan ku yang datang secara tiba-tiba.
"Ya ada apa, silakan masuk" ucapku yang masih terdengar ketus, diiringi pintu terbuka yang menampakkan wajah joy yang cemas.
"Nyonya apa anda tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir, "Ya, aku baik-baik saja" jawabku mencoba untuk tidak menyingkatnya, dia kemudian mulai mendekatiku dan memegang tanganku, dan berkata.
"Apa anda sedang kesal dengan sesuatu" tanyanya
"Mungkin" jawab ku, dia kembali bertanya "kenapa tidak ada lampiaskan kekesalan anda?"
"Bagaimana caranya?" tanyaku yang terlihat sedikit menantang nya, dia terlihat berfikir sejenak lalu menjawab dengan semangat "aku tahu tempatnya!, apa anda ingin pergi ke sana?"
"Apa itu jauh?" tanyaku lagi "tidak" jawabnya singkat
"Tempat itu ada di mansion ini!" Lanjut nya lagi, "oh....." Respon ku yang biasa
"Kalau begitu mari ikuti aku!"
"Tapi aku masih mengenakan gaun tidur"
Dia melihat Ngantung baju dan menemukan mantel bulu yang besar, dia mengambil itu dan menyeretnya dengan sekuat tenaga kearah ku.
"Gunakan ini nyonya untuk menutupi nya"
Aku mengambil mantel bulu yang terbuat dari kulit beruang, kurasa ini adalah hadiah dari hasil tangkapan Duke, karena dia berniat untuk berhasil menjadikan ku sebagai putri perburuan.
Aku menutupi baju piyama ku dengan jubah panjang ini agar tidak terlalu fulgar dan terawang, karena kain piyama itu sangat tipis, Aku mulai berjalan mengikutinya dia dengan semangat berlari-lari di depan ku.
Dalam hati aku bertanya-tanya "kemana dia akan membawaku?" yang ternyata kita pergi ke atas loteng dan terdapat balkon besar di sana, Aku merasakan sejuknya angin pagi bahkan mataharinya terasa segar di wajahku.
"Kata Mama kalau aku lagi marah mendingan lihat pemandangan dari atas rumah, dari pada mengamuk tidak jelas, lalu teriak sekencang kencangnya baru setelah itu menangis untuk melepaskan segala penat di hati, Jadi silakan Anda coba" Ucap nya mempersilahkan diriku untuk mengambil ancang-ancang dan berteriak sekeras kerasnya.
Aku maju ke tempat nya lalu menarik nafas dalam-dalam dan siap untuk berteriak, "AAAAAAAA!!!!, Dasar kau Florence Sialan!, suatu hari nanti aku akan membalas mu karena mengganggu ku saat itu!"
Aku jadi teringat wajahnya yang menyebalkan mengucapkan perkataan yang terlihat enteng baginya karena dengan mudahnya menghilangkan keluarga ku, saat terpengaruh oleh khayalan dari kutukan.
"Ya, aku harus menyelamatkanmu dari mimpi itu kalau tidak kau akan mati"
Kalau dipikir-pikir lagi niatnya baik, tapi mungkin caranya salah karena tiba-tiba menghilang kan mereka tanpa bisa membuat ku untuk pamit, meskipun hanya sebentar.
Pipi kananku terasa basah karena air mata yang tiba-tiba mengalir aku mulai mengikhlaskan kejadian kemarin yang sangat berharga bagiku, karena mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya di dunia ini.
Padahal kesempatan kedua itu tidak berlaku bagi orang yang telah mati, tapi kesempatan ini diberikan oleh Tuhan, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
"Bersemangat lah tia!, kau harus meleleh kan baja meski harus mendaki gunung terjal terlebih dahulu, ingatlah apa yang kamu ucapkan dulu aku akan bertahan sampai nafas terakhir!"
Setelah beberapa menit aku mulai merasakan tenang dan ketentraman batin, lalu menengok ke arah Joy yang telah tersenyum lebar, "jadi bagaimana?, Apa Anda sudah puas dengan teriakannya?"
"Ya" ucapku singkat "bagaimana aku harus membalas mu?" lanjut ku lagi
"Anda bisa membuatkan aku cilok, atau makanan enak lainnya!" Jawabnya bersemangat.
