I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
9,5



"End cepat bunuh dia!!!" Teriak orang itu dengan susah payah, karena aku mungkin saja sudah menggorok pita suara nya sedikit.


Setelah orang yang bernama end mendengar kata kata ketuanya, dia masih terdiam karena melihat kelakuanku yang tiba-tiba menyerang ketuanya dengan cekatan


"Mungkin dia merasa aneh dengan perempuan yang bisa bertarung layaknya pembunuh"  pikir ku tetap mengawasi nya.


Matanya memperhatikan ku dari atas sampai bawah seperti mencari sesuatu, aku yang di lihat seperti itu merasa merinding.


"Apa jangan jangan mereka ingin memperkosa ku dulu habis itu dibunuh?"  Pikir ku seram


"Pokoknya aku harus hati-hati dengan orang yang di panggil end ini, karena kekuatan nya tidak main-main, meskipun terlihat masih muda" Gumamku pelan


Terlebih insting ku berkata kalau dia lebih kuat dari pada semua pembunuh yang mengepung ku, bahkan ketuanya sendiri.


Sekarang ia menatap ku dengan tatapan yang berbeda, tidak terlihat niat membunuh nya lagi di matanya.


Saat aku masih menatap nya untuk berjaga jaga tiba-tiba saja dia tertawa keras sambil membuka masker yang menutupi setengah wajahnya.


"Maaf kapten perintah di tolak!"


"Hah??!"


Aku menatap nya dengan tatapan tidak percaya bahkan semua orang yang ada di situ terkejut, dan wajah para pembunuh itu terlihat panik sekali.


Kenapa aku bisa tau mereka terlihat panik?, itu disebabkan karena mereka yang sejak tadi bersembunyi di atas pohon sudah lebih mendekat ke arahku dan kaptennya.


Karena ketuanya terluka parah dan harus segera di obati jadi mereka mulai turun kebawah.


"Hephaestus datang lah!!!"


"Dasar penghianat!!! Teriak sang kapten kesusahan dia sedang di sembuhkan oleh bawahan yang berada di samping nya dengan sihir.


"Sial, dia seorang pemanggil roh!" Gumam ku pelan.


Tiba tiba di samping end muncul  harimau yang seluruh tubuhnya terbuat dari api.


"Bakar mereka semua kecuali perempuan itu!!"


"Eh??!"


Aku terkejut dengan perintah nya, dan melihat para pembunuh itu terbakar api dalam sekejap padahal harimau itu tidak menyerang langsung.


Karena api api itu muncul tiba-tiba dari badan mereka semua, mereka mulai panik dan mencoba memadamkannya dengan sihir air.


Tapi itu tetap tidak berhasil karena aku sudah tahu kalau sihir mereka lebih lemah dari nya, itu sangat terlihat perbedaan nya.


Kenapa aku bisa tau ya pasti nya aku di beritahu oleh orang lain yaitu saat pelajaran dengan Jerome tentang sihir atau pun pemanggilan roh.


"Jadi siapa yang lebih kuat diantara itu?" Tanya ku penasaran


"Tergantung, anda kan tahu kalau penyihir itu mempunyai beberapa tingkat"


"Ya, pemula 1-10, menengah 1-10, tinggi 1-10, dan tingkatan raja"


"Ya anda benar, kelas pemanggilan roh juga di bagi menjadi tingkatan yang sama karena itu tergantung pada roh apa yang mereka panggil"


"Apa itu sesuai dengan jumlah MANA di dalam tubuh nya?"


"Ya, anda benar lagi, karena semua makhluk hidup itu mempunyai MANA, tapi tergantung dari dirinya sendiri jika ia bisa melatih nya itu akan memperbanyak nya tapi jika tidak"


Jerome menjeda ucapnya sebentar dan melanjutkan perkataannya tadi,


"Itu tidak akan pernah berkembang kecuali seorang spesial yang sering di sebut jenius, oh... Aku akan bertanya kembali kepada anda apa itu MANA?"


"Mana adalah sebuah kekuatan aneh yang membuat seluruh dunia ini hidup mulai dari tumbuh tumbuhan dan manusia bahkan udara juga mempunyai mana"


Aku menjawab dengan cepat, karena mulai mengerti kekuatan ini mirip dari penjelasan panjang Rangga dulu, saat ia meminta saran untuk membuat novel fantasi.


Dan bahkan ini juga mirip Chakra di anime Naruto yang sering di tonton nya, meskipun sedikit berbeda sih, kami melanjutkan pelajaran.


