I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
9



Hari saat kepulangan pun tiba, aku sudah sangat bersiap dengan kemungkinan terburuk, yaitu kematian.


Tapi bukan kematian Edward dan Albert yang aku pikirkan sekarang, karena kematian ku yang sudah ku perhitungkan sendiri.


Jika kalian bertanya kenapa aku mau saja mengorbankan diri untuk kemungkinan terburuk ini?. itu karena mereka adalah nyawa kedua ku, yang tidak bisa di gantikan.


Dan selagi aku bisa menjauh kan bahaya dari mereka dengan cara ku sendiri kenapa tidak?.


Aku kembali memeriksa perlengkapan dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil mengecek nya.


"Rambut"


"Oke"


"Baju"


"Oke"


"Senjata"


"Oke"


"Sepatu"


"Em......." Aku berfikir sebentar


"Hah..... kalau Sepatu hak seperti ini bisa bisa terlepas saat bertarung nanti, tapi tidak apa-apa lah....."


"Oke aku siap untuk perang!!!"


"Tok tok tok"


Pintu kereta ku di ketuk dari luar disusul suara Mery, yang terdengar khawatir.


"Nyonya apa anda yakin? Aku takut akan terjadi hal-hal yang buruk kepada mu"


"Kau tenang saja, oh ya apa kau sudah memberitahu kusir sekali lagi?"


"Sudah nyonya"


"Baiklah kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kau boleh pergi ke tempat mu"


"Oh nyo!!!" Suara Mery tertahan lalu disusul suara dobrak kan pintu yang kencang.


"Bruk brakk!!!"


"Florence!!!, Apa apaan kau ini!!!, Bukannya kau sudah sepakat kalau saat pulang ke istana nanti, kita akan se kereta bersama?"


"Aku berubah pikiran, karena muak dengan mu" balas ku dengan nada cuek sambil memalingkan wajah.


"Hah??!! Cuma dengan alasan sepele seperti itu saja!, Bukannya kita sudah berdamai ya, saat malam itu" nada suara nya kesal dan tidak sabaran.


"Malam apa maksud anda Duke?, Aku tidak ingat kita punya malam khusus"


Aku mencoba memancing dia mengatakan ciuman diam diam nya saat malam itu.


Tapi dia tetap membisu tidak mengakui bahwa dirinya yang mencium ku, bahkan mukanya sedikit panik.


"Kalau tidak ada yang ingin kau bicara kan lagi, cepat pergi dari kereta ini Duke!" Ucap ku tegas dan memaksa menutup pintu kereta.


"Brakk!!!"


Pintu tertutup rapat, aku melihat keadaan Duke di jendela kereta dengan sembunyi-sembunyi, dia terlihat ragu ragu ingin berbicara lagi atau tidak.


Tapi pada akhirnya dia menyerah dan pergi ke kereta yang ada di depan, dan masuk ke sana, aku menghembus kan nafas lega, lalu menarik gorden jendela dengan rapat.


"Maaf ya sayang, ini demi kebaikan mu sendiri dan Albert......"


.....................


Tak lama kemudian kereta berjalan, awalnya perjalanan lancar lancar saja   tapi mulai ada yang aneh sejak memasuki daerah hutan.


Aku mengintip sedikit ke jendela untuk melihat langit, awan mendung menutupi matahari yang membuat hutan semakin gelap menambah suasana menyeramkan.


Jantung ku berdegup kencang, meskipun aku pernah berurusan dengan preman pemalak atau gangster.


Tapi ini berbeda ini adalah pembunuh entah apa yang akan dilakukan nya jika ia menangkap mangsa yang salah.


Bisa bisa aku mati duluan sebelum melawan, karena target mereka saat ini adalah Albert ku.


"Buk buk buk!!!"


"Ah!!! Itu kodenya"


Aku duduk mendekat ke arah dinding yang membatasi diriku dan kusir lalu membalas ketukan nya dengan menggunakan ujung kipas yang tumpul.


"Buk!, buk.. buk..."


Ketukan itu berarti "ya, pergi lah" lalu terdengar suara ringik kan kuda disusul suara jatuh yang samar dan kereta berjalan lebih cepat dari biasanya.


"Hap!!"


Terdengar suara orang melompat, aku langsung bersiap siap, pasti kereta ku sekarang sudah di kendalikan oleh para pembunuh itu.


