
POV Destiana
"Maksud mu anak dari selir itu?" Tanya ulang Duke kepada ku
"Ya, siapa lagi?"
"Jadi dia.....,Tapi bagaimana kau tahu?" Tanya Duke penasaran
"Aku kan bilang belum bisa membuktikan nya jadi jangan terlalu berharap banyak"
"Ternyata anda memiliki banyak rahasia ya" ucapnya sambil terkekeh geli,
"Semua orang pasti mempunyai satu atau dua rahasia duke" balas ku secara terang-terangan yang memperlihatkan privasi yang ku tunjukan dari perkataan ku.
"Baiklah terimakasih" ucap Duke menyerah mengorek informasi dari ku.
"Saya sarankan untuk tidak terlalu percaya dengan bawahan anda, karena penghianat biasanya ada di manapun dan kapanpun"
"Kau mencurigai siapa?"
"Tidak aku tidak tahu"
"Masa sih bukan kah kau orang yang peka?"
"Aku belum mendapatkan feeling tertentu"
"Oh jadi begitu, baiklah karena kau telah memberitahukan nya aku akan mencoba mengeceknya sendiri"
Setelah percakapan itu berakhir kami sepanjang jalan mulai terbuai dengan pikiran masing-masing, saat sampai rumah aku menyuruh para pelayan untuk menyiapkan bak mandi.
Dan langsung membersihkan diri, saat memakai gaun untuk makan malam aku dibantu oleh lionna dan red, juga sekalian bertanya "apa Mery sudah datang?"
"Ya, dia sedang istirahat sesuai perintah anda"
Mereka menjawab dengan serentak, aku tersenyum puas karena dia bisa istirahat setelah kejadian yang melelahkan tadi, lalu kembali memberi perintah "Bilang padanya aku menunggu saat malam hari"
"Baik nyoya akan kami sampaikan"
Setelah selesai bersiap siap aku segera menuju ruang makan, Albert memasang wajah kesal dan dua anak lainnya, aku segera duduk dan bertanya-tanya kenapa mereka memasang raut wajah seperti itu lalu melirik ke Duke untuk meminta penjelasan.
Dia pura pura tidak melihat lirikan ku karena tidak ingin menjawabnya, "haah....." Akhirnya aku menghela nafas panjang dan bertanya.
"Kenapa suasana disini suram sekali ya?"
Sindir ku lembut sambil melihat wajah mereka satu persatu, mata mereka saling menghindari tatapan ku, "kalau begitu lebih baik aku makan dikamar dari pada suasana yang gelap disini"
Ucap ku sambil bangkit berdiri dari kursi untuk pura pura pergi, tapi akhirnya Albert angkat bicara, "kami mendengar kabar"
"Kabar?" ulang ku lalu kembali duduk ke kursi, mereka bertiga saling lirik dan berkata, "katanya anda membantu calon ratu kabur"
"Deg!!!!"
Aku memasang wajah biasa meski hati ku berdetak kencang dan cepat sambil berpikir "sungguh memang putra mahkota orang yang susah dilawan, dan dikelabui"
"Tapi kakak Albert membantahnya dan memberitahu prajurit istana bahwa anda sedang berjalan-jalan dengan Duke jadi tidak mungkin bisa membantu calon ratu kabur"
Lanjut Joy dengan nada takut takut, aku terkesan karena dia mulai berani memanggil Albert dengan kakak dari pada tuan muda, itu juga atas suruhan orang nya langsung.
"Tapi para prajurit itu keukeh karena perintah putra mahkota, dan mereka merengsek maju untuk memeriksa kediaman kita"
Lanjut Albert menggebu-gebu, "Memang dia orang yang belagu!!!," umpat Wren tiba-tiba, "eh?!!" aku sedikit terkejut lalu memperagakan tangan kananku untuk menyentil mulut nya dari jauh.
"Jaga ucapan mu Wren bisa bisa kau di tangkap atas pencemaran nama baik"
"Tapi aku setuju dengan Wren!" Bela Albert yang tidak ku sangka sangka,
"Ya aku juga" balas Joy ikut ikutan,
"Mereka semua gak ada otak!!!" Ucap mereka semua serentak.
