
Aku berjalan dengan cepat kearah kereta kuda yang sudah menungguku di depan rumah Earl ini, lalu tampa memperhatikan para penjaga dan pak kusir, aku langsung menaiki keretanya yang langsung menyuruh untuk berangkat.
Aku terdiam di dalam kereta sambil menetralkan jantungku yang masih berdetak cepat karena perkataan countess tadi,
"Bagaimana dia bisa tahu? apa dia seseorang yang sama sepertiku atau punya ingatan kehidupan sebelumnya? tapi kalau dia bukan salah satu dari itu, bagaimana dia bisa tahu tentang Korea dan bumi?" Ucapku dalam hati
Memang sih aku agak terkejut saat dia bilang Korea, karena perkataan dari suamiku banyak sekali cerita atau komik yang bergenre tentang reinkarnasi, isekai, lintas dimensi, dan kehidupan kedua.
Dan itu semua berasal dari Korea, Jepang dan China, yang biasanya ceritanya tentang orang dari negara itu, lalu dipindahkan ke dunia lain.
Tapi kenapa aku yang dari Indonesia? bisa pindah ke sini ya?,
"Ah..... pusing" ucap ku singkat
Jadi aku lebih baik memikirkan pertanyaannya yang kira kira akan diajukan oleh countess tadi, dan menyesuaikan jawaban yang baik agar tidak terlihat bohong nya.
"Karena aku tidak ingin mengambil banyak resiko yang bisa membahayakan keselamatan ku ataupun keluarga ku juga" gumanku sendiri sambil mengurut kening yang pusing
Saat setelah sampai di kediaman Duke yang bisa dibilang juga adalah rumahku, aku langsung turun dari kereta dan berjalan dengan cepat ke arah kamar, tapi di jalan aku tidak sengaja berpapasan dengan Duke.
Jadi mau tidak mau harus memberi salam hormat padanya, saat aku selesai memberi salam hormat, tiba-tiba saja dia mengajak berbicara
"Habis dari mana? " suaranya datar
"Kenapa Anda ingin tahu?" balas ku santai
"Aku hanya ingin bertanya saja" ucapnya dingin
Aku mengalah dan menjawab
"saya habis menghadiri pesta teh yang diadakan oleh bangsawan lain"
"Apakah kamu melakukan sesuatu hal yang aneh?"
"Tidak sama sekali" balas ku yakin
Lalu dia pun terdiam dan mengamati ku dari ujung kaki sampai ujung kepala dan tiba tiba saja mendengus kesal lalu pergi dari hadapanku.
Aku yang melihat kejadian itu tiba-tiba merasa bingung
"hah? dia kenapa sih? apa kepalanya habis terpentok sesuatu" ucapku dalam hati lalu melanjutkan perjalanan menuju kamarku,
Saat sampai di kamar aku pun mengusir semua pelayan, dan langsung berbaring di kasur, ini hari yang melelahkan karena tiba-tiba mendapat kejutan dari seseorang countess seperti itu dan juga sikap dari Duke yang tiba tiba menyapa.
Kepalaku berdenyut lagi akhirnya aku memutuskan untuk memanggil Mery,
"Mery!!!" teriakku kencang agar terdengar sampai keluar kamar
"Iya nyonya, ada apa?" balasnya di luar ruangan, Aku berkata lagi
"Tolong ambilkan batu sihir air yang banyak dan kain atau handuk kecil"
"Baiklah nyonya" balasnya dari luar kamar, setelah beberapa menit kemudian dia datang membawa baskom yang berisi batu-batu sihir air dan handuk kecil.
Aku berterimakasih dan dia menunduk memberi hormat lalu pergi keluar, lalu aku membungkus batu-batu sihir itu dengan handuk dan menaruhnya di atas kepala ku yang panas,
"Rasanya aku bisa gila hari ini" keluhku sendiri
"Oh ya aku jadi memikirkan tentang sikap pelayan yang bernama Mery tadi......." gumanku lagi
"kenapa dia berubah ya?"
Padahal dahulu waktu tubuh ini masih milik Florence yang masih penakut, dan bisa dibilang adalah beban bagi keluarga Duke yang membutuhkan obat bagi kutukan Albert.
