I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
17,5



POV Destiana


Aku sedang duduk berhadapan dengan para ilmuwan yang jenius di ruangan meeting milik duke, aku mengamati mereka satu persatu dan menilai mereka hanya memiliki gelarnya saja.


Duke mengetahui aku sedang menilai mereka jadi dia menjelaskan akan membuat alat baru yang ada di mimpinya yang pasti akan sangat berguna nanti,aku melihat reaksi mereka ada yang mata berbinar semangat sambil berkata akan membantu Duke dengan sepenuh hati.


Ada juga beberapa orang langsung memasang wajah serius, aku tersenyum kecil karena menyetujui kalau orang orang ini memang berbakat, dan yang baru ku ketahui belakangan ternyata mereka semua adalah orang berbakat yang dipilih oleh Duke.


Rapat masih belum dimulai karena kami menunggu satu orang bangsawan lagi yang bilang akan terlambat karena ada urusan mendesak, Aku mengetuk-ngetuk meja bosan dengan satu jari ku.


Selagi menunggu 1 orang itu dokter Duke telah menyediakan makanan dan camilan bagi para tamu, dia juga sekarang sedang mengobrol tentang alat-alat yang mungkin buatan dari kelompok itu juga.


Sedangkan karena aku tidak mengerti alat apa, jadi aku hanya terdiam mencoba mendengarkan dan mencerna selagi mereka bercakap-cakap, sesekali  menghayal tapi lama-lama ini penuh dengan kebosanan.


"Tok tok tok tok"


"Permisi...."


Suara pintu diketuk lalu tidak lama pintu mulai terbuka lebar, aku yang sedang duduk malas malas-an di meja langsung duduk dengan tegak karena terkejut dengan wajah pria ini.


"Di...Dimas...." Ucapku lirih mataku seketika memanas karena ingin menangis, tanpa kusadari Duke mendengar suara lirih ku tadi tapi tidak mempedulikan nya dan menyuruh untuk pria itu masuk.


"Tahan.....,Tahan Tia" ucap ku dalam hati sambil memengagi dada yang terasa sesak yang diakibatkan kemunculan kenangan bersama kami sejak dirinya yang diangkat menjadi adik oleh orang tuaku.


Aku benar-benar tidak kuat, dan memutuskan untuk bangkit berdiri, dan berkata akan ke keluar sebentar, dan memberitahu kedua untuk membacakan apa yang telah kita sepakati tadi malam karena ku rasa aku benar-benar tidak bisa menghadiri rapat ini, para tamu  melihatku dengan tatapan aneh dan bertanya tanya apa penyebab nya.


Pria yang baru datang tadi memasang wajah sedih karena mungkin menganggap kalau dirinya adalah masalah atas pergi nya Duchess, penyebab nya adalah dirinya yang datang terlambat.


Tapi sebenarnya pikiran nya salah karena aku tidak kuat untuk menangis makanya lebih memilih melarikan diri ketempat sepi lalu menangis kencang.


Aku sampai di tempat sepi, dan sejak tadi aku menutup wajah ku dengan telapak tangan agar menutupi wajah ku yang telah basah oleh air mata.


"Huuu....huuu.... Hiks....hiks...."


"Memang benar kalau aku ditakdirkan untuk hidup di dunia ini" ucap ku dalam hati karena tidak kuat untuk bergumam.


........


POV Edward


Aku yang melihat Florence tiba-tiba menangis, dan izin keluar karena pria itu mulai bertanya tanya didalam hati, apa dirinya mempunyai hubungan erat dengan pria itu.


Padahal dia adalah adik ipar ku sendiri yang bernama Ophir donahue dauleux, dia mewarisi gelar ayah nya yang seorang Baron seorang pedagang yang kaya.


Tapi dia tidak ingin mewarisi gelar ayahnya melainkan dia ingin mendapatkan gelarnya, sendiri dengan mengikuti berbagai macam perkumpulan untuk pembuatan alat-alat baru atau bisnis yang bagi nya menguntungkan.