"Haah..... Kita akan bahas masalah ini nanti saja lebih baik kita makan dulu sebelum makanan nya mendingin"
Ucap ku untuk melerai masalah mereka, akhirnya mereka menurut dan mengikuti ku yang mulai makan sedang kan Duke sudah dari tadi mulai makan tidak ingin ikut adegan kesal mereka.
Aku terus melirik nya saat makan, karena aku yakin sebenarnya di dalam hati nya banyak sekali pertanyaan untuk ku tapi dia memilih diam untuk saat ini karena lebih memprioritaskan anak anak yang menunjukkan wajah kesal nya.
"Tapi setidaknya dia harus nya membantu ku untuk menenangkan mereka....."
Dengus ku setelah berfikir seperti itu, kami akhirnya selesai makan dan duke menyuruh semua keluar kecuali aku dari ruangan ini, juga mengunci nya dari luar.
Aku duduk tenang di kursi yang berdampingan dengan Duke, "Duke, jadi apa yang ingin anda tanyakan?"
"Sebenarnya kau benar benar membantu nya kan?"
"Siapa yang kau maksud?" Ucap ku berpura-pura tidak tahu,
"Countess velly" ucapnya dengan penuh penekanan.
Kami terdiam sejenak, "Lalu, aku melanjutkannya harus kah aku memberitahu kebenaran nya?," lanjut ku lagi.
"Dia membuang nafas lalu berkata aku tidak akan memaksa mu mengatakan hal yang sebenarnya" balas nya singkat.
"Sungguh jadi anda benar benar tahu akan itu?"
"Yang harus kau tahu adalah jika kau memilih untuk membantu nya aku akan mendukung mu bukan Andrew"
"Kau yakin?" Tanyaku tidak percaya karena Duke itu terkenal menyayangi keponakannya.
"Ya, karena kita terikat kontrak"
"Oh kau benar" suara ku terdengar ketir, aku melupakan hubungan kami ini yang sebatas kontrak meskipun dirinya mulai mengingat ku.
"Baiklah lakukan sesukamu, aku akan menutupi mata putra mahkota untuk sementara waktu"
Dia bangkit berdiri dari kursinya, melangkah ke luar ruangan, aku menatap nya yang keluar pintu sampai menghilang, "haah....." Aku menghela nafas panjang.
"Entah kenapa aku jadi tidak mood melakukan sesuatu sekarang", pikir ku lalu kembali ke kamar.
Setelah kembali ke kamar aku menunggu para pelayan ku datang untuk mengganti bajuku ke gaun tidur, Mery datang bersama lionna dan red, mereka dengan cekatan melepaskan gaun yang melilit di tubuh ku.
"Terimakasih" ucap ku ramah, mereka semua tersenyum lalu lionna dan red pamit undur diri karena paham apa aku ingin berbicara empat mata dengan Mery.
Aku menyuruh Mery duduk di kursi di depan ku setelah dia duduk aku mulai bertanya, "apa ada kesulitan dari rencana kita tadi?"
"Hampir semua yang anda rencanakan berjalan lancar nyonya"
"HM..., sungguh?, Katakan saja jika ada yang tidak membuat mu nyaman"
Ucap ku sambil melirik kepada luka memar yang ada di leher dan pergelangan tangan nya, padahal dia sudah berusaha menyembunyikan nya.
"Mm....."
Mery masih terdiam, aku mendesaknya dan akhirnya dia mulai bercerita, "maaf nyonya mereka mengetahui saya adalah pelayan anda"
"Padahal saya sudah berusaha berkata anda tidak hubungan dengan pakaian yang lumayan pasaran saat itu (sewaktu menyamar), dan saya sedang izin cuti tapi mereka tetap tidak percaya"
"Jelas kan lebih rinci" ucap ku saat mendengar kan ceritanya.
POV Mery.
"Saat aku berlari mengejar pencuri dan sampai di belokan gang buntu, aku bertemu dengan tiga orang memakai tudung kepala, mungkin mereka adalah bayangan nya putra mahkota, lalu mereka telah mengambil dompet countess yang dicuri"
Dan salah satu dari mereka mengulurkan dompet itu kepada ku sambil "berkata jangan ceroboh lagi", tapi aku terus terdiam di tempat pura pura tidak tahu, seperti rencana anda untuk tidak menggambil nya.
