
"Hah hah hah...."
Aku berjalan terengah engah, peluh mengalir dari dahi ku jatuh meluncur menuju tanah, orang yang berada di gendongan ku memasang wajah khawatir dan berkata.
"Tante, turun kan saja aku"
"Itu tidak bisa....., Kau kan pasien"
Aku membalas dengan suara lemah kaki ku benar benar sudah tidak tahan untuk duduk, aku melihat Wren yang berjalan di depan ku dengan membawa barang bawaan joy.
Dia berkali-kali melihat ke belakang untuk memastikan kalau aku mau istirahat, mungkin dia kasian dengan tubuh ku yang kecil karena sejak memulai perjalanan tadi, belum beristirahat sama sekali.
Aku berhenti berjalan dan Wren yang mendengar nya ikut berhenti dan menengok kebelakang, disitu aku menengak kan badan sambil menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Huh...."
"Baiklah kita istirahat sebentar di sini"
Setelah aku mengatakan hal itu tiba-tiba wajah mereka terlihat senang, aku menurunkan Joy dari punggung ku dan kami duduk membuat lingkaran.
Joy mengutak-atik barang bawaan nya dan mengeluarkan 3 buah berwarna hijau yang terasa familiar dengan ku.
Dia mengulurkan satu buah itu ke diri ku dan satu ke Wren lalu sisanya untuk dirinya sendiri.
Aku memperhatikan buah itu dan mengeluarkan belati ku untuk mengupas nya dan ternyata itu adalah buah alpukat.
Aku menawarkan bantuan untuk membuka buah itu agar lebih mudah dimakan, mereka menerima bantuan ku dan selama aku membuka buah itu aku bertanya kepada mereka tentang nama buah ini.
"Ahuacalt"
Jawab mereka berdua serempak, aku terdiam sejenak memikirkan nama buah yang aneh dan ribet itu.
"Apa anda baru pertama kali memakan buah ini tante?"
Tanya Joy penasaran aku menggeleng pelan dan menjawab kalau aku hanya tidak tahu nama buah nya saja, mereka hanya mengangguk anggukkan kepala paham.
Setelah makan dan istirahat sebentar, aku berolahraga kecil dulu untuk merenggangkan badan, setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Wren bertanya kepada ku,
"Kita akan pergi ke hutan atau ke kota?"
Aku menjawab dengan mantap, sambil terus berjalan,
"Kita akan pergi ke kota"
Karena aku berfikir akan berbahaya bagi diriku dan mereka jika para pembunuh bayaran itu masih menunggu ku di hutan.
Tapi jika mereka menyerang ku di kota kekaisaran aku bisa dengan tenang menitipkan nya pada kesatria yang berjaga di situ lalu mengurus sendiri para pembunuh itu.
........
Cahaya pagi menembus gorden ruang kerja Edward, Edward mengedipkan mata nya beberapa saat karena silaunya cahaya matahari.
Dia membuka mata nya setelah tidur dengan posisi kepala di taruh di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
Padahal saat pertama kali dia tertidur, ia merasa bersandar di bangku kerja nya, dia mengumpulkan kesadaran nya karena merasa ada sesuatu yang kurang, sambil mengingat-ingat kejadian kemarin, sebelum dirinya tertidur.
"Deg!!!"
"Franks!!!....."
Dirinya tersadar karena ia harus nya tidur sebentar bukan sampai satu hari, dan dengan suara lantang yang sedikit marah, dia memanggil kepala pelayan nya.
Itu disebabkan oleh perintah yang ia berikan tidak di kerjakan oleh Franks, yaitu untuk membangun kan nya setelah dia selesai menyortir berkas berkas yang bisa Duke kerjakan lebih dahulu.
Franks berlari cepat menuju ruang kerja Duke, setelah mendengar suara yang lebih mirip teriakan kematian untuk nya.
Keringat bercucuran di dahinya karena berlari, dan untungnya saja pintu ruangan tidak tertutup jadi dia bisa langsung berdiri tegak di depan nya tanpa harus berbasa-basi saat meminta izin untuk membuka pintu.
Dengan aura mencekam, Duke mengintimidasi Franks seperti kemarin, dia menahan nafas menunggu tuannya yang berbicara dahulu.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?!!!"
Franks menenguk ludah nya susah raut wajah panik masih terpasang di wajah nya, setelah itu menjawab dengan sedikit terbata bata.
"Sa... saya sudah membangunkan anda tapi mungkin karena anda terlalu lelah anda tetap tidak bangun...."
