I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
12,5



Aku mencoba menyibukkan diri dengan buku tentang perdagangan yang kemarin ku beli, saat Edward tertidur.


Dan buku buku itu di bawa oleh para kesatria Edward, bersama dengan barang bawaan joy dan Wren jadi saat kereta sebentar untuk sarapan aku memintanya kembali.


Lalu hampir saja mereka tidak mau memberikan buku ku karena khawatir akan kesehatan ku tapi karena aku bersikeras akhirnya para penjaga barang memberikan nya.


Aku melihat matahari yang mulai meninggi, "sebentar lagi jam 12 pas" pikir ku dalam hati dan suhu di kereta ini mulai panas.


"Apalagi yang mengendarai nya dan menaiki kuda" pikir ku lagi menghadapi kesunyian ini


"Emm....Hem...."


"Ah...."


Aku melihat Edward akan segera terbangun, karena seperti nya ia merasa kepanasan dan tidak nyaman, dan benar saja, tebakan ku tepat ia terbangun bahkan peluh menetes dari dahinya.


Aku berpura-pura menutup buku-buku seperti habis membacanya karena aku tidak ingin tertangkap memperhatikan nya karena bosan.


"Kau sudah bangun, pasti tidak nyaman dengan posisi seperti itu dan juga kepanasan"


Dan aku duduk di hadapannya, meskipun aku ingin membuat nya menaruh kepala dia atas pahaku ia pasti akan segera terbangun.


Karena dia memiliki insting yang kuat saat seperti itu, bahkan bisa dibilang ia belum mempercayai ku makanya insting nya tidak dihilangkan.


"Apa kita sudah sampai?"


Ia mengusap peluh di dahinya setelah mengambil saputangan dari sakunya, dan aku membalas nya.


"Belum kita belum sampai....."


"Oh..."


Setelah itu kami tidak berbicara lagi dan membuat kecanggungan di antara kami terasa, lalu tanpa sadar kereta mulai terasa dingin yang ternyata disebabkan oleh Edward, yang mengeluarkan sihir air dan membuat pendingin ruangan.


Aku ingin melirik kearahnya, dan menghilangkan kecanggungan ini dengan membawa nya dengan topik percakapan yang menarik tapi saat aku bersiap untuk berkata tiba-tiba saja.


"Duke"


"Duchess....."


Kami berbicara berbarengan.


"Ah kau duluan saja"


Kejadian nya terulang lagi, dan kami merasa malu dalam waktu yang singkat, aku memalingkan muka agar tidak terlihat oleh nya sedangkan Edward menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangannya.


Dan untungnya Edward memulai percakapan lagi tapi dimulai dengan perkataan maaf, dan aku membalas nya dengan kata,


"Untuk?"


"Segalanya....."


Dia berbicara seperti itu sambil memandang keluar jendela, aku bingung karena permintaan maaf nya yang tidak jelas dan kembali bertanya.


"Yah kau bisa rinci kan kesalahan mu pada ku?, Agar permintaan maaf nya lebih jelas, dan disebabkan kesalahan mu....."


"Huffttt....."


Dia menghembuskan nafas malas lalu menoleh ke arahku, dan bibir nya mulai bergerak.


"Ya mulai dari meremehkan mu, terlalu berfikir jelek tentang dirimu juga, salah sangka dan salah paham padahal dirimu orang yang lumayan baik, maaf juga untuk tidak bisa melindungi mu padahal ini adalah urusan keluarga ku dan mungkin masih banyak lagi yang telah aku lupakan"


Edward menatap mata ku lekat lekat, dan bertanya kembali, "jadi apa kau akan memaafkan ku?"


Aku mengusap wajah ku dulu sebelum menjawab padahal aslinya aku ingin tertawa, setelah itu aku tersenyum dan menatap mata nya dengan cara yang sama.