Makanya aku mengundang nya sebagai pemasok bahan saat pembuatan lift dan mansion baru, dia sekarang memasang wajah cemas karena mengira bahwa Duchess marah kepada nya karena dia terlambat.


Padahal dia sudah mengirimkan pesan singkat alasan mengapa dirinya terlambat nanti, dan dilihat dari reaksi nya dia sama sekali tidak mengenali Duchess.


Aku terus berfikir keras jangan jangan Duchess cinta sepihak kepada nya tapi pria itu sama sekali tidak mengetahui nya, "tuan Duke...."


Aku tersadar dengan suara peserta disebelah ku, "ah.... ya, mari kita mulai acara nya meskipun tanpa Duchess"


"Jadi bagaimana gambaran anda akan membuat lift ini Duke?"


Tanya salah satu peserta, aku menjawab dengan serius,


"Ini adalah kereta yang bisa membantu kita naik dari lantai bawah hingga lantai atas rumah dengan mudah, dengan membuat ruangan yang lebih besar dibandingkan dengan cerobong asap, dari lantai satu sampai lantai teratas rumah"


"Maksud anda kita membuat gerbong besar seperti kereta kuda dan menariknya hingga atas, pertanyaan nya siapa yang akan menarik nya?"


"Lagi pula itu akan melelahkan bagi para penarik nya jika yang menaiki lift terus menerus"


"Betul itu belum tentu juga keselamatan penarik dan penumpang nya terjamin karena bagaimana jika tiba tiba tali putus?"


Tiba-tiba saja aku dibombardir  pertanyaan negatif yang sangat banyak tentang proyek ini, "tenang, semua nya tuan Duke belum selesai menjelaskan" ucap Ophir sambil berdiri.


Untuk mengembalikan suasana yang tenang lagi, para peserta mendengar kan perkataan nya lalu aku tersenyum dan menjelaskan "makanya kita tidak akan menggunakan tenaga manusia untuk penarikan"


"Lalu menggunakan apa?"


"Tentu saja mesin"


Ucapku bangga sambil memetik kan jari dan para pelayan mengambil sesuatu yang telah aku siap kan bersama Duchess, "apa kalian tahu tentang alat flying fox milik ku yang ada di pertambangan?"


"Tentu saja"


Semua orang mengangguk angguk mengetahui alat yang menjadi topik hangat beberapa waktu lalu, "nah kita akan menggunakan prinsip itu"


Aku memotong ucapan ku dan para peserta terlihat menahan nafas, "yaitu katrol" ucap ku dan mereka semua mengucapkan 'oh.....' Yang sangat panjang dari mulut nya.


Semua perhatian tertuju pada ku sekarang, pelayan masuk dan menaruh alat alat kecil ke atas meja ku, dan tangan ku mulai merakit benda benda kecil itu, sambil menjelaskan "lift ini, sebenarnya mirip dengan pesawat sederhana atau sistem katrol"


Aku mulai mempraktikkan katrol mini yang ada di depan ku dan menarik perhatian kagum mereka, saat awal awal miniatur ini dibuat Duchess aku juga terkagum-kagum, karena ini sebagai contoh dari flying fox dibuat.


"Tapi yang berbeda adalah lift menggunakan mekanisme canggih untuk menangani beban elevator"


"Apa itu Elevator? Elevator adalah alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang atau penumpang pada gedung-gedung bertingkat, dia bergerak secara vertikal"


Aku bahkan mencontohkan cara naiknya dengan tangan agar lebih mudah dipahami, mereka akan mengangguk angguk paham jika aku menjelaskan nya seperti itu.


"Elevator atau lift layaknya seperti ember, namun terbuat dari logam yang dibentuk untuk menampung muatan berbagai ukuran atau biasa yang disebut kereta lift"


"Lift tersebut terhubung ke tali baja yang sangat kuat yang melewati sheave di lift di ruang mesin, Di sini, sheave seperti roda dalam sistem katrol untuk memegang erat tali baja dengan kuat"


Aku menunjukkan kepada mereka roda dalam sistem katrol dan seperti biasa kepala mereka mulai mengangguk angguk karena paham, dan aku mulai melanjutkan perkataan ku lagi.