Muka Franks bertambah panik meskipun tidak ia tampak kan di sikapnya, karena aura mencekam dari Duke malah bertambah banyak.
"Kau pasti tidak mengguncangkan badan ku kan?!!!"
"A... i.... itu..., Saya tidak berani bertindak seperti itu kepada anda"
"Brakk!!!"
"Hiii...."
Franks makin menciut karena Duke membanting meja dengan keras sambil berdiri, dan meliriknya dengan tatapan siap membunuh, lalu perintah baru di berikan dengan nada tinggi.
"Siapkan Tim elit untuk pergi bersama ku setelah mandi, mencari Duchess!!!'
"Ba....baik tuan!!!"
Ucapnya dengan gugup bahkan tangannya refleks memberi hormat, dia melihat Duke pergi melewati nya dengan ujung matanya.
Dan untungnya saja para pelayan yang ada di luar ruangan sudah berlari terlebih dahulu setelah mendengar kalimat kalau Duke ingin mandi.
Agar tidak menambah beban Duke yang sedang bad mood, Franks mengingat sesuatu lalu berlari mengejar Duke yang berjalan cukup cepat.
"Tu...tunggu tuan, hah... hah... Lebih baik setelah anda mandi untuk makan terlebih dahulu baru berangkat"
Ucapnya untuk mengingatkan kondisi tuanya, dan ia bahkan mendapat lirikan tajam lagi, setelah ia berkata seperti itu karena Duke tiba-tiba berhenti berjalan.
I....ini untuk ke baikan tuan sendiri...." Ucapnya takut takut.
Setelah itu Franks terdiam dengan raut panik, karena takut Duke tidak tahan dengan nya dan langsung memenggal nya, dia ingin menutup mulutnya rapat-rapat besok besok.
Agar tidak terlalu ikut campur urusan tuanya, tapi karena mulutnya yang lemes, tanpa ia sadari selalu berkata untuk kebaikan tuan nya.
Duke melirik nya cukup lama setelah itu ia menghela nafas kecil dan kembali berjalan dengan berbicara.
"Siapkan saja bekal di perjalanan, dan untuk berangkat beri aku pil nutrisi saja"
Franks melongo beberapa saat, karena pedang yang berada di samping celana kiri duke tidak menebas kepala nya, dan malah mendapat balasan yang baik.
"Ba...baik!!!, Tuan...."
Dia mengucapkan rasa syukur nya sambil membungkukkan kan badan, dia bertekad dalam hati akan dengan sungguh sungguh untuk melakukan pekerjaan yang Duke berikan padanya.
Di depannya gerbang istana Duke sudah berbaris 40 ksatria dari keluarga Devonte yang terbagi menjadi dua kelompok.
Yang satu di pimpin oleh Duke pergi ke ibu kota kerajaan, dan yang lain dipimpin oleh kepala ksatria.
Dia adalah pria kekar dengan wajah tampan dengan kumis dan berewok tipis, dengan badan yang bewarna coklat seperti sawo matang.
Meskipun sudah menduda tetap membuat nya jadi pusat perhatian dikalangan pelayan perempuan apalagi saat latihan dan pemanasan karena baju bagian atas harus di lepas.
Meskipun begitu ia tidak ingin menikah lagi karena hanya istri tercinta nya yang ada di hati nya, setelah meninggal karena kehabisan darah saat melahirkan putri lucu nya.
Duke telah memberikan instruksi kepada kepala ksatria yang memimpin misi ini untuk pergi melewati hutan menuju ke daerah selatan.
Karena tempat itu yang paling berpotensi sebagai tempat pengurungan yang terpencil, karena berujung jalan menuju Padang pasir daerah kekuasaan grand Duke, yaitu adik raja terdahulu.
Terlebih di semua hutan dan tempat yang jarang sekali ada manusia, pasti memiliki beberapa hewan buas juga monster, Duke khawatir meskipun kemampuan Florence bagus untuk bisa kabur dari para assassin, dia akan kalah jika melawan hewan atau monster.
Mereka semua sudah bersiap di atas kuda masing masing, Franks berlari lari ke sana kemari untuk mengecek ulang, setelah itu ia berlari mendekat ke arah Duke dan memberikan pil nutrisi pengganti makanan.
Duke mengambil pil itu dan langsung memakan nya tanpa air, sambil bertanya apa semua nya sudah di cek? Dan Franks menjawab ya.
Dan pasukan pun berangkat, oh ya mereka tidak memakai baju resmi karena ini misi yang membutuhkan penyamaran.