Setelah itu aku diberi gambar gambar makhluk roh dari yang terendah hingga yang tertinggi, dan aku tahu kalau roh yang ia panggil itu adalah peringkat menengah ke 11.


"Hephaestus si harimau pemarah"


Tidak sampai 5 menit mereka semua terbakar oleh api amarah itu, aku bergidik ngeri karena pemanggil roh itu sangat jarang yang berada di tingkat menengah.


Apalagi tingkat raja yang kata Jerome sudah tidak ada lagi selain di ribuan tahun yang lalu, karena jika ia berlatih terus bisa bisa ia menjadi pemanggil roh tingkat raja.


Aku melihat wajah nya yang sudah tidak tertutup masker, Matanya berwarna emas, tatapan nya tajam  rambut mungkin bewarna biru dongker atau hitam, wajahnya pun tampan.


Saat aku melihat wajah nya tiba-tiba pikiran ku berkata,


"Ah..... Mantap!"


Tapi bohong karena wajah yang paling tampan sedunia bagiku adalah Rangga mau dia berubah jadi buruk rupa tetap akan aku cintai jika itu adalah jiwanya yang asli.


Padahal aku sudah bersiap untuk melarikan diri dari keributan itu, tapi saat aku melangkah tiba-tiba ia langsung menatap mata ku dengan tajam.


Yang bermakna,"jika kau mencoba lari!!!, liat saja nanti.....", Disitu aku langsung mengurungkan niatku untuk lari dan diam di tempat.


Saat teman nya sudah mati menjadi abu dia melihat ku dengan senyuman jahat, aku meneguk air ludah bersiap segala kemungkinan.


Aku penasaran kenapa ia tidak mati juga, padahal ia pasti sudah bersumpah saat melakukan misi ini.


"Dari mata anda terlihat sekali kalau dalam hati, bertanya tanya kenapa saya masih hidup, itu mudah di jelaskan karena saya tidak mengucap janji"


Aku hanya menatap dengan datar dari ucapannya, lalu dia melanjutkan


"Tapi misalnya aku terlanjur sudah mengucapkan nya aku hanya perlu melempar kutukan kematiannya ke orang lain yang ku tandai"


"Oh jadi bagus dong, aku tinggal membunuh mu sendirian, mempermudah pelarian ku"


Balas ku atas ucapannya dingin, sambil memasang kuda-kuda untuk menyerang tapi dia tersenyum aneh.


"Maaf ya nyonya, anda berharap terlalu banyak"


"Apa maksud....."


"Deg!!!"


Ucapku terhenti saat rasa pusing yang menyerang kepala ku,


"Ah, sialan nih bocil ini obat bius"


Aku memengagi jidatku yang mulai bertambah berat, awas saja nanti saat aku bangun, jika ia melakukan hal yang buruk pada badan ku aku akan mengebiri milik nya, saat ia sadar.


2 kaki ku mulai terjatuh ke tanah, samar samar aku melihat dia berjalan mendekati ku, yang pasti orang ini tidak jadi membunuh.


"Awas saja kau!!!, Jika bermain main dengan tubuh ku!" Ancam ku  sebelum pingsan,


Dengan cekatan aku menyimpan kipas di tempat tersembunyi di gaun ku yang tidak akan di ketahui nya kecuali meraba raba seluruh badan.


"Bruk!!!"


Badan ku roboh ke tanah, tapi otak ku masih bekerja atau berfikir mungkin, tentang bagaimana cara ia memberikan obat bius itu.


Coba tebak, itu karena dia mengoleskan obat bius yang sangat kuat di ujung pedang nya, dan aktif saat menggores sedikit leher ku meski agak sedikit lama.


Aku merasa badan ku di angkat lalu di bawa pergi ke suatu tempat, aku berusaha menerka nerka dengan suhu dari tempat itu dengan indra kulit ku.


Tapi badan ku tidak bisa merasakan nya "ah sial kesadaran ku akan menghilang sebentar lagi", dan benar di saja aku tidak bisa berfikir kembali.


...............


Aku membuka mata ku perlahan dan langsung menguatkan panca indera, orang yang bernama end itu tidak ada.


Aku merasa sudah tidak sadarkan diri selama 6 jam karena satu dua suara malam terdengar di belakang tempat ku disekap.


Padahal mata ku sudah menyapu bersih ruangan yang mirip gudang itu, dan di tempat ini kaki tangan ku di ikat kuat.