"Sistem ini dioperasikan oleh motor penggerak, kan tadi ada yang bilang jika di operasi kan oleh tenaga manusia tidak akan kuat kita akan menggunakan mesin ini"


"Karena fungsi motor penggerak untuk mengubah energi menjadi gerak atau torsi pada kendaraan, termasuk lift itu karena dia juga adalah kendaraan"


Seorang peserta mengangkat tangan untuk bertanya, aku menyilahkan nya untuk bertanya, "lalu apa yang dimaksud energi itu?," Aku tersenyum kecil dengan pertanyaan itu karena aku menanyakan pertanyaan yang sama saat itu dengan Duchess dan dia menjawab seperti ini.


"Energi adalah daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan, misalnya adalah makanan yang kita makan itu memberikan energi pada tubuh agar tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa, jika tidak makan tubuh akan lemas"


Semua mata memandang kagum kearah ku, padahal aku hanya mencontek kata kata Duchess pikir ku merasa malu, "lalu bagaimana  cara kita memberikan energi itu ke mesin penggerak?"


"Tentu saja menggunakan batu mana"


Mereka mengangguk-angguk paham dan memberikan isyarat untuk melanjutkan penjelasannya, "Lalu kita juga akan membuat saklar yang terhubung dengan motor penggerak agar liftnya berfungsi, naik dan turun"


"Lanjut dengan pembuatan tombol untuk menyalakan lift agar dapat bergerak naik-turun, dan bentukannya seperti kotak yang bertuliskan angka lantai, dan jika ditekan itu bisa mengantarkan tujuan kita kelantai tujuan kita"


"Lalu apa fungsi nya saklar yang langsung terhubung dengan motor penggerak? Saklar itu merupakan sebuah perangkat yang digunakan untuk memutus jaringan energi yang menggerakkan si lift, atau untuk menghubungkannya agar dapat naik dan turun juga berhenti"


"Oh jadi, jika kita tidak menyalakan saklar dan ingin naik, lift tidak akan bergerak meskipun menekan tombol naik dan turun"


Ucap salah satu peserta yang mulai paham dengan penjelasan ku tadi, "ya karena tali yang menarik lift tidak akan bergerak jika mesin nya mati, itu karena ia tidak dialiri energi"


"Tapi kenapa harus memasang saklar jika bisa terus menyala kan nya agar lebih efisien?"


"Tidak bisa....." Sela Ophir yang langsung mendapatkan perhatian dari semua orang.


"Karena, jika kereta atau lift dalam perbaikan aliran energi nya bisa di matikan, dan jika aliran energi nya masih terus menyala itu bisa mematikan kondisi tubuh, karena kita belum tahu efek samping nya"


"Apalagi jika yang terkena masalah dari mesin nya lebih berbahaya bagi tubuh tapi jika menggunakan saklar kita bisa mematikan aliran energinya"


Ucap nya dengan baik, semua orang bertepuk tangan karena perkataan nya, aku juga ikut tersenyum karena jawabannya mirip sekali dengan yang dikatakan Duchess.


Tapi tiba tiba saja dia bersemu merah, mungkin karena malu dia dengan segera duduk kembali karena dia menjawab pertanyaan itu dengan semangat sampai tanpa sadar berdiri.


Dan kendali percakapan ini mulai ku pengang lagi, tanpa sadar hari sudah siang dan kami segera mengakhiri diskusi atau rapat ini karena Duchess pernah berkata jangan lama-lama jika berunding.


Karena tidak semua orang bisa fokus dalam jangka waktu yang lama makanya aku mengakhiri perkumpulan ini, setelah para tamu pergi Baron Ophir dengan ragu ragu mendekatiku, dia langsung meminta maaf kepada ku karena datang terlambat dan mungkin melukai hati Duchess.


Tapi aku tidak bisa membalas permintaan maaf nya, dan menyuruh nya untuk menyapa Duchess secara langsung, sekalian memeriksa siapa pria ini bagi Florence, apa pria di mimpi itu?.