........
POV Destiana
Kemarin di petang hari, kami akhirnya sampai di ibukota kerajaan Hongaria, tapi di bagian pinggirannya yang di tempati para rakyat biasa.
"Hah...."
Aku menghela nafas lega, karena perjuangan kami tidak sia sia untuk berjalan ke sini,
"Tante sebentar lagi malam, kita harus tidur di mana?"
"Tenang saja aku akan menjual perhiasan ku ini"
Aku melirik ke sekeliling sekilas, lalu kembali berucap "lagi pula orang orang mulai memperhatikan kita sejak sampai sini"
Setelah berkata seperti itu tanpa di suruh Joy dan Wren mulai melirik ke kanan dan kirinya karena penasaran.
"Hey...., Apa yang kalian lakukan?"
Ucap ku sambil berbisik di dekat telinga mereka, Wren menengok ke arah ku dengan tatapan berbinar sambil berkata.
"Apa mereka melihat kita karena anda terkenal?"
"E...."
Aku bingung membalas pertanyaan nya, karena meskipun aku adalah Duchess Devonte, bangsawan yang pasti di kenal oleh semua rakyat biasa, seperti bangsawan lainnya.
Tapi lebih dari 2 tahun aku tidak pernah keluar dari istana Duke, dan itu sebabnya orang orang biasa dan mungkin beberapa bangsawan tidak terlalu mengetahui diriku.
Lagipula aku sudah di pandang jelek oleh semua orang yang mungkin iri dan benci terhadap keluarga Devonte, karena menikahi wanita dari kalangan bawah.
Meskipun aku sudah di berikan gelar bangsawan dengan uang, tetap saja rumor buruk tetap saja mengalir seperti air.
"Kurasa bukan seperti itu deh kak....."
Tiba-tiba saja Joy angkat bicara setelah memperhatikan sekitar
"Eh lalu kenapa?"
"Ya, karena kita adalah kelompok yang aneh, coba lihat kakak sendiri, telinga serigala mu tidak disembunyikan, padahal kau tahu diskriminasi terhadap manusia setengah hewan ada sini"
Joy menunjuk ke arah Wren sampai hampir mengenai hidung nya sambil terus melanjutkan.
"Aku...., terlihat seperti anak kecil yang penyakitan dan tante...., wanita yang cantik yang memakai perhiasan mahal, tapi lusuh dan kotor, bahkan anda tidak memakai alas kaki"
"Jleb....!!!"
Suara hati ku yang tertusuk perkataan nya Joy seberapa dekilnya aku??
"Makanya orang orang menatap kita kelompok yang aneh dan menerka nerka apa yang telah kita lalui"
Joy terlihat bangga setelah memberikan analisis nya, dan mungkin aku melihat hidungnya memanjang karena bangga.
"Baiklah..... baiklah, karena kita sudah tahu penyebab orang orang memperhatikan kita, lebih baik kita pergi membeli baju dan makanan lalu mandi, setelah aku menjual perhiasan ini"
"Tapi apa itu tidak masalah?" Tanya khawatir Joy
Aku mengerti maksud nya dia khawatir kalau aku terpaksa menjual perhiasan yang ku sayangi ini, karena mungkin dia melihat ku seperti bangsawan yang tamak dan pelit padahal tidak semua bangsawan seperti itu.
Aku mengelus-elus rambut pelan sambil berkata,
"Duke akan mengganti nya 5 kali lipat dari ini jadi jangan khawatir, aku tidak akan menagih kalian, jadi ayo...."
Tidak perlu waktu lama kami menemukan tempat untuk menjual perhiasan ku setelah bertanya tanya kepada warga sekitar.
Dan kami melakukan rencana yang telah ditetapkan ku tadi, setelah itu mencari penginapan termurah di ibu kota ini, karena hari sudah malam.
Cukup lama kami mencari penginapan karena kami tepat berada di malam pertama di acara festival 3 malam.
Itu adalah festival yang di adakan dalam satu tahun untuk menghormati keluarga kerajaan, Gereja dan pahlawan, jadi banyak turis asing yang datang ke sini.
Joy dengan wajah antusias menatap ke luar jendela karena mendengar suara meriah padahal acara iring iringan nya belum di mulai.
Wren bahkan juga terlihat tertarik meskipun dia hanya duduk di ujung ranjang, dan tidak menatap jendela tapi telinga bergerak gerak senang karena suara ramai di jalanan utama, yang terdengar sampai ke sini.
"Bagaimana jika kita jalan jalan sebentar di luar?"