"Ya, dari dulu aku sudah memaafkan mu"


Dia juga tersenyum singkat lalu berkata dengan bangga, "berarti sekarang kita bisa jadi teman dekat kan?, Aku tidak ingin menyia-nyiakan orang yang berbakat seperti mu Florence"


"Jleb!!!"


Tiba-tiba aku merasa kan ada panah yang menancap di hatiku setelah ucapan nya, aku mencoba mempertahankan mimik wajahnya ku dengan tetap tersenyum.


"Oh... oke... Ide yang sangat bagus karena aku akan jadi teman dekat mu.....,"


Bahkan ucapan ku terasa hambar, dan terdengar kecewa padahal aku sudah mencoba menahan mati-matian nada suara ku agar tidak menjadi sedih, atau nada kecewa.


Aku memalingkan wajah sebentar dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya, akhirnya hatiku bisa sedikit tenang dan mulai membalas betapa tertarik nya aku menjadi teman nya.


"Itu mungkin memberikan beberapa keuntungan kepada ku, saat kita bercerai karena kutukan Albert terlepas, benar kan"


"Kau benar ternyata kau cepat tanggap ya"


Dia tersenyum senang dan menatap keluar jendela lagi merasa kesenangan karena berhasil mendapatkan bawahan atau teman yang hebat.


Aku menatap nya dengan tatapan sedih, kukira dia telah membuka hati nya sedikit demi sedikit tapi dia hanya menganggap ku teman dekat nya.


Bahkan pikiran ku mulai goyah hanya disebabkan ucapannya itu, tapi aku segera sadar dan mulai memikirkan perjuangan Rangga yang mengejar ku selama 10 tahun dulu dengan keteguhan hatinya.


Padahal sudah ku tolak mentah- mentah ia tetap kekeuh, sudah ku keluarkan nama nama kebun binatang karena merasa risih dengan sikap nya tetap mengikuti.


Bahkan aku pernah mengetes ia agar melakukan *** dengan perempuan lain, dengan mengajak nya kencan buta bersama beberapa teman jauh ku, dan meminta sahabat jauh ku untuk menggoda nya.


Agar aku punya alasan untuk menghentikan kebiasaan nya, karena saat dia mengejar ngejar ku dia selalu bilang akan terus menyukai ku dapat tidak akan tertarik dengan perempuan lain.


Dan perkataan nya itu yang membuat ku kesal karena aku selalu berfikir semua orang hanya bermulut manis di depan, tapi hasil tesnya malah berakhir dengan ia yang menangis di pojokan sambil memejamkan mata karena di goda oleh sahabatku.


Dia menangis sambil bergumam kalau dia hanya boleh melihat tubuh ku bukan wanita lain, kalau pun boleh itu hanya sebatas komik dan 2D tidak lebih.


Sahabat ku yang kebingungan akhirnya menelfon dan menyuruh ku untuk datang lalu menerima cintanya, dan akhirnya aku datang untuk melihat keadaannya.


Apa yang di ucapkan sahabat ku benar, dia meringkuk di pojokan kamar sambil memeluk lutut.


Aku menghela nafas pasrah dan mendekati nya, dengan jongkok di hadapannya, ia yang mengetahui itu adalah diriku mengangkat kepala.


Wajahnya merah dan basah karena air mata nya terus mengalir, aku merasa matanya akan bengkak besok, dia dengan terbata bata berbicara sambil sesenggukan dan terdengar serak.


"A.... apa.... Tia benar benar membenci ku?, A..... apakah aku harus pergi men.... jauh darimu, da.....dan..... apa benar aku tidak punya kesempatan untuk kau cin.....tai?"


"Hiks.... hiks hiks..."


Aku melihat wajah nya yang seperti itu merasa kasian dan tidak tega dengan apa yang ku perbuat, sahabat ku berkata ia akan pergi dari sini dan aku hanya mengangguk.


Lalu terdengar suara pintu tertutup, dan aku menatap nya dengan lekat ia berusaha mengusap air matanya yang terus mengalir.