"Bukan bukan pria itu sama sekali tidak mirip dengan Ophir"


Ucapku dalam hati, dia menyetujui untuk menyapa Duchess dan saat aku menyuruh seorang pelayan untuk memanggil nya, Duchess keluar dari belakang tiang dan menghampiri kami.


Dia menatap matanya dengan sedih dan penuh kerinduan yang mendalam, seketika dadaku terasa nyeri tapi aku tidak ingin mengurus itu, dan menyuruh mereka untuk berbincang nyaman tanpa diganggu oleh siapapun di ruangan dekat situ.


........


POV Destiana


Para pelayan menyiapkan tempat yang nyaman untuk ku dan Baron Ophir berbincang, wajah nya  terlihat tertekan mungkin karena takut dimarahi oleh ku, saat teh dan camilan telah disajikan dimeja.


Aku mulai percakapan, "Jadi kau adalah adik ipar dari Duchess Dianna....."


Ucapku santai yang mungkin terlihat seram di matanya karena sekarang dia memasang wajah ketakutan, "Apa ada yang ingin kau tanyakan pada ku?"


Tanyaku mencoba memancing pembicaraan ini, dia langsung memasang wajah serius lalu memikirkan perkataan ku dan berkata,


"Apa anda marah karena diriku terlambat?"


"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?" Tanya ku balik, dia terdiam lalu bertanya "boleh ku jawab jujur?," Dan aku mengangguk.


"Anda pergi setelah melihat wajah ku, apa aku punya kesalahan yang tidak kusadari?"


"Tidak"


Jawab ku cepat, "lalu kenapa anda seperti itu?, Apa anda membenciku karena adik dari Duchess sebelumnya?"


"Yang mungkin disebabkan oleh kecemburuan karena kakak ipar lebih mementingkan kakak ku daripada anda makanya anda tanpa alasan membenciku"


"Tidak juga"


"Anda menjawab dengan ragu ragu berarti aku benar" ucapnya semangat, aku tertawa kecil karena ucapannya yang menggebu-gebu.


Dan malah bertanya pertanyaan yang sangat melenceng dari topik ini, "berapa umur mu sekarang?"


Dia terkejut dengan pertanyaan ku tapi tetap menjawab 20, dan aku tersenyum tipis karena umur nya dengan tubuh Florence sekarang adalah 25 tahun yang berarti sama seperti di dunia sana kami berjarak 5 tahun.


"Nama panjang mu?" Tanya ku tiba tiba,


"Ophir donahue dauleux" balas nya cepat dengan di lanjut perkataan tentang gelar nya, "Tapi aku ingin mempunyai gelar lain untuk diriku sendiri atas hasil jerih payahku"


Dia menatapku dengan lekat, "apa dia menyakiti anda?"


"Tidak...., Tapi dia meninggalkan ku dengan cara yang tidak biasa"


"Ah.... Apa ini cinta pertama anda?"


"Hahaha" aku tertawa kecil, dan menjawab, "daripada seorang pacar aku lebih mengganggap nya seorang adik"


"Ah..... Mungkin saja dia menyukai anda tapi karena anda hanya menganggap nya sebagai adik dia pergi"


Aku tertawa lagi, dan berkata "boleh kah aku mengelus kepala mu?"


Dia sedikit terkejut dengan perkataan ku tapi dengan cepat menyetujui nya, aku berdiri dan mendekati nya, lalu dengan perlahan lahan mengulurkan tangan ke atas kepala nya.


Ia sedikit takut takut dan memejamkan mata saat tangan ku akan menyentuh pucuk kepala nya, tapi saat tangan ku mulai bergerak ke kanan dan ke kiri dia membuka matanya.


Air mataku mulai mengalir tanpa aba-aba lagi, Ophir melihat wajah ku yang basah oleh air mata, dia tiba-tiba panik dan berusaha menenangkan diri ku.


"Nyo... nyonya...."


Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan air mata ini dan mulai sesenggukan didepan nya, dia berdiri didepan ku bingung harus melakukan apa karena aku benar-benar mengusir para pelayan dari sini.