"Iya!!!"
Jawab mereka serempak dan benar saja, seperti kata ku Wren dan Joy yang asik sendiri tadi, mulai memperhatikan diriku dengan mata berbinar.
"Baiklah, kita berangkat bersama dan Wren pakai tudung kepala yang ku belikan tadi, jika kau tidak ingin menyembunyikan telinga mu"
Aku berjalan ke dekat pintu untuk membukanya dengan kunci, mereka dengan cekatan sudah berada di belakang ku.
"Ingat!!! Tetap berpegang saat di jalan utama oke?!"
Joy menganguk dengan semangat, sedangkan Wren dengan bola mata yang berputar ke atas, yang maksudnya tanpa perlu ku beri tahu pasti sudah tahu.
Akhirnya malam itu kami bersenang senang, jika mereka berdua melirik kesuatu barang dengan sangat lama biasanya langsung ku belikan.
Dan mereka akan berusaha menolak saat ku tawarkan, dengan alasan apapun salah satunya mereka akan berkata jika uang yang ku bawa kurang.
Padahal uang yang ku bawa lebih dari cukup dan bisa di bilang berlebihan karena saat aku menukar perhiasan ku tadi, manager tokonya sampai terkejut.
Karena ternyata perhiasan yang ku miliki, dari atas sampai bawah semuanya itu, termasuk barang langka dan tidak ada yang akan menyamainya.
Di karenakan perhiasan itu, di buat menggunakan bahan khusus dengan tingkat kerumitan dan detail dari bentuk nya, dan pembuat dari perhiasan ini sudah terkenal karena tidak ada yang menyamai tekniknya.
Awal nya manager di toko itu mencurigai ku bahwa aku adalah pencuri perhiasan dari istana Duke, tapi setelah aku berkata kalau diriku ini Duchess yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa.
Dan tidak membawa uang sepeser pun, agar aku main keluar tidak langsung dibawa kembali ke rumah, manager itu mengangguk, karena percaya.
Kenapa dia bisa langsung percaya? karena banyak kabar yang beredar kalau Duchess menghilang dan sedang di cari cari oleh Duke.
Aku terkejut dengan rumor itu dan tidak menyangka kalau akan di cari oleh nya, dan senyum tipis mulai menghiasi wajah ku.
Dan dari itu aku mendapat 5 kantung koin emas yang sebesar bola, bahkan aku harus bolak balik untuk menyuruh Joy dan Wren membeli baju terlebih dahulu, demi menghabiskan uang.
Lalu dengan bantuan dari manager aku bisa langsung menyewa penginapan yang paling mahal.
Karena dia punya koneksi pasti nya, dan sisanya aku simpan di sana setelah aku membeli sebuah artefak sebuah kalung yang bisa menyimpan apapun selama itu benda mati.
Dan saat kami mencari penginapan yang murah tadi itu hanya akting, kepada anak anak, aku tidak ingin mereka menjadi incaran para preman.
"Ternyata kabar jelek tentang anda yang tidak berpendidikan tidak benar ya nyonya...."
Saat aku akan beranjak dari toko itu terakhir kali, sang manager berkata seperti itu, aku menengok sekilas dan hanya membalasnya dengan senyuman.
.......
Perjalanan menuju ibukota kerajaan memakan waktu 2 hari jika dengan menaiki kereta, dan karena mereka menaiki kuda sendiri perjalanan lebih cepat lalu alasannya adalah dia ingin mengelilingi keseluruhan ibu kota.
Bahkan pasukan Duke sangat sedikit beristirahat karena hanya fokus dengan satu tujuan yaitu mencari Duchess.
Waktu terus berjalan dan sekarang sudah malam hari lagi dan kelompok ini sampai di ibukota hanya dengan satu hari saja, mereka di bagi 4 kelompok untuk menelusuri daerah timur barat selatan dan Utara kota.
Duke di temani 5 pasukan nya sedang berada di bagian utama atau jantung kota dekat dengan festival 3 malam itu, dia memilih jalan itu karena menuruti naluri nya.
"Berkumpul sebentar!!!"
Duke berteriak dengan nada tegas, dan lima orang terbaik itu mulai mendekat ke Duke membuat lingkaran.
Dan intinya mereka akan kembali berpencar dengan bagian yang telah di tentukan, lalu jika mereka menemukan Duchess segera hubungi dengan sihir.
Mereka menggangguk paham lalu mulai berpencar, Duke turun lalu berjalan cepat menuju keramaian festival.