Dia benar-benar tidak memberikan belas kasihan, tapi untungnya saja senjata ku tidak di ambil, aku penasaran dengan tempat ini ada di mana.


"Oh anda sudah sadar?"


Ucap seorang pria tampan yang tidak lain adalah end dia masuk kedalam dengan pintu satunya yang berada cukup jauh dari tempat ku di ikat.


Dia berjalan ke arah ku dengan membawa roti air dan buah sambil bertanya


"Apa anda lapar?, Aku membawakan makanan untuk anda, entah mungkin anda akan menyukainya atau tidak"


Dia menaruh makanan itu di depan ku, sekarang fisik nya terlihat semua karena tidak memakai tudung kepala lagi, yang ternyata ia seorang dark Elf.


Aku masih memperhatikan nya lalu ia mengerti kalau aku yang tidak bisa makan karena tangan dan kaki ku di ikat ke tiang di dalam ruangan, mulai berinisiatif untuk menyuapiku.


Aku yang tiba-tiba menghindar saat roti itu akan sampai ke mulut ku, membuat nya mengernyit heran dan ingin mengucapkan sesuatu tapi langsung ku selang.


"Apa  yang kau inginkan dari ku dark Elf?, Dan kenapa kau memperlakukan ku seperti tahanan yang baik (karena di beri makan dan disuapi)"


"HM... kenapa anda bertanya seperti itu?, Ku kira anda menolak untuk makan, karena curiga terhadap makanan yang ku bawakan"


Dia menaruh kembali roti itu ke nampan yang ia bawa tadi untuk menaruh makanan.


Setelah itu dia tersenyum nakal yang mungkin akan bisa menghipnotis para perempuan centil di Indonesia dengan senyuman nya saja.


"Sebelum anda mengetahui alasannya aku akan memberikan anda beberapa pertanyaan"


"Yang boleh anda pikirkan sampai besok untuk jawabannya, dan mungkin dengan jawaban ini aku bisa membebaskan mu?, Mungkin"


Dia menatapku karena menunggu persetujuanku, terlebih dahulu, aku mengangguk, dan dia melanjutkan


"Apa kau mengenalku?"


"Hah??"


Pertanyaan ambigu apa ini, sudah tahu kalau Florence yang asli itu hilang ingatan, karena mungkin saja dia yang pernah bertemu dengan nya.


"Aku tahu kalau anda hilang ingatan, makanya aku ingin anda memikirkan nya baik baik, karena jawabnya akan mempengaruhi nyawa anda"


Dia tersenyum lagi, dan pas sekali tanduk yang ada di kepalanya sedikit bersinar saat terkena pantulan cahaya batu sihir.


"Aku akan keluar sebentar, nanti aku akan kembali lagi untuk membantu anda makan dan jika ingin..... Melakukan panggilan alam"


Lalu dia keluar  dengan sedikit terburu-buru dan disitu aku berfikir kata katanya tadi, karena merasa akrab dengan kata kata itu tapi ku lupa maksudnya.


"Panggilan alam???....."


"Ah.... Sialan itu adalah pup, pantas ia buru-buru pergi" ucap ku dalam hati


Dan seperti janjinya end datang lalu membantu ku makan, dan mengikat bahu ku dengan di temani roh api yang ia panggil untuk menemaniku masuk ke dalam hutan untuk buat hajat.


Saat malam aku dapat kemurahan hati nya karena menyuruh ku tidur di atas jerami, dengan posisi yang enak dan tidak terikat.


Aku menuruti nya saja dan tidak mencoba untuk kabur, karena akan percuma melawan nya sebelum nyawaku di ujung tanduk.


Saat aku ingin memejamkan mata dan langsung tertidur, tiba-tiba mataku tertarik saat ia membuka baju dan melepaskan perban yang ada di perutnya.


"Hey apa semua dark Elf adalah makhluk yang haus darah?, Dan kapan kau mendapat luka itu?"


Tanya ku basa basi, dia melihat luka di perutnya lalu memasang perban yang baru di perutnya.


"Tidak itu hanya omong kosong para manusia yang membenci kami, dan untuk jawaban yang satu nya adalah tadi" sambil memakai kembali bajunya.


"HM.... Aku terluka saat sebelum menjalankan misi ini"


"Wah, berarti kerja lembur?"


"Ya, bisa di bilang begitu"


Aku menatap langit langit gudang, dan tidak bertanya tanya kembali kepada nya, dia melihat ke pada ku dan terfokus pada kaki.


