I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
12



"Tes....tes...."


Satu sama, aku memperhatikan pembunuh yang memengagi bahu kanannya dengan wajah santai ingin membuat pendarahan nya berhenti karena aku berhasil menyobek bahunya itu.


Tapi dia juga berhasil menusuk tangan kiri ku, sampai menembus ke belakang nya, membuat nya seperti lubang yang cukup besar dialiri darah, dan darah terus mengalir dari luka luka kami yang parah.


Untung saja aku punya sihir penyembuhan meskipun sedikit tapi ampuh, jadi aku memberikan jarak sedikit untuk memberhentikan pendarahan di tangan ku yang di lubangi.


Meskipun pendarahan nya telah terhenti tangan kiri ku yang tertusuk, memengang kipas jadi bergemetar dengan hebat, akhirnya aku memutuskan untuk  melompat mundur memberi jarak dari nya sangat jauh.


Karena badan ku juga mulai bergetar tanda kelelahan, pembunuh itu menatap ku dengan senyuman miring nya lalu berkata,


"Bagaimana apa kamu menyerah?, karena jika kau menyerah akan ku pastikan saat sebelum kamu mati ku beri kenikmatan dan tidak ada rasa sakit saat membunuh mu, gimana tawaran yang menarik kan?"


"Hah... Hah.... Dasar anjing!!!, Kau bahkan lebih rendah dari pada hewan dimataku!!!"


Ucap ku dengan nada yang terengah engah, bahkan mataku mulai tidak fokus mungkin obat bius nya bekerja


"Sialan...!!!"


Aku mengumpat dalam hati, karena merasa sangat lemah tidak berdaya untuk pertama kalinya, apa yang harus aku lakukan saat pikiran ku mulai panik.


"Tetap tenang Tia kamu pasti bisa" semangat ku lagi


"Pikirkan apapun, ah.... ada cara!!! Tapi ini adalah penentuan hidup ku, kalau belum di coba pasti tidak akan tahu baiklah sekarang!!!"


Ucap ku dalam hati dan mulai


menyusun rencana mulai dari memperhatikan arah gerakan tangannya, gunakan serangan tipuan dengan kecepatan yang tepat dan menyerang penglihatannya lalu kabur.


"Semoga perhitungan ku tidak salah, karena ini adalah penentuan nya"


"Hahaha hahaha hahaha, menarik ini semakin menarik!!!!"


Dia tertawa jahat, dan tanpa aba-aba mulai menyerang ku lagi, dan aku dengan sekuat tenaga menghindari nya dan melancarkan serangan palsu 3 kali berturut-turut agar iya terkecoh.


Dan benar saja, dia memakan umpan ku dengan baik dan aku bisa menendang nya dengan jurus dari muay thai, dan membuat nya kehilangan keseimbangan.


Pertama aku menarik tangan nya, dengan tangan kanan dan tangan kiri ku menarik leher belakangnya dengan tetap memengang senjata dan agar tidak melukai ku sendiri.


Lalu tendangan lutut kaki kiri ku menghantam perutnya, itu juga dekat dengan ulu hati, setelah itu tangan ku yang tadi menarik nya mulai melepas dengan agak sedikit mendorong nya agar tidak seimbang.


Setelah dia masih membetulkan posisi kuda kuda nya aku telah bersiap dengan kaki kanan ku dan menendang wajahnya agar jatuh.


Dengan jurus yeop chagi dari Taekwondo, dia terhuyung ke belakang aku tidak memberi nya kesempatan untuk beristirahat.


Karena jika dia tidak lengah dia bisa saja menyerang ku dengan cara membabi buta, dan jika menurunkan kewaspadaan saat bertarung bisa bisa saja kemenangan berubah menjadi kematian.


Dengan keadaan seperti itu ia tetap mencoba mengarah kan senjata nya ke perutku tapi bisa ku tangkis dan dengan cepat meringkus nya dengan menusukkan mata kirinya.


"Aaaaaagrrrrh!!!!"