Dia tahu mungkin saja jalan yang ia ambil adalah sia sia tapi entah kenapa hatinya telah memutuskan untuk pergi ke arah sini.
Dan Duke juga tahu kalau rambut Duchess adalah rambut perak yang paling bagus di antara semua orang yang dia temui, bahkan rambut Dianna saja kalah cantik dengan milik nya.
Tapi masalahnya adalah jika berada di kerumunan orang banyak pasti tidak akan ketahuan, lagi pula pasti banyak orang yang memiliki rambut putih bersinar entah itu di warnai atau memang wig.
Karena memang warna rambut ini lumayan populer, tiba tiba saja
"brukk!!!"
Secara tidak sengaja Duke telah menabrak seorang anak kecil perempuan sampai terjatuh, karena tidak memperhatikan jalan, bahkan makanan yang ia bawa sampai tumpah ke tanah.
"Ah.... Apa kamu tidak apa-apa nak?"
Tangan Duke terulur kepada nya untuk membantu nya berdiri, tapi anak kecil itu dengan mandiri berdiri sendiri sambil menepuk-nepuk ujung rok nya yang kotor.
Duke yang tangannya masih terulur kepada anak itu mulai menarik tangannya lagi dan menawarkan untuk mengganti makanan nya yang terjatuh.
Tapi anak itu menolak dengan berkata dia bisa membelinya kembali, dan ia langsung berlari menjauh dari nya menuju seorang wanita yang berambut putih di sebrang jalan nya.
Wajahnya tidak terlihat karena membelakangi nya dan ia juga memakai pakaian rakyat biasa, Duke terkekeh pelan sambil berkata dalam hati.
"Tuh kan baru saja di bilang, kalau banyak orang yang mempunyai rambut putih"
Tapi entah kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari wanita itu, meskipun banyak orang yang berlalu lalang di hadapan nya.
Dia benar-benar tidak mau melepas pandangan dari nya, karena ia sedikit berharap kalau wanita itu adalah Florence.
Wanita itu berbicara dengan anak perempuan yang ia tabrak tadi dan anak laki laki yang memakai tudung di kepalanya.
Beberapa menit Duke menggeleng karena menyerah untuk memperhatikan Florence dan harus segera pergi mencari Duchess yang asli.
Saat ia ingin melangkah pergi, ujung matanya menangkap sosok wajah wanita itu dan langsung terkejut, dan refleks ia berteriak memanggil namanya.
"Florence!!!"
Suara festival yang terlalu ramai membuat teriakkan nya tidak terdengar dan saat Duke bergegas menghampiri nya.
Ia terdorong arus keramaian karena menerobos sembarangan, tapi tetap saja tidak ketemu karena saking ramainya orang yang berlalu lalang di sekitar nya, yang membuat nya kehilangan jejak Florence setelah ia berkedip sebentar.
"Ah sial!!!"
Sumpah serapah nya kesal, andaikan aku datang dengan baju resmi pasti akan mudah membelah kerumunan massa ini untuk mencari nya.
Akhirnya dia memutuskan untuk berlari mengelilingi tempat ini sesuai nalurinya, di tempat yang sama jalan yang berbeda Florence menggandeng Joy dan Wren untuk pulang ke penginapan.
"Huh.... Untung saja kita berpegang tangan sebelum kerumunan tadi semakin ramai"
Ucap Florence bersyukur, dan Joy menjawab dengan semangat "betul itu!!!"
"Tapi aku harap kita bisa lebih sering kesini lagi" harapnya sedih
"Tentu saja Joy, jadi kau tenang saja!, Kita akan kesini lagi tahun depan dan seterusnya oke"
"Sungguh?!!"
Tanya Wren dengan penuh harap bahkan jubah yang menutupi badan nya di bagian ekor bergerak gerak kesenangan.
"Tentu saja Wren, Joy kita akan sering sering kesini.....,"
Ucap Florence sambil mengelus puncak kepala mereka berdua,
POV Destiana...
"Oh ya apa kau ingin beli lagi makan yang terjatuh tadi?, Sebelum kita benar benar pulang?"
"Tidak kita bisa membelinya lain kali"
Jawab Joy ceria, Joy berjalan dengan ceria aku yang menggandeng nya ikut tersenyum,
"Deg!!!"
Tiba-tiba saja aku merasakan aura sihir yang sangat kuat dan juga berbahaya, aku berhenti berjalan yang membuat Joy dan juga Wren ikut berhenti.
"Wren....."