Untung nya saja, aku membawa racun yang ku racik sendiri, dengan getah dari pohon acokanthera padahal buahnya manis dan harum.


Dan racun ini bisa membunuh orang dewasa kurang dari satu menit, yang sering di gunakan penduduk Afrika di ujung panah panahnya.


Aku secara tidak sengaja menemukan pohon ini saat berjalan jalan di hutan yang masih menjadi kawasan villa Duke.


Lalu menyuruh lionna dan red mengambil nya dengan hati hati, dan getahnya sekarang sudah di oleskan ke 1 batang kipas ku.


1 batang kipas itu sangat tersembunyi dan bentuknya lebih mirip dengan jarum yang panjang dan lumayan besar berada di dalam satu batang paling ujung di kanan.


Dan itu bisa dimasukkan dan juga dikeluarkan sesuka hati tanpa ketahuan oleh musuh, kereta bertambah kencang sampai aku benar-benar tidak nyaman di dalam nya.


"Gila!!!, nih pembunuh nya mungkin dulunya geng motor yang ketabrak ya, ugal-ugalan banget emang dikira motor kali ya??!!"


Gumam ku sedikit geram, lalu tiba-tiba ide dari rencana mereka terfikir di otakku, jangan jangan mereka ingin menggulingkan kereta nya untuk menghapus bukti.


Atau menjatuhkannya ke jurang yang tidak jauh dari sini, oh sial sekali diriku ini.....


Tapi karena mereka tidak memeriksa kereta yang berisi siapa, pasti misinya akan gagal, tapi tetap menguntungkan pihak musuh yang ingin memusnahkan keluarga Duke.


"Itu hanya hipotesis ku sih....."


"Gubrak!!! gubrak!!!"


Guncangan nya makin terasa, bahkan aku merasa kereta ini semakin oleng karena banyak bagian nya yang lepas atau rapuh.


Aku menahan diri agar tidak berteriak karena jika terdengar suara perempuan tamat lah sudah.


Tapi kalau tidak mereka akan merasa aneh karena mungkin saja mereka berfikir kereta ini kosong.


Dan akhirnya aku memutuskan untuk berteriak panik dengan menyamar kan suara ku dengan suara Albert.


Ringikan kuda terdengar panik aku mencoba membuka pintu yang terkunci rapat dari luar.


"Oh kalau begitu aku hanya perlu mendobrak nya!!!"


"Nggiiikkkk!!!!"


"Brukk!!!" 


Aku berhasil mendobrak pintu nya, sang pembunuh sudah loncat duluan ketanah karena kereta sebentar lagi akan terjun ke sungai yang cukup dalam.


Lalu dengan cekatan melompat ke tempat kusir dan membelokkan 2 kuda yang malang itu agar tidak jatuh ke sungai, satu roda kereta kudanya sudah tidak berada di atas tanah.


"Hah.... Hah...."


Aku menetralkan nafas ku yang tidak beraturan, sambil melepaskan tali yang terhubung oleh kereta di badan kuda dengan cekatan karena aku juga di buru waktu.


Tinggal satu tali lagi yang perlu ku potong dengan kipas ku yang tajam seperti pisau lipat di bagian kirinya, aku melompat ke atas kuda dan melihat kereta itu terjatuh ke sungai.


"Wah wah....., anda benar benar berbakat ya Duchess baru, aku tidak menyangka kalau informasi yang kami dapatkan salah karena seharusnya kereta ini di tunggangi tuan muda seorang diri"


Aku menengok ke arah pria yang seluruh tubuhnya tertutupi agar identitas nya tidak ketahuan teman temannya juga memakai pakaian yang sama dengan nya, dia terlihat seperti ketua terlihat dari semua sikap dan perilaku nya.


"Apa yang ingin kau lakukan hah?!, Berani beraninya assassin menyerang keluarga Duke!!!, Apa kalian tidak mau hidup lagi" ucap ku dengan tatapan sinis juga sikap angkuhku yang sengaja di buat buat.


Aku melihat sekeliling, dan ternyata aku telah terpojok karena di belakang ku sungai yang cukup deras dan dalam lalu aku tidak yakin bisa selamat berenang sampai ke tepinya.