Aku tidak tega melihat wajah nya yang seperti anak anjing itu, kedua tangan ku bergerak memengang wajah nya matanya menatap ku dan berubah menjadi terkejut karena ciuman mendadak dari ku.


Lidah ku memaksa masuk ke dalam mulutnya, dan mulai menggoda lidah nya untuk bermain, kami saling tarik-menarik, lilit-melilit, sampai air liur kami tercampur dan membuat panas di tubuh kami berdua.


"Hah....hah....."


Dia melepaskan ciuman duluan karena mungkin saja ia tidak sanggup dan pula ini adalah ciuman pertama kalinya, dan aku juga cukup ngos-ngosan karena ini juga adalah first kiss ku juga.


Aku bangkit berdiri tidak ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi karena rasa panas dan kesemutan terasa di seluruh tubuh ku


"Bisa bisa kami bablas"


Pikir ku, dia tiba-tiba menunduk menunjukkan tanda bahwa ia sedih dan murung, aku yang penasaran bertanya.


"Rangga, kamu harus nya seneng dong..... aku cium, kamu suka aku kan?"


Tapi bukan nya pertanyaan ku di jawab dia malah mulai menangis, aku mengalah dan kembali jongkok di hadapannya, sambil memengang kembali wajahnya dengan kedua tanganku agar dia menatap ku.


"Rangga kenapa kamu nangis....."


Dia berusaha memalingkan wajahnya dari ku tapi tangan ku menahan wajahnya, lalu aku berkata lagi.


"Mungkin kamh ada kesalahan pahaman dari arti ciuman itu?"


Aku memperhatikan dia yang ragu ragu untuk angkat bicara tapi tidak lama kemudian kata kata keluar dari mulutnya.


"Hiks....hiks...,i...itu.... Ci....ciuman perpisahan kan...?, Hiks..... hiks...., Tia..... benar benar tidak ingin melihat ku lagi kan.... ma..... makanya memberikan ciuman pertama dan terakhir itu kan?!!!"


"Hah???"


Aku terdiam sejenak karena pemikiran pria ini lalu aku mulai tertawa karena pemikiran pendek nya itu.


"Ke... kenapa kamu tertawa.... Jadi be... benar kan.... Kalau itu adalah ciuman perpisahan agar aku tidak mengejar ngejar mu lagi"


Aku tersenyum puas, lalu mencium jidatnya dengan lembut setelah itu berkata


"Kenapa kau tidak berfikir panjang Rangga..., bukannya kau itu penulis novel dan pembuat komik masa tidak tahu artinya ciuman dari orang yang kau taksir"


Matanya mulai terlihat ada harapan, dan mungkin dia sekarang mengharapkan sesuatu yang baik, dan aku kembali berkata.


"Ya, seperti apa yang kau pikirkan aku menerima perasaan mu jadi, ayo kita pacaran...."


Dan seketika itu dia memeluk ku dengan erat sambil menangis tersedu sedu karena perasaan bahagia, aku hanya bisa menepuk-nepuk bahunya dan mengelus-elus puncak kepala nya dengan lembut.


Lalu malam itu dihabiskan dengan tangisannya dan tertidur pulas  karena itu disebabkan oleh kami berdua yang kelelahan.


Aku tersenyum sedih dengan kenangan itu dan tiba-tiba Edward berbicara kepada ku.


"Kau tidak apa-apa? Wajah mu sedikit pucat"


"Ah.... tidak apa-apa kok"


Aku memalingkan wajah kearah lain dan mulai merasa sedih lagi karena dia bahkan tidak bisa membedakan wajah orang sakit dan sedih.


Aku sekarang menatap ke luar jendela matahari siang mulai perlahan turun karena sore, Edward berkata kita akan sampai sebentar lagi, dan aku hanya membalasnya dengan anggukan.


Tidak lama kemudian aku tiba-tiba terfikir kan bagaimana kabar Albert, dan Edward menenguk ludah nya karena gugup.