Aku memberikan isyarat mata kepada Wren yang maksudnya apa dia tahu kalau ada bahaya yang sedang mendekat dan dia membalas dengan anggukkan.
Joy menatap kami berdua dengan bingung, saat ia ingin bertanya duluan aku sudah membuka suara terlebih dahulu.
"Wren bawa Joy ke penginapan sekarang!"
"Tapi anda tidak akan bisa....!!!"
"Pergi!!!"
Aku menekan perkataan ku menjadi sangat menyeramkan untuk anak anak, bahkan mungkin raut wajah ku ikut berubah.
Dia menenguk ludah takut takut, lalu menganguk dan mulai menggandeng tangan Joy, sambil berkata.
"Berhati hati lah dan jangan mati"
Setelah itu dia berlari menjauh sambil menarik tangan Joy, aku menghembuskan nafas lega karena mereka bisa pergi.
Dan aku hanya perlu mengurus para pembunuh bayaran yang menemukan ku disini, kurasa karena auranya sangat mirip meskipun hanya ada satu orang.
Aku sekarang berada di gang kecil, semoga tidak terlalu menarik perhatian orang karena aku berharap tidak ada korban jiwa dari yang tidak pejalan kaki di sana.
Tiba-tiba saja ada suara tawa yang sangat menyeramkan tepat berada di arah gang yang ada di belakang ku.
Seseorang berpakaian hitam menempel di atas sudut dinding bangunan yang ada di sebelah kiri ku seperti Spiderman, aku berfikir apakah dia menggunakan sihir agar bisa menempel seperti itu.
"Wah wah ternyata tidak perlu mencari lama aku bisa menemukan anda ya?"
Aku bersiap mengeluarkan belati dan kipas dari tas yang mirip holster pistol yang disembunyikan di paha kaki kanan dan tertutup rok baju ku.
"Sudah cantik berbakat lagi andai saja permintaan nya bisa dirubah, misalnya saja membuat mu menghilang padahal dirubah identitasnya menjadi seorang budak, pasti akan aku beli dan gunakan dengan baik"
Dia berbicara seperti itu karena nafsunya yang besar dan terdengar sangat menjijikan di telinga ku.
"Sluurp...., Andai saja aku bisa mencicipi mu dulu "
"Sisss..... Jleb!!!"
Aku melempar belati ku ke arah orang itu tapi ia berhasil menghindar, lalu aku berkata dengan nada membunuh, dengan tatapan yang sama.
"Tutup mulut kotor mu bajingan.....!!!"
"Dasar sampah masyarakat!!!"
Awal nya dia sedikit terkejut dengan sikapku yang sama sekali tidak takut lalu tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak.
"HM...??? Hahahaha.... hahahaha, ternyata aku memang harus mencoba anda terlebih dahulu sebelum di bunuh"
"Dasar anjing!!!"
Saat aku membalas perkataannya, tiba-tiba saja ia sudah melesat dan tepat berada di samping mengincar bagian perut ku.
Tapi dengan sigap dan kepekaan yang tinggi aku berhasil menghindar dan juga menepis serangannya, begitu saja sampai berkali-kali, bahkan dia sengaja memperlambat gerakan nya untuk melawan ku.
"Hah...hah.."
Aku terengah engah karena melawan orang yang lebih gesit di bandingkan Nathan, dia seperti nya tidak mempunyai sihir yang besar tapi kelincahan sangat luar biasa.
Untungnya saja aku pernah belajar tinju jadi bisa menghindar dengan baik dari serangan pisau nya yang berniat membius ku.
Dan jika saja ia menggunakan sihir nya karena berniat langsung membunuh ku, bisa jadi sedikit kelengahan dariku bisa langsung membunuh ku.
Tapi sekarang aku berada dalam jarak yang sangat jauh dari nya, yaitu tepat berada di belakang dekat dengan belati ku yang tertancap di papan kayu bangunan.
Aku melihat kebawah sebentar dan menemukan pijakan untuk melompat dan mengambil belatiku dan,
"Hap!!!"
Aku berhasil mengambil belatiku kembali, dia hanya memperhatikan diriku karena telah beristirahat sejenak setelah memborbardirku dengan serangan yang rendah seperti hewan berkaki empat.
Dia tersenyum buruk lalu memulai serangan nya kembali, aku juga berusaha mengoreskan belatiku ke lehernya atau bagian vital lainnya, agar terkena racun.
Tapi sampai kapan pertarungan ini berlanjut apa pemenangnya adalah pembunuh itu atau Florence?
Bersambung.
.......................