Dia berteriak kesakitan, dan mencoba melepaskan diri dari kuncian ku tapi aku merubah posisi kuncian menjadi lebih kokoh dan dikesempatan itu aku merobek mata kanan nya sampai keluar.


Dia berteriak marah dan tiba-tiba energi sihir yang sangat kuat dari nya keluar dan membuat ku terpental beberapa meter.


"Hah... Hah..."


Aku mengambil nafas patah patah, karena sudah tidak kuat lagi tapi semua rencana ku berhasil karena telah menusuk mata kirinya, dan mencongkel mata kanan nya.


"Uhuk....uhuk...!!!"


Darah segar keluar saat aku batuk kurasa aku terkena luka dalam tadi, karena orang itu, mata ku mulai ber kunang-kunang mencoba memperhatikan assassin itu.


Dia masih berteriak dengan keras bukan karena sakit atau perih tapi dia marah karena matanya tidak akan bisa disembuhkan dengan apapun jadi dia tidak bisa memperkosa dan menikmati keindahan tubuh perempuan lagi.


Lalu dia dengan cepat sadar dan berdiri untuk membunuhku dengan cara yang sangat kejam di pikiran nya, terlihat sekali dari wajah nya yang jelek bertambah jelek.


Aku berusaha merangkak tapi tenaga ku sudah habis, bahkan kaki dan seluruh tubuh ku masih terasa sakit dan mulai menimbulkan dampak nya, di mulai saat pelarian bersama Nathan itu.


"Mungkin kaki ku bengkak parah sekarang" pikir ku lagi setelah itu mendengar umpatan nya di penuhi dengan nafsu membunuh.


"Dasar ******!!! Aku akan membunuhmu meskipun aku tidak bisa melihat jangan harap kau bisa kabur!!!"


Aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun karena pembunuh peka dengan sedikit suara sekecil apapun.


Dan ini lebih menegangkan dari film setan, karena memang benar setan di dunia nyata itu tidak seram seperti psikopat dan juga tidak bisa membunuh manusia.


"Lebih menakutkan manusia di banding kan setan" ucap ku dalam hati, padahal posisi nyawaku terancam tapi aku malah bisa berfikir seperti ini.


Aku menggeleng geleng kecil, mungkin karena aku sudah menyerah dengan nyawaku, tapi aku tetap berharap jika dapat kesempatan lagi untuk bersama keluarga meski harus menunggu beberapa ribu atau ratusan tahun lagi.


"Tak...tak...."


Suara langkah kaki nya mulai terdengar menjauh, aku bersyukur dalam hati dan mulai mencoba menyeret tubuh ku dengan perlahan, tapi aku merasa dia menengok ke arah ku yang berada lumayan dekat di belakang nya.


"Hehehehehe..., Ketemu kau ****** kecil..."


"Deg!!!"


Sekujur tubuhku merinding kurasa kematian sudah dekat dan tiba-tiba saja ia sudah berada di samping ku, aku berusaha menyeret tubuh ku dengan paksa.


Meskipun rasanya sangat sakit dan lebih baik menyerah, tapi di kesempatan ini aku belum berhasil mendapatkan hati mereka, jadi aku pasti bi....


"KRETEK!!!"


"Aaaaaa...!!!"


"Agrh...argh.... hah... Hah...aaw..."


Pembunuh itu menginjak dengan sekuat tenaga belakang punggung ku sampai berbunyi suara tulang yang patah, aku yang merasakannya langsung berteriak dan mulai menangis karena sakit.


"Hiks...hiks..."


"Hahahaha kau merasakannya ****** kecil....??!!, Enak ya apa perlu ku putar kepalamu atau menarik setiap sendi kaki dan tangan mu sebagai bayaran mata ini?"


Aku melirik nya marah tapi aku tidak bisa apa apa lagi sekarang karena jika aku kembali menyeret badan ku yang  tulang nya patah itu akan semakin berbahaya.


"Aku ingin menyiksa mu lebih lama sih...."