"Tentu saja kami mau hidup nyonya, tapi jalan kami adalah seorang pembunuh bayaran, jika bayarnya bagus hasilnya pasti bagus juga"


Dan bahkan ada 8 orang yang mengintainya dari atas pohon lalu jika aku lari mungkin mungkin akan langsung mati, karena mereka bertugas seperti sniper yang menembak mangsanya dari jarak jauh.


"Dan bla bla bla .............."


Teman assassin itu tiba-tiba berbicara panjang lebar, aku dengan cepat berfikir apa mereka bisa mempertimbang kan penawaran ku, untuk memberitahu siapa dalang dari semua ini.


"Baiklah kalau belum di coba kita tidak akan tahu....." Ucap ku dalam hati.


"Aku juga bisa membayar kalian berapapun!, bahkan 3 kali lipat nya dari orang yang menyuruh kalian!!"


Ucap ku sambil dengan perlahan turun dari kuda, dan tangan ku aktif mengelus-elus nya, agar kuda itu tenang, padahal aku diam diam memberi tulisan di perut kuda dengan tinta dan kuas yang berada di sadelnya dengan posisi yang tidak terlihat oleh mereka.


Orang yang mengoceh itu terdiam karena mendengar perkataan ku, tapi mimik wajah nya terasa tidak mengenakkan.


Dan dengan sedikit pukulan di kedua badan kuda itu, bisa membuat nya berlari menjauh dari kami semua, sambil berucap dalam hati.


"Syukur lah rencana ku berhasil"


"Anda benar benar jahat nyonya!, Anda bahkan tidak mendengar saya tadi"


"Hah??!!"


Aku bertanya tanya dalam hati apa maksud perkataan nya, bahkan raut wajah ku terlihat jelas.


"Hahahaha anda bahkan kebingungan dengan anak yang satu ini nyonya" orang yang terlihat seperti ketua itu tertawa kencang, sambil menepuk puncak kepala orang yang tadi di abaikan oleh ku.


Karena orang yang ku abaikan tadi terlihat sangat kesal dan marah, aku tidak sengaja bertatapan mata dengan nya.


"Deg!!!" Jantung ku berdetak cepat keringat dingin mulai mengucur dari leher ku, aku merasakan perasaan yang buruk.


Sial itu adalah tatapan membunuh yang sangat kuat, hah.... karena aku belum pernah berurusan dengan orang yang seperti itu di kehidupan ku sebelumnya, aku tidak tau kalau hanya dengan satu tatapan bisa membuat orang lain ketakutan dan tidak bisa berfikir jernih seperti ini.


Pikir ku sendiri, sambil terus mengamati mereka, dan orang yang ku anggap sebagai ketua dari mereka berkata kembali.


"Anda sih sombong, tidak mau mendengar kan ucapan orang yang lebih rendah dari pada anda, end akhirnya tersinggung kan"


"Ya itu nama julukannya nyonya, tadinya kami hanya ingin mengurung anda lalu menjual anda kepada para bangsawan di kerajaan lain, tapi kurasa end berubah pikiran karena kau abaikan"


"Dan akan aku ulangi perkataannya tadi, kami adalah Jack the ripper kelompok assassin yang sangat besar dan paling terpercaya sepanjang masa, kau pasti sudah tahu itu kan nyonya???"


Aku tidak membalas perkataannya, tapi cukup dengan mendengar kan apa yang ia katakan, karena aku masih berjaga-jaga jika ada serangan mendadak.


Dan tentu saja aku tahu nama kelompok assassin itu dari Jerome, saat pelajaran bebas.


"Nah sekarang anda bisa bertanya apapun karena ini adalah pelajaran bebas nyonya"


Aku yang mendengar tawaran nya langsung berfikir membuat pertanyaan yang tidak ku tahu tentang dunia ini, bahkan wajah ku terlihat serius saat memikirkan pertanyaan nya untuk menambah wawasan ku.


"HM..... Kalau begitu apa di dunia ini ada pembunuhan"


Aku mengatakan nya setelah berfikir keras sambil menatap nya, awal nya ia tercengang dengan pertanyaan ku tapi lama-lama.


"Pfff...... Hahahaha, maaf nyonya aku tertawa tiba-tiba, dan berlaku tidak sopan..."


Dia mencoba menyeka air matanya yang mengenang di pelupuk mata karena tertawa, setelah dia memasang ekspresi serius lagi dia mulai bertanya.