Dia memperlakukan kan Florence dengan semena-mena, juga tidak peduli apa apa dengan nya, bahkan makanannya pun disamakan dengan makanan para budak jahat, meski bukan dia yang membawa kan makanan itu sih, tapi sama saja dia tutup mata dan tutup mulut tentang apa pun yang terjadi.
"Mungkin.............. lain kali aku akan mengurus dia, dan bertanya kenapa?" Gumanku
..............
Saat makan malam pun tiba, seperti biasa Albert dan Edward tidak menunggu Florence di meja makan, bahkan mereka tetap memakan makanannya dengan santainya.
Tapi entah kenapa mereka berdua berkali-kali menengok ke arah pintu masuk ruang makan, dan malah mulai melambat lambat kan dalam mengunyah makanannya.
"Ada apa dengan Florence apa dia memutuskan untuk makan di kamarnya atau malah sedang menangis seperti waktu itu karena kami yang selalu mendahuluinya makan saat dinner?" Ucap Duke dalam hati
"Pengemis bau itu tidak kesini padahal sebentar lagi jam makan malam akan segera selesai,dia jadi semakin aneh hari ini padahal kemarin kemarin dia jadi lebih sering ke ruang makan dengan cepat dari pada kami berdua" ucap Albert dalam hati.
"Huffttt......." Mereka berdua menghela nafas berat disaat yang bersamaan, dan akhirnya mereka saling bertatapan mata lalu berkata berbarengan
"Kamu........"
"Ayah........."
"Kenapa?"
Mereka saling mengerjabkan mata lalu berkata yang lagi lagi secara bersamaan
"Ayah duluan"
"Kamu duluan saja"
Mereka mengulangi kejadian tadi, berkata berbarengan lagi, lalu Edward memutuskan bertanya kenapa dia menghela nafas seperti orang dewasa,
Dan dia membalas kalau tidak ada apa apa, lalu Albert pun bertanya juga hal yang sama, kenapa dia menghela nafas seperti punya masalah besar saja, lalu Edward menjawab kalau itu bukan urusan anak bocah sepertinya,
..................
"Huh..... "Aku menatap makanan yang ada di depan ku dengan tidak bernafsu, padahal bentuk dan rasanya pasti terjamin enak tapi entah kenapa aku tindak mau, aku memakannya setengah mencoba untuk tidak memuntahkannya, lalu menyuruh pelayan membawanya keluar.
"Kurasa aku sedang masuk angin deh jadi makan apapun tetep enek, padahal kalau di bumi meskipun aku masuk angin tetap saja aku bisa makan satu makanan, yaitu mie" pikir ku sambil membayangkan ada satu mangkuk penuh mie kuah pedas di musim hujan ini.
Di samping ranjang ku, berdiri 2 orang pelayan yang kemarin mengitip saya latihan, mereka berdua sekarang adalah pelayan pribadi ku yang berambut panjang bernama lionna, sedang kan yang berambut pendek bernama red.
Aku menengok ke arah mereka dan berkata "kalian pergilah istirahat karena aku juga akan tidur"
"baiklah nona"
"Tapi kalau keluar tolong panggilkan Mery kesini ya" pesan ku singkat
"Oh baik nyonya!!!" Mereka memberi salam hormat lalu keluar ruangan
Aku berdiri mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengintrogasinya karena kalau hal seperti itu tidak bisa di tunda tunda.
Dia datang dengan mengetuk pintu, aku menyuruhnya masuk dan kamipun duduk berhadapan di sofa yang ada didalam kamar ku.
"Mery, aku ingin bertanya ada apa dengan mu akhir akhir ini kau tidak memperlakukan ku dengan semena-mena?, Dan juga selalu menuruti perintah yang aku berikan?"
"E....itu nyonya"
"Pfft..., Kau tidak suka melayaniku kan? Bagaimana kalau ku pecat saja? Ah... Tidak tidak, lebih baik kau menjadi pelayan biasa lagi bagaimana?"
"Jangan nyonya!!! saya tidak ingin di pecat atau di turunkan menjadi pelayan biasa"
"HM....?, Karena upah nya berkurang ya, dan kalau di pecat atau keluar sendiri, kau jadi susah cari kerja lagi meskipun pake surat rekomendasi, karena sekarang ini jarang ada lowongan kerja"
"Bukan itu nyonya....." Ucapnya panik sambil menunduk dalam-dalam
"Atau gak aku akan Carikan pekerjaan lain dan kau akan dapat uang kompensasi / diturunkan dengan gaji tetap seperti saat kau jadi pelayan pribadi?"