"Baiklah kalau begitu karena kau sudah berhasil menghilangkan bad mood ku, aku akan dengan senang hati memasakkan bermacam-macam makanan yang enak untuk kalian"
"Tunggu apalagi, ayo kita pergi!!!" Jawab nya bersemangat dan berlari menuju tangga untuk turun dengan cepat dari situ.
"Jangan lari lari nanti jatuh!" Ingat ku dan menggeleng kan kepala sambil tertawa kecil.
Kami menuruni beberapa kali tangga untuk sampai ke dapur, aku yang masih lemas beberapa kali ingin terjatuh karena Joy berlarian sepanjang jalan menuju dapur sedangkan aku hanya berjalan biasa karena tidak kuat mengikuti stamina nya sekarang.
Kaki ku gemetar lalu tidak kuat lagi menopang tubuh lagi akhirnya sampai batas nya dan jatuh terduduk, efek terlalu lama koma adalah tubuh yang jadi tidak sering digunakan lalu menjadi keram.
Para pelayan dan kesatria yang melihat itu langsung panik dan membantu ku berdiri, mereka berteriak heboh memanggil dokter atau menyuruh seseorang pergi menemui pendeta agar mengunakan sihir penguat stamina.
Aku dengan cepat menyuruh melarang mereka dengan sekuat tenaga, karena aku memang benar benar baik baik saja, bahkan aku masih memakai mantel yang berat ini yang didalamnya piyama tidur.
Padahal aku sudah berada dilantai satu tinggal beberapa menit lagi untuk menuju kesana, akhirnya dengan paksaan semuanya aku kembali lagi ke kamar untuk istirahat.
Dan Joy yang sudah lebih dulu sampai dimarahi-diberitahu untuk tidak mengunjungi dan melakukan hal-hal berat bagi Duchess, yang masih dalam proses pemulihan.
Aku merasa malu karena dituntun oleh beberapa pelayan sampai ke kamar, sarapan ku diganti karena telah dingin mereka dengan cekatan menyuapi ku dan memijat kedua kaki ku.
"Haaah....."
Aku menghela nafas berat pasti hal memalukan ini akan tersebar ke seluruh penjuru mansion, dan benar saja tidak perlu menunggu beberapa jam, para pelayan pribadi ku heboh masuk kedalam mengganti kan para pelayan yang mengantar ku tadi.
Lalu Albert datang dengan tergesa-gesa masih membawa pedang latihan di tangan nya, para pelayan yang melihat nya ketakutan karena mereka kira Albert sedang terkena efek kutukan padahal dia kaget dengan kabar ku yang tiba-tiba terjatuh di lorong.
Dan segera berlari ke sini tanpa melepaskan pedang nya, "Duchess!! Apa yang terjadi?!"
Ucap nya yang lumayan keras, Aku menjawab dengan nada santai, "ah..... Kau tenang saja aku hanya terjatuh karena kelelahan"
"Pasti karena tingkat dan tangga disini banyak!"
"Bukan!!! Aku lemas karena masih dalam pemulihan!"
Elak ku cepat, dia yang akan masuk seketika mengingat sesuatu ditangan nya, yaitu sebuah pedang dan seketika itu dia melepaskan nya jauh jauh dari pintu kamar Duchess.
Lalu tiba-tiba saja sudah berada di samping ranjang tidur dan dia mengambil kedua tangan ku dan menggenggamnya erat, sambil berkata
"Tenang saja, aku akan berkata kepada ayah dan menyuruh nya untuk membuat mansion kecil khusus untuk anda, yang tidak akan ada tangga dan lantai dua"
"Haah?"
"Dengan tetap segala kemewahan nya!"
Teriaknya semangat lalu berlari pergi keluar tidak lupa memungut pedangnya yang ia jatuh kan di sana dan pergi entah kemana tanpa menunggu penjelasan ku.
Yang masih mencerna perkataan nya tadi, dikiranya tidak setuju karena tidak mewah seperti disini, makanya Albert dengan seenak jidatnya berkata akan membangun mansion baru yang lebih kecil dan tidak mempunyai tangga apalagi lantai dua.