Lalu berkata "ini bukan milik ku," mereka semua langsung terkejut karena suara ku bukan countess, tiba-tiba para bayangan yang mengikuti ku muncul dihadapan ku setelah mendengar suara ku yang bukan countess.
Mereka dengan ganas mengacungkan pedang nya kearah ku sambil berkata "siapa kau kenapa menyamar menjadi lady!!!"
"Siapa yang kau maksud?!" ucap ku tegas "aku tidak mengerti maksudnya kalian apa, aku hanya kesini setelah orang itu mencuri dompet ku!!!"
Teriakku marah sambil mendekati sang pencuri lalu menemukan di saku celananya ada dompet lain, untungnya itu sesuai prediksi anda nyonya.
"Nih!!!, dompet ku aku tidak mengenal kalian!!!"
"Sudah pergi saja dasar kalian orang aneh" bentak ku sambil berjalan pergi tapi salah satu dari mereka mencegat ku dan berkata "masih ada yang mengganjal"
"Maksud anda apa pak?" Ucap ku berpura-pura, "kenapa seluruh tubuh mu ( pakaian dan rambut ) mirip dengan orang yang kami ikuti?"
"Ya, aku tidak tahu karena jubah ini telah lama dan sering ku pakai, lalu baju dan sepatu ini bekas diskon kemarin setelah ada promo cuci gudang yang kekurangan nya adalah sama dengan yg lain dari modelnya hanya beda warna saja"
"Dan kebetulan aku ambil warna ini, terus kalau rambut saya memang ingin cari suasana saja karena bosan rambut coklat"
Mereka saling berdebat setelah aku mengatakan itu, saat aku ingin pergi dari sana tiba-tiba saja satu orang bayangan datang dan menengahi mereka dan menyuruh ku untuk tidak pergi dulu sebelum identitas ku di ketahui.
Akhirnya dengan paksa mereka memeriksa barang yang ku bawa, dan mereka menemukan bahwa aku seorang pelayan dari rumah Duke Devonte.
"Setelah itu mereka melakukan apa?" Tanya Duchess dengan nada kesal
Mereka langsung berfikir kalau countess kabur dibantu anda yang menyuruh ku menyamar menjadi dirinya, karena beberapa dari mereka langsung memeriksa kebenaran dari sang pembuat baju diskon,
Juga orang yang menjual nya, dan yang memakainya saat itu sebagai pengelabuhan, atau pun tidak para rakyat yang memang membeli pakaian berkata bahwa mereka diberitahu jika ingin mendapatkan berkah harus menggunakan baju diskon besok saat ke pasar.
Saat temannya kembali setelah melakukan penyelidikan dan penulusuran sebentar akhirnya mereka mengetahui bahwa itu sudah direncanakan.
Dan mulai menyalahkan ku, mereka memaksa memakai kekerasan untuk membuka mulut ku tapi aku tetap kekeuh berpura-pura untuk tidak terlibat dari rencana itu.
Akhirnya dengan terpaksa mereka akan melaporkan kejadian ini kepada putra mahkota atas keterlibatan Duchess Florence dalam upaya membantu countess velly kabur seminggu sebelum di mulai acara pernikahannya.
"Makanya mereka datang kemari setelah aku dibebaskan dari introgasi sepihak"
"Haaah....." Duchess menghela nafas panjang, dia bangkit berdiri dari kursi nya.
"Kau boleh pergi (keluar ruangan) Mery"
Ucap nya sambil melihat jendela kamar yang terbuka lebar, aku membalas ucapannya dengan sopan serta sekalian berpamitan dan saat ingin membuka pintu Duchess tiba-tiba angkat bicara.
"Jangan lupa olesi luka mu dengan obat"
Aku tersenyum kecil yang tidak mungkin dia lihat "terimakasih nyonya" jawab ku dengan tulus lalu keluar.
"Memang seharusnya aku tidak melawan pria seperti itu" Gumam Duchess sambil menatap bulan.
...
POV Destiana
Satu minggu berlalu dengan lambat, karena pemeriksaan penuh terhadap diriku oleh putra mahkota, untung saja raja dan ratu angkat tangan dan tidak mengurusi calon ratu nanti yang kabur jadi aku masih bisa beralibi dengan baik.
