
POV Destiana
"Ah dimana aku?"
Ucapku bingung karena baru bangun tidur lalu menatap keseluruhan ruangan dan merasakan bahwa ini tempat yang familiar, aku berfikir sejenak karena perabotan di istana duke jadi lebih canggih seperti di duniaku.
"Tunggu, tunggu ini bukan istana duke tapi ini rumah ibu sama ayah yang asli!!!!"
Ucapku panik dengan jantung yang berdebar keras, kamar tidur memiliki ruang tidur dengan luas 7,43 m2dan memiliki panjang sisi paling pendek 2,50 m dari dinding ke dinding.
"I...ini benar benar rumah lama ku tapi kenapa aku bisa kesini? Apa ini mimpi?"
Aku sedikit ragu dan mencoba mencubit pipiku sendiri yang terasa sakit, "sakit...."
Ucapku pelan entah harus senang atau sedih akan hal ini, "jadi ini bukan mimpi lalu sekarang tanggal berapa? Dan apakah aku pindah dunia itu yang sebenarnya mimpi?"
"Tok tok tok!!!!" Suara pintu diketuk dengan tidak sabaran lalu disusul suara panggilan yang memekakkan telinga ku,
"Tiaaaaaaaaaa!!!!"
"Bangun!!!, kasian suami mu nih!!! Katanya gak tega bangunin kamu yang kebluk (senang tidur)!!!"
"Ih..., udah mam gak usah dibangunin tia keliatan nya capek habis bergadang semalaman"
Sayup-sayup kudengar suara balasan dari balik pintu aku yang mengetahui kalau itu adalah suara Rangga langsung melompat dari kasus dan cepat membuka pintu dan melompat ke pelukannya.
"Rangga!!!! Rangga ini beneran kamu???!" Ucap ku panik dan tidak percaya sambil terus memegangi wajah nya, "i...iya kenapa sayang?" Jawab nya kebingungan.
"Dih..., kenapa ni bocah?"
Tanya ibu ku bingung tapi aku tidak menggubris nya melainkan berfokus pada Rangga, aku mencubit beberapa kali pipinya yang terasa nyata, karena dia mengeluh sakit saat aku tarik.
"Kamu Kenapa sih?" Tanya ibu penasaran, yang akhirnya Rangga angkat bicara, karena mereka melihat mataku berkaca-kaca.
"Tia habis mimpi buruk?" Tanya lembut Rangga yang menenangkan hati ku, aku mengangguk pelan, ibu menatap kasian pada Rangga dan menyuruh turun untuk sarapan lalu berbalik pergi.
"Yuk masuk ke kamar dulu" tawar nya, aku menurutinya yang menggendong ku seperti bayi, dia mengunci pintu kamar dan membawaku ke kasur, "cerita kenapa?"
Aku menggeleng pelan dan satu persatu air mata ku keluar, "ini tanggal berapa?"
"16"
"Bulan?"
"Agustus"
"Tahun"
"2021 masa lupa sih?"
"Hiks hiks... waaaaa waaaa....."
Tangisan ku mulai bertambah kencang, "emang kenapa sih? Cerita lah kalau ada masalah"
Aku memeluknya dengan erat, "aku mimpi buruk kamu, Brian, ibu, bapak dan Dimas ninggalin aku sendiri selama 2 tahun"
"Ninggalin? Tapi gak mungkin kan?" Ucap nya dibawa bercanda masih tidak paham maksud perkataan ku, "ih...., Rangga lelet maksud nya mati gitu...., huaaawaaa!!!! Ucap ku setengah kesal setengah tertawa karena dia tidak paham maksud ku.
"Oh..., Ya gak lah..... Aku mau nya sama kamu terus"
"Bohong! Nanti kamu gak bolehin aku nyusul"
"Boleh boleh, soalnya aku gak tahan jauh-jauhan sama kamu, jadi tenang ya?"
Aku dengan manja bersandar di pelukannya, "janji?" Ucapku sambil menyodorkan jari kelingking.
"Janji"
Ia mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking ku dengan erat, akhirnya aku bisa berhenti menangis dia mengelap ingus dan air mata yang berada di wajah ku sambil berkata,
"Tuh kan wajah nya jadi jelek, kalau nangis"
"Kamu gak suka?"