"Haah....., seperti nya keributan ini belum berakhir"
Ucapku dan benar saja beberapa menit kemudian, Edward datang dengan teleportasi ke kamarku dan mengejutkan red yang sedang menutup pintu kamar, dia bahkan sampai menangis karena wajah Duke yang tidak enak dipandang.
Mungkin disebabkan pekerjaan yang menumpuk di tambah masalah diriku yang tiba-tiba terjatuh karena lemas, Edward mengusir semua pelayan dan mengunci pintu.
Setelah itu baru mendekati ku, "kudengar kau pingsan"
"Siapa yang mengabarkan seperti itu?"
"Albert"
"Dia hanya melebih lebih kan cerita"
"Dan beberapa pelayan juga kesatria sangat heboh, jadi aku bahkan terburu-buru kesini menjenguk mu"
"Jadi kau bisa melanjutkan pekerjaan mu lagi"
"Tidak bisa"
"Lah...? Kenapa? bukan nya kau datang kesini karena ingin melihat ku?"
"Alasan itu benar tapi ada yang lebih penting"
Aku terdiam penasaran dengan perkataan Edward dia sekarang sedang mengambil ancang-ancang untuk mengatakan sesuatu yang kurasa gila.
"Jangan!!!"
Teriakku panik "lalu bagaimana caranya agar sampai ke lantai atas?" Lanjut ku lagi, dia tersenyum kecil lalu berkata tentu saja dengan sesuatu dalam mimpi ku yang bernama lift"
"...."
Aku terbengong-bengong dengan perkataan nya, lalu membalas dengan berkata dengan nada malas "Sekarep mu dewek"
Dan pura pura tidur kembali, "hey Florence kau setuju tidak?" Tanya nya sambil mencolek colek lengan ku.
"Terserah....."
"Baiklah aku akan membuat nya!, Dari pada menunggu lama untuk bangunan baru"
"Tunggu, tunggu!!!" Aku segera bangkit dari tidur pura pura ku karena mendengar kata-kata nya ada yang terasa aneh.
"Kenapa?" tanyanya
"Kau ingin menyutujui pembuatan mansion baru dan membuat lift"
"Ya, memang nya kenapa?"
Mata ku rasa nya hampir lepas dari tempat nya, "haaah....." Aku akhirnya menghembuskan nafas perlahan untuk tenang dan berkata lagi "terserah anda saja lah tapi aku tidak akan ikut campur"
"Tentu saja Duchess akan terlibat....."
"Eh.....?"
"Aku tau apa yang aku bayangkan dan bagaimana cara kerja nya alat itu dengan baik tersimpan di otak kecil mu, jadi aku akan mengajak mu dalam perubahan ini tentu nya saja setelah dirimu sembuh"
"Ahhhh sial.....!"
Aku berteriak dalam hati karena kejadian ini sama sekali bukan terjadi satu dua kali, dia mirip sekali dengan Rangga yang dulu karena sering memanfaatkan ku jadi tempat pertanyaan.
Contoh nya bertanya apa isi bom atom dan kekuatan penghancur nya sebesar apa?, Kalau radiasi nuklir itu untuk efek samping nya apa? Naga sama tank kuat-an mana,? Dan lain sebagainya.
Lalu itu semua dia jadikan cerita untuk komik dan novel nya, bahkan sering kali aku terlibat dalam penggambaran alat nya agar lebih mudah dipahami, sampai suatu hari dia mengirim ku pesan, niatnya mungkin menggombal.
Tapi karena ia sering bertanya hal-hal seperti itu aku menjawabnya dengan serius dan terjadi seperti yang waktu itu gombal yang sedang viral dan ini percakapan nya.
^^^Kilogram kalau disingkat apa?^^^
Kg kenapa?
^^^Kalau di tambahin n?^^^
Kg + 1n?
1kg +1n
\=9,8n+1n
\=10,8n
Eh bener gak sih tuh?
^^^Apaan Ti.... Apaan?^^^
1kg \= 9,8n
^^^Ini bahas apa dah?^^^
Eh salah ya?
^^^༎ຶ‿༎ຶ^^^
^^^Niat aku ngengombal doang kok sumpah gak nanya beneran, kamu nya kepinteran kali ya?^^^
Ya maaf, biasa kamu kan nanya ilmiah ilmiah gituh dikira buat cerita, ya udah sih kalo mau ngomong bilang langsung aja.