Dan jika saja mereka ikut campur, bisa bisa seluruh kekaisaran membenci ku, dengan atau tanpa alasan, aku menatap kepergian para kesatria setelah pemeriksaan rutin kamar ku jika menemukan hal yang berkaitan dengan kemana kabur nya countess.
Atau bukti fisik nya, "untungnya saja ini hari terakhir jadi aku bisa tenang" pikir ku santai karena Albert dan Edward terus menerus memberikan protes karena melakukan pemeriksaan rutin kepada kamar Duchess.
"Nyonya!" Teriak suara familiar seseorang, aku segera menengok dan berkata "ada apa Franks?"
"Hah...hah...., Tuan Duke mencari anda"
Dia berkata seperti itu sambil mengambil nafas putus putus karena berlari menuju ke arah nya.
"Mencari ku kenapa?" Tanyaku yang di balas gelengan oleh nya, dia menuntunku menuju ke tempat Duke berada.
"Disini silahkan masuk nyonya"
Franks menunggu diluar dan tidak masuk ke dalam, jadi aku masuk sendiri dan mata ku langsung tertuju kepada pria yang sedang duduk di meja kerja nya.
"Oh kau sudah datang?, Kemari lah" ajak nya mendekat, aku dengan patuh menurutinya dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa anda memanggil ku?"
Duke tanpa bicara memperlihatkan sebuah surat di tangan nya, aku dengan cermat memperhatikan nya dan mengambil nya dari tangan nya.
"Jadi kau mengetahui si pelaku aslinya dari surat-surat ini, ya?"
Mulut ku terkunci rapat karena satu kartu ku yang berharga terbongkar, Duke mengetahui itu pasti karena di dalam surat itu pasti terdapat pesan akan bahaya saat perburuan.
"Ya memang nya kenapa?"
"Tidak apa-apa, tapi terimakasih karena telah menghawatirkan kami, aku berhutang banyak kepada mu terhadap perlindungan yang kau berikan kepada Albert, bahkan sampai menggantikan nya saat itu"
Duke benar benar tulus mengatakan nya dia bahkan sampai menundukkan kepalanya kepada ku, aku berkata dengan tidak enak "itu tidak masalah tuan, jadi angkat kepala mu"
Akhirnya Duke mengangkat kepalanya lagi dia menatap ku dengan intens, "apa ada sesuatu yang kau mau aku pasti akan membayar nya"
"Tidak, tidak ada" tolak ku halus
Huffttt dia menghela nafas panjang "maaf aku membaca isi surat nya, jadi saat acara nanti bakal ada kejadian berbahaya untuk Albert?"
Aku membaca surat itu secara cepat, "ya anda benar"
"Memang nya countess bisa di percaya?"
"Dia memiliki sang mata masa depan"
"Maksud mu orang orang yang diberi berkah oleh dewa untuk melihat masa depan untuk menghindari kejadian besar yang berbahaya?"
"Ya, anda benar duke" ucap ku dengan tidak ragu ragu, sebenarnya aku sedikit berbohong karena aku tidak tahu kalau countess memang mempunyai sang mata masa depan atau tidak.
Diriku hanya menyembunyikan fakta bahwa lady adalah time travel dan mengetahui tentang kejadian yang akan terjadi kedepannya, karena dia pernah mengulangi kehidupan nya sekarang.
"Oh kalau begitu akan masuk akal"
"Apakah anda akan merahasiakan nya tuan?"
"Ya, aku bersumpah!!!"
POV author
Edward melihat dari tadi Florence yang berdiri lupa menyuruh nya untuk duduk, "ah...., maaf saya terbawa suasana sampai lupa menawari anda untuk duduk dan makan camilan"
Dia bangkit berdiri dari kursi nya dan mengajak nya untuk duduk di sofa, Duchess tidak menolak karena mungkin percakapan nya sekarang akan lama, dan akhirnya mereka membahas rencana untuk menangkap para penjahat yang ingin mencelakakan Albert.
Mereka berusaha menjebaknya dan menangkap mereka sekaligus agar masalah cepat selesai, setelah persiapan untuk besok selesai dibahas dan disetujui.
Duke menyuruh Florence untuk meminum teh yang masih hangat karena sihir nya, Florence tidak menolak dan menyeruput nya pelan pelan.