"Tetep suka, muach..." Ucap nya dan mengecup dahi ku dengan lembut, aku menyodorkan bibir ku ke bibirnya dan kami berciuman dengan lama.
Tangan ku mulai aktif ke bawah merayu milik nya, dia memasang wajah malu sambil berkata, "Tia udah geh...., Yang lain nungguin makan di bawah"
"Gak usah di pikirin, mereka juga pasti ngerti"
Dia hanya merenggut kan bibir yang terlihat sangat imut di mataku, aku mencium nya lagi dengan terus memainkan milik nya yang sudah tegang.
"Brukk!"
Tiba-tiba saja aku didorong oleh nya yang wajah nya terlihat kelaparan dan sangat panas, "kau harus bertanggung jawab Tia!"
"Ayo makan aku" ucap ku yang menggoda nya, dia yang terpancing mulai mencium ku dengan ganas.
'Pagi yang benar benar panas'
Pikir ku saat itu, kami turun kebawah saat hari mulai siang, ibu menceramahi ku yang melakukan nya tidak tahu waktu saat makan siang, Rangga wajah nya memerah malu sedangkan yang lainnya tertawa tidak terkecuali Brian.
Saat siang kami menghabiskan waktu dengan jalan jalan ke pantai terdekat sekeluarga, bahkan Selvi kami ajak sekalian, aku duduk di antara ibu dan Selvi saat di mobi.
Rangga menyetir mobil dan di kursi depan terdapat ayah yang memandu, sedangkan Dimas dan Brian duduk di kursi paling belakang, kami mengobrol dengan senang, aku tidak merasa aneh dengan kejadian ini dan malah lebih senang menikmati nya, juga tidak bertanya-tanya lagi apa ini asli atau tidak, yang terpenting aku ingin tinggal lebih lama disini meski hanya ilusi.
Kami sampai di pasir putih saat sore hari, disana lumayan banyak wisatawan juga meskipun sedang ada PPKM di daerah ku, (Pembatasan Kegiatan Masyarakat), kami bersantai ria di pantai, bermain bola atau membakar ikan langsung.
Tertawa riang bersama, menaiki permainan air tanpa melihat waktu seperti banana boat, bahkan Rangga sengaja membawa Flyboard meski hanya satu, aku bersandar di pundak nya saat matahari mulai terbenam indah.
"Tia Kenapa kamu meluk Aku erat banget?"
Tiba tiba saja Rangga bertanya seperti itu aku sedikit menoleh ke arahnya dan kembali bersandar nyaman di pundaknya sambil menjawab singkat
"Aku takut"
"Kamu takut kenapa?"
"Takut kamu hilang habis matahari tenggelam"
"Hihihihi..., lucu tahu, nggak mungkinlah aku hilang soalnya kan besok ada acara"
"Acara, acara apa itu?"
Balasku penasaran karena dia tiba-tiba berkata 'acara' yang setahu aku di keluarga kami jarang sekali membuat acara acara penting karena lebih memilih untuk liburan,
"Kamu lupa? kita kan ikut lomba 17 agustus-an"
"Di mana di komplek ibu kamu lah, masa di daerah apartemen kita, jangan jangan kamu lupa juga udah daftar ikut lomba besok?"
"Kapan emang daftarnya?"
"Kemarin!"
"Eh beneran?"
"Iya kita sekelompok, kelompoknya dibagi serumah gitu keluarga dari bapak ini, sama istri nya itu untuk kelompok 2 orang, sedangkan untuk kelompok yang banyak dibagi lagi bapak-bapak dan ibu-ibu nya seperti tarik tambang"
"Oh...."
"Aku ikut panjat pinang juga, kamu nanti ikut lempar bantal, makan kerupuk, pokoknya banyak lah, lihat aja jadwalnya yang ada di grup"
"Diliat liat kamu semangat banget deh mau panjat pinang?"
"Hehehehe iya, ya kamu tahu lah aku terlalu lemah letoy gimana gitu....., jadi penasaran pengen menang kalau panjat pinang"
"Nggak papa tah?... nanti sakit badan lo....!"