^^^Kangen, udah^^^
Masa gitu doang?
^^^Udah gak mood^^^
Dan percakapan berhenti aku pun kebingungan secara sepihak, dia benar benar ngambek karena gombalan nya tidak berhasil, alhasil aku yang harus membujuk nya seperti seorang perempuan yang sedang datang bulan.
"Kamu mikirin apa?"
Ucap Duke yang telah berada tepat di depan wajah ku, "eh!!!" Aku yang panik segera terjatuh kebelakang, ia tertawa kecil dan membantu ku untuk duduk kembali sembari bertanya.
"Senyum senyum sendiri....., Mikirin siapa?"
Tanyanya dengan nada yang terdengar aneh bagiku, "oh.... Tidak hanya sesuatu yang menyenangkan dulu"
"Florence bisa kau jujur?"
Ucap nya yang tiba-tiba duduk di kursi yang ada disamping ranjang tepat didepan ku, aku hanya terdiam dia melanjutkan "apa kau telah mengingat masa lalu mu?"
"Deg!!!"
"Maksudnya masa lalu yang mana?"
Pikir ku dalam hati, Edward melihat aku yang kebingungan menjawab berkata lagi dengan pertanyaan yang lebih jelas.
"Maksud ku bukan nya kau lupa ingatan sebelum keluarga angkat mu meninggal?"
"Oh ya....., Aku belum mengingat nya"
"Apa kau benar-benar berkata jujur?"
"Ya, aku bersumpah!" balas ku mantap
"Lalu siapa pria yang memeluk mu didalam mimpi?"
"Mimpi?"
"Saat kau koma dan mengeluarkan air mata aku cepat cepat menggunakan sihir untuk melihat mimpi agar mengetahui penyebab kau menangis"
"Tapi di sana Aku malah melihat seorang pria yang sedang memelukmu dengan erat dan kau berkata 'tidak akan pulang kesini dan hanya ingin bersama pria itu'
Tapi sebenarnya siapa pria itu? Apa itu hanya malaikat kematian atau salah satu orang yang berharga dimasa lalu?"
Aku terdiam sebentar untuk berfikir, untungnya saja Florence yang asli memberitahu ku bahwa Edward mencoba melihat mimpi ku waktu itu jadi dia dengan sihir nya mencoba menghalangi dengan sihir ilusi yang sedikit mirip dengan mimpi ku.
Lalu mengusir nya dari pikiran, tapi aku tidak tahu dia akan menggunakan wujud laki laki, besar kemungkinannya adalah sosok Rangga dulu.
Aku tersenyum tipis lalu menggeleng dengan membalas bahwa aku tidak mengingat mimpi yang seperti itu, awal nya dia tidak percaya lalu akhirnya menyerah dan bangkit berdiri dari kursi.
"Kalau begitu cepat sembuh aku menantikan masakan mu"
Ucap nya sambil mengelus pucuk kepala ku dan beranjak pergi, aku merasa bersalah karena berbohong sedikit, tapi ini masalah kita jadi aku akan memberitahu kan kebenaran nya nanti saat kami kembali ke keadaan semula.
............
POV author
Di suatu tempat yang gelap dan sunyi seorang pria berjubah hitam sedang duduk menunggu di dalam ruangan yang terbuat dari kayu tanpa penerangan sama sekali, pintu diketuk dan terbuka dengan suara yang sangat berat.
"Tok tok tok!"
"Kamu disini Franks"
Ucap orang itu dan maju ke depan mendekatinya, perempuan itu tertawa kecil dengan senang dan lawan bicaranya menatapnya tidak suka yang tidak lain adalah Franks kepala pelayan di kediaman Duke Devonte.
"Yang mulia putri kenapa anda tidak mendengarkan saya untuk tidak merubah rencananya?, agar saya tidak diketahui sebagai mata-mata?"
Perempuan itu tersenyum miring tapi penuh dengan rencana jahat dibalik nya, sambil membalas "bukannya kau harus ketahuan ya?"
"Apa maksud anda?"
"Bukan kau sendiri yang ingin menjemputnya ke akhirat?"