"Oh ya aku mempunyai sesuatu untuk mu"
Ucap nya sambil bangkit dari kursi nya dan mengambil beberapa dokumen dan meletakkan nya di meja depan Duchess, Florence yang sudah menaruh kembali cangkir teh nya mulai memperhatikan isi dokumen.
"I.... Ini kan"
"Ya ini buku keuangan usaha anda yang bekerja sama dengan countess yang menginvestarikan mesin uap itu, aku sudah mengambil nya secara resmi tapi dengan tetap diam diam agar tidak diketahui oleh putra mahkota"
"Anda yang terbaik Duke aku kebingungan mencari cara mengambil harta countess yang di investasikan karena dijaga ketat oleh putra mahkota"
Ucap Florence kesenangan lalu dia terdiam dan berfikir sesuatu, dan berkata
"Eh tunggu dulu serasa ada yang janggal, jangan jangan anda tahu siapa investor kemarin"
"Pfffftttt" dia menahan tawa nya berpura-pura tidak tahu.
Tapi Duchess merasa bahwa Duke mengetahui semuanya bahkan dirinya saay menjadi Miss Caroline, "jadi anda benar benar tahu Miss Caroline itu siapa?"
"Siapa ya? Gak kenal tuh"
Ucap nya berpura-pura bodoh, "anda benar benar membuat saya kehilangan semua kartu truf ku!!!"
"Hahahaha tidak apa-apa kan? Lagian itu tidak merugikan anda?"
"Haah..... Sudah lah aku menyerah" ucap Florence pasrah, "baiklah kalau begitu beristirahat lah dengan baik Duchess karena kau harus tetap VIT saat perburuan berlangsung bahkan dari 2 hari dari sekarang"
Balas Duke dengan senyum menggoda nya lalu bangkit berdiri untuk duduk di meja kerjanya, beberapa menit Duke telah fokus ke tumpukan dokumen nya sedangkan menyuruh ku untuk menghabiskan cemilan dan teh nya.
Baru boleh pergi, dan akhirnya aku terjebak di sini untuk menghabiskan teh yang ku minum, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benakku. "oh ya Duke"
Ucap ku memecahkan keheningan karena dia yang sangat fokus terhadap pekerjaan nya, "ada apa?" balas nya tanpa repot repot untuk menengokku.
"Aku mohon untuk tidak menyuruh Franks untuk menyiapkan kan rencana kita"
"Memangnya kenapa?"
"Entah lah firasat ku berkata untuk hati hati kepada nya"
"HM..... Bisa ku pertimbangan kan"
Aku tersenyum lalu pamit mengundurkan diri dari sana, saat berada di luar pintu Wren dan Joy berpapasan dengan ku.
"Tante!!!" Teriaknya semangat yang hampir melompat ke pelukan ku tapi tidak jadi karena teringat tata krama, "upss!!! Maaf kan saya nyonya"
Ucap nya anggun sambil membungkuk kan badan, Wren memberi hormat hanya dengan bungkuk kan yang bagus tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tersenyum kecil dan memuji mereka yang mempelajari tata krama dengan baik, Wren setelah belajar tata krama dan beberapa buku pelajaran mulai meninggalkan kesan anak nakal nya akhir akhir ini.
Tapi ternyata dugaan ku salah karena beberapa kali dia mengumpat, saat kami pergi ke danau di istana duke. Wren dengan semangat berlarian kesana kemari, bahkan berani menyiprat kan air dari danau ke kami berdua.
"Hey kalian kalau bisa balas aku!!!" teriak nya semangat
Kami berdua tidak mau kalah dan terus membalas nya, sampai gaun ku basah kuyup kami berhenti dan istirahat di bawah pohon yang rindang.
Aku memulai percakapan dengan bertanya kepada Wren "kenapa akhir-akhir ini kamu jadi anak penurut?"
Wren memasang wajah malu sedangkan Joy tertawa kencang karena mengetahui alasannya, akhirnya Joy angkat bicara
"Guru anda pak Boateng, beliau yang mengajar kan nya pedang dan pertarungan memberikan syarat tidak akan memulai latihan yang sesungguhnya jika kakak tidak bisa melatih tata krama nya sendiri"
"Akhirnya dengan usaha keras dan perasaan terpaksa akhirnya kakak bisa melaluinya, dengan terus menggunakan tata krama yang sopan kepada semua orang agar pelatihan nya tidak berhenti di tengah jalan"
Lanjut Joy lagi, Wren memasang wajah memerah dia benar benar malu sekarang, "memang nya apa pentingnya sih tata krama itu?," Tanya Wren sambil berbaring di rumput.