"Nggak nanti kan tinggal diurut sama istri tercinta"
"Heeeh.... Dasar awas ya nanti diurut nangis"
"Iya gak apa apa"
Dan akhirnya kami tertawa bersama, "heh!!!, nih pasangan tua sering banget mojok nya!!" Tegur ibu ku dari belakang, kami memang sengaja menjauh dari tempat piknik mereka karena ingin berdua.
"Huuu...., mama nih!, inget umur udah tua jangan kayak ABG (anak baru gede) aja yang masih cinta cinta an, gak ingat anak nya udah gede nih..."
Ucap Brian sambil menepuk-nepuk dadanya sambil memasang wajah sok sedih, "alah...., kamu mah anak pungut! jangan ganggu!!!" Balas ku gereget, sementara Dimas dan Selvi hanya tertawa mendengar nya.
"Eh.... Kalau Aku anak pungut kenapa aku bisa mirip banget sama ayah? Juga pinter ini kayak Mama?, Soalnya aku juara 1 terus dong di sekolah dulu sampai kuliah juga nilai terbaik"
Sombong Brian kepada kami, aku membalas dengan keras "jomblo aja belagu, bilang aja gak laku!, Kamu anak mamah buktiin dong kamu bisa dapetin pasangan kayak Mama yang sebaik, seperhatian, selimut, papa kamu"
"Ya, nanti tenang aja aku bawa calon nya!!!" Teriak Brian dengan keras tapi setelah itu dia menggerutu dengan berkata "Ih harus nya aku ikut aja bareng temen kampus ke gunung, soalnya di sini, nggak enak banget, gue jomblo sendiri, di antara para pasangan yang udah TUA!!!"
Dia menekankan kata 'TUA' karena sengaja untuk meledek kami semua, kami yang mendengarnya hanya tertawa terbahak-bahak, salah nya sendiri dia menolak ajakan teman temannya untuk jalan-jalan dan memilih pergi bersama kami para pasangan.
Setelah itu kami bakar bakar ikan dan makanan laut lainnya, dan beranjak pulang, saat sampai rumah ibu aku melihat ke jam yang menunjukkan pukul 21:00 sambil menguap lebar.
"Tidur yuk" ucap Rangga mengajak ku ke kamar, namun tiba-tiba rasa takutku mulai kembali, "bagaimana jika aku tidur Rangga dan semua menghilang?" Pikir ku ketakutan.
"Udah kamu duluan tidur ya, aku mau beres beres baju yang basah di mobil"
Elak ku lalu kembali ke mobil dan mencuci pakaian basah bekas ke pantai tadi, disitu dada ku bergemuruh kencang karena ketakutan terhadap hal yang belum pasti, "bagaimana jika aku tidur mereka semua menghilang?"
Ucapku sambil mondar-mandir di depan mesin cuci baju, lampu tengah telah di matikan hanya lampu belakang yang masih menyala membuat kesunyian malam sangat terasa, semuanya telah beristirahat untuk kegiatan besok pagi.
Tangan ku mulai bergetar dan berkeringat basah karena panik, rasanya aku ingin segera berlari ke kamar mereka dan mengecek nya terus menerus ada atau tidak nya.
Tapi aku menahan hasrat itu dengan memojokkan diri disamping mesin cuci yang sedang bekerja, "tenang Tia mereka tidak akan menghilang sekarang....." Ucapku pada diri sendiri sebagai penenang.
Tapi rasa takutku mulai memuncak aku segera berdiri dan berjalan menuju kamar ku dan Rangga, tapi saat sampai sana tanganku tiba-tiba terhenti untuk mengetuk pintunya lalu pikiran-pikiran buruk mulai terlintas di benakku.
"Apa jangan-jangan aku malah menemukan Rangga dalam keadaan tak bernyawa? atau dia yang tidak tiba-tiba menghilang?"
"Bagaimana ini, aku takut sekali apakah dia akan menjawab panggilan ku atau tidak karena sudah tidur?, bagaimana, bagaimana ini!!!,"
Pikiran gelisah ku menjadi jadi sampai suara pintu terbuka "Tia kamu kenapa?" Ucap Rangga terkejut dengan ekspresi ku, "kamu nangis lagi?"
"Kenapa sih emang nya?, mimpi buruknya serem banget yah?"