"Em.... Bagaimana ya yah aku bisa bilang dia sedang tidak baik baik saja"


"Apa maksudmu!!? Jelas kan lebih rinci"


Setelah aku berkata seperti itu dia akhirnya menceritakan bahwa Albert sedang di kurung di penjara bawah tanah dengan sihir level tinggi agar menahannya dari amukan.


"Lalu apa kau mengikat nya atau menyiksa nya?!!"


Rasanya ada nada marah yang terselip di dalam suaraku dan dia juga tahu tapi dia tetap membalas pertanyaan ku dengan tenang.


Dan memberi tahu kalau dia tidak di siksa tapi hanya di borgol dengan artefak sihir yang menekankan kekuatan nya yang disebabkan oleh kutukan.


"Apa itu berbahaya bagi kesehatan nya?"


Aku bertanya dengan nada was-was dan dia membalas lagi, tentu saja berbahaya tapi akan lebih berbahaya bagi tubuh nya jika tidak dalam pengaruh kutukan karena bisa menyetrum nya dengan tekanan tinggi.


Aku mengepalkan tangan dengan erat karena ini semua salahku, hanya karena di sebabkan aku tidak ada disisinya, Albert bisa menjadi seperti ini.


Dan kurasakan mataku mulai berkaca-kaca, aku memperhatikan Edward yang sedang membuang muka ke arah jendela untunglah dia tidak memperhatikan ku lagi.


Jadi aku melepaskan rasa sesak di dada ini dengan air mata, setelah aku menutupi wajah ku dengan tangan ku secara natural dan mendekat secara perlahan ke sudut yang berlawanan dari Edward.


Dan akhirnya aku bisa menangis dengan tenang tanpa membuat suara, lalu tanpa diduga hujan juga mulai turun pas sekali saat aku menangis.


Padahal saat siang hari tadi cuaca sangat cerah tapi saat sore mulai berubah menjadi gerimis dan mulai deras, aku terus seperti itu mungkin sampai ke istana Duke.


Dan benar saja aku berhenti menangis setelah sang kusir berkata kita sudah sampai, aku langsung bergegas turun lalu berlari ke tempat di mana Albert di rantai.


Dengan langkah langkah lebar aku berlari secepat yang ku bisa untuk melepas borgol di seluruh tubuh nya.


"Tunggu mama Brian!!!"


Ucap ku dalam hati dengan tekad yang kuat.


.........


Pov Edward


Aku tetap berada di dalam kereta setelah dia berlari dengan terburu-buru seperti itu, sampai Franks muncul di pintu kereta ku yang terbuka.


"Yang mulia anda tidak turun?"


"Huffttt..... Ya, aku akan turun sekarang..."


Aku bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kereta, disusul oleh Franks yang berjalan di samping ku aku bertanya tentang keadaan istana dari luar atau di dalam, saat aku tidak ada.


Dan dia menjawab kalau ada masalah dari luar yaitu pertambangan yang semakin susah di tuju karena masalah transportasi dan monster.


Aku mengangguk angguk paham dengan penjelasannya, aku bilang ingin beristirahat dulu dan dia dengan paham menyingkir.


Ternyata mereka telah menyiapkan duluan, apa saja yang aku butuhkan tanpa harus ku beri perintah lagi atas arahan Franks.


Setelah selesai mandi dan istirahat aku tetap saja tidak bisa menghilangkan wajah Florence yang terlihat sedih saat aku berkata kalau dia adalah teman terbaik ku.


Dan entah kenapa itu juga membuat ku sedikit sedih Karena dia tidak bisa menyembunyikan raut kecewa dan sedih nya dariku.


Bahkan hatiku juga sedikit sakit saat ia menangis dan tidak ingin di ketahui oleh ku saat mendengar kabar Albert.


Padahal dia bukan anaknya, dan pernikahan kami juga adalah sebuah kontrak, aku bersandar lelah di atas sofa, hanya karena memikirkan nya aku jadi seperti ini.


"Hah..."


Aku menghela nafas berat, aku harus tidur sebentar dulu sebelum makan malam nanti, "hoamm..." Aku merenggangkan badan lalu berbaring di sofa panjang.