Tangan ku dengan cepat memeluk nya dan bersandar dengan nyaman di bahunya, badan nya terasa kaku tadi, tapi lama-kelamaan tangan nya berani mengelus lembut rambut ku.


Dan tanpa sadar Edward melihat ku saat itu tapi aku sama sekali tidak peduli dan menangis dengan keras di pelukannya, dia akhirnya tidak jadi untuk masuk ke dalam dan malah memasang wajah keras.


Aku menangis sangat lama karena mataku mulai membengkak dengan besar, dan Ophir dengan sabar terus mengelus dan menenangkan ku.


Saat selesai menangis aku merasa malu dan meminta maaf kepadanya, juga bahu nya yang basah oleh air mata, ia tersenyum lembut dan berkata lembut,


"Jika anda ingin memanggil ku, lalu bertemu lagi dengan ku dan menganggap ku sebagai adik angkat mu sendiri tidak apa-apa, Duchess anda bahkan boleh mengirim surat secara bertahap kepada ku"


"Benar kah?"


"Ya"


"Terimakasih"


Ucapku dengan tulus dia tersenyum lalu berkata akan pamit pulang, aku menyuruhnya untuk duduk dan minum dulu teh nya, karena dari tadi aku menangis dia pasti tidak bisa melakukan apa-apa, sambil berdiri pula.


Tapi dia menolak dan mengatakan dirinya masih banyak pekerjaan yang lain, aku terus memaksanya untuk tetap tinggal dengan alasan untuk berganti baju dulu karena baju anda basah oleh tangisan ku.


Dia terus menolaknya dengan halus karena masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan sekarang, akhirnya aku menyerah dan dia berkata bahwa suasana ini seperti Dejavu.


Aku tersenyum kecil sambil berkata "mungkin anda benar benar pernah merasakan nya melalui mimpi mimpi"


"Mungkin saja ya"


Ucap nya dengan nada ragu ragu, "kalau begitu nyonya saya mohon pamit dulu," ucapnya sopan  sesuai dengan tata krama bangsawan mencium tangan perempuan.


"Aku menantikan pertemuan kita selanjutnya"


Ucap ku dan mengantar dirinya menaiki kereta, saat kereta berjalan aku banyak banyak berdoa agar perjalanan nya aman, selamat sampai tujuan.


Saat berbalik untuk kembali ke rumah Duke tiba-tiba sudah berada di hadapan ku, dia memasang wajah masam dan kesal, dia menggerakkan jari menyuruh para pelayan pergi.


Dan seketika disekitar kami sepi, hanya terdengar suara angin yang berhembus, "apa ada yang ingin anda bicarakan padaku?"


Tanyaku tanpa basa-basi, dia menatapku dengan lekat dan bertanya, "Apa kau benar-benar mengenal nya sejak lama?"


"Tidak" jawab ku jujur karena memang aku baru bertemu sosok Dimas yang sekarang.


Dia mengernyitkan dahi kesal dengan jawaban ku, "BOHONG!!!" ucapnya singkat, "sungguh!" jawab ku lagi dan mulai berjalan kedalam sambil berkata.


"Wajah nya mengingatkan ku kepada seseorang yang ku kenal"


"Apa orang itu penting bagi mu?"


"Ya" balas ku singkat dengan menengok ke belakang lalu terus berjalan.


..........


POV Edward


Dada ku terasa panas, aku cepat cepat berendam di bak mandi tapi rasa panas itu tetap tidak hilang, "sial....!"


Umpatku pelan karena gelisah karena sesuatu yang tidak ku ketahui, bahkan tangan ku gatal ingin melempar sesuatu yang bisa berbunyi nyaring atau memukul kan kepala ku ke tembok agar rasa kesal ini hilang.


Biasa nya jika aku sedang kesal pelarian ku adalah bekerja tapi sekarang pikiran ku malah bertambah pusing, dan mengingat perkataan Duchess saat ku tanya apa dia mengenal Baron Ophir atau tidak.