Ucap nya sambil langsung memelukku dengan erat dan mengusap air mataku yang ternyata telah mengalir sejak tadi, aku kembali menangis kencang dan tersedu-sedu dia menggendongku dan menaruh ku di atas kasur, di situ aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis.
Dia dengan sabar mengelus-elus kepala, rambut, punggung dan lainnya, mungkin sekarang aku sudah membasahi seluruh piyama nya, akhirnya setelah beberapa menit aku lumayan tenang dan berkata.
"Aku takut kamu menghilang"
"Kenapa menghilang?" tanya dengan suara lembut, Memberanikan diriku untuk menjawab nya lagi, "aku takut itu bukan mimpi"
"Mimpi apa?" Dia bertanya kembali dengan sabar karena menunggu ku menceritakan apa yang terjadi.
"Aku mimpi kamu, Brian, Dimas, ayah dan ibu mati karena kecelakaan di tahun 2019"
"Tapi, ini udah tahun 2021, jadi nggak mungkin kan kecelakaannya mundur, buktinya sekarang aku masih ada di sini bersama yang lain...., jadi jangan pikirin itu!, Itu cuma mimpi buruk mu Tia....."
Aku kembali tersedu sedu dan melanjutkan perkataanku, "Aku takut kamu yang di sini itu hanyalah khayalanku saja"
"Terus kamu mau gimana?"
"Aku cuma mau sama kamu selama nya, meskipun ini cuma mimpi"
"Ya, udah terserah kamu kalau mau di sini"
Tiba-tiba suara terdengar di dalam kepala ku, seketika tubuh ku merinding ketakutan, pelukan ku semakin erat kepada nya dan berkata kepada Rangga, "kamu dengar nggak ada orang yang ngejawab percakapan kita?!!!"
"Jangan dengerin, jangan dengerin itu Tia, itu cuma ilusi buatan pikiran mu yang ketakutan, Kamu harus kuat jangan dengar suara dari khayalan mu"
Ucap Rangga menenangkan diri ku yang terlihat depresi, suara di dalam kepala ku kembali berkata, "keluarga dan dunia mu ada dan terasa sangat nyata disebabkan pengaruh kutukan, jadi dengarkan aku Tia!!!"
"KAMU!!!!, suara aneh.... jauh-jauh dariku!!!" ucapku sambil menutup kedua telinga, Rangga membantu ku menutup kan kedua telinga ku dengan tangan nya sambil berbisik lembut,
"Percaya padaku semua akan baik-baik saja, jangan dengar kan dia"
"Tia!!!, Tia!!!, Tia!!!,"
Teriak suara dari dalam kepalaku seperti kaset rusak, aku dengan rapat menutup kedua telingaku, Rangga yang kasihan melihat ku seperti itu mengambil sebuah obat minum,
"Ini dan kau akan tertidur nyenyak, lalu aku akan membangun mu besok pagi dan semua khayalan tentang mimpi buruk itu akan menghilang" ucapnya yakin, aku menatap nya masih merasa ragu, dan dia mengangguk untuk menyakinkan ku.
Dan akhirnya aku mengambilnya lalu meminumnya tanpa ragu dia memelukku dengan erat semalaman sama sekali tidak melepaskan diri ku, kecuali hanya sampai diriku tertidur.
Dan benar saja ucapan nya, Saat pagi hari aku membuka mataku pertama kali yang kulihat adalah wajah Rangga yang menghitam di bagian kelopak matanya, tiba-tiba saja aku jadi tertawa geli karena mata nya yang terlihat sangat mengantuk.
Karena menjagaku hingga tertidur Saat malam, "maaf ya sayang" ucap ku dengan penuh cinta dan mengecup kedua matanya yang menghitam, "kamu jadi harus bergadang padahal kamu gak suka bergadang" lanjut ku lagi.
Ia tersenyum lembut lalu berkata "demi istri Apa sih yang nggak, Ya udah yuk kita mandi dulu siap-siap, sebentar lagi acaranya mau mulai" aku kembali tersenyum dan mencium pipinya.
"Ya, ayo mandi berdua aku kasih jatah sekarang karena udah baik nemenin aku sampai tidur, pas malam" dia tersenyum nakal karena tawaran ku.
....