"Tidak saya tidak mau keduanya"
"Huffttt....." Aku mendengus malas
"Lalu apa yang kau inginkan hah?, kau melayaniku dengan ogah-ogahan, tidak mau di pecat dan mengundurkan diri sendiri, lalu juga tidak mau diturunkan menjadi pelayan biasa"
"Aku...... Aku ingin melayani anda dengan benar dan tulus sekarang, jika anda ingin menghukum saya, saya terima!!! Asalkan anda terus menempatkan saya pada posisi ini" ucapnya depan suara melas,
"Kalau kau ku hukum mati kau tidak akan bisa di sampingku lagi" balas ku menakut-nakuti, dia terdiam tapi wajahnya pucat, lalu aku melanjutkan perkataanku lagi,
"Bagaimana kalau kau melakukan hal-hal yang tidak baik lagi kepada ku, bahkan sampai tidak peduli makanan ku sudah busuk atau belum seperti waktu itu!!!" emosiku naik karena mengatakan hal seperti itu sambil membayangkan Florence memakan makanannya dulu dengan lahap,
Padahal belum tentu makanan itu sehat, karena bisa jadi makan itu tercampur penyakit dan jika aku membayangkan diriku sendiri yang diperlakukan oleh para pelayan seperti itu aku akan langsung menghukumnya ke komisi perlindungan hak asasi manusia.
Dan membuat nya si penjara seumur hidup nya, aku melotot marah menatap Mery yang menunduk sambil memegangi kedua tangannya yang berkeringat dingin.
Bahkan badannya ikut bergetar karena ketakutan,
"Aku punya alasan nya nyonya!!!" Teriaknya berani sambil menatap mata ku,
Aku menatap nya tajam dan berkata
"Katakan......"
"Karena aku diwasiatkan oleh nyonya sebelumnya untuk berada di samping anda dan menjaga anda Duke dan tuan muda Albert juga dari dekat"
"Lalu???"
"Tapi anda menghancurkan ekspektasi saya, kalau anda bisa membangun keluarga yang kokoh yang tidak bisa di rusak dan di usik oleh orang luar, jadi saya melakukan itu untuk menyadarkan anda tentang bahaya yang berada di sekeliling anda yang datang tanpa kenal waktu"
Ucapnya sambil menunduk dan nada suaranya pasrah, seperti nya dia melihat keputusan akhir yang akan kuberikan padanya berakhir buruk.
"Hah..... Kau benar-benar membuat sakit kepalaku bertambah Mery, Baiklah aku akan memberikan hukuman untukmu, kau harus bersumpah setia kepada ku dan menjadi kaki tangan ku sampai akhir hayat mu, tidak peduli kau akan mati jika melaksanakan tugas dari ku, apa kau siap?!"
"Hah?!" Sedikit bingung karena perkataan ku, lalu dia tersadar dan langsung berkata dengan semangat
"Baik! Baiklah nyonya saya bersumpah akan memberikan seluruh hidup saya untuk anda" ucapnya sambil menunduk dan menekuk satu lutut nya
Aku menyuruhnya berdiri lalu dia menatapku dengan wajah bahagia dan berkata
"Bolehkah aku meminta sesuatu"
"Yah katakan apa itu"
"Aku ingin anda memelukku dan mengelus kepalaku sebentar"
Aku terdiam sebentar karena permintaannya itu, lalu aku paham karena dulu Mery adalah budak yang di merdekakan oleh Duchess sebelumnya dan disayang seperti anaknya sendiri aku mengetahui hal seperti itu dari ingatan Florence dari rumor yang tersebar dulu.
aku mengangguk dan dia tersenyum senang lalu mendekat dan aku memeluknya, seperti memeluk anak sendiri dan mengelus kepalanya dengan pelan tidak lama, Aku melepaskannya kembali dan wajahnya sekarang berubah cerah dan bahagia
"Terima kasihnya, dan saya pamit dulu" aku membalasnya lalu dia pergi keluar kamar.
aku ikut tersenyum senang dan beranjak ke tempat tidur aku mengulat sebentar lalu berkata dalam hati
"Satu masalah terselesaikan"
Setelah itu aku pun tertidur pulas.