"Tata Krama itu untuk sopan santun kepada yang lebih tua atau orang yang pangkatnya lebih tinggi di banding kita, dan guru menyuruh mu melakukan itu untuk belajar menipu orang orang dengan sifat asli mu yang bar bar, agar tertutup oleh tata krama"
"Sedangkan menipu di dalam berpedang penting saat bertemu musuh yang harus di bunuh, dan tata krama seperti sampul untuk kepribadian kita saat bertemu orang lain harus menyembunyikan niat asli kita kepadanya karena kita belum tahu dia lawan atau kawan"
"Guru mengharap kan mu untuk belajar tata krama agar kau bisa menyembunyikan serangan mu mematikan dari postur tubuh mu yang biasa saja"
Aku menjelaskan nya dengan panjang lebar, berharap dalam hati "mereka mengerti apa maksud ku," aku menunggu mereka yang sedang mencerna perkataan ku dan Joy berkata dengan semangat.
"Oh jadi tata krama itu seperti belajar gerakan tipuan dalam berpedang?"
"Haah..... Ya seperti itulah"
Aku menghela nafas lelah karena hanya Joy yang mengerti ucapan ku, lalu Wren mengangkat bahu menyerah karena tidak mengerti dan kami pun tertawa bersama.
.....
POV author
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang bersembunyi di balik pepohonan yang sangat jauh dari tempat mereka, dia memegangi bagian dada nya yang entah kenapa terasa nyeri.
Melihat ketiga orang itu tertawa lepas setelah bermain air akhirnya dia kembali berbalik dan pergi dari situ, sementara Duchess yang merasa di perhatikan menengok ketempat nya melihat tadi dan tidak menemukan siapapun disana.
Seseorang yang bersembunyi tadi, entah kenapa merasa sesak di dadanya dia terjatuh di tanah dengan terus memengang erat dada nya yang sakit, air mata nya jatuh ketanah satu persatu.
"Hiks.... Hiks"
Dia beberapa kali mengusap air matanya yang tidak berhenti, Albert bertanya tanya dalam hati, "kenapa setelah melihat Duchess bersama anak-anak yang lain dan tertawa lepas aku merasa sesak?"
Albert mengusap air matanya mencoba untuk tidak membayangkan kejadian tadi sambil bangkit berdiri dan berjalan pergi, "ternyata mimpi tadi benar benar mempengaruhi ku"
Ucap pelan sambil terus berjalan pulang.
Flash back pagi hari,
Saat sarapan satu kursi tidak terisi oleh Albert, Duchess bertanya tanya kemana dia pergi tapi para pelayan memberi tahu nya kalau tuan muda sedang tidak enak badan dan memutuskan untuk beristirahat hari ini.
Duke menerima nya dengan santai wajar saja dia sakit sesekali, tapi Duchess ingin menjenguknya sekarang setelah makan, tapi Duke mencegah nya dia saat sakit adalah tipe yang tidak ingin di ganggu sekecil apa pun.
"Lagi pula kau harus bersiap siap untuk diperiksa kamar nya oleh para kesatria kerajaan"
Akhirnya Duchess menurut dan berniat setelah semuanya selesai dia akan menjenguk Albert tapi dirinya lupa dan malah bermain dengan Joy dan Wren.
Sedangkan Albert saat para pelayan membangunkan karena sudah pagi dia yang merasa tidak enak badan lalu berkata bahwa akan melewat kan sarapan bersama, dan menyuruh satu orang untuk membawakan bubur ke kamar nya.
Sedangkan dirinya melanjutkan tidur nya sampai menunggu bubur datang, dia kembali di bangunkan untuk makan setelah makan dan minum obat dia kembali beristirahat.
Dan di situ dia bermimpi aneh yang lebih mirip dengan ingatan seseorang,
....
POV Albert.
"Ah mimpi aneh lagi" ucap ku pasrah karena di mimpi ini aku tidak bisa mencari tau ingatan siapa ini, karena wajahnya orang orang yang buram tanpa terkecuali orang yang ia sebut mama dan ayah nya.