"Priiiittttt!!!!!"
Suara peluit yang ditiup kencang menandakan perlombaan dimulai, aku yang berada di urutan ke-8 dalam lomba perang bantal di sawah yang belum di tanam, jadi aku sekarang sedang bersantai dan melihat pertandingan suami ku dulu.
Yaitu tarik tambang kelompok suamiku berisi dari 10 orang pria yang semuanya adalah tetangga-tetangga dari RT ayahku.
"Wuuuhhhh!!!!!"
"Semangat!!!, semangat!!!,"
"Ayo semangat!!!!"
Suara teriakan heboh dari para penonton ketika tali itu bergerak karena ditarik oleh kedua belah pihak aku dengan semangat menyemangati Rangga seorang, "ayo Rangga pasti bisa!!!"
Aku melihatnya mencoba dengan keras menarik tambang itu agar lawannya jatuh atau melewati garis putih yang telah ditentukan, semua orang bersemangat karena sudah 1 menit lebih masih belum kelihatan pemenangnya.
Karena kekuatan mereka seimbang tapi tiba-tiba saja kelompok musuh bisa menarik cukup dekat kelompok Rangga ke garis putih, aku yang mulai gereget karena tim suamiku terlihat akan pasrah mulai berteriak kencang, "SAYANG KALAU MENANG AKU KASIH JATAH BONUS MALAM!!!"
Dan seketika Rangga bersemangat juga para laki-laki lain yang mulai lengah karena perkataan ku, apalagi pihak musuh mereka dengan gampangnya melemahkan pegangan mereka dan mulai terjerembab karena tarikan kuat dai Rangga yang disemangati seperti itu.
Para wanita yang mendengar teriakan ku tertawa kencang dan menepuk-nepuk bahu ku karena kemenangan mutlak dari rangga, setelah itu dia mendekatiku dan berkata malu malu tapi mau, "sayang kamu malu-maluin" sambil tertawa kecil.
"Gimana lagi, biar kamu nya semangat!!!"
"Tapi bener kan?, janji ya....., awas loh!" Bisik nya di telingaku "Iya janji, makanya menangin dulu gih..."
Balas ku singkat lalu teringat hadiah perlombaan ini adalah uang "biar kita dapet hadiahnya kan lumayan"
"Iya-iya" ucapnya setuju dengan perkataan ku, "kamu juga menangin ya lomba sarung bantalnya" lanjut nya lagi "oke" balas ku singkat.
Setelah briefing untuk kelompok tarik tambang yang di menangkan tim Rangga, dia akhirnya memutuskan untuk menonton pertandingan ku lomba sarung bantal, dan dengan mudah aku memenangkan pertandingan itu karena semangatnya yang berteriak menyanyikan yel-yel hanya untuk diriku.
Contohnya seperti ini "SAYANG!!!, SAYANG!!!,Tia!!!, Tia!!!, Menangin!!!, Menangin!!!, kalau menang tambahan uang bulanan!!!"
Semua warga yang mendengar yel yel-an itu langsung menyoraki ku dan mengeluh ke suami masing-masing dengan sindiran seperti ini,
"Anjeun kedah bungah upami nambihan artos saku!!!"
"Lewih sumangat lamun dipasihan artos lewih!!!"
"Pancen semangat Nek, di tambahi duit sangune!!!"
"Mesti semangat nek ditambahi duit jajan!!!"
Yang arti semua perkataan itu hampir sama "pasti semangat kalau ditambahin uang jajan"
Para suami mulai tertawa terbahak-bahak karena para istri nya meminta uang jajan dinaikkan, yang mendengar pun ikut tertawa kencang, aku cuma cengar-cengir saja di hadapan orang orang ini.
Sore hari pun tiba tidak terjadi apa-apa di keluarga ku, aku tersenyum senang sambil bergandengan tangan dengan Rangga di depan panggung yang akan mengumumkan hasil juaranya.
Rata rata tim yang sekelompok dengan ku memperoleh kemenangan, kamu mendapatkan banyak hadiah dari sembako maupun kaos untuk acara seperti ini lagi.
Rangga hanya juara tiga di perlombaan tarik tambang, dia tersenyum kecil karena menjadi perwakilan kelompok nya, "Pasangan favorit kita untuk lomba tujuh belas Agustus-an kali ini adalah....."