Lebih tepatnya mata kaki di kiri ku yang mempunyai tanda lahir yang cukup unik, bunga mawar yang di kelilingi naga.


Dan dari tatapan nya aku merasa dia tidak asing dengan tanda lahir ini, tidak lama ia pergi berjaga di luar dan mulai lah aku menjadi detektif Conan.


Aku akan mencoba mengingat kembali ingatan milik Florence dengan petunjuk petunjuk yang aku kumpulkan seperti itu.


Pertama, kenapa dia mau untuk mengambil kerja lembur padahal sedang terluka parah.


Kedua kenapa saat kita bertemu ia bersikap kejam dan memberikan tatapan membunuh.


Ketiga, membunuh semua teman temannya, kecuali aku.


Keempat, dia punya kesempatan besar untuk membunuh ku, apalagi saat serangan pertama nya.


Lima, tidak menyiksa atau pun melecehkan ku.


Keenam, dia terlalu fokus dengan tanda lahir di kaki Florence.


Dari keenam keanehan tersebut aku yakin kalau end mengenal ku, jadi yang harus kulakukan sekarang adalah berusaha mengingat kejadian dengan orang itu.


Aku memejamkan mata dan berusaha mencari ingatan yang telah ter- transfer di otak ku.


"Ah aku ingat!!!"


Teriak ku dalam hati, saat aku ingin menjawab pertanyaan tersebut end malah tidak ada, tidak apa-apa masih banyak waktu.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengingat detail dari ingatan Florence itu sekalian tertidur dengan sendirinya.


Ingatan ku di mulai dari saat aku (Florence yang asli) bersandar di tembok yang sangat kotor di gang tempat biasanya ia makan dan tidur.


Di situ aku merasakan kelaparan yang sangat besar dan bahkan harapan agar bisa tidur nyenyak dengan tempat yang setidaknya melindungi nya dari hujan.


Di hari itu Florence mendapat sebuah apel yang setengah membusuk, setelah mengorek orek tong sampah, Florence merasa senang dengan keberuntungan nya hari itu.


Lalu dengan semangat ia kembali ke gang tempat mangkal yang mungkin ia anggap rumah mungkin, saat ia berjalan secara tidak sengaja ia bertabrakan dengan anak kecil yang sedang berlari.


Anak itu terbanting cukup keras, tapi belum sempat Florence membantu nya berdiri dengan cepat ia bangkit dan kembali berlari, saat ia sudah terlihat jauh, suara suara teriakan dengan nada marah dan langkah kaki yang tergesa-gesa mulai terdengar.


"Dasar budak sialan!!!, Jangan harap kau bisa lari karena aku akan mencari mu keseluruh tempat!"


Ucap pria gendut yang memakai pakaian yang cukup mewah, dia di kawal dengan dua orang preman yang aneh menurut ku.


Tanpa memedulikan tonton itu, Florence berjalan kembali menuju gang nya, dia mempunyai gubuk kecil yang tidak akan terlihat oleh orang lain, karena tersembunyi.


Di situ ia hanya menyimpan barang barang yang ia perlukan seperti makanan atau uang yang sudah sangat ia sembunyikan, dan tempat berteduh saat hujan atau tidur.


Saat Florence ingin makan apel itu, ia teringat dengan roti yang sebentar lagi akan basi di kotak rahasianya, jadi ia memutuskan untuk mengambil roti itu dan memakannya bersamaan dengan apel.


Ia menaruh apel itu di meja yang telah rusak di makan rayap, saat ia ingin membuka kotak terdengar suara aneh di belakang nya.


Karena ia penasaran ia pun menengok ke belakang dan terkejut mendapati seorang anak kecil yang bertabrakan dengan nya itu hendak mencuri apelnya.


Dan dengan insting yang kuat karena makanan nya tidak ingin direbut ia mengambil tongkat lalu memukul anak itu dengan keras, sampai ia terbanting kesamping nya dan menabrak dinding.


Ia mengeluh kesakitan, aku yang melihat nya merasa kasian, tapi mau bagaimana lagi ketika orang jadi lapar pasti segala hal di lakukan.


Florence yang masih waspada tadi mulai sedih karena anak kecil itu, tidak bisa melawan atau bangkit berdiri kembali.


Dia mulai mendekati anak itu dan mengambil apel yang ada di meja dengan tangan kanan nya, dan di tangan kirinya masih memegang tongkat.