Tapi ternyata dia tidak mengenal pria itu melainkan Florence menganggap dirinya mirip dengan seseorang yang dia kenal dan orang itu sangat penting nya.


"Apa, itu adalah pria yang di mimpi?"


Tapi wajah nya tidak mirip sama sekali dengan Ophir, ucap ku sambil mencoba mengingat-ingat wajahnya, "ah....," aku mengeluh pelan.


Karena lama-kelamaan wajah pria itu semakin mengabur dari ingatan ku, untuk membayangkan wajah aslinya saja aku lupa.


"Tuan....."


Ucap Franks dari luar pintu kamar mandi, "Ada apa!?" balas ku ketus


"Saya mempunyai pesan darurat dari tambang"


"Katakan itu nanti"


"Tapi tuan!!!"


"Apa kau tidak punya kuping?!!, ku bilang nanti ya nanti!"


Bentak ku dengan keras, nyali Franks segera menciut menghadapi ku yang seperti bom dan bisa meledak kapan saja, akhirnya dia menurut dan kembali.


Tapi saat suara kaki nya akan melangkah aku berkata dengan nada mengancam, "Franks aku mengawasi mu selalu....., Jadi ketahui tempat mu"


Dia terdiam ditempatnya mungkin?, Lalu menjawab dengan patuh "ya, saya mengerti tuan"


"Pergilah"


Lalu suara langkah kaki berjalan mulai terdengar, ancaman itu berarti agar dia tidak macam macam dengan keluarga Duke Devonte, lalu agar dia mengetahui tempat nya karena kasta ku lebih tinggi daripada nya.


Bahkan saat selesai mandi dan berganti pakaian, lalu makan malam rasa kesal ku sama sekali tidak bisa menghilang dari dalam hati, bahkan saat aku akan tidur selalu terbayang-bayang kejadian Duchess yang memeluk pria itu dan Baron Ophir, beberapa kali aku bahkan menggertak gigi dengan keras hanya mengingat itu.


"Intinya hari ini adalah hari yang melelahkan"


........


POV Ophir


Di dalam kereta aku menggerak- gerakkan tangan ku sendiri, dengan menggepalkan nya dan melonggar kan nya lagi, karena rasa pelukan dan sentuhan rambut Duchess masih terasa di ujung jariku.


"Hahaha"


Aku tertawa kecil karena merasa seperti orang mesum yang membayangkan sentuhan perempuan, yang bahkan sudah beristri, tapi sungguh tanganku terasa mengenal pelukannya.


Karena teringat sesuatu, jadi aku menatap jendela untuk memikirkan apa itu dan kemudian teringat tentang mimpi-mimpi yang sedari kecil datang padaku, yaitu mimpi tentang seorang anak kecil kumuh, yang tinggal di lorong lorong sampah yang di himpit dengan bangunan-bangunan tinggi yang aneh.


Bahkan sesekali aku melihat ada kereta-kereta yang bisa berjalan sendiri tanpa kuda dan beberapa mesin aneh yang bisa terbang, tapi ada lagi mimpi tentang seseorang pahlawan yang terpilih oleh dewa.


Setelah dia menang bukan karena usahanya dia dielu-elukan oleh orang-orang, setelah itu dia dengan mudahnya bersenang-senang atas jabatan yang diberikan dewa, yang menyelamatkan dunianya tanpa berusaha keras.


Tapi akhirnya dia dikhianati oleh teman-temannya, bawahannya, dan keluarga kerajaan karena dibuang sebagai tumbal kepada monster yang seharusnya dia kalah kan, ternyata belum mati.


Kecuali oleh 1 orang perempuan yang tetap setia padanya, tapi malah dirinya buang saat dirinya terpilih sebagai pahlawan dan mulai berfoya-foya, aku terus berpikir siapa mereka.


"Apa mereka hanya khayalan ku saja?"


Seringkali pertanyaan itu terlintas di benak ku, tapi untungnya saja mimpi mimpi itu membawa pengalaman tersendiri bagiku, dan hal hal baik untuk diriku sendiri.