"Kenapa anda tiba tiba menanyakan itu padahal......"


"Aku tahu maksud mu aku hidup dan besar di jalanan, masa tidak pernah melihat hal seperti itu?" Aku yang lebih dulu menyela perkataan nya.


"Itu yang ingin kau katakan bukan??" Lanjut ku lagi.


"Ya, anda benar, dan aku ingin mengetahui alasannya"


Dia berkata seperti itu dengan sikap yang baik dengan tenang memasang wajah ingin tahu nya sambil menautkan kedua tangannya di atas meja.


"Aku kan hilang ingatan, dan aku juga tidak pernah melihat ada pembunuhan atau mendengar berita nya, bahkan setelah aku hidup di gang gang kumuh"


Dia manggut-manggut paham dengan ucapan ku, lalu berkata,"Oke akan saya beritahu kepada anda kalau pembunuhan itu selalu ada!"


Dia menarik nafas sebentar lalu kembali berbicara dengan gerakan tangan,


"Di manapun dan kapanpun tidak mengenal waktu atau derajat karena itu demi mencapai tujuannya"


"Dan kelompok atau organisasi yang paling terkenal di seluruh kerajaan adalah jack the ripper"


Aku terdiam sebentar merasa familiar dengan nama itu, dengan isyarat tangan aku memberhentikan Jerome yang sedang ingin menjelaskan lagi.


"Loh... bukannya itu nama pembunuh terkenal di dunia ku dulu ya?, Karena pelaku tidak bisa di tangkap sampai saat aku mati dan belum di ketahui identitas aslinya" ucap ku dalam hati.


"Kenapa apa anda pernah mendengar nama ini disebutkan oleh orang orang?...."


Aku menatap nya lalu tersenyum kecil sambil berkata,


"Ah maaf aku tidak ingat"


Dia tersenyum memaklum lalu mulai menjelaskan kalau organisasi ini sangat berbahaya dan berbeda dari kelompok pembunuh bayaran biasa.


"Kenapa?"


"Karena janji adalah janji dan berarti sumpah kalau hal itu akan di lakukan, dan itu adalah hal yang wajib dilakukan mau seberat apapun perjanjian nya"


"Oh jadi dia (si penyewa) seperti akan membuat perjanjian bukan permintaan begitu?"


"Betul sekali makanya itu begitu sakral dan susah untuk dirubah"


"Tapi kalau begitu misalkan si penyewa ingin membunuh raja bagaimana?"


"Eh..??!!, Nyonya..." Dia tiba-tiba memasang raut wajah panik


"Kau tidak mendengar kan ku tadi?, Kan kubilang misalkan"


"Huh...."


Dia menyerah lalu memberitahuku lagi, "Anda tau, apa yang di men sah kan saat membuat perjanjian?"


"HM.... Mungkin sama sama sepakat?"


"Ya, betul sakali jadi jika salah satu pihak keberatan maka perjanjian tidak akan di buat dan di mulai dengan sumpah kepada iblis azazel"


"Karena jika sumpah atau janji itu di langgar akan membuat siapa yang bersalah akan mati mengenaskan, lalu orang orang mulai menyebutnya sebagai sumpah setan"


"Azazel kayak pernah tau" pikir ku lagi dalam hati


"Dan sampai segitu saja pelajaran kita, sampai jumpa lagi nyonya saya pamit undur diri"


Dia berdiri dan setelah memberikan hormat ia berjalan keluar pintu, tapi tiba tiba saja langkahnya terhenti lalu berbalik menatap ku sambil berkata,


"Jadi anda perlu berhati hati terhadap organisasi itu jangan pernah terlibat oleh nya nyonya, permisi"


"Sreett....." 


"Whooosh!....."


Assassin itu melesat dengan pedang di tangan yang siap menebas kepalaku, bahkan ia menyadarkan diriku yang sedang melamun dengan ucapannya.


"Hey nyonya bisa bisanya kau masih melamun disaat seperti ini"


"Slash....."


"Zrakkk!!!"


Untungnya dengan cekatan aku bisa menyingkirkan sedikit unjung pedang nya dengan kipas multi fungsi ku, dan membuat suara yang ngilu bahkan tangan kanan ku yang memegang kipas gemetar.


"Ah!!!"


Rasa perih yang menjalar di leher ku, tangan ku berusaha mencari penyebab nya.