Entah kenapa aku lebih suka menggunakan sofa di banding kan kasur dan jika di sofa aku merasa lebih aman meskipun sempit.


Dan perlahan tapi pasti mataku mulai terpejam lalu terbawa tidur yang nyenyak.


........


POV Destiana


"Albert!!!!...."


Aku berteriak panik karena dirinya malah pingsan setelah kutukannya menghilang karena melihat ku, mataku tertuju pada rantai yang mengikatnya lalu teringat perkataan Edward.


Karena bisa menyetrum nya meskipun sudah pingsan karena selama itu masih terikat dan terkunci.


"Penjaga!!!, Penjaga!!!, Siapapun bawakan kunci borgol ini!!!!...."


Aku berteriak memanggil siapapun, sambil mencoba mengobati tubuh Albert yang terluka di dalam, karena pengaruh kutukan, apalagi jika ia menjadi lepas kendali.


Meskipun aku hanya memiliki sedikit mana, tapi dengan sihir penyembuhan ku aku rasa bisa menahan rasa sakit nya.


Para ksatria dan pelayan berhamburan masuk ke dalam ruangan ketika mendengar teriakkan ku.


Aku langsung menyuruh mereka memberikan kunci borgol dan rantai nya, beberapa orang yang tiba-tiba masuk tapi tidak mendengar perkataan ku tidak membawa kunci apapun.


Aku sedikit kesal karena gerakan mereka yang lambat untuk mencari kunci, karena harus saling bertanya dulu dimana kuncinya, padahal ini menyangkut nyawa Albert anak tuannya.


"Cepatlah jangan buang buang waktu yang berharga!!!"


Bentak ku keras dan mereka terkejut, karena bahkan mata sampai aura ku terlihat marah, akhirnya seseorang maid dari belakang merangsek maju karena memang kedua kuncinya.


Saat ia ingin membuka nya, aku langsung merebut dari tangan nya karena terlalu lambat.


"Crek crek..."


Borgol dan rantai terlepas dan aku menahan badan kecil Albert sebelum  terbentur dengan keras di lantai.


Aku menggendongnya dengan gaya bridge Style, para ksatria dan pelayan panik ingin mengganti kan ku mengangkat nya tapi aku tidak menggubris perkataan mereka dan tetap berjalan dengan mantap sambil menggendong nya.


Sampai kami tiba di kamar nya aku membaringkan nya di atas kasur, lionna, red dan Mery muncul dan memberi hormat.


Aku menoleh ke arah mereka dan mulai tersenyum karena mereka datang atas suruhan ku kepada salah satu pelayan saat mengikuti ku waktu menggendong Albert sampai ke kamar.


"Bawakan aku pontion penambah mana sebanyak istana ini punya"


Ucap ku kepada mereka


"Eh... Memang nya untuk apa nyonya"


Red bertanya dengan nada polos, sedangkan lionna bertanya dengan nada penasaran.


"Apa anda berniat untuk meminum sendiri?"


"Jangan nyonya!!! karena jika kebanyakan menyebabkan candu yang berlebihan!!!" Larang Mery dengan panik.


"Hah...."


Aku menghela nafas lelah, lalu berkata dengan nada perintah yang tidak bisa di bantah.


"Sudah cepat ambil kan saja ini demi kepentingan Albert!!!"


Mereka sedikit terkejut karena nada perintah ku yang terdengar membentak lalu dengan patuh menunduk dan pergi mencari pontion nya.


Tidak lama kemudian mereka membawa banyak sekali botol botol pontion bewarna biru, aku langsung meminum nya dengan sekali teguk.


Lalu seketika itu aku merasakan sensasi yang luar biasa dari dalam tubuhku, karena mana ku menjadi semakin banyak, dan aku langsung mengunakan nya kepada Albert.


Tapi cahaya bewarna hijau yang menyelimuti tubuh nya kembali meredup karena aku kekurangan mana, akhirnya aku membuka tutup botol ke dua dan meminum.