Ucap MC (master of ceremony) tiba-tiba, "perasaan di kertas pembagian hadiah gak ada ini" pikir ku dalam hati
"....,Keluarga bapak Adams Rangga!!!" Teriak MC heboh,
"Prok prok prok prok prok prok!!!"
Suara tepuk tangan yang bergemuruh, dan tatapan mulai teralihkan ke kami semua, Rangga memasang wajah yang tidak percaya "ini beneran?" Tanyanya kepada MC lagi untuk memastikan.
"Bener pak!" Balas sang MC,
"Udah ih.... Ayah maju aja sih!" Teriak Brian dari belakang dan aku mendorong lengannya agar maju ke panggung untuk mengambil hadiah nya.
Akhirnya dengan sedikit paksaan mulai maju ke depan mengambil hadiah, ia mengangkat piala nya tinggi tinggi kearah ku dan keluarga ku, Brian bersorak senang karena mendapat hadiah yang cukup bagus.
Setelah turun MC mulai mengumumkan hadiah hadiah lainnya, sampai di puncak acara mereka berkata "bahwa ada bintang utama di lomba tahun ini adalah...."
Semua orang menahan nafas sampai nama bintang utama lomba disebut kan MC, "Yaitu jeng jeng jeng..... Ibu Destiana!!!! Beri tepuk tangan yang meriah untuk nya"
Aku terkejut juga senang dengan dinobatkan nya aku sebagai bintang utama di lomba tahun ini, tapi saat MC menyuruh ku untuk maju tiba-tiba aku mempunyai firasat buruk.
Ayah, ibu, Dimas dan Brian terus menerus memaksa ku maju karena MC telah memanggil berkali-kali kepada ku tapi entah kenapa aku benar-benar tidak ingin maju saat itu seperti akan terjadi sesuatu jika aku maju ke atas.
Rangga menguatkan ku dengan senyuman nya, aku masih menggeleng tidak mau, kekeuh dengan pendirian ku agar terhubung maju ke panggung.
"Cuma sebentar doang kok Tia...."
"Ta...tapi"
"Liat semua orang menunggu mu maju, jangan takut nanti aku melambaikan tangan dari sini" ucapnya, aku mengerutkan bibir lalu dengan cepat maju ke atas panggung,
Saat sampai di sana tidak terjadi apa-apa karena Rangga dengan bangga nya melambaikan tangan nya kepada ku yang telah di atas panggung yang tidak terlalu tinggi.
Ternyata rasa khawatir ku berlebihan pikir ku pelan seseorang menjadi fotografer dan menyuruh ku untuk bergaya dan tersenyum ke arah kamera.
"Cekreekkk!"
Kilatan cahaya kamera nya membuat mata ku lengah sebentar, setelah itu mataku mulai mencari Rangga dan keluarga ku di kerumunan, tiba-tiba nafasku tercekat karena tidak menemukan keberadaan mereka semua.
Aku dengan cekatan turun dari panggung dan cepat-cepat berlari ke arah tempat berdiri ku tadi, tapi tidak menemukan Rangga di sana, apalagi yang lainnya.
"Di mana mereka?" ucapku dalam hati kemudian berteriak memanggil Rangga dan yang lain, saat orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing.
Karena acara telah selesai, "Rangga, brian, ibu, ayah, Dimas!!!!, di mana kalian!?" Teriakku ke segala penjuru berteriak memanggil seperti orang gila.
Aku bahkan berlari sampai rumah dan mencari ke dalam nya, tapi tidak menemukan tanda-tanda orang di sana, aku kembali berteriak, "Di mana kalian jangan main prank!, seperti inilah.....!"
Aku mulai menyesali perbuatan ku tadi yang naik ke atas panggung, badan ku Mulai bergetar hebat menangis dengan pilu, seperti saat kejadian kecelakaan itu, padahal aku berharap ini adalah kenyataan.
Karena kejadian 2 tahun itu tidak pernah terjadi, padahal seharusnya Brian dan yang lain meninggal pada tahun 2019 dan sedangkan sekarang 2021, tapi aku sama sekali tidak mengingat kejadian yang sudah terlewati dari 2019 -2021.