Dia berkata seperti itu dengan bergaya gaya dan tidak merasa sakit bahkan wajah nya merasa bimbang, setelah itu melanjutkan dengan berkata.


"Tapi aku masih punya urusan untuk membetulkan mata yang telah kau rusak ini, dengan ganti mata mu emerald green itu, jadi kau jangan khawatir pasti akan aku gunakan dengan baik mata barunya nanti"


Dia tersenyum lebar lebih tepatnya menyeramkan, dia mengangkat tinggi tinggi pedang panjang yang selama pertarungan tidak ia pakai, tepat di jantung ku dari punggung.


Mungkin dia mengetahui posisi jantung ku setelah mematahkan tulang belakang, dia mulai mengoceh kembali,


"Anda seharusnya berbangga akan aku pajang pedang ini di ruangan ku nanti sebagai pengingat kemenangan"


"Jadi mati lah dengan tenang Duchess Florence!!!"


"Sreeet....."


Rasanya detik berlalu dengan lambat, padahal aku sudah mencoba belajar beladiri untuk saat seperti ini tapi ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan nya karena saat ini aku akan mati.


"Blarrrr"


Suara ledakkan tepat berada di dekat ku, aku yang mulai kehilangan kesadaran tidak sanggup menahannya dan hanya menyadari kalau dari depan ku, yang lumayan cukup jauh ada seorang pria berpakaian gelap dengan jubah yang sama.


Mengangkat tangan nya ke arahku, wajahnya tidak terlihat jelas karena mataku yang terus ingin terpejam, lalu ada dua orang yang bertubuh lebih kecil dari nya bergegas berlari ke arah ku sambil berteriak.


"Tante!!!"


"Bibi!!!"


Yang sudah kuduga adalah Wren dan Joy, tidak lama kemudian pria itu juga berlari ke arah ku, sebelum aku mengetahui wajahnya, aku telah jatuh pingsan.


POV Duke


"Hah...hah... Sial"


Aku berhenti berlari setelah mengelilingi beberapa gang kecil yang mungkin di lewati Duchess, tapi tetap tidak ketemu, nafasku sampai terengah engah.


"Aku sudah mencari nya lagi tapi tetap saja tidak ketemu, padahal kalau aku langsung menyadari bahwa itu Florence pasti ini akan lebih mudah"


Ucap ku dalam hati menepuk jidat karena kebodohan diriku sendiri, setelah dengan berjalan santai aku berdoa semoga keajaiban datang dan benar saja.


Karena sayup-sayup terdengar percakapan seseorang yang tanpa sadar aku tertarik untuk mendengarkan.


"Kenapa kakak membiarkan Tante sendirian padahal tahu disana ada orang jahat!!!"


Aku berfikir pasti wajah imut anak perempuan itu terlihat menyeramkan sekarang, karena berteriak sekeras itu kepada orang yang ia panggil kakak tersebut.


"Aku tidak punya pilihan lain karena dia yang menyuruh ku untuk membawa mu tetap selamat!!!, Lagi pula jika kita disana kita hanya jadi beban"


Lawan bicaranya terdengar seperti anak laki-laki dan dia membalas dengan nada menyerah seperti kita itu lemah dan tidak berdaya jadi bisa apa, menurut ku seperti itu.


"Hah...ha...., tapi tunggu dulu kenapa kau bisa tau aura mencekam itu dari seorang penyihir"


Aku merasa perempuan itu berpaling, dengan linangan air mata, dan balasnya terdengar olehku,


"Aku pernah memakan bunga sihir yang ada di lemari tersembunyi ibu, dan tidak ku sangka bisa mendapat kekuatan yang aneh ini, pokoknya kita harus cari bantuan sekarang!!!"


"Kurasa kalau kita pergi mencari bantuan akan membutuhkan waktu yang lama, dan khawatir nya dia sudah...."


"Jangan berfikir pendek seperti itu jadi ayo cepat kita cari bantuan aku tidak mau kehilangan seseorang yang penting dalam hidup ku lagi seperti Tante Florence!!!"