Lalu begitu berkali-kali hingga sihir ku tidak mempan kepada Albert lagi karena telah sembuh.


"Hah...hah...."


Aku menghela nafas lelah dan lega, dan tanpa sadar tanganku bergerak untuk membuka tutup botol pontion yang lain.


"Yang mulia!!!"


Mery berteriak panik agar aku menghentikan meminum obat penambah mana itu, pada saat mulut botol sudah sampai di bibirku, aku jadi teringat karena teriakan paniknya.


"Oh.... Aku lupa maaf....."


Dengan gerakan lambat aku menutup kembali botol tapi sebelum botol nya tertutup tangan ku gemetar dan menjatuhkan nya, hingga semua isi nya tumpah.


"Nyonya!!!"


Mery, lionna dan red berseru panik dan langsung menghampiri ku yang terkena efek samping dari pontion, Mery menggenggam kedua tangan ku yang gemetar.


Sementara lionna dan red membereskan kekacauan yang ku lakukan di kamar Albert.


"Tolong bereskan ini dan tuntun aku ke kamar"


Mereka mengangguk patuh lalu menjalankan perintah ku, lionna dan red membereskan bekas botol yang berserakan dan mengembalikan yang masih tersisa keruang penyimpanan.


Sementara Mery menuntun ku ke kamar, saat sampai badan ku sangat kelelahan jadi aku langsung melompat ke kasur dan memberi perintah kepada nya mungkin aku tidak bisa makan nanti malam.


"Dan tolong perlakuan kedua anak yang kubawa sebagai tamu"


Dia mengangguk dan berpesan "kalau anda butuh apa-apa tolong panggil saya nyonya" lalu beranjak pergi, setelah aku mendengar suara pintu tertutup lalu mulai memejamkan mata.


"Sungguh hari yang melelahkan"


Gumam ku dan jatuh tertidur.


........


POV author


Dan malam itu Duke, Duchess, serta putra nya tertidur nyenyak karena hari yang mereka lewati sekarang ini sangatlah berat.


Bahkan Duke tidak terbangun lagi untuk makan malam, karena terlalu lelah dan bagaimana nasib dua anak kecil yang di bawa Florence?.


Maka akan aku ceritakan kepada kalian.....


Joy dan Wren merasa kalau semuanya seperti mimpi karena dia sekarang ini telah berada di tempat tidur yang sangat mewah dan nyaman juga empuk.


Itu disebabkan karena waktu yang berlalu begitu cepat, Joy membalikkan badan ke arah kakak nya yang tidur terlentang lalu bertanya.


"Kak apa ini semua adalah mimpi?"


"Mungkin....."


Jawab Wren tidak serii dan sangat cepat sambil terus menatap langit langit kamar yang sangat luas dan indah.


"Serius sih...."


Joy mencubit pipi Wren agar menjawab pertanyaan nya dengan serius,


"AW..!!"


Wren mengusap usap pipinya yang memerah karena ditarik Joy lalu dia mengharapkan wajah nya ke arah nya, sambil berkata.


"Aku udah serius!!!, Karena ini bener bener kayak mimpi tahu!!"


"Ya, kakak benar ini semua gak pantes jadi nyata, mulai dari kakak yang nyelamatin Tante, dan Tante yang bilang akan mengobati ku dengan koneksi dan kekayaan nya asal kita tinggal di istana nya agar lebih mudah"


"Lalu kita bertiga yang berjalan dari hutan ke ibu kota kerajaan, bahkan Tante benar benar memaksakan diri nya untuk menggendong ku yang kelelahan"


"Setelah itu kita belanja, dan punya tempat tidur yang enak setelah Tante menjual perhiasan nya, dan saat festival kita jalan jalan tapi malah ada pembunuh bayaran yang mengincar Tante"


"Bahkan beliau terluka parah dan hampir mati....."