"Tes... Tes..."


"Darah....." Ucap ku sendiri saat melihat tangan kiri ku yang terkena darah dari leher kiri ku yang tergores.


Dasar bocah itu tiba-tiba menyerang ku, dan dengan pedangnya yang panjang ingin menebas kepalaku tapi untungnya saja aku refleks menghindar.


Meskipun leherku tergores sedikit ini tidak seberapa, aku berusaha menjaga jarak dari pria yang tiba-tiba menyerang ku tadi.


"Heh..... aku merasa ada yang aneh"


"Kenapa end?"


"Kenapa dia bisa menghindari serangan ku?, Dengan selincah itu"


"Bukannya kau sudah tahu kalau Duchess sekarang itu belajar berperang"


"Ya, tapi tidak mungkin dia menguasainya dalam waktu yang singkat"


"Kau kan tahu ia berbakat"


"Meskipun begitu bangsawan, apalagi wanita sangat malu untuk belajar berpedang"


"Dan tidak ada yang bisa memakai senjata kecil di kerajaan ini, kecuali assassin apalagi kipas unik yang kau pegang itu"


Dan selama mereka menerka nerka tentang ku, yang aku lakukan hanya bersiaga untuk menerima serangan mendadak dari para assassin  yang ada 10 orang.


Apakah aku akan sanggup mengalah kan nya atau tidak tergantung oleh latihan bertarung ku saat itu di tambah dengan saat masih menjadi Destiana.


Aku melihat ke sekeliling memperhatikan jarak di antara aku dan para pembunuh itu dan secara cepat menghitung kemungkinan untuk kabur atau mengalahkan nya.


Baiklah, aku ingin berpura pura sedikit lemah agar di remehkan, atau mencari kesempatan dari kelengahan mereka tapi jika keadaan berbalik aku akan segera membunuh mereka.


"Huffttt......"


Aku menghembuskan nafas sebentar lalu menetapkan hati, melihat musuh dengan tatapan tajam dan melesat maju ke depan untuk menyerang bocah itu, terlebih dahulu.


"SEKARANG!!!"


Akan aku bunuh seorang yang berada dalam jarak ku.


"whossh!......."


Aku merasa melesat bagaikan peluru, meskipun masih menggunakan gaun yang mengganggu, dengan kipas di tangan ku yang sudah di persiapkan untuk memotong langsung ke nadi agar mempercepat kematian.


Dan jika hanya tergores dia akan mati secara lambat karena racun


"Zrakkk!!!"


Dia dengan cekatan menahan serangan ku dengan pedang panjang nya, padahal cuma menggunakan satu tangan kiri nya.


"Sial!!"


Aku mengumpat pelan karena tidak bisa menggores lehernya sama sekali, lalu mengubah rencana sambil melompat mundur memberi jarak dari nya.


"Hei nyonya menyerang saat orang sedang mengobrol itu buruk loh" ucap orang yang seperti ketua itu.


"Sreet!!!....."


Suara kipas ku yang melesat cepat dan menggores leher ketua itu,


"Hap!"


Aku sedikit melompat untuk menangkap kipas yang ku terbangkan bagai bumerang, dan memasang wajah datar.


Orang yang kurasa ketua itu terkejut karena dalam beberapa menit, aku berhasil menggores lehernya meskipun tidak terkena urat nadinya tapi cukup untuk tempat menyerapnya racun.


"Argh.....!!!"


"Tes.... Tes....."


Dia memengagi lehernya yang terluka cukup dalam, dan dengan susah payah berkata "ka.... ka.... pan?"


"Saat aku berfikir untuk mengubah rencana karena tidak bisa melukai nya, dan itu balasan untuk ku karena bawahan anda"


Ucap ku tenang dan memamerkan luka yang ku terima tadi, kenapa aku bisa melempar kipas ku dengan tepat?.


Itu karena aku memperhitungkan jarak dan angin yang berhembus juga dengan kekuatan seberapa banyak untuk sampai sasaran.


Dan itu berhasil, lalu seperti perkiraan ku kipas itu akan kembali lagi karena aku adalah perancang sesungguhnya dari kipas itu dengan masukan beberapa fungsi untuk di jadikan senjata yang berbaur di kerumunan tanpa menimbulkan kepanikan.


...........


Halo semua apa kabar....