"Deg!!!"


Jantung ku berdegup dengan cepat, aku langsung berfikir dalam hati,


"Jangan jangan Florence yang ia maksud adalah Florence, dan dia sedang dalam bahaya karena masih di buru para pembunuh"


Dan tanpa pikir panjang aku langsung melesat ke arah mereka dengan sihir, seperti bom yang tiba-tiba jatuh dan membuat mereka terkejut.


Aku tanpa basa-basi langsung bertanya dengan nada menyeramkan yang membuat mereka panik,


"Dimana orang yang kau maksud kan itu!!!"


Karena sihir ku sangat besar dan bisa dirasakan oleh keduanya, tapi setelah mendengar pertanyaan ku mereka langsung memasang wajah serius.


"Ikuti kami!!!"


Ucap mereka secara serempak lalu berlari menuju lokasi kejadian perkara, padahal kalau aku berfikir jernih saat itu pasti akan lebih mudah menggunakan sihir dari pada berlari lagi.


Dan benar saja kami mendengar suara teriakan kesakitan perempuan yang tanpa ku lihat sudah tahu siapa.


Lalu perasaan marah yang meluap-luap ini muncul dari hati ku tiba-tiba, juga bercampur rasa khawatir yang sangat mendalam.


Dan membuat diriku tanpa pikir panjang melesat bagai petir ke arahnya, hanya disebabkan teriakan Florence semata.


Sihir pelacak ku aktif lalu dengan segera menemukan posisi musuh yang telah mematahkan tulang nya, tangan ku siap menghadap ke depan setelah sampai di tempat dan langsung menembakkan nya sihir api.


"Sreeet.....!!!"


"BLARRRR....!!!!!"


Karena biasanya aku hanya menggunakan sihir ini kepada monster monster yang ku basmi.


Seketika aku teringat dengan keadaan Florence dan langsung melihatnya dalam posisi tengkurap seperti habis memaksakan diri nya untuk merangkak.


Tapi karena kehabisan tenaga ia tidak bisa menyeret badannya lagi untuk kabur dan sebelum itu tulang belakang nya di patahkan sehingga ia tidak bisa bergerak lagi.


Untung nya kedua anak kecil tadi sudah berhasil menyusul ku dan berlari menghampiri Florence sambil berteriak memanggil nya Tante dan bibi.


Aku ikut bergegas berlari menuju ke arah nya dan saat melihat keadaan nya dari dekat tiba-tiba saja, gigi ku bergemelutuk dan,


Wajah ku terasa panas, dada ku terasa sesak seperti di tekan sesuatu bahkan kedua tangan ku terkepal erat, dan tanpa sadar telah mengeluarkan aura amarah dari diriku.


"Perasaan apa ini kenapa aku begitu marah karena keadaannya?"


Aku terdiam karena tiba-tiba terfikir kan hal itu di dalam hati


"Padahal aku tidak ada hubungannya dengan kondisi dirinya, dan tidak perlu untuk peduli dengan nya?, Tapi kenapa rasanya sesak sekali...."


"Tes...tes...."


Aku terkesiap karena air mata ku tiba-tiba menetes tanpa sadar, lalu perasaan bersalah dan sedih berkecamuk di dalam hati ku.


"Tuan....!!!"


Aku tersadar dari pikiran sedih ku sendiri, karena mendengar suara  teriakkan yang bergetar dari anak perempuan itu.


Dia berada di sampingnya yang telah pingsan, matanya telah basah tidak kuat melihat Florence yang tersiksa, sementara anak laki laki itu duduk bersimpuh dengan kepala menunduk mungkin ia juga menangis.


"Tuan kumohon selamat Tante....., Aku akan melakukan apapun sebagai gantinya..."


Dia berkata dengan nada yang menyayat hati, aku mendekat lalu bersimpuh disampingnya dan mulai berfikir setelah mengusap air mata dengan ujung lengan ku.