Anak kecil itu terlihat geram, bahkan giginya bergemeletuk kencang, dia mungkin berfikir kalau akan di pukul habis habisan oleh Florence, dan ketika ia mengangkat tangan anak itu menutup mata dengan erat.


Tapi ia tidak merasa kan apa apa karena Florence melempar tongkat itu jauh dan mengulurkan apelnya.


"Untuk mu...."


Anak itu kaget dengan ucapan Florence, tapi dengan was was ia berjalan pelan pelan sambil berniat mengulurkan tangan dan mengambil apel itu, saat sudah dekat ia langsung menyambar apelnya dan memakannya dengan lahap.


"Pelan pelan saja, aku tidak akan merebut nya kalau kau mau lagi aku masih ada roti"


Ucap Florence sambil duduk didekat nya, dengan tetap menjaga jarak untuk jaga jaga, dan mulai hari itu anak kecil itu tinggal di gubuknya.


Lalu Florence mengira bakal mudah untuk mencari makan dengan bantuan anak kecil itu, tapi masalahnya dia adalah budak yang kabur.


Dan ia juga sedang kesakitan karena saat Florence melihat tubuhnya yang sengaja ia pukul tadi dengan tongkat, banyak sekali memar dan luka-luka kecil.


Anak itu mulai sakit yang awalnya biasa saja mulai menjadi parah, dan membuat Florence khawatir dia akan mati.


Padahal ia sudah susah-susah memberi nya makan kenapa ia mati dengan sia sia?, Begitu pikirannya.


Florence berusaha mencari makanan dan obat untuk anak itu tapi memang Minggu minggu itu, ia tidak mendapat makanan sama sekali dan saat hari ketujuh ia menyerah dan bersandar di dinding gang, karena lemas.


Aku seharian ini hanya melihat ke genangan air di depan ku, disitu terlihat wajah wanita yang sangat dekil dan Kumal  bahkan matanya terlihat kosong tanpa harapan bahkan siap untuk mati sekarang juga.


Tapi untungnya saja ada seseorang memakai tudung kepala yang besar bahkan wajah nya tidak terlalu terlihat, menghampiri ku dan mengulurkan kantong yang berisi makanan dan uang ke tangan ku.


"Kenapa anda memberi ku ini?, Jika anda menginginkan sesuatu aku tidak bisa menerima ini" ucapku lemah karena tidak bertenaga, dia berjongkok di depan ku.


Tiba tiba dia tersenyum lalu menggeleng pelan "aku tidak perlu meminta apa apa padamu", dia berdiri.


"Aku tahu hukuman mu, dan dia menyuruh ku untuk membiarkan dirimu, tapi aku tetap harus menjaga mu karena bukan aku yang membutuhkan sesuatu dari mu melainkan jiwa lain, dan aku ingin menjaganya agar sehat (badan)"


Di tersenyum kembali, lalu menurunkan tudung kepala nya rambut putih keperakan tergerai di pundak nya, matanya hijau terlihat menyejukkan, wajahnya terlihat masih muda .


"Deg!!!"


Aku yang melihat ingatan itu seperti menonton film secara langsung terkejut dengan orang itu, bahkan aku sampai berteriak dalam hati


"Dia!! Dianna"


"Kau di beri hukuman seperti ini karena kesalah mu sendiri, tapi aku juga tetap tidak tega melihat mu seperti ini, aku tahu kau pasti tidak paham perkataan ku sekarang"


Dia menarik nafas sedih lalu melanjutkannya,


"Tapi itu disebabkan oleh ingatan yang di hilangkan dengan sengaja oleh [dia] yang baik, karena masa hukuman, padahal sebelumnya kamu ingat saat perjanjian itu, dari lahir hidup dengan bahagia sebelum kamu menghilang yang menyebabkan lupa ingatan"


Florence terdiam tidak paham karena ucapnya, aku langsung mengerti dari ucapan wanita itu, kenapa Florence tidak paham, karena ingatan saat kecil nya menghilang membuat ia lupa dengan kehidupan sebelumnya.


"Ah... Intinya seperti itu saja" dia tersenyum canggung karena Florence yang tidak mengerti ucapnya, dia kembali menutupi kepalanya dengan tudung tapi saat ia ingin pergi.


Jubahnya di tarik oleh Florence, agar menahannya untuk tidak pergi, Dianna menengok kebelakang matanya bertanya kenapa, lalu Florence langsung berkata.


"Bisakah kamu menolong seseorang?"