Wren menyadari nada suara Joy mulai terdengar sedih lalu berinisiatif untuk melanjutkan cerita


"Tapi Duke tiba-tiba datang dan membantu kita dia bahkan memusnahkan pembunuh itu dengan sekali serang"


"Bahkan kita tidak sempat membantu apa apa dia sudah membawa pergi kita semua ke penginapan dengan sihir, setelah ia menelfon dengan sihir komunikasi untuk para kesatria nya agar mereka datang menjemput"


"Bahkan jalanan sangat ramai karena kereta yang berada di dalam sihir ruang dan waktu milik salah seorang ksatria nya"


"Dan itu menjadi tontonan yang menarik bagi orang orang yang berlalu lalang" ucap Joy menyahuti cerita kakak nya.


"Dan kita di suruh beres beres dan mengepak barangnya di bantu oleh Duke langsung, lalu para ksatria datang dan mengangkat barang barang nya"


"Lalu kita di arahkan ke kereta lain yang gak kalah mewah setelah itu berangkat ke sini, bahkan setelah sampai sini, kita belum mendengar kabar Duke apa lagi Duchess"


"Dan kita sudah di layani dengan hormat seperti tamu yang berharga di beri makan dan kamar yang enak dan mewah"


"Juga baju yang nyaman dan bagus ini" ucap Joy sambil menarik baju tidurnya yang nyaman.


"Setelah ini bakal ada kejadian aneh lagi tidak ya?" Tanya Wren penasaran pada dirinya sendiri.


"Entah lah mungkin sesuatu yang lebih mengejutkan di banding kan ini, makanya ini juga bisa di sebut mimpi kan?"


Ucap Joy kembali membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit langit kamar.


"Hahahaha" mereka tertawa bersama karena hal yang seperti mimpi datang kepada mereka secara bertubi-tubi.


"Ya udah deh ayo kita tidur mungkin kita bisa tau ini apa bukan besok"


"Ya, ayo kita tidur"


Dan mereka tertidur sambil saling berpegangan tangan.


.........


Di pagi hari yang cerah pada waktu sarapan Edward telah duduk di kursi sendirian karena Florence dan Albert belum datang dan mungkin saja tidak akan datang.


Tapi saat ia akan mulai memakan makanannya saat itu lah Florence datang, dan Edward kembali menaruh sendok dan garpu nya untuk menunggu nya.


Florence duduk di kursi samping nya dan para pelayan menyajikan makanan untuk nya, lalu untuk memecah keheningan itu Edward memulai percakapan santai.


"Bagaimana kabar mu?"


"Cukup baik, kalau anda Duke?"


"Ya, aku baik karena telah beristirahat yang cukup tadi malam, ayo mulai makan"


Dan Florence hanya mengangguk atas ajakan nya, tapi saat steak daging akan masuk ke dalam mulut keduanya, Albert datang dengan piyama tidur, entah kenapa dia ingin memaksakan diri untuk sarapan bersama.


Yang menghentikan makan Florence untuk pertama kali dan kedua bagi Edward, muka Edward males dan dia menurunkan garpu dan pisau makannya.


"Mungkin setelah ini ada lagi yang akan datang"


Pikir nya dalam hati, dan setelah Albert duduk di kursi lalu Florence menawarinya untuk makan, Albert hanya mengangguk.


Tapi saat mereka berdua ingin memasukkan daging ke mulut, tiba-tiba dua anak kecil yang di bawa Florence datang.


"Hahaha...."


Tawa Edward meledak dan para pelayan juga semua orang yang berada di ruangan itu langsung menoleh ke arah nya dengan pandangan bertanya tanya.


Sedangkan Edward hanya melambaikan tangan tidak apa-apa, dia berfikir dalam hati ternyata ketawanya receh sekali.


Padahal yang paling terkejut pasti nya adalah ke dua anak itu karena Edward yang tiba-tiba saja tertawa.


Dan akhirnya sarapan pagi di mulai tanpa ada nya lagi orang yang harus di tunggu lagi.