Florence tidak punya bakat sihir apapun dan aku juga tidak punya bakat sihir penyembuhan, tapi tidak dalam skill bertarung, karena hampir semua nya aku bisa.


Sihir penyembuhan itu lumayan cukup langka di seluruh benua ini, dan hanya seseorang seperti Saintees yang mempunyai semua skill sihir dan mana yang berlimpah.


Lalu anak perempuan ini mempunyai mana yang cukup banyak tapi sihir nya belum dilatih untuk bisa menyembuhkan orang karena tubuhnya sendiri sedang tidak dalam kondisi yang baik.


Jadi tidak mungkin untuk memberikan pertolongan pertama pada Florence untuk mengurangi rasa sakit nya sampai pendeta di panggil kan.


"Bagaimana ini....."


Gumamku tanpa sadar yang ternyata terdengar oleh anak perempuan itu, lalu dia mulai membuka mulut dengan berkata dengan nada yakin,


"Maaf tuan karena mengganggu anda berfikir, pasti anda tidak tahu kalau nyonya memiliki kemampuan sihir penyembuhan yang sangat hebat dan terbilang langka dan setara dengan Saintees tapi ia tidak mempunyai mana yang cukup di dalam tubuh nya"


"!!!!"


Aku cukup terkejut karena ucapan anak itu, karena dulu saat di periksa Florence sama sekali tidak mempunyai bakat sihir maupun mana yang banyak.


"Baiklah kalau begitu akan lebih mudah karena aku tinggal menggunakan mana dan menyalurkannya, agar sihir nya bekerja"


Tangan ku terulur menyentuh pundak nya dan mulai menfokuskan aliran mana agar terhubung dengan tubuh Florence, dan benar saja sihir penyembuhan nya tiba-tiba muncul menyelimuti seluruh tubuh Florence.


Itu bewarna hijau terang seperti cahaya, dan semakin lama semakin terang tapi itu juga menyerap mana ku dengan sangat rakus sampai tersisa seperempat mana lagi.


"Hah....hah.... "


Aku mengambil nafas banyak banyak, setelah menarik paksa tangan ku yang tadi terulur dan menyentuh pundak nya, kalau aku terus menyalurkan mana ku mungkin saja bisa terserap habis oleh sihir penyembuhan nya.


Dan setelah itu aku akan mati jika kehabisan mana, kedua anak itu menatap ku yang kelelahan mereka juga mengetahui bahwa mana ku hampir terserap habis oleh nya.


"Sudah lah jangan menatap ku seperti itu, lebih baik kalian mengambil barang-barang kalian di penginapan dan membawa nya kesini setelah itu kita bisa pergi ke istana ku lagi"


Aku menegur mereka karena melihat ku dengan tatapan kasian, dan anak laki laki itu membalas ucapan ku dengan cepat.


"Bagaimana bisa kami mempercayai mu!!!, kalau salah satu dari kami tidak berada di sini, kau bisa saja membawanya pergi pada kesempatan itu, karena kau juga adalah bagian dari mereka (para pembunuh itu), atau kelompok yang lain (mengincar Duchess)"


Aku terdiam sebentar karena mengerti kecemasan mereka lalu tanpa basa-basi menggendong Duchess ala bridal style.


"Baiklah, karena patah tulang nya telah sembuh dengan sempurna tinggal luka luar nya saja yang belum sembuh aku bisa membawanya seperti ini"


Aku berkata seperti itu seperti berkata kepada diri sendiri dibandingkan memberi tahu kondisi Florence kepada mereka agar tidak terlalu khawatir.


"Dan aku akan ikut bersama kalian, pergi ke penginapan lalu mengambil barang barang dan membawa kalian juga ke istana ku "


Ucap ku dengan sedikit melirik ke arah mereka, mereka berdua menenguk ludah mencoba menerka nerka siapa aku lalu mulai mempertimbangkan perkataan ku.


"Oh ya aku adalah suaminya"


Mereka bertambah terkejut dan mulai saling lirik seperti mengetahui apa yang dipikirkan masing-masing hanya saling melihat, akhirnya mereka setuju untuk membawa Duchess pergi bersama ke penginapan.