"Ya, siapa itu?" tanyanya lalu Florence berdiri dan mengajaknya berjalan menuju suatu tempat yang dekat dari situ, dia tidak lupa membawa pemberian Dianna.


Mereka sampai di sebuah gubuk kecil yang setengahnya sudah hancur bahkan terlihat hampir roboh, tanpa ragu Diana mengikuti Florence yang masuk ke dalam.


Dan di sana Aku melihat seorang anak kecil yang berbaring lebih tepatnya meringkuk kedinginan, tubuhnya kurus kering mukanya tirus dan tubuhnya sangat kotor, mempunyai tanduk berambut biru, dan dia sedang tertidur.


Tapi mengeluh kesakitan Diana yang melihatnya langsung terkejut dan mendekati anak itu.


"Dark Elf?!" katanya


"Ya, aku melihat nya beberapa hari lalu melarikan diri dari para preman, mungkin dia seorang budak"


"Kasihan sekali, aku hanya bisa menyembuhkan nya dan memberikan kalian berdua makanan, tapi tidak bisa menemani"


Dia berjongkok di depannya, dan menyentuh wajah dan bagian lainnya dari anak itu.


"Tidak apa-apa itu sudah cukup"


"Baiklah aku akan mengunakan ramuan penyembuhan paling langka ini"


Dianna mengeluarkan sesuatu dari kantong nya, yang ternyata sebotol kecil cairan berwarna putih, ia membuka tutup nya lalu menuangkan nya ke dalam mulut anak itu.


"Sihir penyembuhan healing!" Ucapnya, seketika itu cahaya berwarna hijau seperti menambah hp di game muncul dan mengelilingi tubuh anak itu.


Dan sekedar membuat nya tidur dengan tenang, Dianna tersenyum lalu bangkit berdiri sambil berkata.


"Dia sudah sembuh tapi penyembuhan tadi tidak bisa menghilangkan rasa lapar, aku akan sering kesini dan memberikan sesuatu untuk membuat kalian hidup"


"Terimakasih nyonya, anda baik sekali"


Florence berterima kasih sambil menunduk hormat, Dianna tersenyum kecil lalu berkata.


"Kau yang lebih baik karena menolong orang yang sedang susah padahal dirimu juga kesulitan"


Dan ingatan ingatan itu berjalan cepat, hari hari terus berlalu, Dianna sering mampir dan memberikan makanan juga uang.


Kami mulai dekat dan sering mengobrol aku merasa mengerti dengan perasaan Florence terhadap Dianna dan anak kecil itu sekarang, ini adalah perasaan cinta untuk keluarga.


Tapi mulai sejak hari itu ia tidak pernah datang lagi karena semua para pengemis di usir dari kota, oleh para bangsawan yang memimpin daerahnya.


Kami bahkan berpindah pindah tempat, uang yang tidak seberapa itu di pegang oleh anak kecil.


Karena ia adalah budak pelarian kami agak kesulitan untuk berpergian, sampai ada suatu kejadian saat ia hampir tertangkap dan Florence yang menghadangnya.


Lalu menyuruh anak itu untuk lari, dan kami tidak pernah bertemu kembali saat itu lagi.


................


Besok pagi aku terbangun dengan ingatan tersebut, aku tidak mengantuk sama sekali, padahal jiwaku terasa tidak tidur.


"Sudah bangun?"


"Ya, oh aku ingin menjawab pertanyaan mu kemarin" ucap ku sambil duduk di atas jerami


"Oh jadi apa?" Dia dengan muka penasaran yang tidak percaya mendekat ke arah ku.


"Ya, aku mengenal mu" jawab ku mantab.


Dia tersenyum jahat lalu memberi pertanyaan lagi, jadi siapa namaku?


"Nathan yang artinya pelindung......." Nada ku sedikit sedih.


"Akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama ya" lanjut ku lagi.


Awal nya wajahnya terlihat keras tapi tiba-tiba air mata mulai mengalir di pipinya.


"Kakak!, Karena kau sudah menyelamatkan ku satu kali bersama nyonya Dianna, aku akan melindungi mu selamanya"


Aku yang mendengar nya ikut terbawa suasana, lalu memeluk nya, dia tidak menolak pelukanku, melainkan pelukannya bertambah erat.


Disitu aku ikut menangis karena suara tangisnya yang menyayat hati yang padahal tidak kurasakan sendiri.


"Maaf aku tidak bisa menyelamatkan nyonya Dianna...." ucapnya sambil sesenggukan.


...............