Dan akhir-akhir ini aku lebih sering mimpikan tentang anak yang dari kota besar itu, awal-awalnya dia hidup di jalanan memakan makanan yang mungkin sudah basi dari sampah-sampah.


Bahkan ia beberapa kali mengemis di jalanan sambil bernyanyi dan mengitari kereta kereta aneh itu dan mengulurkan tangan mengharap belas kasihan agar mendapat uang kertas yang pertama kali ku liat.


Lalu pernah tiba-tiba saja aku yang di dalam mimpi tertabrak oleh salah satu kereta itu dan dilarikan ke suatu ruangan putih, sampai situ mimpinya sangat tidak jelas karena hanya ada cahaya putih yang terlihat dari atas kepala ku, dan orang-orang yang ribut di samping kanan-kiri ku.


Setelah itu mimpinya terus berlanjut setiap kali aku tertidur seperti potongan cerita yang kembali tersusun, seorang pria dan wanita paruh baya menatap sedih kearah ku, saat terasa sudah sehat.


Aku tidak mengerti bahasa mereka dan bahkan suara mereka seperti dengungan lebah, makanya aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan atau jika aku mau menebak-nebak apa yang mereka katakan tidak bisa.


Intinya aku dibawa ke sebuah rumah yang nyaman daripada tempat terakhir yang aku tinggali yaitu di bawah kolong jembatan atau lorong-lorong dan ganggang kecil di bangunan-bangunan besar itu, mereka merawatku seperti anak sendiri.


Dan mengenalkan ku ke seorang perempuan yang wajahnya juga sama tidak jelasnya dengan semua orang yang ku temui di mimpi, tapi aku merasa dia adalah orang yang dingin dan cuek.


Plus perhatiannya sama sekali tidak dia tunjuk kan secara langsung tapi hanya dengan diam diam, dia tidak memperlakukan ku karena kasihan atau menatapku dengan sama seperti orang lain.


Yang hanya melihat ku seperti kucing liar yang di bawa kerumah mewah, tapi aku disini adalah anak angkat mereka, dan dia benar-benar menganggap ku tulus seperti keluarganya.


Meskipun dirinya terlihat cuek dan selalu memasang wajah datar dia orang yang sangat perhatian, karena pernah suatu hari aku bermimpi kalau aku yang di mimpi ini sedang sakit.


Dan sama sekali tidak bisa bangun, untuk mengambil makan bahkan tidak bisa pergi untuk buang air kecil dan besar, apalagi melakukan apapun di sana.


Saat itu di mimpi aku merasa tidak ada kedua orang tua angkat nya dirumah, pria dan wanita paruh baya, dan aku sedang di tinggal berdua dengan anaknya, disitu aku masih berfikir dia benci terhadap ku.


Tapi perempuan itu dengan tulus merawatku karena dia sangat terkejut setelah mengecek kamar dan menemukan aku yang terbaring lemah tidak berdaya dengan suhu badan yang sangat tinggi, setelah dia berteriak memanggil ku berkali-kali tidak ada jawaban.


Dia dengan sabar menyuapi obat dan memberi ku makan dengan pelan, mengganti kompres di kepalaku beberapa kali, membacakan sesuatu yang mungkin adalah dongeng dengan sabar.


Menuntunku saat akan buang air besar dan kecil, bahkan dia juga memeluk ku saat aku tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk, sambil berkata dengan lembut yang tidak ku mengerti bahasanya, mengelus-elus kepalaku agar diriku tidur kembali, terus disampingku sampai tubuh ku pulih.


Sampai seperti itu rasa sayangnya  terhadapku yang hanya anak angkat, dan saat aku di mimpi sudah sembuh, dia kembali cuek seperti biasa hanya membalas sapaan ku dengan ringan.


Aku yang salah paham duluan,  memikirkan dia benci terhadap ku karena mengambil tempat nya, dengan menilai dirinya dari luar.


Tapi ternyata dia sama sekali tidak membenciku, jadi sejak mimpi sakit itu aku mengetahui sifat aslinya yang sangat menyayangi keluarga.


Mau aku anak angkat atau bukan.


...........