Aku tersenyum kecil karena keputusan mereka cepat dan tepat, lalu memejamkan mata sebentar dan memberikan sinyal dari sihir untuk para kesatria ku yang telah berpencar agar berkumpul di penginapan.


Bahkan aku dengan baik hati nya, membagikan gambar dari penginapan itu lengkap dengan nama dan alamat nya juga, melalui pikiran mereka.


Kenapa aku bisa tau pada hal belum pernah ke sana? itu disebabkan dari  ingatan anak anak yang memikirkan penginapan saat ku sebutkan tadi bahkan gambaran penginapan itu terlihat sangat jelas.


"Mendekat lah kemari anak anak kita akan langsung berteleportasi ke kamar yang kalian sewa"


Mereka dengan ragu ragu akhirnya mendekat dan setelah beberapa dalam jarak ku aku langsung membaca mantra dan kami pun menghilang dari sana dan berpindah ke kamar yang mereka sewa.


"Cepat bereskan barang barang kalian, aku tidak bisa membantu mu dengan memakai sihir lagi untuk membereskan nya" ucap ku sambil menidurkan Florence di atas kasur dengan hati hati.


Keduanya terlihat sedikit terkejut, tapi dengan cepat memperbaiki raut wajahnya dan melakukan apa yang ku perintahkan, aku ikut membantu mereka sampai terdengar suara.


"Ketoplak..... ketoplak..."


Suara langkah kaki kuda yang sangat banyak muncul di depan penginapan, orang orang yang penasaran dengan suara ramai ramai itu mulai mengintip dari jendela atau secara terang terangan mendekat rombongan ksatria dengan kereta kuda yang cukup mewah.


Bahkan orang yang telah pulang dari festival mulai tertarik dengan kereta mewah tersebut dan memperhatikan nya sampai membuat keramaian lainnya.


Aku tidak peduli dengan keramaian yang terjadi karena ulah kereta mewah itu, Sampai suara ketukan di pintu terdengar.


"Masuk"


Aku bersiap menggendong Duchess lagi, dan seorang ksatria masuk dia memberi salam hormat dan aku menyuruh nya untuk membawakan barang barang yang anak anak itu pegang.


Dia mengangguk patuh, dan aku langsung keluar menuju ke kereta dengan menggendong Florence, dan setelah aku keluar beberapa kstaria masuk dan mengambil semua barang yang anak anak itu pengang.


Mereka mungkin kebingungan namun tidak apa-apa lah, pintu kereta  di buka kan oleh pelayan, aku dengan cepat masuk kedalam dan menidurkan nya dengan bantalan kepalanya di atas pahaku.


Untung nya para kesatria ku bisa diandalkan mereka dengan cekatan memandu anak anak itu ke kereta yang lain dan tidak perlu waktu lama kami telah berangkat.


Di jalan aku menghabiskan waktu ku untuk menyalurkan mana ku secara sedikit demi sedikit, untuk mengobati tangan kirinya yang masih robek setelah di lubangi dengan pisau.


Luka ditangan nya berangsur-angsur membaik dan aku menggenggamnya dengan tangan kanan ku lalu mencium dan menjilat bekas luka yang terlihat sangat besar itu.


Di dalam hatiku merasa sedih bagaimana mungkin tangan yang kecil ini bisa melawan dan melukai para pembunuh itu.


Bahkan tangan yang seharusnya lembut ini tetap menjadi kasar padahal ia seorang bangsawan sekarang, dan aku bisa memastikan dia pasti banyak menderita selama ini.


"Tes tes....."


Air mata ku dengan seenaknya menetes kembali kenapa hatiku sangat sakit memikirkan luka yang didapat kan Florence.


"Hiks....hiks..."


Dan malam itu, aku tidak bisa menahan air mata ku lagi lalu mulai menangis seperti saat aku kehilangan Dianna, karena merasa gagal melindungi orang ini.