"Tapi saya tidak ingin mati secara mengenaskan apalagi sampai dikenang sebagai penipu ulung!!!, Itu mencoret nama baik saya
Ingat saya ini hanya membalas Budi atas kebaikan ralat atas kemurahan hati anda kepada saudaraku"
Perempuan itu tersenyum kembali dan mengangkat dagu pria itu sambil berkata dengan nada mengancam "kau seperti anjing yang nakal sekarang"
Dia melempar wajah ku kesamping dengan kasar lalu melanjutkan perkataannya, "Akan aku ingatkan lagi jangan pernah melawan ku atau akan ku hancurkan satu persatu tubuh adik kecil mu!!!, Dan menjual nya dengan nama bisnis ku?"
"HM...apa lebih baik ku gunakan untuk bahan percobaan sendiri atau menjual nya di pasar gelap atau langsung menjual tubuh yang berharga itu ke menara?"
"Berani, Beraninya! ****** seperti mu!"
Geram nya dengan nada kesal, "selama tanda budak dari buku kuno aktif kau tidak akan pernah bisa melawan ku"
Ucap nya dengan kejam "makanya saat ku tawari dulu kau harus nya menolak dan mencari bantuan orang lain tapi kau malah meminta bantuan ku yang sedang kesal jadi seperti ini kan anjing ku sayang"
Sudah lah kau tak seru diajak bercanda lagi aku akan pergi jadi lakukan tugas mu dengan baik oke.....
"Argghhh.... Ti...ba...tida... Baik putri"
Ucap nya yang tercekat karena ingin menolak perintah nya, tapi karena sihir perbudakan dia benar benar tidak bisa menolak perkataan nya.
"Haah..... Hah...."
Franks mengambil nafas banyak banyak karena jika ia menolak perintah dari tuannya ia akan merasa tercekik yang terasa seperti akan mati tapi karena sihir perbudakan itu dia tidak bisa mati dengan perintah majikannya.
Maaf tuan Duke dan tuan muda aku tidak bisa menolak perintahnya memang penyesalan selalu ada di akhir"
Ucap nya sangat sedih.
........
POV Destiana
Akhirnya setelah beberapa hari aku pun pulih dari rasa lemas ini, anak-anak bersemangat karena aku mengatakan akan memaksakan mereka cemilannya yang akan disukai tidak terkecuali Edward yang menantikan masakan ku.
Akhirnya aku mulai sering mamasakan mereka makanan buatan ku sendiri, meskipun mereka sering melarangnya karena hari hari itu aku masih terlihat agak pucat.
Hari-hari damai berlalu seperti biasa aku bersama Edward merancang lift yang akan dipakai di mansion ini, beberapa kali aku memberi penjelasan tentang bagaimana alat ini digerakkan.
Karena meskipun membuat lift hanya mengandalkan mimpi Edward pasti itu tidak akan berhasil, aku butuh waktu untuk mencoba sketsa mesin nya juga membuat miniatur dari lift itu sendiri.
Karena pembuatan lift ini bukan untuk mengorbankan nyawa seseorang melainkan mempermudah kehidupan manusia, berapa kali kami membuat sketsa dari lift itu bersama.
Edward sering berdecak kagum dan bertanya heran, kenapa aku bisa mengetahui isi pikirannya hanya disebabkan oleh penampilan dari lift itu benar-benar mirip dengan apa yang ia bayang kan dari mimpinya.
Hanya membalasnya dengan lelucon "siapa lagi kalau bukan aku?"
Padahal bisa saja aku langsung membuat sketsa ini dan menjelaskan tentang cara kerja mesinnya dan pembuatan nya, lalu segera memberi sketsa mesin dari lift kepada pengrajin agar mereka cepat untuk membuatnya, tapi aku benar-benar tidak ingin membuat lift ini dengan jangka waktu yang pendek.
Agar tidak dicurigai apa-apa olehnya, makanya aku membangun ini dengan waktu yang relatif lama dan panjang dengan hasil yang memuaskan kami semua, bahkan Duke telah repot repot membawakan beberapa orang berbakat di bidang ini untuk membantu.
Dan juga aku tidak ingin hak paten dari lift ini mengalir ke dompet ku jika mengerjakan sendirian, jadi aku akan menikmati pembuatan lift ini.
'Karena proses tidak akan pernah menghianati hasil'