Meskipun ini bukan kenyataan, aku tetap suka karena yang terpenting sekarang aku bersama orang orang yang ku sayangi dan bahagia, tapi kenapa jadi seperti ini karena tiba-tiba ruangan menjadi putih bersih dan seseorang menyapa ku yang ku kenali dari suaranya adalah Florence asli.
"Apa yang kau lakukan dengan khayalan ku!!!" Teriakku parau dan marah padanya.
"Jika kau terlalu lama disana jiwa mu akan lenyap dan tidak akan bisa berenkarnasi lagi, apalagi bertemu dengan keluarga mu yang asli, mau?!"
Aku menundukkan kepala sambil terus menangis bingung ingin memilih tetap di dunia lain bertemu yang asli atau yang palsu tapi bahagia.
"Sihir kutukan itu sangat kuat, kau tidak akan bisa menanggung nya, untungnya saja aku menjaga tubuh mu agar jiwa mu tidak ikut terkikis, Tia" ucap nya santai sambil menyeruput cangkir teh nya.
Karena saat dirinya muncul tadi, aku sudah melihat meja dan dua kursi yang tiba-tiba ada di ruangan putih itu, bersama Florence yang telah duduk di salah satu kursi nya.
"...."
Aku terdiam karena sudah lelah untuk menangis kali ini, Florence menyuruh ku untuk duduk dan menikmati cemilan yang ada di atasnya meja, tapi aku menggeleng, akhirnya dia berkata kalau aku harus cepat pulang karena mereka menunggu mu dengan panik.
"...."
Aku terdiam lagi dan akhirnya angkat bicara, "bagaimana caranya?"
"Tuk..."
Dia menaruh cangkir teh nya dan mendekati ku, "pulang lah" ucapnya sambil menempelkan jari telunjuknya ke jidat ku, dan seketika aku merasa pusing yang amat sangat, dan membuat mataku mulai terpejam.
"Haah...!!! Haah!!!"
Aku membuka mata dengan nafas yang tidak beraturan, seseorang yang disebelah ku terkejut karena aku membuka mata, "Florence!!!, Kau sudah sadar?" Ucap nya senang meski rada terkejut.
Aku melirik ke arah nya dan menemukan bahwa Duke memengangi tangan kanan ku sejak tadi, "yang mulia" ucap ku serak karena tenggorokan ku terlalu kering.
Ia dengan cekatan mengambil gelas air putih yang berada di nakas tepat di samping nya, lalu membantu ku duduk dan meminum kan nya, "Ehem Ehem!!!"
Aku mencoba berdehem beberapa kali untuk mencoba apakah suara ku sudah enak atau belum, "yang mulia"
"Ya"
"Aku tidur berapa lama?"
"Kamu koma sebulan lebih"
"Hah? Sungguh?"
"Ya, masa aku berbohong, syukurlah kamu sudah sadar Albert sangat cemas dengan keadaan mu"
"Tidur lah lagi aku akan menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan"
Ucap nya dengan lembut dan menaruh kembali tangan ku yang ia genggam.
"Baiklah bye bye...."
Ucap ku dan mulai terpejam
....
POV author
Dan tanpa Destiana sadari, wajah Duke terlihat sangat sedih sekarang, dia jadi teringat kejadian beberapa hari saat dia koma, karena air mata mengalir dari kedua matanya yang sedang terpejam.
Seketika Edward penasaran apa yang dimimpikan oleh Florence dia menggunakan sihir untuk melihat mimpi orang dan menemukan fakta dalam mimpi Florence, Dia sedang memeluk erat seorang pria yang tidak ia kenal.
Disitu Florence hanya berkata "aku ingin pulang dan bersama dengan mu"
Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu karena wajahnya sedikit buram, laki-laki itu menatap Florence dengan lembut tapi tiba-tiba menatap ku, seperti tahu kalau aku sedang menonton nya.
Dengan melihat ke dalam mimpinya, lalu tiba-tiba saja sihir ku menghilang secara paksa, dan tidak bisa melihat mimpi Florence lagi meskipun dengan beberapa kali usaha mengucapkan mantra sihirnya berkali-kali.
"Haaah..... Sebenarnya siapa pria itu?"