Tapi wajah nya akan terlihat jelas jika wajah mereka berada tepat di hadapan ku, seperti kejadian di ruangan putih dengan tali tali panjang yang tersambung ke lengannya.
Aku berusaha menikmati tontonan ini karena diriku benar benar tidak bisa melakukan apa-apa selain itu, tubuh kecil ini sedang berjalan aku melihat pemandangan yang indah.
Tanah yang di tutupi oleh sesuatu yang mirip seperti batu tapi lebih bagus, agar berjalan lebih mudah, angin hangat yang mendatangkan wangi semerbak bunga, dan langit yang terlihat cerah.
Kupikir sekarang aku berada di taman meskipun jika di bandingkan dengan taman di istana mau pun rumah ku akan kalah jauh tapi disini lumayan enak dipandang, dan juga di sekitar ku banyak sekali tempat beristirahat yang tertutup atap.
Disana sangat berisik karena beberapa kali aku melihat beberapa orang yang berlalu lalang, ada yang sendiri ada juga yang bersama pasangan atau keluarga nya, ada yang membawa bayi ada juga yang membawa anak seumuran ku atau lebih besar.
"Taman ini terlihat sangat hidup oleh mereka" pikir ku sendiri anak ini terus berjalan ke seorang perempuan yang di panggil mama nya itu.
Saat ia ingin berteriak memanggil nya sambil mengulurkan tangan, tiba-tiba tangan nya yang ia ulurkan kembali diturunkan karena melihat pemandangan yang ada di depan nya.
Dan dadanya lumayan terasa sesak saat melihat mereka semua tertawa lepas saat dirinya tidak ada, dan yang lebih tidak enaknya lagi mereka sedang tertawa bahagia bersama dua anak kecil yang berpakaian lusuh.
Mama dan orang yang ia panggil ayah nya sedang tertawa bersama seorang anak perempuan yang lebih muda darinya dan seorang laki-laki yang lebih tua dari nya, mama dengan baik memberi mereka makan yang mirip dengan roti dan aku tidak tahu apa itu.
Bentuk nya kotak bewarna coklat atau pelangi dan bisa mencair, aku memang tidak tahu namanya tapi aku merasa tau rasanya hanya dengan melihatnya, manis dan dingin itu yang kupikirkan.
Mama dengan senang mengusap kepala kedua anak itu, mereka beberapa kali berterima kasih dan ayah menyelipkan beberapa kertas persegi ke tangan mereka.
Anak anak itu terkejut dan berusaha menolak tapi ayah menyuruh nya untuk mengambil nya akhirnya setelah dipaksa mereka menerima nya dan berterima kasih sekalian berpamitan kepada nya.
Setelah mereka pergi anak ini tidak langsung berlari ke arah mereka tapi mengendap diam diam dibelakang tempat istirahat yang diduduki keduanya.
Dia berusaha mendengar kan percakapan keduanya "Ga.... Andai saja sebelum aku punya penyakit kista itu kita punya adek buat Brian"
"Tia...." Nada suara ayah terdengar sedih, dia menggenggam erat tangan nya yang mengepal.
"Pasti kalau Brian punya adek dia bakal kayak anak anak pengamen tadi yang selalu ngelindungin adik nya, dan andai saja aku tahu kalau aku hamil anggur waktu itu aku pasti gak akan terlalu berharap...."
"Tia jangan ngomong gitu ah....aku udah cukup ada kamu sama Brian"
"Tapi....tapi, hiks... Hiks ...."
Mama tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat ini dadaku terasa sesak karena sedih dan cemburu kepada entah siapa itu, karena aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Lalu ingatan anak laki-laki ini kembali ke beberapa tahun kemarin, saat mamanya bilang kata 'adik' sambil menyuruh nya mengelus pelan perut yang masih kecil.
Tapi beberapa bulan kemudian mama nya menangis kencang setelah tau bahwa anak bayi yang di perut nya tidak akan pernah ada, dan anak laki laki ini merasa diabaikan, pikir ku yang mulai mengerti permasalahan nya.
Dan entah kenapa saat dia mendengar percakapan keduanya juga perhatian yang diberikan mama nya kepada anak perempuan tadi membuat nya marah.