........


POV Destiana


Matahari bersinar cerah, mataku yang terkena cahaya nya mulai terbuka, "ah.... Silau sekali" , pikir ku dalam hati.


"Oh kau sudah bangun...."


Suara yang sangat ku kenal terdengar di telinga ku, dan saat mata ku masih terasa blur aku melihat keatas dan melihat wajah Duke yang dingin.


Seketika aku terkejut dan mencoba bangkit tapi dia mencoba menahan ku sampai dagunya dan kepala ku terbentur dengan keras.


"Aw....."


Kami meringis berbarengan, dia mengusap usap dagunya sedangkan aku jidatku yang terluka lalu dia berucap dengan nada yang terdengar sebal.


"Kenapa kamu sekaget itu sih?, Apa tidak nyaman tidur di pangkuan ku?"


"Eh.... Pangkuan? Tidur....?"


Aku berucap dalam hati, dan seketika wajah ku meledak memerah, dan aku menutupinya dengan tangan kiri ku.


"Blusss"


Dia melirik ku yang memerah tersenyum kecil dan sangat singkat, lalu dengan wajahnya yang menyebalkan di berkata.


"Kenapa kau malu kita kan pasangan"


Tentu saja aku malu karena sejak dulu aku yang selalu memangku Rangga dan bukan dia, pantas saja jika ia aku suruh untuk tidur di pahaku selalu memasang wajah malu malu dan mukanya pasti memerah jika ku perhatikan lama lama.


"Hah.... lebih baik aku duduk saja"


Saat aku bicara begitu dia menahan kepala ku agar tidak bangun, aku mencoba untuk tidak melihat matanya, bahkan sampai menutupi wajah ku dengan tangan kiri.


"Deg!!!"


Tiba tiba aku teringat hal yang sangat penting lalu melihat tangan kiri ku yang masih utuh tidak ada bekas luka apalagi sebuah lubang.


Lalu dengan refleks aku meraba punggung ku dengan tangan kiri, bahkan sampai ku pukul pukul dengan sekuat tenaga tapi tidak terasa sakit.


Dan tersadar sesuatu saat melihat Duke lagi, dia tersenyum kecil dengan wajah yang pucat, aku langsung bangkit dan memeriksa kondisi nya.


"Kau!!!.... kenapa anda menolong ku!!!, Bisa saja anda mati kehabisan mana!!!"


Aku memengang wajah nya yang pucat, aku sangat benci jika Duke membuat wajah lemah seperti ini.


Karena akan terlihat sangat mirip seperti Rangga dulu, dan membuat ku selalu sentimental, aku membantu nya bersandar di dinding kereta karena ia tidak mau tiduran di pangkuan ku.


"Maaf aku merepotkan mu, bahkan ini tidak seberapa dibandingkan luka mu tadi, jadi biar kan aku istirahat sebentar.... Oke???"


"Berjanjilah agar tidak mengulangi hal yang sama...."


Dia hanya tersenyum lalu memejamkan mata tidak membalas janjinya dengan benar, aku menghembuskan nafas lega karena dia hanya tertidur.


Mungkin dia akan bangun saat siang nanti, saat kita sebentar lagi akan sampai, mungkin.


Aku menatap wajahnya yang tertidur dengan seksama dia benar benar sama dengan wajah nya yang dulu kecuali lebih macho seperti lelaki dewasa.


Dan aku benar-benar tidak merasa kan sakit sekarang padahal sebelumnya berbeda, bahkan jika aku tidak sadar sensasi rasa sakit nya tetap bisa aku rasakan.


Padahal di tubuh ku tidak ada luka lagi dan ini yang biasa di sebut penyakit gangguan jiwa karena trauma akan rasa sakit yang pernah di alami.


Tapi bagus nya aku sudah pernah mati sekali, jadi tau rasa sakit yang sangat menyiksa itu, dan di bandingkan dengan tangan ku yang bolong maupun tulang ku yang patah ini masih kalah jauh.


........